pengaruh pemberian rock poshphat terhadap pertumbuhan stylosanthes goyonenshes

Rabu, 18 November 2009





PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam rangka mengembangkan ternak ruminansia tidak jarang dijumpai dilema. Hal ini berlaku dalam bidang pakan ternak ruminan yang bersaing dengan kebutuhan manusia maupun ternak lainnya, terutama kebutuhan pakan konsentrat yang merupakan sumber protein dan energi. Persaingan yang terus menerus tanpa ada alternatif pemecahan akan mengakibatkan kerugian bagi yang berkepentingan yaitu petani peternak. Oleh sebab itu salah satu jalan keluar seyogianya memilih tanaman hijauan legum yang kaya akan protein, mineral dan calsium (Ca) dibanding hijauan lainnya. Dilain pihak legum dapat sebagai pelindung tanaman lain, penutup tanah, menyuburkan tanah dan mencegah terjadinya erosi. Sebagaimana telah diketahui, pada akar tanaman legum terdapat bintil-binti akar yang mengandung bakteri rizhobium, yang menjalin interaksi simbiosis dengan tanaman inang dalam proses fiksasi (N) secara biologis dari udara (Mansyur, 2008). Kemampuan tersebut menyebabkan tanaman inang mampu memenuhi kebutuhan unsur hara N dan akan meninggalkan N pada tanah disekitarnya, sehingga dapat berperan meningkatkan kesuburan tanah.
Menurut Barnes dan Baylor (1995) pengembangan sektor peternakan sangat tergantung kepada sumber tanaman pakan sebagai dasar pakan utama untuk ternak ruminansia, Peningkatan jumlah ternak juga harus diikuti dengan upaya memenuhi kebutuhan pakan sepanjang tahun terutama tanaman pakan yang potensial dengan nilai gizi tinggi dan beradaptasi baik pada berbagai lingkungan. Stylo (styloshanthes guianensis) merupakan salah satu jenis tanaman leguminosa herba sebagai sumber protein dan mineral hijauan bagi ternak ruminansia di daerah tropika yang telah beradaptasi baik dan tersebar diberbagai agroklimat di Indonesia. Namun, pemanfaatannya sebagai pakan ternak belum banyak dilakukan dan umumnya baru sebagai konservasi tanah dan cover crop, sehingga perlu dievaluasi untuk peningkatan produksi dan kualitas hijauan (Sajimin, et al. 2005).
Upaya mempertahankan dan meningkatkan produksi hijauan dapat dilakukan dengan penggunaan pupuk kimia maupun pupuk organik. Penggunaan pupuk bahan kimia yang berlebihan telah banyak dilaporkan berdampak negatif, seperti merusak kesuburan tanah dan lingkungan karena tanah menjadi keras pada musim kering dan lengket pada musim hujan dengan porositas tanah menurun. Pupuk anorganik tidak mempunyai sifat yang dapat memperbaiki sifat dan fungsi fisik tanah serta fungsi biologi tanah secara langsung (HONG, G.B.1991).
Tanaman legum peka terhadap kekurangan unsur hara dan fosfor, dan selama ini dapat diatasi dengan pemupukan superfosfat (SP) (Lukiwati dan Simanungkalit, 2004). Mahalnya harga pupuk SP, menyebabkan perhatian kini beralih pada penggunaan pupuk rock phospate (batuan fosfat). Pemilihan batuan fosfat sebagai pupuk P didasarkan pada kandungan P dalam batuan fosfat yang tergolong tinggi (Sediyarso, 1999) dan ketersediaan deposit batuan fosfat tergolong besar (Belmehdi, 1987), harganya relatif lebih murah dibandingkan pupuk superfosfat dan tidak memerlukan teknologi tinggi dalam pemanfaatannya sebagai pupuk (Ober, 2002). Namun demikian, pupuk batuan fosfat umumnya memiliki tingkat kelarutan sangat rendah sehingga penyediaan P-nya tidak berimbang dengan laju penyerapan P oleh tanaman.
Untuk meningkatkan laju penyediaan P tersebut perlu dilakukan penelitian dengan menambah pupuk hayati (Biofosfat dan Rhizobium) dengan menggunakan mikroorganisme pelarut fosfat (MPF), karena kemampuannya mensekresikan asam-asam sitrat, suksinat, laktat, oksalat, malat, glioksilat dan glukonat (Goldstein, 1995). Penggunaan MPF dan Rhizobium relatif lebih aman terhadap lingkungan dan telah dilaporkan adanya peningkatan serapan P, pertumbuhan serta hasil tanaman akibat pemberian batuan fosfat dan MPF (Salih dkk., 1989)

Tujuan penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk Rock phosphate (batuan fosfat) dan pupuk hayati terhadap kandungan serat kasar Stylosanthes guianensis CIAT 184

Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini berguna untuk meningkatkan efektivitas kelarutan Rock fosfat (batuan fosfat) dalam meningkatkan produksi dan kualitas tanaman Stylosanthes Guianensis CIAT 184

TINJAUAN PUSTAKA
A. Stylo (Stylosanthes guianensis CIAT 184)
Dalam genus, stylosanthes guianensis CIAT 184 termasuk sub-famili Papilionaceae berasal dari Amerika Tengah dan Selatan. Stylo adalah suatu legum makanan ternak yang sangat disukai ternak dan kaya akan protein (Horne and Stur. 1999). Legum ini tumbuh tegak bersifat perennial kadang-kadang semi-tegak. Batang sedikit berbulu, tinggi tanaman 1,5 m, daun bewarna hijau berbentuk elip atau pedang yang ujungnya meruncing panjangnya 1-6 cm, tangkai daun panjangnya 1 sampai 10 mm dan kelopak tangkai daun berbentuk dua gigi. Karangan bunga terdiri dari beberapa kumpulan bunga, tiap karangan bunga mengandung 2 sampai 40 bunga yang kecil berwarna kuning bertulang belakang dengan semacam daun-daun penyangga. Kelopak bunga mempunyai tabung yang panjang 4 sampai 8 mm tidak berbulu atau sedikit berbulu. Bunga standard agak bulat dengan panjang 4 sampai 8 mm. Bunga dasar panjangnya 3,5 sampai 5,0 mm berbentuk sabit. Polong tidak berbulu panjangnya 2 sampai 3 mm dan lebar 1,5 sampai 2,5 mm mengandung satu biji, Warna biji kuning kecoklat-coklatan. Stylo dapat hidup di daerah-daerah tropik yang humid dengan curah hujan sebanyak 890 sampai 4.096 mm tiap tahun. Legum ini tumbuh pada variasi tanah yang luas bahkan di tanah yang kurang subur (Soedomo- Reksohadiprojo, 1985).
Legum stylo agak tahan kering, toleran terhadap tanah yang asam dengan drainase yang jelek dibanding dengan varietas lain seperti Stylosanthes guianensis ( eg.cv. Scofield, Cook dan Graham) tetapi tidak toleran terhadap naungan. Bunga menyebar dengan biji yang terlempar bila masak, sebagian biji adalah berkulit keras. Semua varietas membuat simbiose dengan rizhobia lokal dan rizhobia kancang panjang. Menurut Yusuf dan Partridge (2002) Legum stylo cocok untuk disebarkan pada padang rumput, dapat merubah komposisi botani menuju ke spesies yang lebih produktif berpengaruh baik pada ternak dan tumbuh lebih cepat.
Menurut (Soedomo-Reksohadiprojo, 1985) sistematika Stylosanthes guianensis adalah sebagai berikut :
Phylum : Spermatophytae
Sub phylum : Angiospermae
Classis : Dicotyledoneae
Ordo : Rosales
Sub Ordo : Rosinae
Famili : Leguminoseae
Sub Famili : Papilionaceae
Genus : Stylosanthes
Species : Stylosanthes guianensis
Cultivar : CIAT 184
Stylosanthes guianensis CIAT 184 tahan terhadap penyakit anthracnose di Asia Tenggara (Horne and Stur. 1999). Umumnya tumbuh sebagai cover crop dipotong setiap 2-3 bulan. Sangat efektif menekan pertumbuhan gulma dan baik sebagai feed suplement untuk ternak ayam, babi dan ikan. Dapat diberikan dalam keadaan segar atau kering diproses dalam bentuk tepung daun. Stylo tidak tahan terhadap pemotongan yang pendek karena harus ada tunas batang untuk pertumbuhan kembali, sehingga pemotongan yang baik dilakukan 20 cm diatas permukaan tanah Umumnya stylo ditanam dari biji, dan beberapa petani dapat melakukannya dengan potongan batang (stek) .

B. Rock Fosfat (Batuan fosfat)
Deposit batuan fosfat di Indonesia mencapai 800 ribu ton, tersebar dari Sumatera hingga Irian Jaya, dengan kandungan P2O5 berkisar 30 hingga 38% (Kusartuti, 1990; Sediyarso,1999). Tingkat produksi batuan fosfat terbesar adalah Amerika, diikuti China, Maroko dan Rusia (Ober, 2002).
Berdasarkan susunan kimianya, batuan fosfat digolongkan sebagai Kalsium–aluminium (besi) fosfat (Ca, AI (Fe)-P), dan aluminium (besi) fosfat (AI (Fe)-P) (Sediyarso, 1999). Kalsium fosfat merupakan bahan baku utama pupuk superfosfat. Kalsium-aluminium (besi) fosfat umumnya digunakan dalam industri pupuk NPK dan digunakan juga secara langsung sebagai pupuk P.
Pengujian penggunaan pupuk batuan fosfat pada tanaman pangan dan tanaman perkebunan telah banyak dilakukan. Beberapa diantaranya dilaporkan oleh Adiningsih et al (1998), dan Nasution (2000) bahwa efektivitas pupuk batuan fosfat masih rendah dan kalah dibandingkan pupuk P yang mudah terlarut air . Hal tersebut merupakan penyebab utama rendahnya tingkat penggunaan pupuk batuan fosfat yang hanya mencapi 5 % dari total penggunaan P di Indonesia.
Usaha untuk meningkatkan efektivitas batuan fosfat telah banyak diteliti, diantaranya adalah dengan cara meningkatkan kelarutan pupuk batuan fosfat sebelum pupuk tersebut diaplikasikan di tanah, diantaranya adalah melalui 1) pengasaman sebagian (partial acidulation) menggunakan asam sulfat atau asam fosfat (Chien dan Hammond, 1989; Menon et al., 1989; Xiong, 1994); 2) dicampur dengan bahan yang mengandung sulfur ( Lowell dan Weil, 1995; Allen dkk., 1996), pupuk nitrogen dan kalium (Chien, 1979), atau pupuk superfosfat (Shore, 2002). Usaha –usaha peningkatan efektivitas pupuk batuan fosfat tersebut diatas, belum memberikan hasil yang memuaskan dan tetap memiliki variasi pengaruh terhadap serapan P, pertumbuhan maupun hasil tanaman, sehingga penggunaan MPF tetap berpeluang untuk dikembangkan, terutama dalam hal penjaminan tingkat pelarutan dan penyediaan P untuk tanaman, serta kemudahan aplikasi pada skala lapangan.

C. Peranan Pupuk Hayati
Untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia dosis tinggi, akhir-akhir ini sedang digalakkan penggunaan pupuk hayati. Pemilihan pupuk hayati sebagai pengganti pupuk buatan didasarkan pada konsep pembangunan pertanian berkelanjuatan. Konsep ini memanfaatkan kekayaan hayati, terutama jasad hidup tanah yang mampu memperbaiki kesuburan tanah sehingga efek negatif pupuk kimia dapat dikurangi.
Pupuk hayati adalah jasad hidup tanah yang dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan cara mengikat N bebas dari udara, melarutkan fosfor dan atau memutuskan ikatan-ikatan yang menyebabkan unsur hara tidak tersedia bagi tanaman (Sastro, 1999). Hal ini berbeda dengan pupuk jenis lain yang unsur hara sudah terkandung di dalam material pupuk tersebut.
Pupuk hayati (Mikroba) yang akan digunakan dalam penelitian ini antara lain :

1. Biofosfat (Mikroorganisme Pelarut Fosfat)

Biofosfat adalah nama pupuk mikroba yang diperoleh dari Lab Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UGM. Bahan aktif pupuk ini ialah mikroba pelarut fosfat (MPF) yang digunakan yaitu beberapa jenis bakteri pelarut fosfat diantaranya Bacillus sp dan Pseudomonas sp. Mikroba Biofosfat merupakan formulasi mikroba efektif pelarut hara fosfat yang dilengkapi dengan formulasi bahan pembawa yang diperkaya dengan unsur hara mikro yang diperlukan oleh mikroba dan tanaman (Goldstein, 1995)
Kebanyakan lahan pertanian di Indonesia ketersediaan P didalam tanah sangat rendah karena pengikatan P tanah yang kurang aktif. Pada kondisi tersebut, hanya 10-20% dari pupuk P yang diberikan dapat dimanfaatkan oleh tanaman karena telah jenuh Fosfat (P) dan Kondisi pH tanah masam menyebabkan tanaman tidak dapat memanfaatkan hara atau pupuk secara tepat guna. Dalam keadaan ini perkembangan akar tanaman terhambat sehingga menyebabkan akar tanaman tidak mampu membentuk bintil akar yang efektif, akhirnya tanaman kerdil dan merana. Menurut Saraswati et al (2001) dengan pemberian Biofosfat dapat meningkatkan ketersediaan P didalam tanah pada lahan yang ketersediaan P-nya rendah.
Kemampuan mikroorganisme pelarut fosfat (MPF) untuk meningkatkan laju pertumbuhan tanaman dapat dilakukan karena mensekresikan asam-asam sitrat, suksinat, laktat, oksalat, malat, glioksilat dan glukonat (Illmer dan Schinner, 1995). Sehingga dapat meningkatkan ketersediaan P didalam tanah pada lahan yang ketersediaan P nya rendah, disamping penggunaan MPF relatif lebih aman terhadap lingkungan.

2. Rhizobium

Rhizobium adalah bakteri yang terdapat di dalam tanah yang hidup secara simbiotik pada bintil akar tanaman leguminosa (Moulin et al., 2001). Rhizobium yang digunakan merupakan jenis mikroba efektif yang terpilih hasil seleksi intensif terhadap kemampuan mengikat N udara, melarutkan fosfat dari kompleks Ca-P, A1-P, dan toleransinya terhadap kondisi tercekam (kemasaman AI dan kekeringan).
Menurut Somantri et al., (2005) rihzobium selalu mampu meningkatkan kemampuan tanaman mengikat N udara, juga mampu meningkatkan kelarutan fosfat tanah, sehingga pembentukan bintil akar dan produktivitas tanaman meningkat. Hal senada juga di utarakan oleh Mansyur, S.H (2008) dalam pembentukan bintil akar, aktivitas bakteri rhizobium pada tanaman stylo memberi cukup N maka tanaman akan mempunyai sistem perakaran yang lebih besar serta menyebar dan akhirnya penyerapan P akan tambah dan sebaliknya pemberian P yang cukup dapat mendorong tanaman stylo untuk menyerap nitrogen.
Manfaat yang dapat diperoleh dari penggunaan pupuk ini adalah :
a) meningkatkan penyediaan nitrogen bagi tanaman melalui peningkatan fixsasi N udara oleh bakteri bintil akar, b) memperbaiki kesuburan dan keseimbangan hara dalam tanah, c ) menekan kebutuhan urea dan TSP hingga 40 - 50% (Saraswati et al., 1996).
Hal yang mempengaruhi efektifitas Rhizobium dilapangan adalah :
1) Faktor lingkungan, yaitu : genotipe tanaman, strain bakteri yang digunakan, kondisi lingkungan tumbuh seperti cahaya, suhu, CO2, pH, air, elemen-elemen mineral (Ca, Mg, P, S, AI, dan Mn), dan adanya persaingan dengan rhizobia atau bakteri tanah lainnya (Simanungkalit et al., 1994). 2) Faktor inokulan yang mempengaruhi efektivitas penambatan N dan pelarutan P, antara lain a) mutu inokulan yang dipengaruhi oleh : penyimpanan inokulan selama transportasi. Hasil penelitian pengiriman paket inokulan rhizibia kesembilan kota di Indonesia menunjukkan bahwa suhu maksimum rata-rata diantara paket inokulan berkisar antara 29 sampai 42°C (Roughley et al., 1995). b) potensi suhu yang tinggi memungkinkan matinya mikroba yang terkandung dalam pupuk mikroba selama transportasi. c) cara aplikasi mencampur benih dan inokulan hendaknya dilakukan ditempat yang teduh. Jangan terkena sinar matahari langsung (Saraswati et al., 1996).




LANDASAN TEORI
Program peningkatan produksi ternak ruminansia akan berhasil baik, apabila program penyediaan makanan yang bermutu telah tersedia. Makanan dibutuhkan ternak untuk hidup pokok, pertumbuhan, produksi dan reproduksi.
Kegagalan pada produksi ternak ruminansia umumnya disebabkan karena tidak tersedianya bahan hijauan makanan ternak yang bermutu, karena hijauan alam umumnya mempunyai nilai gizi dan produksi rendah. Tanpa peningkatan produktivitas hijauan adalah hal yang sangat sulit untuk pengembangan usaha ternak ruminansia.
Kualitas dan kuantitas hijauan sangat ditentukan oleh faktor iklim, faktor tanah termasuk ketersediaan unsur hara, potensi genetik tanaman dan tatalaksana.
Leguminosa makanan ternak adalah bagian dari jenis tanaman kacang-kacangan yang kaya protein, mineral, vitamin-vitamin dan ditanam sebagai cover crop ataupun sebagai makanan ternak serta mencegah erosi dan sanggup memelihara kesuburan tanah.
Keseimbangan unsur-unsur hara didalam tanah memungkinkan produksi tanaman dapat mencapi maksimal. Tanaman leguminosa sangat sensitif terhadap defisiensi fosfor. Kadar fosfor tanaman leguminosa lebih tinggi (0,34%) dari rumput (0,22%) (Hartadi et al., 2005) dan ketersediaan unsur fosfor menyebabkan tanaman leguminosa dapat meningkatkan unsur nitrogen. Aktifitas fiksasi nitrogen juga akan meningkat jika unsur fosfor cukup tersedia. Fiksasi nitrogen yang efektif oleh bintil akar akan terjadi apabila dalam tanah cukup tersedia bakteri Rhizobium yang sesuai untuk kebutuhan legum. Pemberian inokulum pada biji atau dalam tanah merupakan upaya untuk menjamin adanya strain-strain Rhizobium yang efektif untuk menambat nitrogen oleh bintil akar tanaman leguminosa.
Usaha-usaha intensifikasi lahan saat ini menyebabkan kebutuhan pupuk kimia meningkat setiap tahunnya. Hasil-hasil penelitian sampai sekarang ini cenderung menunjukkan aplikasi pupuk kimia dalam dosis tinggi hanya bertujuan meningkatkan produktivitas tanaman tanpa banyak mempedulikan dampak lingkungannya. Akibat penggunaan pupuk kimia menjadi tidak efisien dan mengganggu lingkungan. Dengan demikian diperlukan suatu teknologi berwawasan lingkungan yang mampu meningkatkan produktivitas tanaman dengan masukan rendah tetapi berkelanjutan.

HIPOTESIS
Kombinasi pemberian pupuk batuan fosfat (500 kg/ha) dan pupuk hayati (biofasfat dan rhizobium) akan meningkatkan produksi dan kualitas tanaman Stylosanthes guianansis CIAT 184

CARA PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium dan kebun koleksi Hijauan Makanan Ternak dan Pastura, Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. selama 4 bulan (Juni – Oktober 2009). Lokasi ini terletak pada ketinggian 137 m dari permukaan laut. Sebelumnya akan dilakukan analisis terhadap tanah yang digunakan sebagai media tanam di Laboratorium Tanah dan Pupuk, Fakultas Pertanian UGM.

B. Bahan dan Alat
Benih yang digunakan Stylosanthes guianensis CIAT 184. diperoleh dari Loka Penelitian Sei Putih Sumatera Utara. Pupuk rock phosphate diperoleh dari toko-toko pertanian, Sedangkan pupuk hayati biofosfat dari Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UGM dan rhizobium strain legum Cowpea (Vigna sinensis) diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Pertanian UGM.
Peralatan yang akan digunakan adalah traktor, cangkul, sekop, sabit, gunting, pisau, sprayer, ember, gembor, tali, dan label. Sedangkan untuk pengamatan berupa timbangan listrik untuk mengukur bobot tanaman dan hasil, counter untuk menghitung bintil akar, oven, meteran, mistar untuk mengukur tinggi tanaman, karung, tampi, alat tulis menulis serta personal komputer untuk analisis data dan penyusunan laporan.

C. Metode Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan dengan menggunakan rancangan Petak Berjalur (Strip Plot Design) yang terdiri atas dua faktor.
Faktor yang pertama faktor horizontal yaitu pupuk rock fosfat (P) yang terdiri atas tiga taraf yaitu :
P0 = Tanpa rock fosfat
P1 = rock fosfat 250 kg/ha
P2 = rock fosfat 500 kg/ha

Faktor kedua faktor vertikal yaitu pupuk hayati rhizobium dan biofosfat (M) yang terdiri atas empat taraf yaitu :
M0 = Tanpa pupuk hayati
M1 = Plus rhizobium
M2 = Plus biofosfat
M3 = Plus rhizobium dan biofosfat.

Dari kedua faktor perlakuan tersebut diatas akan diperoleh kombinasi perlakuan 12 buah dengan tiga ulangan sehingga terdapat 36 petak perlakuan. Ukuran petak perlakuan 2 m x 3 m dengan jarak antar petak 0,5 m, jarak tanaman 40 cm x 20 cm dan jarak antar blok atau ulangan 1 m. Petak-petak perlakuan akan disusun secara acak atau random (Gomez and Gomez, 1995) kombinasi perlakuan yang akan dicoba adalah :

Lay out


Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3

P1 P1 P1 P1 P0 P0 P0 P0 P2 P2 P2 P2
M1 M3 M0 M2 M2 M1 M3 M2 M0 M2 M3 M1


P0 P0 P0 P0 P2 P2 P2 P2 P1 P1 P1 P1
M1 M3 M0 M2 M2 M1 M3 M0 M0 M2 M3 M1


P2 P2 P2 P2 P1 P1 P1 P1 P0 P0 P0 P0
M1 M3 M0 M2 M2 M1 M3 M0 M0 M2 M3 M1

0,5 m 1 m




D. Pelaksanaan Penelitian
1. Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah akan dilakukan dengan membajak tanah dua kali dengan menggunakan traktor, dilanjutkan pembuatan petak dengan ukuran 2m x 3m dan jarak antar petak 0,5 m sebagai saluran drainase serta jarak antar ulangan 1 m.

2. Penanaman dan Pemupukan
Penanaman akan dilakukan dengan cara ditugal sedalam 1-2 cm dengan jarak tanam 20 cm x 40 cm, dua benih perlubang tanam. Pada umur 7 hari tanaman yang tumbuh ditetapkan menjadi satu tanaman saja perlubang tanam yang akan digunakan untuk penelitian, yaitu dengan memilih dari tanaman yang pertumbuhannya cukup baik dan mencabut tanaman yang pertumbuhannya kurang baik. Rhizobium dan biofosfat diberikan dengan cara dibasahi sedikit air dicampurkan dengan benih ditempat yang teduh. Pencampuran ini dilakukan sesaat sebelum tanam. Pupuk rock phosphate diberikan bersamaan dengan waktu tanam dengan cara ditabur dengan jarak 7 – 10 cm dari lubang tanam.

3. Penyulaman
Pengamatan pertumbuhan tanaman dilakukan 5-7 hari setelah tanam. Apabila tanaman tidak tumbuh, maka dilakukan penyulaman dengan tanaman stylo yang sudah disiapkan di poly bag, yang penanamannya bersamaan dengan waktu penanaman di plot sehingga umur tanaman sama dengan yang lain.


4. Penyiangan
Penyiangan akan dilakukan 21 hari setelah tanam untuk menghilangkan gulma penyaing tanaman Stylo dalam menyerap unsur hara, air, sinar matahari dan ruang tumbuh. Cara penyiangan dilakukan dengan tangan dan alat penyiang.

E. Variabel Pengamatan
1. Tanaman Sampel
Selama penelitian berlangsung akan dilakukan pengamatan terhadap parameter pertumbuhan dan hasil tanaman. Tanaman sampel akan diambil secara acak sebanyak 5 lubang tanam per petak percobaan. Pengukuran tinggi tanaman akan dilakukan mulai umur 2 minggu setelah tanam, dengan interval waktu dua minggu sampai tanaman menjelang panen. Cara pengukuran akan dimulai dari permukaan tanah sampai titik tumbuh.
2. Pemotongan (panen)
Tanaman akan dipotong pada umur tiga bulan yaitu pada saat menjelang berbunga dengan tinggi 20 cm di atas permukaan tanah, sedangkan parameter yang akan diamati adalah :
1. Produksi Tanaman antara lain :
a. Berat segar dan berat kering. Untuk mendapatkan berat segar tanaman dipotong seluruhnya yang ada didalam petakan perlakuan kemudian ditimbang. Setelah diketahui berat segarnya, sampel tanaman diambil sebanyak 300 gr setiap perlakuan dan dikeringkan dalam oven dengan suhu 55°C. Penimbangan sampel dilakukan setelah 48 jam dalam oven sampai diperoleh berat konstan (AOAC, 1975)
b. Jumlah bintil akar per lubang tanam.
c. Jumlah bintil akar efektif per lubang tanam. Bintil akar efektif diketahui dengan cara membelah bintil akar tersebut. Apabila bagian tengah berwarna merah, maka hal itu menunjukkan bahwa bintil akarnya efektif dalam menyemat nitrogen.
d. Berat bintil akar efektif per lubang tanam.
2. Kualitas Tanaman
Untuk menentukan kualitas tanaman akan dilakukan analisis hijauan (menurut AOAC, 1975) berupa kandungan :
a. Fosfor (P)
b. Protein kasar (Crude protein)
c. Serat kasar (Crude fiber)
3. Pengamatan Pendukung
Sebelum tanam, akan dilakukan analisis fisika dan kimia tanah. Analisis fisika untuk mengetahui tekstur, sedangkan analisis kimia tanah untuk mengetahui pH dan kandungan P total dan P tersedia / available.
F. Analisi Data
Gomez dan Gomez (1995) rancangan petak berjalur (Strip Plot Design). Data hasil pengukuran setiap variabel akan dianalisis keragaman sesuai dengan rancangan yang digunakan. Apabila uji F menunjukkan adanya pengaruh nyata dari masing-masing perlakuan maupun interaksinya, maka akan dilanjutkan dengan uji beda jarak berganda Duncan (Duncan multiple range tes) pada tingkat ketelitian 5%.



DAFTAR PUSTAKA



Adiningsih, S., U. Kumia, dan S. Rochayati. (1998) Prospek dan kendala penggunaan P-alam untuk meningkatkan produksi tanaman pangan pada lahan masam marginal. Kumpulan makalah Pertemuan Pembahasan dan Komunikasi Hasil Penelitian Tanah dan Agroklimat. Puslitanak, Bogor, 10 Februari 1998.

Allen, E.R., L. R. Hossner, D. W. Ming, and D. L. Henningger. 1996. Release rates of phosphorus, ammonium, and potassium in clinoptilolite-phosphate rock systems. Soil Sci.Soc.Am.J.60:1467-1472.

AOAC, 1975. Method of Analisis. 12 th ed. Association of Official Analytical Chemists. PO BOX 504, Benjamin Franklin Station Washington DC.

Barnes, R.F and Baylor, J.E., 1995. Forages in a changing world. In: Barnes R.F., Miller D.A.and C.J. Nelson (eds.) Forages, Vol 1., An intoducion to Grassland Agriculture, 5th edn. Iowa State University Press, Iowa.

Belmehdi, A. 1987. World supply of phosphate rock and processed phosphates. Prosiding Loka Karya Nasional Penggunaan Pupuk Fosfat. Puslitanak, Bogor, Hal : 53-77

Chien, S. H.1979. Dissolution of phosphate rock in acid soils as influenced by nitrogen and potassium fertilizers. Soil Sci. 127:371-376.

Chien, S. H. and L.L. Hammon. 1989. Agronomic effectiveness of partially acidulated phosphate rock as influenced by soil phosphorus fixing-capacity. Plant and Soil 120:165-170.

D.B. Coates 1995 Tropical Legumes for Large Ruminants CSIRO, Division of Tropical Crops and Pastures, Private Mail bag, PO Aitkenvale, Qld 4814, Australia

Gomez, K.A and A.A. Gomez, 1995. Prosedur Statistik Untuk Penelitian Pertanian. Edisi kedua. Terjemahan E. Sjamsudin dan J.S. Baharsjah. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.

Goldstein. A.H 1995. Recent progress in understanding the molecular genetics and biochemistry of calcium phosphate solobilization by gram negative bacteria. Boil. Agric. Horticulture 12:185-193.

Hartadi, H., S. Reksohadiprodjo, A.D. Tilman. 2005. Tabel komposisi pakan untuk Indonesia – cetakan kelima Gadjah Mada University Press. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

HONG, G.B. 1991. Syarat Tanah untuk Pemupukan Efektive. Pros. Lokakarya Nasional Efisiensi penggunaan pupuk V. Cisarua. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Horne, P.M. and Werner, W.Stur. 1999 Developing Forage Technologies with Smallholder Farmers. How to selec the best varieties to offer farmers in Southeast Asia. Published by ACIAR and CIAT. ACIAR Monograph No.62 Hal : 68

Illmer, P. and F. Schinner, 1995. Solubilization of inorganic phosphate by microorganisme isolated from fores soil. Soil boil. Biochem 24:389-395.

Kusartuti. 1990. Pupuk fosfat serta penyediaannya dan kebutuhannya di Indonesia. Prosiding Lokakarya Nasional Penggunaan Pupuk Fosfat. Puslitanak, Bogor, Hal : 121-133.

Lowel, K. and R. R. Weil. 1995. Pyrite enhancement of phosphorus availability from African phosphate rocks : A Laboratory study. Soil Sci. Soc. Am. J 59:1645-1654.

Lukiwati, D.R and R.D.M. Simanungkalit. 2004. Production and nutritive value of pueraria phaseoloides with vesicular-arbuscular mycorrhizae inoculation and phosphour fertilization. Collection of abstract. International symposium of the working groupMO”International of soil mineral with organic components and microorganisms” and the Fist Inter-Congress conference of commission 2.5 ‘Soil Physical/Chemical/Biological Interfacial Interactions” of the International Union of Soil Sciences. China. 20-23 September. Hal : 90.
Mansyur, S.H., 2008. Pengaruh Inokulasi Rizhobium terhadap pembentukan bintil akar kacang tanah (Arachis hhpogea) ditaman hutan raya Propinsi Bengkulu. Balitbang Mikrobiologi, Puslitbang Biologi – LIPI. 39145-0-prosiding_abdul_cholik_423_-_430.PDF
Moulin. L.J. Munive, B. Dreyfus, and C. Bolvin-Masson. 2001. Nodulation of Legums by Members of the subclass of Proteobakteri. Macmillan Magazines Ltd.
Menon, R.G., S.H. Chien, and L. L. Hammon.1989. Comparison of Bray I and Pi tes for evaluating plant-available phosphorus from soils treated with different partially acidulated phosphate rocks. Plan and Soil 114: 211-216.

Nasution, M.Z. 2000. Efektivitas pupuk fosfat alam Gafsa-Tunisia pada tanaman karet muda. Ilmu Pertanian 7 : 80-86.

Ober, 2002. Phosphate rock. www.usgs.goviminerals. 24 juni 2002.
Phonepaseuth Phengsavanh and Inger Ledin 2003 Effect of Stylo 184 (Stylosanthes guianensis CIAT 184) and Gamba grass (Andropogon gayanus cv. Kent) in diets for growing goats Livestock Research Center, National Agriculture and Forestry ResearchInstitute, Ministry of Agriculture and Forestry, PO Box 811, Vientiane, Lao PDR p.phengsavanh@cgiar.org Department of Animal Nutrition and Management, Swedish University of Agricultural Sciences, Box 7024, 75007 Uppsala, Sweden Received 2 May 2003.

Roughley, R. J., R. D. M. Simanungkalit, L. G. Gemell, E. J. Hartley and P. Cain, 1995. Growth and Survival of Root Nodule Bacteria in Legume Inoculants Store at High Temperature. Soil Biol. Biochem. 27 : 707 – 712.

Saraswati, R., R. D. Hastuti, N. Sunarlin dan Hutamu, 1996. Penggunaan Rhizoplus Generasi 1 untuk meningkatkan Produksi Tanaman Kedelai. Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan, Bogor Indonesia.

Saraswati, R., D.H. Goenadi, N. Sunarlim, S. Hutami dan D. S. Damardjati, 2001. Pengembangan Biofosfat untuk meningkatkan Efesiensi Pemupukan. Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan. Hal : 6

Sastro, Y,1999. Pupuk Alternatif, pengganti pupuk kimia, Sinar tani tanggal 2 Juli 1999 No.2792. Hal : 5-6.
Sajimin, Yono., C.Raharjo dan N.D. Purwantari. 2005. Produksi Tanaman Pakan Ternak Stylosanthes hamata Yang Diberi Pupuk Feses Kelinci. Balai Penelitian Ternak Bogor. Prosiding Seminar Teknologi Peternakan dan Veteriner.

Salih, H.M., A.I. Yahya, A.M. Abdul-rahem, and B. H. Munam. 1989. Availability of phosphorus in calcareus soil treated with rock phosphate or super phosphate as affected by phosphate-dissolving fungi. Plan and Soil 120 : 181-185.

Sedi yarso,M. 1999. Fosfat Alam Sebagai Bahan Baku dan Pupuk Fosfat. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Shore, K. 2002. Food for the soil, rock phosphate as fertilizer. www. Idrc.calreports. 24 Juni 2002.

Somantri, I.H., M. Hasanah, S. Adisoemarto, M. Thohari, A. Nurhaidi, dan I. N. Orbani. 2005. Seri Mengenal Plasma Nutfah : Tanaman Pangan. Komisi Nasional Plasma Nutfah. Bogor.

Soedomo Reksohadiprojo, 1985 Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropik, Edisi Revisi Cetakan pertama. Hal : 65-67.

Xiong,L.U. 1994. Agronomic potential of partially acidulated rock phosphates in acid soils of subtropical china. Dalam proceedings ITC-Workshop. UGM. Yogyakarta, Hal : 155-166.

Yusuf A.Sutaryono dan I. J. Partridge. 2002 Mengelola Padang rumput Alam di Indonesia Tenggara. Departement of Primary Industries quessnsland. Published by ACIAR.

















3. Tinjauan Pustaka

A. Stylo (Stylosanthes guianensis CIAT 184)
Stylo adalah suatu legum makanan ternak yang kaya akan protein, produksi cukup tinggi dan dengan mudah dapat dikenali oleh daun bewarna hijau berbentuk elip atau pedang yang ujungnya meruncing panjangnya 1-6 cm, tangkai daun panjangnya 1 sampai 10 mm. Bunga berwarna kuning, Karangan bunga terdiri dari beberapa kumpulan bunga tidak bertangkai, tiap karangan bunga mengandung 2 sampai 40 bunga yang kecil. Kelopak bunga mempunyai tabung yang panjang 4 sampai 8 mm tidak berbulu atau sedikit berbulu. Bunga standard agak bulat dengan panjang 4 sampai 8 mm. Bunga dasar panjangnya 3,5 sampai 5,0 mm berbentuk sabit. Polong tidak berbulu panjangnya 2 sampai 3 mm dan lebar 1,5 sampai 2,5 mm mengandung satu biji, Warna biji kuning kecoklat-coklatan. Bunga menyebar dengan biji yang terlempar bila masak, sebagian biji adalah berkulit keras. (Horne and Stur. 1999)
Menurut Yusuf dan Partridge (2002) Legum stylo cocok untuk disebarkan pada padang rumput, dapat merubah komposisi botani menuju ke spesies yang lebih produktif berpengaruh baik pada ternak dan tumbuh lebih cepat. Di asia tenggara Stylo 184 tahan terhadap penyakit anthracnose ( D.B. Coates 1995) Umumnya tumbuh sebagai cover crop dipotong setiap 2-3 bulan. Sangat efektiv menekan pertumbuhan gulma.
Sebagai fed suplemen sangat baik diberikan untuk ternak ayam, babi dan ikan, pada kambing lokal Stylo 184 merupakan pakan suplemen yang berkualiatas baik menunjukkan pertambahan berat badan yang sangat signifikan.(Phengsavanh. P and Inger. L 2003) Dapat diberikan dalam keadaan segar atau kering diproses dalam bentuk tepung daun.
Menurut (Soedomo Reksohadiprojo, 1985) sistematika stylosanthes guianensis adalah sebagai berikut :
Phylum : Spermatophyta
Sub phylum : Angiosperma
Classis : Dicotyledoneae
Ordo : Rosales
Famili : Leguminoseae
Sub Famili : Papilionaceae
Genus : Stylosanthes
Species : Stylosanthes guianensis CIAT 184

B. Persyaratan Tumbuh Stylosanthes guianensis.
Stylo dapat hidup didaerah-daerah tropik dengan curah hujan sebanyak 890 sampai 4.096 mm tiap tahun. Legum tumbuh pada variasi tanah yang luas bahkan di tanah yang kurang subur. Legum agak tahan kering, toleran terhadap tanah yang asam dengan drainase yang jelek, tetapi tidak toleran terhadap naungan. Semua varietas membuat simbiose dengan rizhobia lokal dan rizhobia kancang panjang.
Stylosanthes guianensis CIAT 184 dapat beradaptasi dengan baik pada berbagai jenis tanah dan iklim yang cukup luas dan pada tanah yang tidak subur dan gersang dibanding dengan varietas lain seperti Stylosanthes Guianensis ( eg.cv. scofield, cook dan graham). Stylo tidak tahan terhadap pemotongan yang pendek karena harus ada tunas batang untuk pertumbuhan kembali, sehingga pemotongan yang baik dilakukan yaitu (> 20 cm). umumnya stylo ditanam dari biji, dan beberapa petani dapat melakukannya dengan potongan batang /stek (Horne and Stur. 1999).


Stylosanthes guianensis direkomendasikan pada :
Table 1 : Suitability of forages for different uses :
Ways of growing and using forages
potongan cut & carry improved fallows Cover crops in annual crops legume supplementation for the dry season, legume leaf meal

Table 2 : Recommended forages for different climates and soils :
Climate :
Wet tropics with no or short dry season, wet/dry tropics with long dry season, moderately (neutral to moderately acid soils, infertile (extremely acid soils)
Soil fertility and acidity :
Moderately fertile (neutral to moderately acid soils), infertile (extremely acid soils)

Table 3 : Growth froms and life span of forages :
Growth form :
Erect bushy legumes (short-live 1-3 years), erect bushy legumes


Digunakan untuk makanan ternak dengan system potong angkut, sebagai cover crop suplementasi pada musim kemarau dan tepung dau legum
Stylosanthes guianensis direkomendasikan pada:
Tabel 1: Pantas tidaknya makanan hewan untuk penggunaan berbeda:
Jalan dalam bertumbuh dan menggunakan makanan hewan
potongan yang memotong& membawa meningkatkan tutup tandus Tanaman panenan di (dalam) tanaman panenan sj.kacang polong tahunan supplementation untuk musim kemarau, sj.kacang polong daun makanan

Tabel 2: Makanan hewan yang direkomendasikan untuk lahan dan iklim berbeda:
Iklim:
Garis balik basah dengan tidak ada atau musim kemarau pendek/singkat, wet/dry garis balik dengan merindukan musim kemarau, [yang] sedang ( netral untuk lahan cuka sedang, tidak subur/gersang ( lahan cuka sangat)
lahan kadar keasaman dan Kesuburan:
sedang Subur ( netral untuk lahan cuka sedang), tidak subur/gersang ( lahan cuka sangat)

Tabel 3: Pertumbuhan dari jangka hidup makanan hewan dan :
pertumbuhan Format:
Bushy sj.kacang polong lurus ( short-live 1-3 tahun), bushy sj.kacang polong lurus



Many strylos are susceptible to different strains and races of the fungal pathogen colletotrichum gloeosporioides causing the disease anthracnose which has become a widespread and damaging disease of stylo worldwide. Anthracnose has led to the failure of some of the commercial cultivars that had perfermed well in the past. The annual S. humilis (Townsville stylo) was naturalized to substantial areas in northeasrern queensland prior to the 1970 and was

Banyak strylos adalah peka ke [ras/lomba] dan tegangan berbeda [menyangkut] fungal pathogen colletotrichum gloeosporioides menyebabkan penyakit [itu] anthracnose yang (mana) telah menjadi suatu tersebar luas dan penyakit stylo [yang] merusakkan di seluruh dunia. Anthracnose telah menuju/mendorong kegagalan beberapa dari yang komersil cultivars itu mempunyai sumur perfermed di masa lalu. Yang tahunan. humilis ( Townsville stylo) dinetralkan ke area substansiil di (dalam) northeasrern queensland sebelum 1970 dan adalah
( D.B. Coates 1995) Tropical Legumes for Large Ruminants CSIRO, Division of Tropical Crops and Pastures, Private Mail bag, PO Aitkenvale, Qld 4814, Australia


















JUDUL PENELITIAN


PENGARUH PEMBERIAN Rock phosphate DAN PUPUK HAYATI (BIOFOSFAT DAN RRHIZOBIUM) TERHADAP PRODUKSI DAN KUALITAS TANAMAN PAKAN TERNAK Stylosanthes guianensis CIAT 184


Materi Penelitian :

- Rock phosphate (batuan fosfat) yaitu : pupuk organik yang mengandung P merupakan bahan baku utama pupuk superfosfat diperoleh dari toko-toko pertanian.
- Biofosfat (Mikroorganisme pelarut fosfat) yaitu : bakteri sebagai pelarut fosfat. Diperoleh dari Fak. Pertanian Ilmu tanah (Dr. Ngadiman)
- Rhizobium yaitu : Bakteri pengikat N. Dari strain legum Cowpea (vigna sinensis) diperoleh dari Fak. Pertanian Mikrobiologi (Ibu Sri)
- Stylosanthes guianensis CIAT 184 yaitu : legum herba sebagai pakan ternak yang mengandung protein tinggi. Diperoleh dari Medan.








III. METODOLOGI PENELITIAN

1. Batuan fosfat yang digunakan dalam penelitian ini adalah batuan fosfat Christmas Island yang diperoleh dari PT. Petro kimia Gresik, Jawa Timur.


3) bio-aktivasi menggunakan mikro organisme pelarut fosfat (MPF) (Goldstein dkk., 1993; Goenadi dkk., 2000, Widiastuti dkk., 2000).

Pemupukan untuk stylo adalah 500 kg. ’rock phosphate’ tiap ha.menghasilkan hijauan yang baik. Penanaman dengan stek dari tanaman yang berumur satu tahun, waktu tanaman dipotong untuk pertama kalinya, tinggi tanaman adalah 60 sampai 90 cm dari atas tanah, selanjutnya tanaman dipotong tiap 1,5 sampai 2 bulan. (Soedomo Reksohadiprojo, 1985)

Menurut ……….dengan Pupuk P : 50 – 150 kg superphosphat / ha dan Cu SO4 : 10 kg/ha ditambah Liming : 250 kg /ha dapat menghasilkan 2,5 – 10 ton Bk/ha dan peremajaan dilakukan 3 tahun tergantung perawatan.

F. Peranan pupuk P

Salah satu unsur hara yang sangat esensial adalah fosfor. Didalam tanah pada umumnya P sering merupakan faktor pembatas untuk memproduksi tanaman dibanding dengan unsur hara lainnya. Jumlah P yang cukup dalam tanah mendorong pertumbuhan tanaman dan mempercepat kemasan biji serta sering kali dapat memperbaiki kualitas hasil tanaman. Fosfor dapat menguatkan pertumbuhan batang, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kerusakan oleh penyakit, membantu memindahkan substansi dari batang, daun dan bagian-bagian tanaman lainnya menuju kebiji. Pupuk P

Analisa hijauan segar pada umur 4 bulan adalah sebagai berikut :
- Air : 76,0%
- Protein Kasar : 29,0%
- Serat kasar : 9 %
- Lemak : 0,5 %
- Abu : 1.7 %.

Lay out


Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3

P0M1 P2M1 P1M1 P2M2 P1M2 P0M2 P2M0 P0M0 P1M0

P0M3 P2M3 P1M3 P2M1 P1M1 P0M1 P2M2 P0M2 P1M2

P0M0 P2M0 P1M0 P2M3 P1M3 P0M3 P2M3 P0M3 P1M3

P0M2 P2M2 P1M2 P2M0 P1M0 P0M0 P2M1 P0M1 P1M1
0,5 m 1.m

Link ke posting ini Email this post

Design by Amanda @ Blogger Buster