The Valley of Scouting and The Rock Land of Scouting Both named by Sleman’s Scouting (The Journey of Wedi Ombo – Gunung Kidul)

Senin, 30 Maret 2009


This time the adventure of Sleman’s scouting took place in Gunung Kidul, we got there at dark, maghrib at Saturday, December 13th, 2008. We started the journey after isya to get the top of land we seen. Our number just ten and never knew the route of this land before, and the ocean water become its rise-time so we had to walk at the edge of it. We were breaking through the bushes to get the stright line of the top of land, up and down hill until we arrived to the top of land, but less of minutes, our leader was instructing us to get the other side higher land, so we had to move again breaking through the bushes until we found the valley. The Valley was about 50 meters of depth and about 20 meters of width and about 70o of slope. So we used our rope to go down to the bottom of valley one by one, the bottom of it is the river that the water flowed to the south ocean. We named this valley was the valley of scouting because this valley first time we met in Wedi Ombo land and we gone down to its bottom. Then we climbed hill to get to the top of it, it was so exciting.

At midnight we arrived in the other higher land even we separated in two groups but we met again in the top of the land. In this place, we were seeing the great south ocean in the bright of the moon and hearing the sound of nature and when we were laying down on the surface of rock, we seen the moon and the bright of stars and once we seen the meteor moved in the sky and it was so beautiful. Subhaanallah


At dawn after we take early-morning prayer we set all of our equipments and prepared to continue the adventure of its land. We decided to move in the edge of the land because it is nearer then it was. We met beach and not far of it we met a lot of rock until we met the rock island, it was so beautiful because a lot of it was just standing-rock and once the ocean wave hit it and a lot of algae grown on it. We called it, the rock land of scouting. In this land our guy injured because hit by ocean wave and almost taken by it, but thanks to God he can survive from it by grab the rock around him. We were in that place about fifteen minutes and then continued to get the Wedi Ombo’s beach and before we got there once again we met the end of valley found last night and we took a bath and drunk the water and we took doha-prayer in this place and then we moved again, down and climb the rock in the edge of land. About 9 a.m. we arrived in the Wedi Ombo’s beach.

At 11 a.m. we were continuing to go to the bat island, meanwhile the rain fall down we still move in untill we met the river among higher lands and in that place we played for a while and prayer in this place and then we continued to go to the island behind the hill. About 1.30 p.m. we were going to starting point and about 4.30 p.m. we prepared to go back to Jogja.

(The Journey’s team - never ending adventure)




Link ke posting ini Email this post

Brigade Syahid Rantisi Mulai Beraksi

Rabu, 04 Februari 2009

Gugur satu tumbuh seribu. Itulah yang tengah terjadi pada gerakan-gerakan perlawanan Palestina. Geliat perjuangan tak boleh terhenti hanya karena syahidnya seorang Rantisi.
Ahad (25/04) menjadi bukti awal pembalasan atas aksi biadab Israel terhadap para pimpinan Hamas. Kelompok yang mengklaim sebagai ‘Brigade Syahid Rantisi’ (BSR) berhasil menewaskan seorang tentara Israel dan mencederai tiga lainnya. Aksi balas dendam itu terjadi di dekat desa Izna, selatan kota Khalil, Tepi Barat.
Seperti dilaporkan Islamonline.net, kelompok BSR ini berafiliasi ke Brigade Syuhada Al-Aqsha faksi sayap militer gerakan Fatah.
Menurut surat kabar Yediot Aharonot, mereka membrondong mobil itu dekat kota Izna. Akibatnya, 4 tentara Israel babak belur. Meski mereka sempat mendapatkan bantuan medis, namun satu dari mereka tak dapat diselamatkan.
Yediot menyebutkan, BSR yang berada di bawah gerakan Fatah pimpinan Yaser Arafat mengaku bertangungjawab atas serangan ini. Tampaknya, aksi ini sebagai tindakan balas dendam pertama faksi Fatah atas gugurnya Rantisi.
Jamal Thamizi, pejabat berwenang di Izna mengatakan, saat ini gerombolan pasukan Israel menyerbu kota Izna. Mereka mengumumkan jam malam dan berniat menghancurkan rumah-rumah penduduk Palestina.
Ia menambahkan, sejumlah peralatan otomatis militer Israel menutup semua pintu masuk ke Izna. Mereka berdalih bahwa sejumlah milisi bersenjata telah melarikan diri ke desa itu.
Saat ini, tampaknya PM Sharon harus berfikir dua kali untuk melanjutkan aksi terornya. Sebab, benih-benih aksi balas dendam mulai tumbuh. Selain itu, gerakan-gerakan perlawanan Palestina mulai merapatkan barisan. Dan proposal perdamaian di Palestina akan tinggal cerita.(lys/iol/bbc)

Link ke posting ini Email this post

Tiga Tipe Perempuan: Yang Mana Tipe Anda?

Islam tentu sangat memperhatikan kaum perempuan, dimana hal tersebut tidak berlaku dalam ajaran-ajaran sebelum kedatangan Islam. Posisi perempuan begitu penting (dipentingkan) sehingga sering terdengar suatu ungkapan bahwa tegaknya suatu negara (kelompok) sangat tergantung dengan perilaku perempuan dalam kelompok tersebut. Mungkin ada yang menganggap ini berlebihan, meski tidak bisa dipungkiri bahwa peran perempuan sangat berdekatan dengan kesuksesan dan juga kegagalan!
Dalam ajaran Islam, laki-laki dan perempuan tidak dibedakan peranannya dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama. Keduanya memiliki kesempatan yang sama dalam berusaha berbuat yang terbaik bagi diri, keluarga dan masyarakatnya. Jelasnya, Alqur'an tidak membedakan perlakuan terhadap laki-laki dan perempuan. Beberapa ayat menjelaskan hal tersebut:
"Barangsiapa yang melakukan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan ia mukmin, mereka akan masuk surga ..." (QS. 4:124, 40:40)
"Barangsiapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia mukmin, kami hidupkan dia dalam kehidupan yang baik ..." (QS. 16:97)
"Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beriman diantara kamu, baik laki-laki maupun perempuan ..." (QS. 3:195)
"Tidaklah boleh bagi mukmin laki-laki dan perempuan merasa keberatan bila Allah telah memutuskan sesuatu perkara ..." (QS. 33:36)
"Orang-orang beriman laki-laki dan perempuan satu sama lain saling melindungi. Mereka sama-sama menyuruh kebaikan dan melarang kemungkaran, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mentaati Allah dan Rasul-Nya. Allah menyayangi mereka ..." (QS. 9:71)
Begitu gamblangnya Al Qur'an memperhatikan makhluk perempuan, selain ayat-ayat diatas yang menunjukkan tidak adanya diskriminasi antara laki-laki dan perempuan dalam hubungannya dengan pekerjaan, amal dan tindakan, Al Qur'an juga memberikan kepada kita penjelasan tentang beberapa tipologi perempuan, dimana bisa dikatakan, bahwa apa yang pernah terjadi pada masa lalu dan diabadikan dalam Al Qur'an agar menjadi pelajaran bagi kaum mukminin yang perempuan khususnya dan laki-laki pada umumnya. Karena, sekali lagi, masalah yang berhubungan dengan perempuan yang terjadi di muka bumi ini, hampir selalu terkait dengan kaum laki-laki.
Oleh karena itu, menjadi penting untuk memperhatikan beberapa tipe perempuan yang pernah diterangkan Allah dalam Al Qur'an. Dimana Al Qur'an secara khusus membicarakan jenis-jenis perempuan berdasarkan amalnya. Untuk jenis perempuan ideal yang patut diteladani, seringkali Al Qur'an menyebut nama jelas. Namun untuk melukiskan perempuan "buruk" Al Qur'an tidak menyebut nama secara langsung.
Tipe pertama adalah type wanita saleh yang diwakili oleh Maryam. Nama Maryam disebut beberapa kali dalam ayat-Nya selain juga menjadi salah satu nama Surat dalam Al Qur'an. Ia adalah type perempuan saleh yang menjaga kesucian dirinya, mengisi waktunya dengan pengabdian yang tulus kepada Rabb-nya. Karena kesalehahannya itulah ia mendapat kehormatan menjadi ibu dari kekasih Allah, Isa alaihi salam, tokoh terkemuka di dunia dan akhirat (QS. 3:45).
"Dan Maryam putra Imran, yang menjaga kesucian kehormatannya. Kami tiupkan roh Kami dan ia membenarkan kalimah Tuhan-Nya dan kitab-kitab-Nya dan ia termasuk orang yang taat" (QS. 66:16).
Maryam adalah tipe perempuan saleh. Kehormatannya terletak dalam kesucian, bukan dalam kecantikan. Tentu masih banyak deretan nama-nama perempuan saleh baik yang tersebut dalam hadits-hadits Nabi maupun dalam sejarah.
Al Qur'an juga menerangkan tipe-tipe perempuan pejuang untuk menjadi contoh bagi para muslimah. Tipe yang kedua ini dicontohkan dengan sempurna oleh Asiyah binti Mazahim, istri Fir'aun yang hidup dibawah kekuasaan suami yang melambangkan kezaliman. Asiyah dengan teguh memberontak, melawan dan mempertahankan keyakinannya apapun resiko yang diterimanya. Semuanya ia lakukan karena ia memilih rumah di Surga, yang diperoleh dengan perjuangan menegakkan kebenaran, ketimbang istana di dunia, yang dapat dinikmatinya bila ia bekerja sama dengan kezaliman. "Dan Allah menjadikan teladan bagi orang-orang yang beriman perempuan Fir'aun, ketika ia berdo'a: Tuhanku, bangunkan bagiku rumah di surga. Selamatkan aku dari Fir'aun dan perbuatannya. Selamatkan aku dari kaum yang zalim." (QS. 66:11).
Al Qur'an memuji perempuan yang membangkang kepada suami yang zalim. Pada saat yang sama Al Qur'an juga mengecam perempuan yang menentang suami yang memperjuangkan kebenaran, seperti istri Nabi Nuh alaihi salam dan istri Nabi Luth alihi salam. Dalam kaitannya dengan hal ini, Al Qur'an juga menambahkan satu contoh perempuan yang mendukung kezaliman suaminya (sebagai contoh lawan dari Asiyah) yakni, istri Abu Lahab.
Selain Asiyah, ada pula contoh-contoh perempuan pejuang meski suami-suami mereka bukanlah orang-orang zalim, melainkan para pejuang kebenaran. Khadijah binti Khuwailid, Aisyah binti Abu Bakar, Nusaibah binti Ka'ab, adalah contoh nama-nama yang bersama suami mereka bahu-membahu memperjuangkan agama Allah.
Tipe ketiga yang dijelaskan dalam Al Qur'an adalah tipe perempuan penggoda. Jelas untuk yang satu ini diwakili oleh Zulaikha penggoda Nabi Allah Yusuf alaihi salam. Dalam kisah Zulaikha menggoda Yusuf inilah, Al Qur'an menunjukkan kepandaian perempuan dalam melakukan makar dan tipuan. Manakah tipe anda dari ketiga tipe tersebut? Wallahu a'lam bishshowaab

Link ke posting ini Email this post

Ketika Bidadari Turun ke Bumi

Dalam buku Tamasya ke Surga, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengisahkan tentang bidadari-bidadari surga. Bidadari-bidadari itu adalah wanita suci yang menyenangkan dipandang mata, menyejukkan dilihat, dan menentramkan hati setiap pemiliknya. Rupanya cantik jelita, kulitnya mulus. Ia memiliki akhlak yang paling baik, perawan, kaya akan cinta dan umurnya sebaya. Siapakah yang orang yang beruntung mendapatkannya? Siapa lagi kalau bukan orang-orang yang syahid karena berjihad di jalan Allah, orang-orang yang tulus dan ikhlas membela agama Allah.
Sebagian kita mungkin berfikir, kapan kita berjumpa dengan bidadari-bidadari itu, apakah ia akan kita miliki, adakah ia sedikit diantara mereka mendiami bumi sekarang ini?
Bidadari-bidadari itu telah turun ke bumi. Semenjak Islam mulai bangkit lagi di bumi ini. Bidadari-bidadari itu menghias diri setiap hari. Dia berwujud manusia yang berhati lembut, menyenangkan dipandang mata, menyejukkan dilihat, menentramkan hati setiap pemiliknya. Dialah wanita sholehah yang menjaga kesucian dirinya. Seperti apakah bidadari bumi itu? Bisakah kita mengikuti langkahnya, apakah dia anak, adik, keponakan perempuan atau apakah ia istri dan ibu kita, atau ia hanya berupa angan yang sebenarnya bisa kita realisasikan, tapi syetan kuat menahan?
Dialah wanita sholehah yang menjaga kesucian dirinya. Setiap perempuan bisa menjadi bidadari bumi, seperti apakah ciri-cirinya?
1. Ia adalah wanita yang paling taat kepada Allah. Ia senantiasa menyerahkan segala urusan hidupnya kepada hukum dan syariat Allah.
2. Ia menjadikan Al-Quran dan Al-Hadis sebagai sumber hukum dalam mengatur seluruh aspek kehidupannya.
3. Ibadahnya baik dan memiliki akhlak serta budi perketi yang mulia. Tidak hobi berdusta, bergunjing dan ria.
4. Berbuat baik dan berbakti kepada orang tuanya. Ia senantiasa mendoakan orang tuanya, menghormati mereka, menjaga dan melindungi keduanya.
5. Ia taat kepada suaminya. Menjaga harta suaminya, mendidik anak-anaknya dengan kehidupan yang islami. Jika dilihat menyenangakan, bila dipandang menyejukkan, dan menentramkan bila berada didekatnya. Hati akan tenang bila meninggalkanya pergi. Ia melayani suaminya dengan baik, berhias hanya untuk suaminya, pandai membangkitkan dan memotifasi suaminya untuk berjuang membela agama Allah.
6. Ia tidak bermewah-mewah dengan dunia, tawadhu, bersikap sederhana. Kesabarannya luar biasa atas janji-janji Allah, ia tidak berhenti belajar untuk bekal hidupnya.
7. Ia bermanfaat dilingkungannya. Pengabdianya kepada masyarakat dan agama sangat besar. Ia menyeru manusia kepada Allah dengan kedua tangan dan lisannya yang lembut, hatinya yang bersih, akalnya yang cerdas dan dengan hartanya. "Dan dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah". (HR Muslim)
Dialah bidadari bumi, dialah wanita sholehah yang keberadaan dirinya lebih baik dan berarti dari seluruh isi alam ini. Ya Allah jadikanlah aku, ibuku, kakak dan adiku serta perempuan-perempuan di sekelilingku menjadi bidadari bumi. Agar kelak di syurga kami tidak canggung lagi.

Link ke posting ini Email this post

Sumber Syahwat Itu Bernama: Perempuan!

Dalam Qur'an Surat Ali Imran ayat 14 dikatakan syahwat manusia kecenderungan pertama berasal dari perempuan. "Dihiasi manusia dengan syahwat yang muncul dari perempuan dan anak-anak....."
Dalam surat ini dikatakan "manusia", bukan saja laki-laki. Artinya seluruh manusia memiliki syahwat kepada perempuan. Kalau dikatakan "manusia" artinya mencakup laki-laki dan perempuan juga. Kalau laki-laki memiliki syahwat kepada perempuan itu sudah normal, tapi bagaimana dengan perempuan terhadap perempuan?
Dalam kajian tafsir di Maqdis Bandung, ustadz Saiful Islam Lc menjelaskan maksud ayat ini kurang lebih sebagai berikut:
Seorang perempuan bila melihat perempuan lain lebih cantik dari padanya, lebih baik dari dirinya, apakah itu pakaiannya, tas, sepatu, rumah, jilbab, perabotan dan lain-lain, biasanya langsung timbul keinginan dalam hatinya untuk bisa juga seperti orang yang dilihatnya itu atau memiliki keinginan untuk memiliki juga benda yang ada pada perempuan yang dilihatnya. Beda dengan laki-laki, laki-laki biasanya tidak timbul syahwatnya melihat sesamanya mengenakan pakaian bagus, lebih tampan, ujar Ustadz Saiful melanjutkan.
Biasanya dialog yang terjadi jika perempuan bertemu dengan perempaun lain antara lain, "Jilbabnya bagus, beli dimana? saya jadi ingin beli juga euyh" atau "model baru ya, bagus sekali, antarkan saya dong, saya mau beli juga"!!
Suatu hari sayapun pernah menjadi "korban", waktu itu saya melihat teman memakai baju baru dan menurut saya bagus. Saya membayangkan, sayapun akan lebih tampak cantik jika memakai baju itu.
Tiba-tiba saja secara spontan saya katakan "Mbak bajunya bagus, beli dimana, berapa semeter, ongkos jahitnya berapa", buntut-buntutnya saya minta diantarkan ke toko tempat ia membeli kain.
Selang berapa detik saya ingat surat Ali Imran ayat 14 beserta taushiah ustadz agar menghindari bahaya syahwat yang muncul dari perempuan. Akhirnya saya katakan, "nggak jadi deh mbak, lain kali saja".
Pantas saja sebelum meninggal, Rasul berpesan agar benar-benar melindungi perempuan, tidak saja banyak fitnah yang ditimbulkan oleh perempuan, tapi juga syahwat (keinginan) yang dapat menjerumuskan manusia kedalam kebinasaan.
Laki-laki bergairah mencari nafkah bisa disebabkan karena perempuan. Laki-laki melakukan KKN, pekerjaan tercela dan perilaku binatang bisa juga disebabkan karena perempuan. Perempuan, adalah makluk yang luar biasa, dari rahimnya lahir manusia setingkat Rasulullah dan sehina Fir'aun.
Pesan Rasulullah kepada perempuan, hati-hatilah dalam kehidupan dunia, jangan jadi penggoda, sebagaimana perempuan juga suka digoda.

Link ke posting ini Email this post

Merenda Hidup Yang Biasa (Catatan Seorang Pekerja Pabrik)

Rona jingga menyemburat di setengah langit bagian timur. Perlahan-lahan bola api merah bergerak naik, siap melaksanakan tugasnya. Aku mengayuh pedal sepedaku pelan-pelan, membelah bulak tengah sawah. Dua puluh kilometer akan kutempuh, menuju pabrik Batik Keris di Solo, tempat aku mengais rejeki setiap hari.
Gelap malam meliputi. Dingin sentuhan angin sawah menggigilkan kulit. Aku mengayuh sepedaku dengan kuat, berharap segera kucapai halaman rumah. Roda sepedaku sudah hapal dengan lobang dan gundukan di jalanan beraspal rusak, meski sesekali tetap terperosok atau terantuk.
Garang panas mentari menghujani. Masih tetap menyengat dan menyakitkan kulit sawomatangku yang makin gosong karena tiap hari bermandi matahari. Kukayuh pedalku kuat-kuat, untuk sejenak berteduh saat kudapat rimbun naungan pepohonan di pinggir jalan.
Yah, demikianlah kulalui hari-hariku. Menembus gelap malam, dingin pagi maupun terik di siang hari. Hari demi hari yang gamang. Entah ini sudah tahun ke berapa. Enam, tujuh? Delapan? Atau sudah belasan? Aku tak pernah menghitung lagi.
Dan dalam kehidupanku nyaris tak ada perubahan berarti. Antara pabrik dan rumah. Itu saja. Senin dan Selasa, berangkat ke pabrik pagi-pagi sehabis subuh. Pulang jam tiga sore. Istirahat sejenak, kemudian berbenah rumah. Rabu-Kamis berangkat jam satu siang, pulang tengah malam. Pagi sebelumnya kuisi dengan kegiatan memasak saaat simbok ke sawah, dan juga tidur sejenak. Pulang ke rumah sudah dalam kondisi capek luar biasa.
Di pabrik kami harus bekerja dengan posisi berdiri, nyaris tidak pernah duduk. Jum’at-Sabtu berangkat jam sepuluh malam pulang jam enam pagi. Langsung tidur sampai menejelang dzuhur. Begitu terus.
Semuanya sudah menjadi ritme yang terprogram. Sejujurnya aku bosan dengan kehidupanku yang demikian. Bahkan kadang kebosanan itu demikian memuncak. Tapi apa yang dapat kulakukan? Aku hanyalah seorang gadis lulusan SMEA kampung di selatan kota Solo, tetapi bekerja di pabrik dengan menggunakan ijazah SMP karena pabrik tidak membutuhkan buruh penjaga mesin pemintal benang berijazah setingkat SMU. Selain juga karena perusahaan tak suka membayar gaji dengan UMR lebih tinggi.
Tapi sungguh aku tak tahu apa yang mesti kulakukan untuk mengatasi kebosanan itu. Maka menonton televisi, berkunjung ke rumah saudara, bermain dan ngobrol dengan para ponakan adalah selingan yang kadang juga sama membosankannya. Sesekali aku jalan-jalan ke pertokoan di Coyudan atau ke pasar Klewer, Beteng, Pasar Gede atau Pasar Kartosuro jika punya uang.
Sebenarnya aku juga ingin seperti yang lainnya. Seperti teman-teman sekolah, juga tetanggaku, dan teman-teman pabrik yang rata-rata sudah punya 2-3 anak. Ya, mereka menikah dalam usia awal atau sebelum dua puluhan. Tapi, entahlah. Sampai usiaku yang menjelang tiga puluh tahun ini, belum ada seorang lelaki pun yang pernah melamarku.
Aku terlahir sebagai bungsu dari lima bersaudara yang seluruhnya adalah wanita. Mbakyu-mbakyuku semua telah menikah dan punya anak satu atau dua. Bapak meninggal saat aku kelas dua SMEA. Sebenarnya Bapak ingin aku menjadi pegawai kantoran. Tetapi dengan meninggalnya bapak, cita-cita itu tidak tersampaikan. Selepas SMEA aku tidak melanjutkan sekolahku melainkan langsung bekerja di pabrik konveksi, seperti umumnya gadis-gadis di kampungku. Bedanya mereka dengan segera mendapat pacar dan menikah, tetapi aku tidak.
Bisakah kau rasakan apa yang aku rasakan? Aku tidak punya impian apa-apa selain menikah dan membangun keluarga. Seperti para perempuan desa lainnya. Seperti kakak-kakakku. Tapi sekali lagi, aku tak mengerti mengapa jalan hidupku seperti ini. Sebenarnya bukan tak ada yang mau sama aku, namun semuanya berhenti di tengah jalan. Aku juga tidak tahu apa masalahnya dan salah siapa. Tiap kali aku menjalin hubungan selalu saja berakhir dan akhirnya kami putus begitu saja. Mungkin si laki-laki bosan atau bagaimana aku tidak tahu.
Menjadi perawan tua di kampung adalah aib yang menyesakkan. Menjadi gunjingan tetangga. Dibilang tidak laku dan sebagainya. Berbeda dengan perempuan kota. Aku sering sih mendengar, bahwa di kota-kota besar banyak perempuan yang tidak menikah sampai usia lebih dari tiga puluhan. Mungkin bagi mereka itu bukan apa-apa. Lagipula mereka memiliki pekerjaan yang bagus dan uang banyak.
Sedang aku? Aku bekerja di pabrik karena tidak ada pilihan pekerjaan lain sementara aku harus menbiayai hidupku dan Simbokku. Karena meskipun Simbok memiliki sepetak sawah peninggalan Bapak, namun penghasilannya tak memadai, bahkan kadang rugi jika ada serangan wereng atau tikus. Mbakyu-mbakyuku tidak dapat diharapkan karena mereka memiliki keluarga dan kehidupan mereka juga seadanya.
Yang lebih memedihkanku, entah darimana mulanya, kemudian berhembus gosip aku tidak menikah karena aku ‘demenan’ dengan salah satu kakak iparku. Duh, gusti paringana sabar! Tak jua menikah dalam usiaku yang sudah tak lagi muda sudah merupakan beban berat bagiku dan simbokku, kini harus pula menanggung omongan buruk tetangga. Kalau saja aku bisa menangis, aku ingin menangis keras-keras. Namun semua jeritan itu hanya dapat kugaungkan dalam hati. Sejak kecil aku jarang menangis karena Bapak melarangku untuk menangis.
Gosip itu bermula gara-gara akhir-akhir ini aku sering diantar kakak iparku yang baru punya motor. Tapi apa yang salah dengan semua itu? Bapak sudah meninggal. Simbok sudah tua dan mulai sakit-sakitan. Ponakan-ponakanku masih kecil-kecil Kakakku semuanya perempuan. Kepada siapa lagi akau minta tolong dan minta perlindungan jika bukan kepada mereka dan suami-suami mereka? Salahkah aku minta tolong diantar ke dokter kepada kakak iparku dengan motornya karena kebetulan aku sakit akhir-akhir ini dan mesti bolak-balik ke dokter? Salahkah aku minta diantar ke pabrik karena aku masih lemah dan cuaca kebetulan sedang buruk: sering hujan dan berangin? Sementara aku tidak bisa berlama-lama izin sakit karena pabrik akan memotong habis poinku? Tapi orang-orang tak melihat semua itu. Mereka tak mau tahu bahwa diluar itu aku masih tetap kemana-mana sendiri dengan sepeda ontelku.
Gosip itu bahkan makin kuat karena kemudian kakak iparku sering ke rumah. Padahal dia ke rumah karena -lagi-lagi kebetulan- membenahi rumah yang kutinggali bersama simbok. Suami dari Mbakyuku yang nomor dua ini adalah satu-satunya tukang batu di keluarga kami. Wajar tho kalau aku dan Simbok minta tolong dia membenahi rumah kami yang bocor disana-sini dan dindingnya pun mulai runtuh disana-sini? Karena saat ini sedang musim hujan hingga rumah kami sering kebanjiran?
Ingin rasanya aku berteriak pada semua orang, aku mau menikah dengan siapa saja saat ini juga jika itu akan dapat menghentikan omongan mereka. Namun, lagi-lagi, kenyataan seringkali lebih buruk dari apa yang kita pikirkan. Mbakyuku bahkan kemudian termakan oleh gossip itu dan mulai bersikap tak bersahabat denganku. Pun mbakyu-mbakyuku lainnya. Mereka memandangku dengan sikap curiga, seakan-akan aku akan mencuri suami mereka setiap saat.
Kalau bukan karena Simbok, aku ingin pergi jauh atau ditelan bumi saja sekalian. Tapi kemana aku mesti pergi? Sejak kecil aku tak pernah tinggal jauh dari tanah kelahiran dan dari keluargaku. Lagipula aku akan bekerja apa? Sedang pengalaman yang kupunya hanyalah bekerja sekian tahun di pabrik konveksi dengan tugas yang sama. Tak pernah berubah.
Hingga suatu hari, dalam semburat jingga mentari baru, aku menghentikan sepedaku di sebuah masjid pinggir jalan. Masjid ini setiap hari kulalui dalam perjalanan pulang pergiku ke pabrik. Hanya saja selama ini aku tak pernah tertarik untuk mampir. Hanya saja selama ini tubuh penatku tak pernah memberi kesempatan aku tertarik untuk menghadiri pengajian subuh seperti yang diselenggarakan pagi ini.
Tapi kali ini aku tak lagi memedulikan lelah dan kantuk yang mendera setelah bekerja shift malam. Aku hanya ingin mendapat sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang kuharapkan dapat meringankan beban jiwaku. Sesuatu yang akan menyirami perasaanku yang nyaris mati. Sesuatu yang akan membuat hidupku lebih berarti. Meski hanya arti bagi diriku sendiri. Bukan sekedar perawan tua, yang menjalani hidupnya dengan pulang pergi ke pabrik sambil menunggu seseorang datang melamarnya. Sesuatu yang mungkin akan membantuku keluar dari gossip tetangga, setidaknya membuatku lebih sabar menghadapi cercaan mereka. Kamu mau doakan aku kan?

Link ke posting ini Email this post

Lagi ta’aruf, Kenapa Bingung?

Kok bingung…? Itulah satu kata yang terlontar dari mulut seorang ikhwan yang lagi berta’aruf dengan Salsa (tidak nama sebenarnya). Salsa seorang akhwat yang selama ini selalu menjaga pergaulan dan menutup diri untuk namanya pacaran, akhirnya terjebak juga dengan perasaan gundah, bingung, dan resah seperti yang dialami oleh kebanyakan orang-orang yang mau menikah.
Keadaan ini dialami oleh Salsa setelah ada komitmen dengan si Akhi untuk melanjutkan pernikahan secepatnya, namun satu kata kunci dari seorang ibu yang melahirkan dan membesarkan si Akhi belum ada kata-kata setuju atau pun tidak. Saat Salsa meminta keputusan tegas dari si akhi, dia pun tidak bisa memberikan keputusan tegas karena hasil dari sholat istikharahnya ‘positif’, hanya tinggal menunggu keputusan Ibunya. Inilah yang membuat Salsa menjadi gundah karena serba tidak jelas, hatinya pun menjadi maju mundur.
Ungkapan rasa bingung ini pun keluar dari mulut Salsa saat ditelepon dengan si Akhi, persis ketika itu, orang tua Salsa sudah mulai mendesak untuk mendapatkan suatu kejelasan, ditambah lagi satu ikhwan lain bermaksud hendak berta’aruf juga dengannya. Kondisi ini semakin membuatnya resah, saat mengingat umurnya yang sudah cukup matang untuk menikah. Akhirnya keluhannya diterima oleh si Akhi sambil memberikan nasehat, “Hidup kita ini sudah diatur oleh Allah, bukankah selama ini kita sudah banyak menimba ilmu tentang keyakinan kepada Allah, bahwa taqdir Allah sudah ditetapkan bagi semua makhluknya?” Tinggal bagi kita sekarang untuk mengamalkan dan mempraktekkan ilmu yang telah kita timba di pengajian.
Allah sentiasa menguji hamba-Nya dengan keresahan, kesusahan dan kekurangan. Maka orang yang selalu mengikuti petunjuk Allah, maka ia tidak akan pernah merasa khawatir dan tidak pula bersedih hati. Kenapa harus bingung?
Gedebuk!! Begitulah kira-kira irama jantung Salsa saat diingatkan dengan firman Allah di atas. Si Akhi pun melanjutkan nasehatnya, “Sekarang tinggal bagi kita memperkuat hubungan dengan Allah, mengisi waktu malam dengan sholat tahajud, memperbanyak tilawah Qur’an, banyak bersedekah, banyak berzikir, dan sabar serta ridho menerima kondisi ini. Sambil kita terus berusaha dan terus berdo’a agar Alloh membuka pintu hati Ibu, karena hati Ibu itu, juga berada dalam gemgaman Allah. Kalau Allah berkehendak kita berjodoh, pasti akan terlaksana juga apaun rintangannya.”
Dalam hati Salsa terus beristigfar atas kegundahan dan rasa was-was yang dihembuskan oleh syaitan ke dalam hatinya. Setelah itu Salsa pun mulai agak merasa tenang, walau sekali-kali muncul juga perasaan khawatir itu, akhirnya ia menyibukkan diri mencari berbagai literatur, untuk mendapatkan mengatasi keresahan hatinya. Dia pun menemukan buku yang ditulis Harun Yahya dengan judul “Melihat kebaikan dalam Segala Hal” (Seeing Good in All). Dalam buku tersebut, kembali salsa menemukan kutipan dari firman Allah:
“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (Ali Imran:160)
Usai membaca buku itu, Salsa pun merenung, ternyata rasa tawakal, sabar dan berhusnuzhon pada Allah, inilah yang harus selalu dipupuk di setiap helaan nafas, dan dalam setiap langkah kita. Setiap ujian dan rintangan yang menimpa kita, pasti ada kebaikan dan pelajaran yang bisa dipetik, sekalipun kondisi itu tidak kita sukai. Ini baru satu perjuangan untuk mewujudkan pernikahan, belum lagi perjuangan-perjuangan lain yang jauh lebih berat lagi.
Wahai saudara-saudariku… perjuangan untuk menikah itu, bukanlah suatu perjuangan yang mudah, oleh karena itu, bagi saudara-saudariku yang telah menikah jagalah keharmonisan keluarga anda, jangan biarkan biduk keluarga anda oleng dan karam di tengah lautan, karena hidup di dunia ini hanya sesaat, kelak di akherat sana kita dimintai pertanggungjawaban atas kewajiban dan tanggung jawab yang kita emban.
Bagi para suami berlombalah melatih diri untuk menjadi pemimpin yang berakhlak mulia, seperti akhlaknya Rasulullah, menjadi ayah yang memberikan keteladanan pada anak-anaknya. Tidak otoriter sebagai soerang pemimpin. Ajaklah isteri anda untuk bermusyawarah dalam menyelesaikan persoalan rumah tangga.
Bagi para isteri bersemangatlah untuk memicu diri agar bisa menjadi bidadari dunia dan akherat bagi suamimu, indah dipandang mata, sejuk di kalbu dan bermesra dirasa, yang pasti selalu dekat dengan Allah. Menjadi isteri dan ibu yang memberi rasa damai pada anggota keluarga Didiklah para anak-anak anda, menjadi anak-anak yang kelak akan mengguncang dunia ini dengan menegakkan panji-panji Islam. Jangan biarkan anak anda sibuk dengan dunia khayal, sebagai dampak dari film-film yang ditontonnya.
Bagi yang belum menikah bersabar dan berusahalah untuk meraih kasih sayang Allah, karena orang yang mendapat kasih sayang Allahlah yang akan beroleh kebaikan dunia dan akhirat. Semoga kita semua beroleh Surga yang dijanjikan Allah, dan diizinkan untuk hadir dalam pertemuan yang sangat gung yakni pertemuan di saat melihat wajah Allah, sebagai imbalan bagi hambanya yang sabar dalam meniti hidup ini. Amin ya Rabbal’alamin

Link ke posting ini Email this post

Semua Adalah Pilihan

Tak ada yang saya salahkan...,” suaranya mengambang, seakan datang dari negeri yang jauh. “Kecuali diri saya sendiri!”
Aku terdiam, tenang mendengarkan. Sementara mata kami melanglang buana, melahap semua keindahan ciptaan Ilahi yang terpampang hingga batas cakrawala. Punggung bukit yang berhias kerlap-kerlip lampu berwarna jingga, kemerahan, kebiruan, orange dan kuning itu membawa sensasi luar biasa bagi pupil mata.
“Kondisi yang harus saya jalani saat ini, adalah konsekuensi dari pilihan hidup saya sendiri,” suaranya terdengar lagi. Aku masih khusyuk memperhatikan, sambil menikmati udara senja pegunungan yang menyelusup ke seluruh pori-poriku. Sejuk menyegarkan. Kawasan puncak menjelang malam, indah nian.
“Ketika saya baru lulus kuliah dulu, sebenarnya saya sudah ditawari untuk menikah. Namun waktu itu tegas-tegas saya menolak dengan alasan saya mau bekerja dulu, mencoba mempersembahkan sedikit bakti bagi orang tua --yah, meskipun saya tahu itu semua tak akan pernah dapat membalas jasa mereka--. Juga karena saya merasa masih ada dalam diri saya yang harus dibenahi. Harus saya akui, saya adalah tipe seorang dengan jiwa yang selalu gelisah. Rasanya saat itu, saya belum siap untuk berumahtangga, karena masih begitu banyak yang ingin saya lakukan, bagi diri sendiri dan bagi orang lain,” sahabat saya tersenyum kecil, matanya tak lepas dari kejauhan.
“Dua tahun kemudian, kembali datang tawaran menikah. Kebetulan saat itu saya memang sudah mulai berpikir untuk menikah. Dari banyak tawaran yang datang, yang paling serius adalah seorang pemuda biasa, tetangga kampung. Sementara saat itu saya adalah seorang gadis muda dengan semangat keislaman yang sangat tinggi. Saya mensyaratkan dia harus mau ngaji dulu sebelum menikah dengan saya. Dia tak sanggup. 'Aku mencari istri, bukan mencari orang yang menyuruhku ngaji,' katanya. Sedang saya tetap berkeras pada syarat yang saya minta. Maka proses pun berhenti di langkah itu dan hidup pun kembali berjalan pada pilihan masing-masing. Perasaan saya biasa saja saat itu. Waktu itu saya berpikir toh saya masih sangat muda, dua puluh empat tahun. Jadi, enjoy aja,” Wanita muda itu menarik napas ringan sebelum melanjutkan.
“Menjelang usia dua puluh lima, datang lamaran lagi dari seorang laki-laki yang cukup saya kenal. Kali ini saya suka. Dia adalah pemuda tipe ideal saya. Maka serta merta saya terima. Tapi ternyata proses ini pun gagal lagi pada akhirnya. Orang tuanya menginginkan dia menikah dengan orang yang sesuku,” suaranya bergetar. Ada jeda kesedihan yang tiba-tiba menyeruak.
”Saya sangat terluka dengan penolakan ini, hingga memilih melarikan diri pada aktifitas sosial yang sangat banyak. Mendampingi anak jalanan, mengadakan berbagai bakti sosial, dan ikut menjadi relawan dalam penanganan bencana-bencana di Jakarta. Saya nyaris tak pernah di rumah. Karena selain aktifitas-aktifitas tadi, aku juga tetap bekerja. Bahkan kemudian saya sangat menikmati aktifitas yang mulanya pelarian ini. Saya seperti menemukan apa yang pernah saya inginkan selama ini.”
Kulihat bara semangat itu pada sorot matanya, pada wajah yang ditegakkannya.
“Di tengah gelora semangat itu, menjelang usiaku dua puluh enam, datang lagi sebuah lamaran. Kali ini dari seorang pemuda shalih yang baik, kalem dan pendiam, meskipun dia bukan aktifis. Seseorang yang belum pernah saya kenals ebelumnya. Saya yang tak mau kehilangan aktifitas yang sedang saya jalani, kembali mengajukan syarat, agar diijinkan tetap beraktifitas seperti semula. Sebenarnya dia tak menghalangi sepenuhnya. Dia hanya mengatakan, boleh saja beraktifitas, tetapi sebagai seorang istri harus mendahulukan kepentingan keluarga dan minta izin suami jika akan keluar rumah. Pernyataan itu saya tangkap sebagai 'larangan' waktu itu. Barangkali karena saya memimpikan mendapat pasangan sesama aktifis, seperti maraknya beberapa teman organisasi yang menikah dengan kalangan sendiri. Hhhh..., ” kali ini si Mbak menarik napas panjang. “Saya menolaknya!” Suaranya kembali tergetar.
“Inilah proses yang paling saya sesali, hingga saat ini. Saya merasa bersalah sekali. Saya merasa sangat kekanak-kanakan. Sebenarnya apa sih yang saya inginkan? Dulu ketika baru lulus, saya beralasan hendak bekerja dulu dan beraktifitas. Itu sudah saya jalani semua. Ketika ada laki-laki biasa melamar, saya bilang saya ingin mendapat mendapat seorang ikhwan, dan kini Allah pun menghadirkannya. Sekarang? Saya menginginkan menikah dengan sesama aktifis yang benar-benar bisa memahami aktifitas publik saya. Sepertinya saya tidak bersyukur dan terus menerus mencari yang seperti saya inginkan saat itu.” Dalam temaram lampu taman, aku dapat melihat kaca di bola matanya. Kugenggam tangannya, memberi kekuatan.
“Kesadaran bahwa pilihan dan sikap saya adalah kekeliruan, muncul tak lama kemudian. Hanya dua bulan setelah dia melamar. Kepada comblang yang mempertemukan kami, saya mengatakan ingin mencoba memperbaiki keputusan yang telah lalu. Namun semua sudah terlambat. Laki-laki itu tak lama lagi akan menikah.” Kaca itu pecah, menjadi butiran-butiran kristal yang mengaliri pipinya.
“Rasa bersalah itu pun kian mendera perasaan. Saya mencoba menebus rasa bersalah itu dengan bersilaturahmi kepada sebanyak mungkin orang. Kepada kaum kerabat yang jarang saya kunjungi, kepada teman-teman lama yang mulai terlupakan karena aktifitas-aktifitas baru saya. Juga kepada guru-guru masa kecil. Saya tak tahu mengapa itu cara yang saya lakukan untuk menebus rasa bersalah, yang pasti saya hanya berharap, silaturahmi-silaturahmi itu dapat menjadi kafarat.” Si Mbak tersenyum lagi. Ada kelegaan tergambar di wajahnya.
“Peristiwa itu membuat saya menjadi lebih dewasa. Saya mulai bersungguh-sungguh mencari pasangan hidup. Saya menghargai setiap tawaran yang datang. Bahkan saya juga minta tolong pada teman-teman untuk mencarikan.” Wajahnya meredup lagi. “Saya tak pernah menolak lagi siapapun yang diajukan kepada saya, baik oleh guru ngaji, lewat teman-teman. Ataupun calon dari orang tua. Namun yang terjadi kemudian adalah bagai karma! Kali ini giliran saya yang terus menerus ditolak. Telah belasan orang dalam tiga tahun terakhir sejak saya menolak lamaran pemuda shalih itu. Bahkan termasuk teman-teman dekat saya sendiri, mereka menolak dengan halus tawaran saya untuk menikah dengan mereka.” Suaranya begitu lirih, tercekat menahan tangis.
“Akhirnya saya merasakan juga sakitnya ditolak. Berkali-kali!” Perempuan itu kini tergugu. Lama. Dia menelungkupkan wajahnya di bangku taman. Aku tak dapat berbuat apa-apa, kecuali mengelus kepalanya yang terbungkus jilbab biru. Waktu terus berlalu dalam keheningan. Hanya isak tangis tertahannya yang terdengar, ditingkahi lolong anjing di kejauhan. Aku tak menghitung berapa lama dia menuntaskan gundahnya sampai kemudian dia bangkit, menuju serumpun shion yang tengah mekar.
“Mungkin orang akan mengatakan, itulah akibat dari menolak-nolak orang. Jadi perawan tua. Itu adalah konsekuensi yang tak hendak saya ingkari. Saya harus menerima predikat itu. Karena memang demikianlah adanya. Dan kini saya mendapatkan sudut pandang yang lain: bisa jadi sikap-sikap saya dulu, dan pilihan-pilihan itu memang sebuah kesalahan.” Dia menghela napas. Tegar.
“Tapi ada satu hal yang saya syukuri. Semua peristiwa itu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Sungguh-sungguh berharga. Kini saya tahu seperti apa perihnya ditolak. Kini saya sangat paham, manusia hanya dapat berencana, sedang Allah lah yang Maha Penentu. Kini saya mengerti, sangat mengerti bahwa Allah tahu yang terbaik untuk kita. Apa yang diberikanNya adalah selalu yang kita butuhkan, meski mungkin bukan yang kita inginkan. Kini saya juga jadi lebih dapat menghargai setiap orang. Bahwa siapapun dia, setiap orang selalu memiliki kelebihan dan kekurangan. Penghargaan kita yang tulus padanya akan berbalas perhatian pula.” Wanita itu tersenyum. Kedamaian mengaura pada dirinya.
“Saya tak menyesali apa yang telah terjadi di masa lalu. Saya mungkin kehilangan kesempatan-kesempatan itu, namun saya tidak kehilangan hikmah dan pelajarannya. Barangkali memang harus demikian pergolakan jiwa dan perjalanan batin saya. Barangkali memang ahrus dengan cara itu saya dapat menjadi lebih matang. Kalau waktu itu saya menikah dengan jiwa yang seperti itu, mungkin juga tidak baik hasilnya. Saya mungkin menikah dengan kondisi terpaksa, dan saya tak tahu apa yang akan terjadi pada rumah tangga seperti itu Mungkin saya tak akan pernah mendapat hikmah-hikmah ini. Saya bahagia sekarang karena saya dapat merasakan ketulusan itu. Kini saya sangat siap untuk menerima pasangan hidup, siapapun dia.”
“Bukan! Sama sekali bukan berarti saya banting harga karena saya sudah 30 tahun hingga segala idealita yang dulu digugurkan,” dia buru-buru menambahkan. Seakan-akan takut kalimatnya akan langsung dipersepsikan lain. Saya mengerti karena kebanyakan seperti itu anggapan masyarakat terhadap para wanita lajang yang sudah beranjak lewat dari usia dua puluhan. Mereka seakan berlomba mengobral dirinya agar dapat menikah segera.
“Tetapi karena pengalaman telah mengajarkan saya banyak hal. Tetapi karena saya tidak lagi emosional sekarang. Bukan karena kehilangan idealita. Dan itu membuat saya bisa menerima siapa saja sekarang, karena saya kini mengerti arti sebuah ketulusan. Hingga saya dapat menghargai setiap orang, lebih dan kurangnya. Juga, saya pun tahu dan berlapang dada, jika Allah masih menimpakan akibat dari sikap-sikap saya di masa lalu. Semoga kesadaran ini akan menjadi kafarat dosa-dosa saya.”
Wanita itu kini menatapku lembut. Wajahnya bercahaya tertimpa sinar lampu taman. Dia tersenyum, dengan senyuman bagai rembulan. Aku membalas senyumnya. Sementara angin malam makin menggigit tulang. Bulan sepasi yang menggantung di langit menandakan bahwa tengah malam telah jauh berlalu. Pemandangan puncak di waktu malam makin indah, namun kini tiba saatnya kami harus beristirahat. Hidup harus terus berjalan, dan kami tak boleh terlampau sering menoleh ke belakang, kecuali sekedar mengambil pelajaran. Bukan untuk bersedih atas semua yang telah lalu.
Bergandengan tangan, kami bangkit dan melangkah ke dalam vila yang kami tinggali. Sekali lagi lolong anjing terdengar di kejauhan. Namun itu tak berarti apa-apa. Yang kami punya sekarang tekat, untuk terus memperbaiki diri dan jiwa. Orang muslim yang paling baik bukanlah mereka yang tak pernah berbuat kesalahan. Namun mereka yang tiap kali berbuat kesalahan dia sadar dan berusaha bertaubat kemudian memperbaikinya.

Di ambil dan dikutif dari Malajah Muslim

Link ke posting ini Email this post

Keong Mas

Senin, 10 November 2008













Apakah Keong Mas Itu?
Keong mas (Pomacea canaliculata Lamarck)
diperkenalkan ke Asia pada tahun 1980an dari
Amerika Selatan sebagai makanan potensial bagi
manusia. Namun, kemudian keong mas menjadi
hama utama padi yang menyebar ke Filipina,
Kamboja, Thailand, Vietnam, dan Indonesia.
Mengapa Keong Mas Harus Dikendalikan?
Keong mas memakan tanaman padi muda serta
dapat menghancurkan tanaman pada saat
pertumbuhan awal.
Saat-saat Penting untuk Mengendalikan
Keong Mas
Saat-saat penting untuk mengendalikan keong mas
adalah pada 10 hari pertama untuk padi tanam pindah
dan sebelum tanaman berumur 21 hari pada tabela
(tanam benih secara langsung). Setelah itu, tingkat
pertumbuhan tanaman biasanya lebih tinggi daripada
tingkat kerusakan akibat keong.
Bagaimana Mengendalikan Keong Mas?
• Semut merah memakan telur keong, sedangkan
bebek (dan kadang-kadang tikus) memakan keong
muda. Bebek ditempatkan di sawah selama
persiapan lahan tahap akhir atau setelah tanaman
tumbuh cukup besar (misalnya 30-35 hari setelah
tanam); keong dapat dipanen, dimasak untuk
dimakan oleh manusia.
• Pungut keong dan hancurkan telurnya. Hal ini
paling baik dilakukan di pagi dan sore hari ketika
keong berada pada keadaan aktif. Tempatkan
tongkat bambu untuk menarik keong dewasa
meletakkan telurnya.
• Tempatkan dedaunan dan pelepah pisang untuk
menarik perhatian keong agar pemungutan keong
lebih mudah dilakukan.
• Keong bersifat aktif pada air yang menggenang/
diam dan karenanya, perataan tanah dan
pengeringan sawah yang baik dapat menekan
kerusakan. Buat saluran-saluran kecil (misalnya,
lebar 15-25 cm dan dalam 5 cm) untuk
memudahkan pengeringan dan bertindak sebagai
titik fokus untuk mengumpulkan keong atau
membunuh keong secara manual. Apabila
pengendalian air baik, pengeringan dan pengaliran
air ke sawah dilakukan hingga stadia anakan
(misalnya, 15 hari pertama untuk tanam pindah
dan 21 hari pertama untuk tabela).
• Tempatkan tanaman beracun (misalnya daun
eceng (Monochoria vaginalis), daun tembakau,
dan daun Kalamansi) pada bidang-bidang
sawah atau di saluran-saluran kecil.
• Tempatkan penyaring dari kawat atau anyaman
bambu pada saluran keluar dan masuk irigasi
utama untuk mencegah masuknya keong dari
lahan lain. Manfaat dari tindakan ini agak
terbatas karena kebanyakan keong mengubur
dirinya sendiri dan “hibernasi” di sawah ketika
tanah mengering.
• Tanam bibit-bibit yang sehat dengan anakan
yang sehat. Terkadang, tanam pindah dapat
ditunda (misalnya bibit berumur 25-30 versus
12-15 hari), atau tanam bibit ganda per
rumpun.
• Pengendalian dengan pestisida berbahan aktif
niclos amida dan deris mungkin dibutuhkan
bila praktek-praktek lainnya gagal. Cek produkproduk
yang tersedia secara lokal yang
memiliki kadar racun rendah terhadap
manusia dan lingkungan. Pertimbangkan
untuk menggunakan produk-produk untuk
tempat-tempat rendah dan kanal-kanal kecil,
bukan ke seluruh bidang sawah. Selalu
pastikan penggunaan yang aman.

HAMA TANAMAN

1. MORFOLOGI UMUM HAMA

Untuk mengenal berbagai jenis binatang yang dapat berperan sebagai hama, maka sebagai langkah awal dalam kuliah dasar-dasar Perlintan akan dipelajari bentuk atau morfologi, khususnya morfologi luar (external morphology) binatang penyebab hama. Namun demikian, tidak semua sifat morfologi tersebut akan dipelajari dan yang dipelajari hanya terbatas pada morfologi “penciri” dari masing-masing golongan. Hal ini bertujuan untuk mempermudah dalam melakukan identifikasi atau mengenali jenis-jenis hama yang dijumpai di lapangan.

Dunia binatang (Animal Kingdom) terbagi menjadi beberapa golongan besar yang masing-masing disebut Filum. Dari masing-masing filum tersebut dapat dibedakan lagi menjadi golongan-golongan yang lebih kecil yang disebut Klas. Dari Klas ini kemudian digolongkan lagi menjadi Ordo (Bangsa) kemudian Famili (suku), Genus (Marga) dan Spesies (jenis).

Beberapa filum yang anggotanya diketahui berpotensi sebagai hama tanaman adalah Aschelminthes (nematoda), Mollusca (siput), Chordata (binatang bertulang belakang), dan Arthropoda (serangga, tunggau, dan lain-lain). Dalam uraian berikut akan dibicarakan secara singkat tentang sifat-sifat morfologi luar anggota filum tersebut.

A. FILUM ASCHELMINTHES

Anggota filum Aschelminthes yang banyak dikenal berperan sebagai hama tanaman (bersifat parasit) adalah anggota klas Nematoda. Namun, tidak semua anggota klas Nematoda bertindak sebagai hama, sebab ada di antaranya yang berperan sebagai nematoda saprofag serta sebagai nematoda predator (pemangsa), yang disebut terakhir ini tidak akan dibicarakan dalam uraian-uraian selanjutnya.

Secara umum ciri-ciri anggota klas Nematoda tersebut antara lain adalah :

* Tubuh tidak bersegmen (tidak beruas)

* Bilateral simetris (setungkup) dan tidak memiliki alat gerak

* Tubuh terbungkus oleh kutikula dan bersifat transparan.

Untuk pembicaraan selanjutnya, anggota klas nematoda yang bersifat saprofag digolongkan ke dalam nematoda non parasit dan untuk kelompok nematoda yang berperan sebagai hama tanaman dimasukkan ke dalam golongan nematoda parasit.

Ditinjau dari susunannya, maka bentuk stylet dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu tipe stomatostylet dan odonostylet. Tipe stomatostylet tersusun atas bagian-bagian conus (ujung), silindris (bagian tengah) dan knop stylet (bagian pangkal). Tipe stylet ini dijumpai pada nematoda parasit dari ordo Tylenchida.

Tipe odonostylet dijumpai pada nematoda parasit dari ordo Dorylaimida, yang styletnya tersusun atas conus dan silindris saja. Beberapa contoh dari nematoda parasit ini antara lain adalah :

* Meloidogyne sp. yang juga dikenal sebagai nematoda “puru akar” pada tanaman tomat, lombok, tembakau dan lain-lain.

* Hirrschmanieella oryzae (vBrdH) pada akar tanaman padi sawah.

* Pratylenchus coffae (Zimm) pada akar tanaman kopi.

B. FILUM MOLLUSCA

Dari filum Mollusca ini yang anggotanya berperan sebagai hama adalah dari klas Gastropoda yang salah satu jenisnya adalah Achatina fulica Bowd atau bekicot, Pomacea ensularis canaliculata (keong emas). Binatang tersebut memiliki tubuh yang lunak dan dilindungi oleh cangkok (shell) yang keras. Pada bagian anterior dijumpai dua pasang antene yang masing-masing ujungnya terdapat mata. Pada ujung anterior sebelah bawah terdapat alat mulut yang dilengkapi dengan gigi parut (radula). Lubang genetalia terdapat pada bagian samping sebelah kanan, sedang anus dan lubang pernafasan terdapat di bagian tepi mantel tubuh dekat dengan cangkok/shell.

Bekicot atau siput bersifat hermaprodit, sehingga setiap individu dapat menghasilkan sejumlah telur fertil. Bekicot aktif pada malam hari serta hidup baik pada kelembaban tinggi. Pada siang hari biasanya bersembunyi pada tempat-tempat terlindung atau pada dinding-dinding bangunan, pohon atau tempat lain yang tersembunyi.

C. FILUM CHORDATA

Anggota Filum Chordata yang umum dijumpai sebagai hama tanaman adalah dari klas Mammalia (Binatang menyusui). Namun, tidak semua binatang anggota klas Mammalia bertindak sebagai hama melainkan hanya beberapa jenis (spesies) saja yang benar-benar merupakan hama tanaman. Jenis-jenis tersebut antara lain bangsa kera (Primates), babi (Ungulata), beruang (Carnivora), musang (Carnivora) serta bangsa binatang pengerat (ordo rodentina). Anggota ordo Rodentina ini memiliki peranan penting sebagai perusak tanaman, sehingga secara khusus perlu dibicarakan tersendiri, yang meliputi keluarga bajing dan tikus.

1. Keluarga Bajing (fam. Sciuridae)

Ada dua jenis yang penting, yaitu Callossciurus notatus Bodd. dan C. nigrovittatus yang keduanya dikenal dengan nama “bajing”. Jenis pertama dijumpai pada daerah-daerah di Indonesia dengan ketinggian sampai 9000 m di atas permukaan laut. Sedang jenis C. nigrovittatus dapat dijumpai di Jawa, Kalimantan, dan Sumatera pada daerha dengan ketinggian sampai 1500 m.

Jenis bajing ini umumnya banyak menimbulkan kerusakan pada tanaman kelapa namun beberapa jenis tanaman buah kadang-kadang juga diserangnya. Gejala serangan hama bajing pada buah kelapa tampak terbentuknya lubang yang cukup lebar dan tidak teratur dekat dengan ujung buah, sedang jika yang menyerang tikus maka lubang yang terbentuk lebih kecil serta tampak lebih teratur/rapi.

2. Keluarga tikus (fam. Muridae)

Ada beberapa jenis yang diketahui banyak menimbulkan kerusakan antara lain, tikus rumah (Rattus-rattus diardi Jent); tikus pohon (Rattus-rattus tiomanicus Muller), serta tikus sawah (Rattus-rattus argentiver_Rob.&Kl).

Tikus rumah dikenal pula sebagai tikus hitam karena warna bulunya hitam keabu-abuan atau hitam kecoklatan. Panjang tubuh sampai ke kepala antara 11-20 cm dan panjang ekor biasanya lebih panjang daripada panjang tubuh + kepala. Jumlah puting susunya ada 10 buah.

Tikus pohon memiliki ukuran tubuh yang hampir sama dengan tikus rumah. Bulu tubuh bagian ventral putih bersih atau kadang-kadang agak keabu-abuan. Panjang ekor biasanya lebih panjang daripada panjang tubuh + kepala. Jumlah putting susunya ada 10 buah.

Tikus sawah memiliki ciri-ciri tubuh antara lain bulu-bulu tubuh bagian ventral berwarna keabu-abuan atau biru keperakan. Panjang ekor biasanya sama atau lebih pendek daripada panjang tubuh + kepala. Pada pertumbuhan penuh panjang tubuhnya antara 16-22 cm serta jumlah puting susu ada 12 buah.

D. FILUM ARTHOPODA

Merupakan filum terbesar di antara filum-filum yang lain karena lebih dari 75 % dari binatang-binatanag yang telah dikenal merupakan anggota dari filum ini. Karena itu, sebagian besar dari jenis-jenis hama tanaman juga termasuk dalam filum Arthropoda.

Anggota dari filum Arthropoda yang mempunyai peranan penting sebagai hama tanaman adalah klas Arachnida (tunggau) dan klas Insecta atau Hexapoda (serangga).

1. Klas Arachnida

Tanda-tanda morfologi yang khas dari anggota klas Arachnida ini adalah:

- Tubuh terbagi atas dua daerah (region), yaitu cephalothorax (gabungan caput dan thorax) dan abdomen.

- Tidak memiliki antene dan mata facet.

- Kaki empat pasang dan beruas-ruas.

Dalam klas Arachnida ini, yang anggotanya banyak berperan sebagai hama adalah dari ordo Acarina atau juga sering disebut mites (tunggau).

Morfologi dari mites ini antara lain, segmentasi tubuh tidak jelas dan dilengkapi dengan bulu-bulu (rambut) yang kaku dan cephhalothorax dijumpai adanya empat pasang kaki.

Alat mulut tipe penusuk dan pengisap yang memiliki bagian-bagian satu pasang chelicerae (masing-masing terdidi dari tiga segmen) dan satu pasang pedipaalpus. Chelicerae tersebut membentuk alat seperti jarum sebagai penusuk.

Beberapa jenis hama dari ordo Acarina antara lain adalah :

- Tetranychus cinnabarinus Doisd. atau hama tunggau merah/jingga pada daun ketela pohon.

- Brevipalpus obovatus Donn. (tunggau daun teh).

- Tenuipalpus orchidarum Parf. (tunggau merah pada anggrek).

2. Klas Insekta (Hexapoda/serangga)

Anggota beberapa ordo dari klas Insekta dikenal sebagai penyebab hama tanaman, namun ada beberapa yang bertindak sebagai musuh alami hama (parasitoid dan predator) serta sebagai serangga penyerbuk.

Secara umum morfologi anggota klas Insekta ini adalah:

- Tubuh terdiri atas ruas-ruas (segmen) dan terbagi dalam tiga daerah, yaitu caput, thorax dan abdomen.

- Kaki tiga pasang, pada thorax.

- Antene satu pasang.

- Biasanya bersayap dua pasang, namun ada yang hanya sepasang atau bahkan tidak bersayap sama sekali.

Memahami pengetahuan morfologi serangga tersebut sangatlah penting, karena anggota serangga pada tiap-tiap ordo biasanya memiliki sifat morfologi yang khas yang secara sederhana dapat digunakan untuk mengenali atau menentukan kelompok serangga tersebut. Sifat morfologi tersebut juga menyangkut morfologi serangga stadia muda, karena bentuk-bentuk serangga muda tersebut juga memiliki ciri yang khas yang juga dapat digunakan dalam identifikasi.

Bentuk-bentuk serta ciri serangga stadia muda tersebut secara khusus kakan dibicarakan pada uraian tentang Metamorfose serangga, sedang uraian singkat tentang morfologi “penciri” pada beberapa ordo penting klas Insekta akan diberikan pada uraian selanjutnya.

Berdasarkan sifat morfologinya, maka larva dan pupa serangga dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1. Tipe larva

a. Polipoda, tipe larva ini memiliki ciri antara lain tubuh berbentuk silindris, kepala berkembang baik serta dilengkapi dengan kaki abdominal dan kaki thorakal. Tipe larva ini dijumpai pada larva ngengat/kupu (Lepidoptera)

b. Oligopoda, tipe larva ini dapat dikelompokkan menjadi : Campodeiform dan Scarabaeiform,

c. Apodus (Apodous), tipe larva ini memiliki badan yang memanjang dan tidak memiliki kaki. Kepala ada yang berkembang baik ada yang tidak. Tipe larva ini dijumpai pada anggota ordo Diptera dan familia Curculionidae (Coleoptera).

2. Tipe pupa

Perbedaan bentuk pupa didasarkan pada kedudukan alat tambahan (appendages), seperti calon sayap, calon kaki, antene dan lainnya. Tipe pupa dikelompokkan menjadi tiga tipe :

a. Tipe obtecta, yakni pupa yang memiliki alat tambahan (calon) melekat pada tubuh pupa. Kadang-kadang pupa terbungkus cocon yang dibentuk dari liur dan bulu dari larva.

b. Tipe eksarat, yakni pupa yang memiliki alat tambahan bebas (tidak melekat pada tubuh pupa ) dan tidak terbungkus oleh cocon.

c. Tipe coartacta, yakni pupa yang mirip dengan tipe eksarat, tetapi eksuviar tidak mengelupas (membungkus tubuh pupa). Eksuviae mengeras dan membentuk rongga untuk membungkus tubuh pupa dan disebut puparium.

Tipe pupa obtecta dijumpai pada anggota ordo Lepidoptera, pupa eksarat pada ordo Hymenoptera dan Coleoptera, sedang pupa coartacta pada ordo Diptera.

A. Morfologi Beberapa Ordo Serangga yang Penting

a. Ordo Orthoptera (bangsa belalang)

Sebagian anggotanya dikenal sebagai pemakan tumbuhan, namun ada beberapa di antaranya yang bertindak sebagai predator pada serangga lain.

Anggota dari ordo ini umumnya memilki sayap dua pasang. Sayap depan lebih sempit daripada sayap belakang dengan vena-vena menebal/mengeras dan disebut tegmina. Sayap belakang membranus dan melebar dengan vena-vena yang teratur. Pada waktu istirahat sayap belakang melipat di bawah sayap depan.

Alat-alat tambahan lain pada caput antara lain : dua buah (sepasang) mata facet, sepasang antene, serta tiga buah mata sederhana (occeli). Dua pasang sayap serta tiga pasang kaki terdapat pada thorax. Pada segmen (ruas) pertama abdomen terdapat suatu membran alat pendengar yang disebut tympanum. Spiralukum yang merupakan alat pernafasan luar terdapat pada tiap-tiap segmen abdomen maupun thorax. Anus dan alat genetalia luar dijumpai pada ujung abdomen (segmen terakhir abdomen).

Ada mulutnya bertipe penggigit dan penguyah yang memiliki bagian-bagian labrum, sepasang mandibula, sepasang maxilla dengan masing-masing terdapat palpus maxillarisnya, dan labium dengan palpus labialisnya.

Metamorfose sederhana (paurometabola) dengan perkembangan melalui tiga stadia yaitu telur ---> nimfa ---> dewasa (imago). Bentuk nimfa dan dewasa terutama dibedakan pada bentuk dan ukuran sayap serta ukuran tubuhnya.

Beberapa jenis serangga anggota ordo Orthoptera ini adalah :

- Kecoa (Periplaneta sp.)

- Belalang sembah/mantis (Otomantis sp.)

- Belalang kayu (Valanga nigricornis Drum.)

b. Ordo Hemiptera (bangsa kepik) / kepinding

Ordo ini memiliki anggota yang sangat besar serta sebagian besar anggotanya bertindak sebagai pemakan tumbuhan (baik nimfa maupun imago). Namun beberapa di antaranya ada yang bersifat predator yang mingisap cairan tubuh serangga lain.

Umumnya memiliki sayap dua pasang (beberapa spesies ada yang tidak bersayap). Sayap depan menebal pada bagian pangkal (basal) dan pada bagian ujung membranus. Bentuk sayap tersebut disebut Hemelytra. Sayap belakang membranus dan sedikit lebih pendek daripada sayap depan. Pada bagian kepala dijumpai adanya sepasang antene, mata facet dan occeli.

Tipe alat mulut pencucuk pengisap yang terdiri atas moncong (rostum) dan dilengkapi dengan alat pencucuk dan pengisap berupa stylet. Pada ordo Hemiptera, rostum tersebut muncul pada bagian anterior kepala (bagian ujung). Rostum tersebut beruas-ruas memanjang yang membungkus stylet. Pada alat mulut ini terbentuk dua saluran, yakni saluran makanan dan saluran ludah.

Metamorfose bertipe sederhana (paurometabola) yang dalam perkembangannya melalui stadia : telur ---> nimfa ---> dewasa. Bnetuk nimfa memiliki sayap yang belum sempurna dan ukuran tubuh lebih kecil dari dewasanya.

Beberapa contoh serangga anggota ordo Hemiptera ini adalah :

- Walang sangit (Leptorixa oratorius Thumb.)

- Kepik hijau (Nezara viridula L)

- Bapak pucung (Dysdercus cingulatus F)

c. Ordo Homoptera (wereng, kutu dan sebagainya)

Anggota ordo Homoptera memiliki morfologi yang mirip dengan ordo Hemiptera. Perbedaan pokok antara keduanya antara lain terletak pada morfologi sayap depan dan tempat pemunculan rostumnya.

Sayap depan anggota ordo Homoptera memiliki tekstur yang homogen, bisa keras semua atau membranus semua, sedang sayap belakang bersifat membranus.

Alat mulut juga bertipe pencucuk pengisap dan rostumnya muncul dari bagian posterior kepala. Alat-alat tambahan baik pada kepala maupun thorax umumnya sama dengan anggota Hemiptera.

Tipe metamorfose sederhana (paurometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur ---> nimfa ---> dewasa. Baik nimfa maupun dewasa umumnya dapat bertindak sebagai hama tanaman.

Serangga anggota ordo Homoptera ini meliputi kelompok wereng dan kutu-kutuan, seperti :

- Wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal.)

- Kutu putih daun kelapa (Aleurodicus destructor Mask.)

- Kutu loncat lamtoro (Heteropsylla sp.).

d. Ordo Coleoptera (bangsa kumbang)

Anggota-anggotanya ada yang bertindak sebagai hama tanaman, namun ada juga yang bertindak sebagai predator (pemangsa) bagi serangga lain.

Sayap terdiri dari dua pasang. Sayap depan mengeras dan menebal serta tidak memiliki vena sayap dan disebut elytra.

Apabila istirahat, elytra seolah-olah terbagi menjadi dua (terbelah tepat di tengah-tengah bagian dorsal). Sayap belakang membranus dan jika sedang istirahat melipat di bawah sayap depan.

Alat mulut bertipe penggigit-pengunyah, umumnya mandibula berkembang dengan baik. Pada beberapa jenis, khususnya dari suku Curculionidae alat mulutnya terbentuk pada moncong yang terbentuk di depan kepala.

Metamorfose bertipe sempurna (holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur ---> larva ---> kepompong (pupa) ---> dewasa (imago). Larva umumnya memiliki kaki thoracal (tipe oligopoda), namun ada beberapa yang tidak berkaki (apoda). Kepompong tidak memerlukan pakan dari luar (istirahat) dan bertipe bebas/libera.

Beberapa contoh anggotanya adalah :

- Kumbang badak (Oryctes rhinoceros L)

- Kumbang janur kelapa (Brontispa longissima Gestr)

- Kumbang buas (predator) Coccinella sp.

e. Ordo Lepidoptera (bangsa kupu/ngengat)

Dari ordo ini, hanya stadium larva (ulat) saja yang berpotensi sebagai hama, namun beberapa diantaranya ada yang predator. Serangga dewasa umumnya sebagai pemakan/pengisap madu atau nektar.

Sayap terdiri dari dua pasang, membranus dan tertutup oleh sisik-sisik yang berwarna-warni. Pada kepala dijumpai adanya alat mulut seranga bertipe pengisap, sedang larvanya memiliki tipe penggigit. Pada serangga dewasa, alat mulut berupa tabung yang disebut proboscis, palpus maxillaris dan mandibula biasanya mereduksi, tetapi palpus labialis berkembang sempurna.

Metamorfose bertipe sempurna (Holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur ---> larva ---> kepompong ---> dewasa. Larva bertipe polipoda, memiliki baik kaki thoracal maupun abdominal, sedang pupanya bertipe obtekta.

Beberapa jenisnya antara lain :

- Penggerek batang padi kuning (Tryporiza incertulas Wlk)

- Kupu gajah (Attacus atlas L)

- Ulat grayak pada tembakau (Spodoptera litura)

f. Ordo Diptera (bangsa lalat, nyamuk)

Serangga anggota ordo Diptera meliputi serangga pemakan tumbuhan, pengisap darah, predator dan parasitoid. Serangga dewasa hanya memiliki satu pasang sayap di depan, sedang sayap belakang mereduksi menjadi alat keseimbangan berbentuk gada dan disebut halter. Pada kepalanya juga dijumpai adanya antene dan mata facet.

Tipe alat mulut bervariasi, tergantung sub ordonya, tetapi umumnya memiliki tipe penjilat-pengisap, pengisap, atau pencucuk pengisap.

Pada tipe penjilat pengisap alat mulutnya terdiri dari tiga bagian yaitu :

- bagian pangkal yang berbentuk kerucut disebut rostum

- bagian tengah yang berbentuk silindris disebut haustellum

- bagian ujung yang berupa spon disebut labellum atau oral disc.

Metamorfosenya sempurna (holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur ---> larva ---> kepompong ---> dewasa. Larva tidak berkaki (apoda_ biasanya hidup di sampah atau sebagai pemakan daging, namun ada pula yang bertindak sebagai hama, parasitoid dan predator. Pupa bertipe coartacta.

Beberapa contoh anggotanya adalah :

- lalat buah (Dacus spp.)

- lalat predator pada Aphis (Asarcina aegrota F)

- lalat rumah (Musca domesticaLinn.)

- lalat parasitoid (Diatraeophaga striatalis).

g. Ordo Hymenoptera (bangsa tawon, tabuhan, semut)

Kebanyakan dari anggotanya bertindak sebagai predator/parasitoid pada serangga lain dan sebagian yang lain sebagai penyerbuk.

Sayap terdiri dari dua pasang dan membranus. Sayap depan umumnya lebih besar daripada sayap belakang. Pada kepala dijumpai adanya antene (sepasang), mata facet dan occelli.

Tipe alat mulut penggigit atau penggigit-pengisap yang dilengkapi flabellum sebagai alat pengisapnya.

Metamorfose sempurna (Holometabola) yang melalui stadia : telur-> larva--> kepompong ---> dewasa. Anggota famili Braconidae, Chalcididae, Ichnemonidae, Trichogrammatidae dikenal sebagai tabuhan parasit penting pada hama tanaman.

Beberapa contoh anggotanya antara lain adalah :

- Trichogramma sp. (parasit telur penggerek tebu/padi).

- Apanteles artonae Rohw. (tabuhan parasit ulat Artona).

- Tetratichus brontispae Ferr. (parasit kumbang Brontispa).

h. Ordo Odonata (bangsa capung/kinjeng)

Memiliki anggota yang cukup besar dan mudah dikenal. Sayap dua pasang dan bersifat membranus. Pada capung besar dijumpai vena-vena yang jelas dan pada kepala dijumpai adanya mata facet yang besar.

Metamorfose tidak sempurna (Hemimetabola), pada stadium larva dijumpai adanya alat tambahan berupa insang dan hidup di dalam air.

Anggota-anggotanya dikenal sebagai predator pada beberapa jenis serangga keecil yang termasuk hama, seperti beberapa jenis trips, wereng, kutu loncat serta ngengat penggerek batang padi.

RANGKUMAN

Mengenal sifat-sifat morfologi luar dari binatang penyebab hama merupakan hal yang penting untuk mempermudah mengenali jenis-jenis hama yang ada di lapangan. Ada beberapa filum dalam dunia binatang yang sebagian dari anggotanya berpotensi menjadi hama tanaman, yakni Filum Aschelminthes, Mollusca, Chordata dan Athropoda.

Dalam filum Aschelminthes, anggota klas nematoda banyak yang berperan sebagai hama tanaman, misalnya anggota dari ordo Tylenchida, “Giantsnail”, Achatina fulica merupakan salah satu anggota filum Mollusca yang diketahui sering merusak berbegai jenis tanaman, baik tahunan maupun tanaman semusim.

Anggota ordo Rodentia, yakni tikus dan bajing merupakan anggota filum Chordata yang menjadi hama penting pada beberapa jenis tanaman. Anggota filum Chordata lain yang juga berpotensi menjadi hama tanaman adalah kera (Primates) dan babi (Ungulata).

Arthropoda merupakan filum terbesar dalam jumlah anggotanya, sehingga sebagian besar jenis hama tanaman merupakan anggota filum ini. Namun demikian, anggota filum ini khususnya dalam klas Arachida sebagian besar bertindak sebagai musuh alami hama, sedang dari klas Insekta sebagian dari anggotanya menjadi hama penting pada berbagai jenis tanaman dan yang lain ada pula yang berperan sebagai musuh alami hama.

2. CARA MERUSAK DAN GEJALA KERUSAKAN

Pembicaraan mengenai cara merusak dan gejala merusak yang diakibatkan oleh serangan hama khususnya dari serangga tidak dapat lepas dari pembicaraan mengenai morfologi alat mulut serangga hama. Dengan tipe alat mulut tertentu, serangga hama dalam merusak tanaman akan mengakibatkan gejala kerusakan yang khas pada tanaman yang diserangnya. Karena itu, dengan mempelajari berbagai tipe gejala ataupun tanda serangan akan dapat membantu dalam mengenali jenis-jenis hama penyebab yang dijumpai di lapangan. Bahkan lebih jauh dari itu dapat pula digunakan untuk menduga cara hidup ataupun untuk menaksir populasi hama yang bersangkutan.

Berdasarkan pada cara merusak dan gejala kerusakan yang ditimbulkannya, maka hama-hama penyebab kerusakan pada tanaman dapat digolongkan menjadi beberapa tipe, yaitu hama penyebab gejala puru (gall), hama pemakan, hama penggerek, hama pengisap, hama penggulung, hama penyebab busuk buah, dan hama pengorok (miner)

RANGKUMAN

Jenis-jenis serangga dapat dikelompokkan berdasarkan tipe alat mulutnya. Dengan tipe alat mulut tertentu, perusakan tanaman oleh serangga akan meninggalkan gejala kerusakan yang khas pada tanaman. Oleh karena itu, dengan mempelajari berbagai tipe gejala serangan akan memepermudah untuk mengetahui jenis hama penyebab kerusakan yang dijumpai di lapangan. Gejala kerusakan dalam bentuk intensitas serangan hama dapat juga digunakan untuk menduga tingkat populasi hama di lapangan.

Berdasarkan cara merusak dan tipe gejala, ada tujuh tipe yaitu hama penyebab puru (gall), hama pemakan, hama penggerek, hama pengisap, hama penggulung, hama penyebab busuk buah dan hama penggorok (miner).

3. TAKTIK PENGENDALIAN

Pada dasarnya, pengendalian hama merupakan setiap usaha atau tindakan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung untuk mengusir, menghindari dan membunuh spesies hama agar populasinya tidak mencapai aras yang secara ekonomi merugikan. Pengendalian hama tidak dimaksudkan untuk meenghilangkan spesies hama sampai tuntas, melainkan hanya menekan populasinya sampai pada aras tertentu ynag secara ekonomi tidak merugikan. Oleh karena itu, taktik pengendalian apapun yang diterapkan dalam pengendalian hama haruslah tetap dapat dipertanggungjawabkan secara ekonomi dan secara ekologi.

Falsafah pengendalian hama yang harus digunakan adalah Pengelolaan/Pengendalian hama Terpadu (PHT) yang dalam implementasinya tidak hanya mengandalkan satu taktik pengendalian saja. Taktik pengendalian yang akan diuraikan berikut ini mengacu pada buku karangan Metcalf (1975) dan Matsumura (1980) yang terdiri dari :

1. Pengendalian secara mekanik

2. Pengendalian secara fisik

3. Pengendalian hayati

4. Pengendalian dengan varietas tahan

5. Pengendalian hama dengan cara bercocok tanam

6. Pengendalian hama dengan sanitasi dan eradikasi

7. Pengendalian kimiawi

A. PENGENDALIAN MEKANIK

Pengendalian mekanik mencakup usaha untuk menghilangkan secara langsung hama serangga yang menyerang tanaman. Pengendalian mekanis ini biasanya bersifat manual.

Mengambil hama yang sedang menyerang dengan tangan secara langsung atau dengan melibakan tenaga manusia telah banyak dilakukan oleh banyak negara pada permulaan abad ini. Cara pengendalian hama ini sampai sekarang masih banyak dilakukan di daerah-daerah yang upah tenaga kerjanya masih relatif murah.

Contoh pengendalian mekanis yang dilakukan di Australia adalah mengambil ulat-ulat atau siput secara langsung yang sedang menyerang tanaman kubis. Pengendalian mekanis juga telah lama dilakukan di Indonesia terutama terhadap ulat pucuk daun tembakau oleh Helicoverpa sp. Untuk mengendalikan hama ini para petani pada pagi hari turun ke sawah untuk mengambil dan mengumpulkan ulat-ulat yang berada di pucuk tembakau. Ulat yang telah terkumpul itu kemudian dibakar atau dimusnahkan. Rogesan sering dipraktekkan oleh petani tebu (di Jawa) untuk mencari ulat penggerek pucuk tebu (Scirpophaga nivella) dengan mengiris sedikit demi sedikit pucuk tebu yang menunjukkan tanda serangan. Lelesan dilakukan oleh petani kopi untuk menyortir buah kopi dari lapangan yang terserang oleh bubuk kopi (Hypotheneemus hampei)

B. PENGENDALIAN FISIK

Pengendalian ini dilakukan dengan cara mengatur faktor-faktor fisik yang dapat mempengaruhi perkembangan hama, sehingga memberi kondisi tertentu yang menyebabkan hama sukar untuk hidup.

Bahan-bahan simpanan sering diperlakukan denagn pemanasan (pengeringan) atau pendinginan. Cara ini dimaksudkan untuk membunuh atau menurunkan populasi hama sehingga dapat mencegah terjadinya peledakan hama. Bahan-bahan tersebut biasanya disimpan di tempat yang kedap udara sehingga serangga yang bearada di dalamnya dapat mati lemas oleh karena CO2 dan nitrogen.

Pengolahan tanah dan pengairan dapat pula dimasukkan dalam pengendalian fisik; karena cara-cara tersebut dapat menyebabkan kondisi tertentu yang tidak cocok bagi pertumbuhan serangga. Untuk mengendalikan nematoda dapat dilakukan dengan penggenangan karena tanah yang mengandung banyak air akan mendesak oksigen keluar dari partikel tanah. Dengan hilangnya kandungan O2 dalam tanah, nematoda tidak dapat hidup lebih lama.

C. PENGENDALIAN HAYATI

Pengendalian hayati adalah pengendalian hama dengan menggunakan jenis organisme hidup lain (predator, parasitoid, pathogen) yang mampu menyerang hama. Di suatu daerah hampir semua serangga dan tunggau mempunyai sejumlah musuh-musuh alami. Tersedianya banyak makanan dan tidak adanya agen-agen pengendali alami akan menyebabkan meningkatnya populasi hama. Populasi hama ini dapat pula meningkat akibat penggunaan bahan-bahan kimia yang tidak tepat sehingga dapat membunuh musuh-musuh alaminya. Sebagai contoh, meningkatnya populasi tunggau di Australia diakibatkan meningkatnya penggunaan DDT.

Dua jenis organisme yang digunakan untuk pengendalian hayati terhadap serangga dan tunggau adalah parasit dan predator. Parasit selalu berukuran lebih kecil dari organisme yang dikendalikan oleh (host), dan parasit ini selama atau sebagian waktu dalam siklus hidupnya berada di dalam atau menempel pada inang. Umumnya parsit merusak tubuh inang selama peerkembangannya. Beberapa jenis parasit dari anggota tabuhan (Hymenoptera), meletakkan telurnya didalam tubuh inang dan setelah dewasa serangga ini akan meninggalkan inang dan mencari inang baru untuk meletakkan telurnya.

Sebaliknya predator mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar sari serangga yang dikendalikan (prey), dan sifat predator secara aktif mencari mangsanya, kemudian memakan atau mengisap cairan tubuh mangsa sampai mati. Beberapa kumbang Coccinella merupakan predator aphis atau jenis serangga lain yang baik pada fase larva maupun dewasanya. Contoh lain serangga yang bersifat sebagai predator adalah Chilocorus, serangga ini sekarang telah dimanfaatkan sebagai agensia pengendali hayati terhadap hama kutu perisai (Aspidiotus destructor) pada tanaman kelapa.

Agar predator dan tanaman ini sukses sebagai agen pengendali biologis terhadap serangga, maka harus dapat beradaptasi dulu dengan lingkungan tempat hidup serangga hama. Predator dan parasit itu harus dapat beradaptasi dengan cepat pada lingkungan yang baru. Parasit dan predator juga harus bersifat spesifik terhadap hama dan mampu mencari dan membunuhnya.

Parasit harus mempunyai siklus hidup yang lebih pendek daripada inangnya dan mampu berkembang lebih cepat dari inangnya. Siklus hidup parasit waktunya harus sinkron dengan inangnya sehingga apabila saat populasi inang meningkat maka saat peningkatan populasi parasit tidak terlambat datangnya. Predator tidak perlu mempunyai siklus hidup yang sama dengan inangnya, karena pada umumnya predator ini mempunyai siklus hidup yang lebih lama daripada inangnya dan setiap individu predator mampu memangsa beberapa ekor hama.

Baik parasit maupun predator mempunyai ratio jantan dan betina yang besar, mempunyai keperidian dan kecepatan hidup yang tinggi serta memiliki kemampuan meenyebar yang cepat pada suatu daerah dan serangga-serangga itu secara efektif mampu mencari inang atau mangsanya.

Beberapa parasit fase dewasa memerlukan polen dan nektar, sehingga untuk pelepasan dan pengembangan parasit pada suatu daerah, yang perlu diperhatikan adalah daerah tersebut banyak tersedia polen dan nektar yang nanti dapat digunakan sebagai pakan tambahan.

Parasit yang didatangkan dari suatu daerah, mula-mula dipelihara dahulu di karantina selama beberapa saat agar serangga ini mampu beradaptasi dan berkembang. Selama pemeliharaan di dalam karantina, serangga-serangga ini dapat diberi pakan dengan pakan buatan atau mungkin dapat pula digunakan inangnya yang dilepaskan pada tempat pemeliharaan. Setelah dilepaskan di lapangan populasi parasit ini harus dapat dimonitor untuk mengetahui apakah parasit iru sudah mapan, menyebar dan dapat berfungsi sebagai agen pengendali biologis yang efektif; dan bila memungkinkan serangga ini mampu mengurangi populasi hama relatif lebih cepat dalam beberapa tahun.

Contoh pengendalian biologis yang pernah dilakukan di Australia adalah pengendalian Aphis dengan menggunakan tabuhan chalcid atau pengendalian kutu yang menyerang jeruk dengan menggunakan tabuhan Aphytes.

Selain menggunakan parasit dan predator, untuk menekan populasi serangga hama dapat pula memanfaatkan beberapa pathogen penyebab penyakit pada serangga. Seperti halnya dengan binatang lain, serangga bersifat rentan terhadap penyakit yang disebabkan oleh bakteri, cendawan, virus dan protozoa. Pada kondisi lingkungan yang cocok beberapa jenis penyakit akan menajdi wabah epidemis. Penyakit tersebut secara drastis mampu menekan populasi hama hanya dalam beberapa hari.

Beberapa jenis bakteri, misal Bacillus thuringiensis secara komersial diperdagangkan dalam bentuk spora, dan bakteri ini dipergunakan untuk menyemprot tanaman seperti halnya insektisida. Yang bersifat rentan terhadap bahan ini adalah fase ulat, dan bilamana ulat-ulat itu makan spora, maka akhirnya bakteri akan berkembang di dalam usus serangga hama, akhirnya bakteri itu menembus usus dan masuk ke dalam tubuhnya, sehingga akhirnya larva akan mati.

Jamur dapat pula digunakan untuk mengendalikan serangga hama, sebagai contoh Entomorpha digunakan untuk mengendalikan Aphis yang menyerang alfafa; spesies Beauveria untuk mengendalikan ulat dan Metarrhizium anisopliae sekarang sudah dikembangkan secara masal dengan medium jagung. Jamur ini digunakan untuk mengendalikan larva Orycetes rhinoceros yang imagonya merupakan penggerek pucuk kelapa.

Lebih dari 200 jenis virus mampu menyerang serangga. Jenis virus yang telah digunakan untuk mengendalikan hama adalah Baculovirus untuk menekan populasi Orycetes rhinoceros; Nuclear polyhidrosis virus yang telah digunakan untuk mengendalikan hama Heliothis zeae pada tongkol jagung, bahan tersebut telah banyak digunakan di AS, Eropa dan Australia. Virus tersebut masuk dan memperbanyak diri dalam sel inang sebelum menyebar ke seluruh tubuh. Inti dari sel-sel yang terserang menjadi besar, kemudian virus tersebut menuju ke rongga tubuh akhirnya inang akan mati.

Metode pengelolaan agen pengendali biologi terhadap serangga hama meliputi :

1. Introduksi, yakni upaya mendatangkan musuh alami dari luar (exotic) ke wilayah yang baru (ada barier ekologi).

2. Konservasi, yakni upaya pelestarian keberadaan musuh alami di suatu wilayah dengan antara lain melalui pengelolaan habitat.

3. Augmentasi, parasit dan predator lokal yang telah ada diperbanyak secara massal pada kondisi yang terkontrol di laboratorium sehingga jumlah agensia sangat banyak, sehingga dapat dilepas ke lapangan dalam bentuk pelepasan inundative.

D. PENGENDALIAN DENGAN VARIETAS TAHAN

Beberapa varietas tanaman tertentu kuran dapat diserang oleh serangga hama atau kerusakan yang diakibatkan oleh serangan hama relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan varietas lain. Varietas tahan tersebut mempunyai satu atau lebih sifat-sifat fisik atau fisiologis yang memungkinkan tanaman tersebut dapat melawan terhadap serangan hama.

Mekanisme ketahanan tersebut secara kasar dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu :

1. Toleransi

Tanaman yang memiliki kemampuan melawan serangan serangga dan mampu hidup terus serta tetap mampu berproduksi, dapat dikatakan sebagai tanaman yang toleran terhadap hama. Toleransi ini sering juga tergantung pada kemampuan tanaman untuk mengganti jaringan yang terserang, dan keadaan ini berhubungan dengan fase pertumbuhan dan kerapatan hama yang menyerang pada suatu saat.

2. Antibiosis

Tanaman-tanaman yang mengandung toksin (racun) biasanya memberi pengaruh yang kurang baik terhadap serangga. Tanaman yang demikian dikatakan bersifat antibiosis. Tanaman ini akan mempengaruhi banyaknya bagian tanaman yang dimakan hama, dapat menurutkan kemampuan berkembang biak dari hama dan memperbesar kematian serangga. Tanaman kapas yang mengandung senyawa gossypol dengan kadar tinggi mempunyai ketahanan yang lebih baik bila dibandingkan dengan yang mengandung kadar yang lebih rendah, karena bahan kimia ini bekerja sebagai antibiosis terhadap jenis serangga tertentu.

3. Non prefens

Jenis tanaman tertentu mempunyai sifat fisik dan khemis yang tidak disukai serangga. Sifat-sifat tersebut dapat berupa tekstur, warna, aroma atau rasa dan banyaknya rambut sehingga menyulitkan serangga untuk meletakkan telur, makan atau berlindung. Pada satu spesies tanaman dapat pula terjadi bahwa satu tanaman kurang dapat terserang serangga dibanding yang lain. Hal ini disebabkan adanya perbedaan sifat yang ada sehingga dapat lebih menarik lagi bagi serangga untuk memakan atau meletakkan telur. Contoh pengendalian hama yang telah memanfaatkan varietas tahan adalah pengendalian terhadap wereng coklat pada tanaman padi, pengendalian terhadap kutu loncat pada lamtoro, pengendalian terhadap Empoasca pada tanaman kapas.

E. PENGENDALIAN HAMA DENGAN PENGATURAN CARA BERCOCOK TANAM

Pada dasarnya pengendalian ini merupakan pengendalian yang belerja secara alamiah, karena sebenarnya tidak dilakukan pembunuhan terhadap hama secara langsung. Pengendalian ini merupakan usaha untuk mengubah lingkunagn hama dari keadaan yang cocok menjadi sebaliknya. Dengan mengganti jenis tanaman pada setiap musim, berarti akan memutus tersedianya makanan bagi hama-hama tertentu.

Sebagai contoh dalam pengendalian hama wereng coklat (Nilaparvata lugens) diatur pola tanamnya, yakni setelah padi-padi, pada periode berikutnya supaya diganti dengan palawija. Cara ini dimaksudkan untuk menghentikan berkembangnya populasi wereng. Cara di atas dapat pula diterapkan pada hama lain, khususnya yang memiliki inang spesifik. Kebaikan dari pengendalian hama dengan mengatur pola tanam adalah dapat memperkecil kemungkinan terbentuknya hama biotipe baru. Cara-cara pengaturan pola tanam yang telah diterapkan pada pengendalian wereng coklat adalah :

a. Tanam serentak meliputi satu petak tersier (wikel) dengan selisih waktu maksimal dua minggu dan selisih waktu panen maksimal 4 minggu, atau dengan kata lain varietas yang ditanam relatif mempunyai umur sama. Dengan tanam serentak diharapkan tidak terjadi tumpang tindih generasi hama, sehingga lebih mudah memantau dan menjamin efektifitas pengendalian, karena penyemprotan dapat dilakukan serentak pada areal yang luas.

b. Pergiliran tanaman meliputi areal minimal satu WKPP dengan umur tanaman relatif sama.

c. Pergiliran varietas tahan. Untuk daerah-daerah yang berpengairan baik, para petani pada ummnya akan menanam padi-padi sepanjang tahun. Kalau pola demikian tidak dapat diubah maka teknik pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pergiliran varietas yang ditanam. Pada pengendalian ini diusahakan supaya digunakan varietas yang mempunyai tetua berbeda, dengan demikian dapat menghambat terbentuknya wereng biotipe baru.

F. PENGENDALIAN HAMA DENGAN SANITASI DAN ERADIKASI

Beberapa jenis hama mempunyai makanan, baik berupa tanaman yang diusahakan manusia maupun tanaman liar (misal rumput, semak-semak, gulam dan lain-lain). Pada pengendalian dengan cara sanitasi eradikasi dititikberatkan pada kebersihan lingkungan di sekitar pertanaman. Kebersihan lingkungan tidak hanya terbatas di sawah yang ada tanamannya, namun pada saat bero dianjurkan pula membersihkan semak-semak atau turiang-turiang yang ada. Pada musim kemarau sawah yang belum ditanami agar dilakukan pengolahan tanah terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk membunuh serangga-serangga yang hidup di dalam tanah, memberikan pengudaraan (aerasi), dan membunuh rerumputan yang mungkin merupakan inang pengganti suatu hama tertentu.

Contoh pengendalian dengan eradikasi terhadap serangan hama wereng coklat adalah :

a. Pada daerah serangan wereng coklat tetapi bukan merupakan daerah serangan virus, eradikasi dilakukan pada tanaman padi yang telah puso. Pada daerah serangan berat eradikasi hendaknya diikuti pemberoan selama 1-2 bulan atau mengganti dengan tanaman selain padi.

b. Pada daerah serangan hama wereng yang juga merupakan daerah serangan virus, eradikasi dilakukan sebagai berikut :

1). Eradikasi selektif dilakukan pada padi stadia vegetatif yang terserang virus dengan intensitas sama dengan atau kurang dari 25 % atau padi stadia generatif dengan intensitas serangan virus kurang dari 75 %.

2). Eradikasi total dilakukan terhadap pertanaman statdia vegetatif dengan intensitas serangan virus lebih besar dari 25 % atau pada padi stadia generatif dengan intensitas serangan virus lebih besar sama dengan 75 %.

Cara melakukan eradikasi adalah dengan membabat tanaman yang terserang hama, kemudian membakar atau membenamkan ke dalam tanah.

G. PENGENDALIAN KIMIA

Bahan kimia akan digunakan untuk mengendalikan hama bilamana pengendalian lain yang telah diuarikan lebih dahulu tidak mampu menurunkan populasi hama yang sedang menyerang tanaman.

Kelompok utama pestisida yang digunakan untuk mengendalikan serangga hama dengan tunggau adalah insektisida, akarisida dan fumigan, sedang jenis pestisida yang lain diberi nama masing-masing sesuai dengan hama sasarannya. Dengan demikian penggolongan pestisida berdasar jasad sasaran dibagi menjadi :

a. Insektisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa serangga. Contoh : Bassa 50 EC Kiltop 50 EC dan lain-lain.

b. Nematisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa cacing-cacing parasit yang biasa menyerang akar tanaman. Contoh : Furadan 3 G.

c. Rodentisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas binatang-binatang mengerat, seperti misalnya tupai, tikus. Contoh : Klerat RM, Racumin, Caumatatralyl, Bromodoiline dan lain-lain.

d. Herbisida : adalah pestisida yang digunakan untuk mengendalikan gulam (tanaman pengganggu). Contoh : Ronstar ODS 5/5 Saturn D.

e. Fungisida : digunakan untuk memberantas jasad yang berupa cendawan (jamur). Contoh : Rabcide 50 WP, Kasumin 20 AB, Fujiwan 400 EC, Daconil 75 WP, Dalsene MX 2000.

f. Akarisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan jasad pengganggu yang berupa tunggau. Contoh : Mitac 200 EC, Petracrex 300 EC.

g. Bakterisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan penykit tanaman yang disebabkan oleh bakteri. Contoh : Ffenazin-5-oksida (Staplex 10 WP).

Insektisida dapat pula dibagi menurut jenis aktivitasnya. Kebanyakan insektisida bersifat racun bilamana bersentuhan langsung atau tertelan serangga. Namun ada pula jenis lain yang bersifat sebagai repelen (jenis ini digunakan untuk mencegah serangga yang akan menyerang tanaman), atraktan (bahan yang dapat menarik serangga, dengan demikian serangga yang terkumpul akan lebih mudah terbunuh), anti feedan (senyawa ini dapat menghindarkan dari serangan suatu serangga) dan khemosterilan (yang dapat menyebabkan kemandulan bagi serangga yang terkena).

Menurut sifat kecepatan meracun, pestisida digolongkan menjadi :

1. Racun kronis : yaitu racun yang bekerjanya sangat lambat sehingga untuk mematikan hama membutuhkan waktu yang sangat lama. Contoh : racun tikus Klerat RMB.

2. Racun akut : adalah racun yang bekerjanya sangat cepat sehingga kematian serangga dapat segera diketahui setelah racun tersebut mengenai tubuhnya. Contoh : Bassa 50 EC, Kiltop 50 EC, Baycarb 50 EC dan lain-lain.

Ditinjau dari cara bekerjanya, pestisida dibagi menjadi :

1. Racun perut

Racun ini terutama digunakan untuk mengendalikan serangga yang mempunyai tipe alat mulut pengunyah (ulat,belalang dan kumbang), namun bahan ini dapat pula digunakan terhadap hama yang menyerang tanaman dengan cara mengisap dan menjilat. Bahan insektisida ini disemprotkan pada bagian yang dimakan serangga sehingga racun tersebut akan tertelan masuk ke dalam usus, dan di sinilah terjadi peracunan dalam jumlah besar.

Ada 4 cara aplikasi racun perut terhadap serangga :

a. Insektisida diaplikasikan pada makanan alami serangga sehingga bahan tersebut termakan oleh serangga sasaran. Bahan makanan itu dapat berupa daun, bulu-bulu/rambut binatang. Dalam aplikasinya, bahan-bahan makanan serangga harus tertutup rata oleh racun pada dosis lethal sehingga hama yang makan dapat mati.

b. Insektisida dicampur dengan bahan atraktan dan umpan itu ditempatkan pada suatu lokasi yang mudah ditemukan serangga.

c. Insektisida ditaburkan sepanjang jalan yang bisa dilalui hama. Selagi hama itu lewat biasanya antene dan kaki akan bersentuhan dengan insektisida atau bahkan insektisida itu tertelan. Akibatnya hama mati.

d. Insektisida diformulasikan dalam bentuk sistemik, dan racun ini diserap oleh tanaman atau tubuh binatang piaraan kemudian tersebar ke seluruh bagian tanaman atau badan sehingga apabila serngga hama tersebut mengisap cairan tanaman atau cairan dari tubuh binatang (terutama hama yang mempunyai tipe mulut pengisap, misal Aphis) dan bila dosis yang diserap mencapai dosis lethal maka serangga akan mati.

2. Racun kontak

Insektisida ini masuk ke dalam tubuh serangga melalui permukaan tubuhnya khususnya bagian kutikula yang tipis, misal pada bagian daerah perhubungan antara segmen, lekukan-lekukan yang terbentuk dari lempengan tubuh, pada bagian pangkal rambut dan pada saluran pernafasan (spirakulum). Racun kontak itu dapat diaplikasikan langsung tertuju pada jasad sasaran atau pada permukaan tanaman atau pada tempat-tempat tertentu yang biasa dikunjungi serangga. Racun kontak mungkin diformulasikan sebagai cairan semprot atau sebagai serbuk. Racun kontak yang telah melekat pada serangga akan segera masuk ke dalam tubuh dan disinilah mulai terjadi peracunan.

Yang digolongkan sebagai insektisida kontak adalah :

a. Bahan kimia yang berasal dari kestrak tanamaan, seperti misalnya nikotin, rotenon, pirethrum.

b. Senyawa sintesis organik, misal BHC, DDT, Chlordan, Toxaphene, Phosphat organik.

c. Minyak dan sabun.

d. Senyawa anorganik seperti misalnya Sulfur dan Sulfur kapur.

3. Racun pernafasan

Bahan insektisida ini biasanya bersifat mudah menguap sehingga masuk ke dalam tubuh serangga dalam bentuk gas. Bagian tubuh yang dilalui adalah organ-organ pernafasan seperti misalnya spirakulum. Oleh karena bahan tersebut mudah menguap maka insektisida ini juga berbahaya bagi manusia dan binatang piaraan. Racun pernafasan bekerja dengan cara menghalangi terjadinya respirasi tingkat selulair dalam tubuh serangga dan bahan ini sering dapat menyebabkan tidak aktifnya enzim-enzim tertentu. Contoh racun nafas adalah : Hidrogen cyanida dan Carbon monoksida.

4. Racun Syaraf

Insektisida ini bekerja dengan cara menghalangi terjadinya transfer asetikholin estrase yang mempunyai peranan penting dalam penyampaian impul. Racun syaraf yang biasa digunakan sebagai insektisida adalah senyawa organo klorin, lindan, carbontetraclorida, ethylene diclorida : insektisida-insektisida botanis asli seperti misalnya pirethin, nikotin, senyawa organofosfat (parathion dan dimethoat) dan senyawa karbanat (methomil, aldicarb dan carbaryl).

5. Racun Protoplasmik

Racun ini bekerja terutama dengan cara merusak protein dalam sel serangga. Kerja racun ini sering terjadi di dalam usus tengah pada saluran pencernaan.Golongan insektisida yang termasuk jenis ini adalah fluorida, senyawa arsen, borat, asam mineral dan asam lemak, nitrofenol, nitrocresol, dan logam-logam berat (air raksa dan tembaga).

6. Racun penghambat khitin

Racun ini bekerja dengan cara menghambat terbentuknya khitin. Insektisida yang termasuk jenis ini biasanya bekerja secara spesifik, artinya senyawa ini mempunyai daya racun hanya terhadap jenis serangga tertentu. Contoh : Applaud 10 WP terhadap wereng coklat.

8. Racun sistemik

Insektisida ini bekerja bilamana telah terserap tanaman melalui akar, batang maupun daun, kemudian bahan-bahan aktifnya ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman sehingga bilamana serangga mengisap cairan atau memakan bagian tersebut akan teracun.

Pestisida adalah merupakan racun, baik bagi hama maupun tanaman yang disemprot. Mempunyai efek sebagai racun tanaman apabila jumlah yang disemprotkan tidak sesuai dengan aturan dan berlebihan (overdosis), karena keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya kebakarn tanaman. Untuk memperoleh hasil pengendalian yang memadai namun pertumbuhan tanaman tidak terganggu, pemakaian pestisida hendaknya memperhatikan kesesuaiannya, baik tepat jenis, tepat waktu maupun tepat ukuran (dosis dan konsentrasi). Dosis adalah banyaknya pestisida yang digunakan untuk mengendalikan hama secara memadai pada lahan seluas 1 ha. Konsentrasi adalah banyaknya pestisida yang dilarutkan dalam satu liter air.

Untuk menyesuaikan dengan kondisi setempat serta memperoleh efektifitas pengendalian yang tinggi maka oleh perusahaan pestisida, satu bahan aktif dibuat dalam bermacam-macam formulasi.

Tujuan dari formulasi ini adalah :

1. Mempermudah penyimpanan.

2. Mempermudah penggunaan.

3. Mengurangi daya racun yang berlebihan.

Pestisida terbuat dari campuran antara dua bahan, yaitu bahan aktif (bahan pestisida yang mempunyai daya racun) dan bahan pembawa/inert (bahan pencampur yang tidak mempunyai daya racun).

Macam-macam formulasi yang banyak dibuat oleh perusahaan pembuat pestisida adalah :

1. Formulasi dalam bentuk cairan

a. Cairan yang diemulsikan.

Biasanya ditandai dengan kode EC (Emulsifeable Concentrate) yaitu cairan yang diemulsikan. Pestisida ini dalam bentuk asli berwarna bening setelah dicampur air akan membentuk emulsi yang berwarna putih susu. Contoh : Dharmabas 50 EC, Bassa 50 EC dan lain-lain.

b. Cairan yang dapat dilarutkan.

Formulasi ini biasanya ditandai dengan kode WSC atau SCW yaitu kependekan dari Soluble Concentrated in Water. Pestisida ini bila dilarutkan dalam air tidak terjadi perubahan warna (tidak membentuk emulsi sehingga cairan tersebut tetap bening). Contoh : Azodrin 15 WSC.

2. Bentuk Padat

a. Berupa tepung yang dapat dilarutkan, dengan kode SP (Soluble Powder). Penggunaannya disemprotkan dengan sprayer. Contoh : Sevin 85 SP.

b. Berupa tepung yang dapat dibasahi dengan merek dagang WP (Weatable Powder). Pestisida ini disemprotkan dengan dicampur air. Karena sifatnya tidak larut sempurna, maka selama menyemprot seharusnya disertai dengan pengadukan secara terus-menerus.Contoh: Aplaud 10 WP.

c. Berupa butiran dengan kode G (Granulair). Aplikasi pestisida ini adalah dengan menaburkan atau membenamkan dekat. Contoh : Furadan 3 G, Dharmafur 3 G.

d. Campuran umpan (bait). Pestisida ini dicampur dengan bahan makanan yang disukai hama, kemudian diumpankan. Contoh : Klerat RMB.

RANGKUMAN

Pengendalian hama merupakan upaya manusia untuk mengusir, menghindari dan membunuh secara langsung maupun tidak langsung terhadap spesies hama. Pengendalian hama tidak bermaksud memusnahkan spesies hama, melainkan hanya menekan sampai pada tingkat tertentu saja sehingga secara ekonomi dan ekologi dapat dipertanggungjawabkan.

Falsafah pengendalian hama yang digunakan adalah Pengelolaan/Pengendalian Hama Terpadu (PHT). PHT tidak pernah mengandalkan satu taktik pengendalian saja dalam memcahkan permasalahan hama yang timbul, melainkan dengan tetap mencari alternatif pengendalian yang lain.

Beberapa taktik pengendalian hama yang dikenal meliputi : taktik pengendalian secara mekanis, fisis, hayati, dengan varietas tahan, mengatur pola tanam, sanitasi dan eradikasi, dan cara kimiawi.


Link ke posting ini Email this post

Asam Durian

Minggu, 09 November 2008


Asam Durian

Bagi orang-orang yang di luar Provinsi Bengkulu, mendengar kata buah durian mungkin suatu makanan dari buah-buahan yang mempuyai nilai ekonomis yang yang tinggi. Hal ini disebabkan karena ketersediaan dari pohon itu sendiri yang hampir habis apalagi di Pulau Jawa karena pohonya di jadikan bahan bangunan. Bagi masyarakat Provinsi Pengkulu, buah durian adalah makanan yang biasa-biasa saja, karena ketersediaan dari durian itu masih sangat banyak sekali, kalau pergi kehutan-hutan dibalakang rumah penduduk hampir setiap hutan itu dipenuhi dengan pohon durian yang umurnya suda mencapai ratusan tahun.

Setiap musim buah durian orang-orang Bengkulu kebingungungan terhadap buah durian, mengapa?, hal ini disebabkan oleh karena buah durian jumlahnya yang melimpah ruah. Harga durian pun sangat murah, kadangkalah mencapai Rp 500,00/buah, jadi kalau dibawa ke pasar untuk dijual harga jualnya tidak sebanding dengan modal membawa kepasar.

Dengan jumlahnya yang begitu banyak, orang-orang Bengkulu biasanya buah durian itu di awetkan, ada yang namaya lemapai durian, ada yang namanya asam durian atau oarang-orang bengkulu menyebutnya tempuyak. Tempuyak cara membuatnya mudah sekali, yaitu buah durian tersebut di belah dan diambil bagian inti dari buah durian tersebut yaitu yang menutupi biji dari durian itu. Intinya tersebut dikupulkan lalu dimasukan kedalam ember yang besar, setelah terkumpul dan memenuhi dari ember itu lalu ember tersebut, ditutup rapat-rapat. Biasanya dalam penyimpanan ini asasm durian tersebut bisa mencapai dua tahunan.

Fungsi dari tempuyak tersebut adalah untuk asam ketika menggulai ikan, atau campuran bahan gulai yang lainnya. Bau dari gulai yang diberi tempuyak ini harumya luar biasa, bahkan kalau kita makan bersama orang Bengkulu tidak terasa walaupun suda berkali-kali kita kita tambah nasi dipring kita itu. Ada juga tempuyak ini hanya digulai biasa tanpa campuran lainnya, jadi kalau masak suda masak gulainya itu mirip dengan gelamai hampir matang, warnanya kuing, sedikit asam. Kalau masakan yang ini bagi orang kecuali Bengkulu biasanya takut makannya karena teringat dengan menggendong bayi dan kebiasaan bayi apa?.

























Link ke posting ini Email this post

Kepemimpinan Dalam Perusahaan

Sabtu, 08 November 2008




I. Pendahuluan

Pengertian kepemimpinan

Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan. Hal ini dikarenakan banyak sekali orang yang telah mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan tersebut. Namun demikian, semua definisi kepemimpinan yang ada mempunyai beberapa unsur yang sama. Menurut Sarros dan Butchatsky (1996), "leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good". Menurut definisi tersebut, kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. Sedangkan menurut Anderson (1988), "leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance".

Berdasarkan definisi-definisi di atas, kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. Antara lain:

Pertama: kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain, yaitu para karyawan atau bawahan (followers). Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. Walaupun demikian, tanpa adanya karyawan atau bawahan, kepemimpinan tidak akan ada juga.

Kedua: seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Menurut French dan Raven (1968), kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari :

  1. Reward power, yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya.
  2. Coercive power, yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya
  3. Legitimate power, yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya.
  4. Referent power, yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya, reputasinya atau karismanya.
  5. Expert power, yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya.
    Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi.

Ketiga: kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity), sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion), pengetahuan (cognizance), keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment), kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management), kedua konsep tersebut berbeda. Perbedaan antara pemimpin dan manajer dinyatakan secara jelas oleh Bennis and Nanus (1995). Pemimpin berfokus pada mengerjakan yang benar sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat ("managers are people who do things right and leaders are people who do the right thing, "). Kepemimpinan memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat, sedangkan manajemen mengusahakan agar kita mendaki tangga seefisien mungkin.




ISI

A. Kepemimpinan, Karakteristik Pekerjaan dan Kepuasan Kerja

Sukses tidaknya suatu organisasi sangat tergantung dari kualitas sumber daya manusia yang dimiliki karena sumber daya manusia yang berkualitas adalah sumber daya manusia yang mampu berprestasi maksimal. Kepuasan kerja mempunyai peranan penting terhadap prestasi kerja karyawan, ketika seorang karyawan merasakan kepuasan dalam bekerja maka seorang karyawan akan berupaya semaksimal mungkin dengan segenap kemampuan yang dimiliki untuk menyelesaikan tugasnya, yang akhirnya akan menghasilkan kinerja dan pencapaian yang baik bagi perusahaan.

Kepuasan kerja mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap produktivitas organisasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Ketidakpuasan merupakan titik awal dari masalah-masalah yang muncul dalam organisasi seperti kemangkiran, konflik manager-pekerja dan perputaran karyawan. Dari sisi pekerja, ketidakpuasan dapat menyebabkan menurunnya motivasi, menurunnya moril kerja, dan menurunnya tampilan kerja baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif.

Kepuasan dapat dirumuskan sebagai respon umum pekerja berupa perilaku yang ditampilkan oleh karyawan sebagai hasil persepsi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaannya. Seorang pekerja yang masuk dan bergabung dalam suatu organisasi mempunyai seperangkat keinginan, kebutuhan, hasrat dan pengalaman masa lalu yang menyatu dan membentuk suatu harapan yang diharapkan dapat dipenuhi di tempatnya bekerja. Kepuasan kerja ini akan didapat apabila ada kesesuaian antara harapan pekerja dan kenyataan yang didapatkan ditempat bekerja. Persepsi pekerja mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaannya dan kepuasan kerja melibatkan rasa aman, rasa adil, rasa menikmati, rasa bergairah, status dan kebanggaan. Dalam persepsi ini juga dilibatkan situasi kerja pekerja yang bersangkutan yang meliputi interaksi kerja, kondisi kerja, pengakuan, hubungan dengan atasan, dan kesempatan promosi. Selain itu di dalam persepsi ini juga tercakup kesesuaian antara kemampuan dan keinginan pekerja dengan kondisi organisasi tempat bekerja yang meliputi jenis pekerjaan, minat, bakat, penghasilan dan insentif.

Menurut Locke dalam Munandar (2001:350) tenaga kerja yang puas dengan pekerjaannya merasa senang dengan pekerjaannya. Keyakinan bahwa karyawan yang terpuaskan akan lebih produktif daripada karyawan yang tak terpuaskan merupakan suatu ajaran dasar diantara para manajer selama bertahun-tahun (Robbins, 2001:26).

Menurut Strauss dan Sayles dalam Handoko (2001:196) kepuasan kerja juga penting untuk aktualisasi, karyawan yang tidak memperoleh kepuasan kerja tidak akan pernah mencapai kematangan psikologis, dan pada gilirannya akan menjadi frustasi. Karyawan yang seperti ini akan sering melamun, mempunyai semangat kerja yang rendah, cepat lelah dan bosan, emosi tidak stabil, sering absen dan melakukan kesibukan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang harus dilakukan. Sedangkan karyawan yang mendapatkan kepuasan kerja biasanya mempunyai catatan kehadiran dan perputaran kerja yang lebih baik, kurang aktif dalam kegiatan serikat karyawan, dan kadang-kadang berprestasi bekerja lebih baik daripada karyawan yang tidak memperoleh kepuasan kerja. Oleh karena itu kepuasan kerja mempunyai arti penting baik bagi karyawan maupun perusahaan, terutama karena menciptakan keadaan positif di dalam lingkungan kerja perusahaan.

Kepuasan kerja merupakan hasil keseluruhan dari derajat rasa suka atau tidak sukanya tenaga kerja terhadap berbagai aspek dari pekerjaannya. Dengan kata lain kepuasan mencerminkan sikap tenaga kerja terhadap pekerjaannya. Kepuasan kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu karakteristik pekerjaan, gaji, penyeliaan, rekan-rekan sejawat yang menunjang dan kondisi kerja yang menunjang. (Munandar, 2001:357).

Peningkatan kepuasan kerja karyawan pada suatu organisasi tidak bisa dilepaskan dari peranan pemimpin dalam organisasi tersebut, kepemimpinan merupakan kunci utama dalam manajemen yang memainkan peran penting dan strategis dalam kelangsungan hidup suatu perusahaan, pemimpin merupakan pencetus tujuan, merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan dan mengendalikan seluruh sumber daya yang dimiliki sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Kepemimpinan manajerial dapat didefinisikan sebagai suatu proses pengarahan dan pemberian pengaruh pada kegiatan-kegiatan dari sekelompok anggota yang saling berhubungan tugasnya (Handoko, 2001 : 291). Oleh sebab itu pemimpin suatu organisasi perusahaan dituntut untuk selalu mampu menciptakan kondisi yang mampu memuaskan karyawan dalam bekerja sehingga diperoleh karyawan yang tidak hanya mampu bekerja akan tetapi juga bersedia bekerja kearah pencapaian tujuan perusahaan. Mengingat perusahaan merupakan organisasi bisnis yang terdiri dari orang-orang, maka pimpinan seharusnya dapat menyelaraskan antara kebutuhan-kebutuhan individu dengan kebutuhan organisasi yang dilandasi oleh hubungan manusiawi (Robbins, 2001:18). Sejalan dengan itu diharapkan seorang pimpinan mampu memotivasi dan menciptakan kondisi sosial yang menguntungkan setiap karyawan sehingga tercapai kepuasan kerja karyawan yang berimplikasi pada meningkatnya produktivitas kerja karyawan.

Karakteristik pekerjaan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja karyawan, model karakteristik pekerjaan (job characteristics models) dari Hackman dan Oldham (1980) adalah suatu pendekatan terhadap pemerkayaan jabatan (job enrichment) yang dispesifikasikan kedalam 5 dimensi karakteristik inti yaitu keragaman ketrampilan (skill variety), Jati diri dari tugas (task identity), signifikansi tugas (task significance), otonomi (autonomy) dan umpan balik (feed back). Setiap dimensi inti dari pekerjaan mencakup aspek besar materi pekerjaan yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja seseorang, semakin besarnya keragaman aktivitas pekerjaan yang dilakukan maka seseorang akan merasa pekerjaannya semakin berarti. Apabila seseorang melakukan pekerjaan yang sama, sederhana, dan berulang-ulang maka akan menyebabkan rasa kejenuhan atau kebosanan. Dengan memberi kebebasan pada karyawan dalam menangani tugas-tugasnya akan membuat seorang karyawan mampu menunjukkan inisiatif dan upaya mereka sendiri dalam menyelesaikan pekerjaan, dengan demikian desain kerja yang berbasis ekonomi ini merupakan fungsi dan faktor pribadi. Kelima karakteristik kerja ini akan mempengaruhi tiga keadaan psikologis yang penting bagi karyawan, yaitu mengalami makna kerja, memikul tanggung jawab akan hasil kerja, dan pengetahuan akan hasil kerja. Akhirnya, ketiga kondisi psikologis ini akan mempengaruhi motivasi kerja secara internal, kualitas kinerja, kepuasan kerja dan ketidakhadiran dan perputaran karyawan.
Karakteristik pekerjaan seorang karyawan jelas terlihat desain pekerjaan seorang karyawan. Desain pekerjaan menentukan bagaimana pekerjaan dilakukan oleh karena itu sangat mempengaruhi perasaan karyawan terhadap sebuah pekerjaan, seberapa pengambilan keputusan yang dibuat oleh karyawan kepada pekerjaannya, dan seberapa banyak tugas yang harus dirampungkan oleh karyawan.
Rendahnya kepuasan kerja dapat menimbulkan berbagai dampak negatif seperti mangkir kerja, mogok kerja, kerja lamban, pindah kerja dan kerusakan yang disengaja. Karyawan yang tingkat kepuasannya tinggi akan rendah tingkat kemangkirannya dan demikian sebaliknya, organisasi-organisasi dengan karyawan yang lebih terpuaskan cenderung lebih efektif dari pada organisai-organisasi dengan karyawan yang tak terpuaskan sehingga dapat meningkatkan produktivitas organisasi dan salah satu penyebab timbulnya keinginan pindah kerja adalah kepuasan pada tempat kerja sekarang. (Robbins 2001).

B. Hubungan Kepemimpinan dengan Kepuasan Kerja Karyawan

Mengingat perusahaan merupakan organisasi bisnis yang terdiri atas orang-orang, maka pimpinan seharusnya dapat menyelaraskan antara kebutuhan-kebutuhan individu dengan kebutuhan organisasi yang dilandasi oleh hubungan manusiawi. Sejalan dengan itu diharapkan seorang pimpinan mampu memotivasi dan menciptakan kondisi sosial yang menguntungkan setiap karyawan sehingga tercapainya kepuasan kerja karyawan yang berimplikasi pada meningkatnya produktivitas kerja karyawan (Robbins, 2002 : 181).

Mengingat perusahaan merupakan organisasi bisnis yang terdiri atas orang-orang, maka pimpinan seharusnya dapat menyelaraskan antara kebutuhan-kebutuhan individu dengan kebutuhan organisasi yang dilandasi oleh hubungan manusiawi. Sejalan dengan itu diharapkan seorang pimpinan mampu memotivasi dan menciptakan kondisi sosial yang menguntungkan setiap karyawan sehingga tercapainya kepuasan kerja karyawan yang berimplikasi pada meningkatnya produktivitas kerja karyawan (Robbins, 2002 : 181).

Perilaku atasan juga merupakan determinan utama dari kepuasan. Umumnya kepuasan dapat ditingkatkan, bila atasan bersifat ramah dan memahami, menawarkan pujian untuk kinerja yang baik, mendengarkan pendapat karyawan, dan menunjukkan suatu minat pribadi pada mereka (Robbins, 2002 : 181).
Partisipasi dalam pengambilan keputusan kepemimpinan khususnya pada kepemimpinan demokratis akan mempunyai dampak pada peningkatan hubungan manajer dengan bawahan, menaikkan moral dan kepuasan kerja serta menurunkan ketergantungan terhadap pemimpin (Supardi, dkk, 2002 : 76). Dengan demikian dapat dikatakan kepemimpinan sangat erat hubungannya dengan kepuasan kerja karyawan. Kepemimpinan yang memperoleh respon positif dari karyawan cenderung akan meningkatkan kepuasan kerja karyawan, demikian bila terjadi sebaliknya.

C. Model Karakteristik Pekerjaan (Job characteristics models)

Dalam Simamora, (2004:129) model karakteristik pekerjaan (Job characteristics models) merupakan suatu pendekatan terhadap pemerkayaan pekerjan (job enrichment). Program pemerkayaan pekerjaan (job enrichment) berusaha merancang pekerjaan dengan cara membantu para pemangku jabatan memuaskan kebutuhan mereka akan pertumbuhan, pengakuan, dan tanggung jawab. Pemerkayaan pekerjaan menambahkan sumber kepuasan kepada pekerjaan. Metode ini meningkatkan tanggung jawab, otonomi, dan kendali. Penambahan elemen tersebut kepada pekerjaan kadangkala disebut pemuatan kerja secara vertikal (vertical job loading). Pemerkayaan pekerjaan (job enrichment) itu sendiri merupakan salah satu dari teknik desain pekerjaan,

Dalam Samuel, (2003:75) dikatakan bahwa pendekatan klasik tentang desain pekerjaan yang diajukan Hackman dan Oldham (1980) dikenal dengan istilah teori karakteristik pekerjaan (job characteristics theory).
Berikut adalah gambar model karakteristik pekerjaan dari Hackman dan Oldham (1980) :

Sumber : Munandar (2001 : 359)

Menurut teori karakteristik pekerjaan ini, sebuah pekerjaan dapat melahirkan tiga keadaan psikologis dalam diri seorang karyawan yakni mengalami makna kerja, memikul tanggung jawab akan hasil kerja, dan pengetahuan akan hasil kerja. Akhirnya, ketiga kondisi psikologis ini akan mempengaruhi motivasi kerja secara internal, kualitas kinerja, kepuasan kerja, ketidakhadiran dan perputaran karyawan. Keadaan psikologis kritis ini dipengaruhi oleh dimensi inti dari sebuah pekerjaan yang terdiri dari keragaman keahlian, identitas tugas, signifikansi tugas, otonomi tugas dan umpan balik.
Menurut Munandar (2001:357) ada lima ciri-ciri intrinsik pekerjaan yang memperlihatkan kaitannya dengan kepuasan kerja untuk berbagai macam pekerjaan. Kelima ciri intrinsik tersebut adalah sebagai berikut :

1. Keragaman ketrampilan (skill variety)

Banyaknya ketrampilan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan. Makin banyak ragam ketrampilan yang digunakan, makin kurang membosankan pekerjaan.

2. Jati diri tugas(task identity)

Tingkat sejauh mana penyelesaian pekerjaan secara keseluruhan dapat dilihat hasilnya dan dapat dikenali sebagai hasil kinerja seseorang. Tugas yang dirasakan sebagai bagian dari pekerjaan yang lebih besar dan yang dirasakan tidak merupakan satu kelengkapan tersendiri menimbulkan rasa tidak puas.

3. Tugas yang penting (task significance)

Tingkat sejauh mana pekerjaan mempunyai dampak yang berarti bagi kehidupan orang lain, baik orang tersebut merupakan rekan sekerja dalam suatu perusahaan yang sama maupun orang lain di lingkungan sekitar. Jika tugas dirasakan penting dan berarti oleh tenaga kerja, maka ia cenderung mempunyai kepuasan kerja.

4. Otonomi

Tingkat kebebasan pemegang kerja, yang mempunyai pengertian ketidaktergantungan dan keleluasaan yang diperlukan untuk menjadwalkan pekerjaan dan memutuskan prosedur apa yang akan digunakan untuk menyelesaikannya. Pekerjaan yang memberi kebebasan, ketidaktergantungan dan peluang mengambil keputusan akan lebih cepat menimbulkan kepuasan kerja.

D. Ciri - Ciri Manajemen Puncak yang Berhasil

Menurut Bennis dan Nanus (1985) paling tidak seorang manajer yang berhasil harus memiliki 4 (empat) macam ketrampilan (penelitian dilakukan terhadap 90 pemimpin yang kesemuanya adalah manajer puncak/chief executife officer :
1. Attention through vision.

Pemimpin harus mempunyai sebuah Visi atau bayangan usaha mereka di masa depan. Melalui bayangan ini mereka didesak untuk mendapatkan hasil.
Bennis dan Nanus mengatakan : "The visions the various leaders conveyed seemed to bring about a confidence on the part of the employees, a confidence that instilled in them a belief that they were capable of performing the necessasy acts"
2. Meaning throught communication.

Bayangan masa depan usaha dari pemimpin harus dapat dikomunikasikan oleh pemimpin kepada bawahannya. Komunikasi ini sangat jelas dan rinci

3. Trust throught positioning

Jika visi telah dikomunikasikan, maka visi perlu diimplementasikan. possotioning merupakan perangkat tindakan yang diperlukan untuk mengimplementasikan visi dari pemimpin. Melalui penetapan kedudukannya , kepemimpinan memntapkan kepercayaan. untuk mendapatkan kepercayaan dari para pengikutnya pemimpin harus berprilaku konsisten dan tetap berada pada jalur yang telah disepakati.

3. The Deployment of self throught positive self-regard and through the Wallenda faktor.

Faktor utama dari pemimpin yang berhasil adalah perluasan kreatif dari diri, yang dapat dilakukan dengan menghargai diri secara positif. Menurut Bennis dan Nanus menghargai diri secara positif bukan merupakan pemusatan pada diri yang egoistik, melainkan terdiri dari tiga komponen utama yaitu : pengetahuan tentang kekuatan-kekuatannya; kemampuan untuk merawat dan mengembangkan kekuatan-kekuatan tersebut; Kemampuan untuk secara tajam dapat melihat perbedaan kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahannya dengan kebutuhan-kebutuhan organisasi.

Perluasan diri memalui faktor walenda ini pada hakikatnya berarti bahwa dalam melakukan berbagai macam hal kita harus memusatkan perhatian pada apa yang akan dilakukan dan tidak memikirkan tentang kemungkinan akan kegagalan. Karl Walenda adalah seorang akrobat yang berjalan diatas tali yang dapat saja meninggal setiap saat ketika ia berjalan diatas tali pada ketinggian tertentu. ia tidak pernah memikirkan akan kegagalan. Pada tahun 1978 ia terjatuh dan meninggal. istrinya ingat bahwa pada hari itu untuk pertama kali Wallenda berpikir tentang kegagalan. Rupanya ia mencurahkan seluruh tenaganya pada usaha untuk tidak jatuh dan bukan untuk berjalan di atas tali.

Link ke posting ini Email this post

Bertahap dalam Langkah

Senin, 03 November 2008


Da'wah Ikhwan mulai mendidik ummat melalui pelajaran yang diberikan secara rutin, melalui buku-buku dan melalui perkumpulan-perkumpulan umum dan khusus, melalui majalah pekanan, dan mereka terus melakukan da'wah hingga tak satupun tersisa orang yang belum menerima da'wah Islam yang benar dan bersih.

(Buku Ikhwanul Muslimin; Deskripsi, Jawaban Tuduhan, dan Harapan Oleh Syaikh Jasim Muhalhil)

KARAKTER KETUJUH: Bertahap dalam Langkah

KEBERTAHAPAN dan bersandar pada pembinaan dan kejelasan langkah merupakan manhaj yang terang dalam jalan da'wah Ikhwanul Muslimin. Hal ini disebabkan mereka percaya bahwa semua da'wah harus melewati tiga fase:

Pertama, fase ta'rif. Yakni propaganda, pengenalan dan pemberitahuan tentang fikrah Islam dan menyampaikannya ke seluruh lapisan masyarakat.

Kedua, fase takwin. Pemilihan dan kaderisasi jundi, kemudian memobilisasi barisan da'wah dari kalangan orang-orang yang telah diseru.

Ketiga, fase tanfidz. Tahap pelaksanaan, kerja dan produktifitas.

Ketiga tahapan ini, dapat dilakukan secara simultan, hingga makin memperkokoh persatuan da'wah dan kuatnya hubungan antara ketiganya. Seorang da'i menyeru, dan pada waktu yang sama, ia melakukan pemilihan kader dan membina, dan pada waktu yang sama juga, ia bekerja dan melaksanakan.

Yang pasti, tujuan terakhir atau hasil yang sempurna takkan wujud kecuali setelah pengenalan Islam secara merata, jumlah anshar yang banyak, dan pembinaan yang solid.

Dalam batas fase-fase itulah, da'wah Ikhwanul muslimin berjalan hingga saat ini. Da'wah Ikhwan mulai mendidik ummat melalui pelajaran yang diberikan secara rutin, melalui buku-buku dan melalui perkumpulan-perkumpulan umum dan khusus, melalui majalah pekanan, dan mereka terus melakukan da'wah hingga tak satupun tersisa orang yang belum menerima da'wah Islam yang benar dan bersih.

Setelah itu, mereka melangkah pada fase kedua, yakni fase selektifitas, pemilihan, pembinaan dan mobilisasi. Fase ini diwujudkan dalam tiga bentuk:

Pertama, pembentukan katibah-katibah (kelompok), untuk memperkokoh barisan da'wah. Para anggota saling mengenal, jiwa dan ruh mereka melebur menjadi satu, memerangi adat dan kebiasaan yang tidak islami, melatih diri dalam memperkuat hubungan dengan Allah serta memohon pertolongan-Nya. Inilah yang dikatakan ma'had tarbiyah ruhiyah (tempat penempaan ruh) bagi Ikhwanul Muslimin.

Selain itu adalah pembentukan tim dan grup, seperti kelompok kepanduan dan permainan olahraga. Sasarannya untuk memperkuat barisan dengan memperhatikan perkembangan fisik, membiasakan anggota untuk berlaku taat, disiplin, berakhlak sportif dan mempersiapkan mereka menjadi prajurit yanng benar sebagaimana dikehendaki Islam terhadap setiap muslim. Di kalangan Ikhwan, hal ini disebut ma'had tarbiyah jismiyah (tempat pembinan fisik).

Selain itu, adalah ta'lim (pengajaran), yang dilakukan baik dalam katibah-katibah atau melalui seminar Ikhwan yang dimaksudkan untuk menyebarkan nilai Islam, memperkuat barisan dalam hal pengembangan wawasan berfikir anggota. Dilakukan melalui pengkajian-pengkajian komprehensif terhadap materi-materi Islam dan keduniaan yang mutlak diketahui setiap muslim. Ini dinamakan ma'had tarbiyah ilmiyah dan fikriyah (tempat pembinaan keilmuan dan pemikiran).

Itu semua, ditambah lagi dengan berbagai aktifitas lain, dimana para Ikhwan dapat berlatih mempersiapkan diri melakukann kewajiban yang menanti mereka, membimbing ummat untuk dapat memberi hidayah pada sekalian alam.

Setelah tahap kedua tersebut, dengan izin Allah Ikhwan melakukan langkah ketiga yakni langkah amaliyah yang kelak akan menghasilkan buah yang sempurna bagi da'wah Islam.

KARAKTER KEDELAPAN: Da'wah Rabbaniyah

KARENA sasaran-sasaran yang dikehendaki jama'ah Ikhwanul Muslimin adalah mengembalikan manusia pada Rabb mereka, Allah swt. Salah satu syi'ar mereka adalah “Allahu ghoyatuna", Allah tujuan kami.

KARAKTER KESEMBlLAN: Da’wah ‘Alamiyah (mondial)

KARENA Ikhwanul Muslimin menyeru seluruh manusia di segenap penjuru bumi untuk kembali pada manhaj Allah, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur'an bahwa Nabi saw berda'wah kepada seluruh manusia, "Wahai seluruh ummat manusia, katakanlah "Laa ilaaha ilIa llaah" niscaya kalian menang.”

Berikut ini adalah sebagian karakteristik da'wah Ikhwan yang mencakup sasaran-sasaran harakah
Ikhwan:

Sasaran Global Da’wah Ikhwanul Muslimin

USTADZ Hasan al-Banna mengatakan, "Ringkasnya, kita menginginkan terbentuknya individu yang berkepribadian muslim, rumah tangga muslim, kedaulatan Islam, khilafah Islamiyah yang menghimpun segenap negara-negara Islam, dan menaungi segenap kaum muslimin, mengembalikan kemuliaan mereka dan membebaskan tanah air mereka yang hilang dan dirampas. Kemudian membawa syi'ar jihad dan bendera da'wah ilallah, sampai dunia seluruhnya sejahtera dengan terlaksananya ajaran Islam..."

Selanjutnya, Ustadz al-Banna mengatakan, "Camkan selalu, bahwa kalian memiliki dua sasaran utama:

  1. Membebaskan negeri-negeri Islam dari seluruh cengkeraman pihak agresor asing, sebab kemerdekaan merupakan hak setiap manusia yang tidak ada yang memungkirinya kecuali orang zalim dan durjana.
  2. Hendaknya pada negeri Islam yang telah bebas itu berdiri sebuah kedaulatan Islam yang merdeka memberlakukan hukum Islam, menerapkan sistem masyarakat Islam, memproklamirkan prinsip-prinsipnya yang lurus dan menyampaikan da'wahnya ke seluruh manusia.

Selama kondisi seperti ini belum terealisir, maka kaum muslimin seluruhnya menanggung dosa dan bertanggung jawab di hadapan Allah swt. disebabkan kelalaian mereka dan sikap diam mereka dari mewujudkannya.

(bersambung)

Link ke posting ini Email this post

VILLA DOMBA KENANGAN YANG MANIS

Minggu, 02 November 2008


















Menjelang disemester 6 kami semua di prodi peternakan jurusan tanaman pangan politeknik pertanian universitas Andalas, mengadakan suatu kegiatan yaitu Praktek Kerja Pengalaman Mahasiswa (PKPM). Banyak diantara teman-temanku pergi ke berbagai didaerah ada yang di dalam provinsi dan ada yang keluar pulau. Wahyu, Armi Rahmat dan saya sendiri milih untuk PKPM ke luar pulau tepatnya di diprovinsi jawa barat yaitu di kecamatan Banjaran dan Daera majalaya. kami ber 4 di kecamatan majalaya magang di sebua perusahaan yaitu sapi potong namanya kadila lestari jaya. selam satu bulan pas kami di tugaskan di sapi potong tersebut. setelah itu kami di tugaskan lagi oleh dosen untuk magang di sebua tempat yang sangat pamer namnya yaitu villa domba. disana kami dieterima dengan baik....bukti diterima dengan baik adalah kami di anggap sebagi bagian keluarga meraka (Villa domba) kami sangat senang atas penghargaan tersebut. tapi setelah memasuki minggu ke 2 kami banyak timbul masalah... karena kami betul-betul merasa sangat jenuh berada di hutan yang sangat sepi seperti itu. ada di antara teman-teman kami mendapat teguran langsung dan ada mendapat sindiran halus oleh pegawainya. kami di tegur pertama adalah karena kami dinggap malas gak mau kerjalah dan segalah macam. khusus saya sendiri ( marhen harjono) mendapat teguran yang sangat luar biasa sakitnya, bukan karena sakit fisik tapi sakit hati tak tertahankan.

pada malam itu kami dikumpulkan semua di sebuah tempat, belum lama kemudian pembicaraan pegawai langsung di tujukan denganku "kau marhen tidak sopan dengan orang, baru kali ini aku menemukan orang yang paling aku benci" kata-kata itu sampai saat ini sanmgat hapal bagi benakku. sebab aku dimarahi adalah gara.......

Link ke posting ini Email this post

Foto Wisuda

Sabtu, 18 Oktober 2008

foto wisuda

Link ke posting ini Email this post

Ilmu dan Teknologi Daging

Rabu, 08 Oktober 2008


Tinjauan Pustaka
Warna Daging
Banyak faktor yang mempengaruhi warna daging, termasuk pakan, spesies, bangsa, umur, jenis kelamin, tingkat aktivitas dan tipe otot, PH dan oksigen. Faktor-faktor ini dapat mempengaruhi penentu utama warna daging,yaitu konsentrasi pigmen daging mioglobin.
Tipe molekol mioglobin, status kima mioglobin dan kondisi kimai serta fisik komponen lain dalam daging mempunyai peranan besar dalam menentukan warna daging.perbedaan warna permukaan daging, terutama disebabkan oleh status kimia molekul mioglobin. Bentuk kimia warna daging segar yang diinginkan oleh kebanyakan konsumen adalah merah terang oksimioglobin. Proporsi relatif dan distribusi ketiga pigmen daging, yaitun mioglobin reduksi ungu, oksimioglobin merah terang, dan metmioglobin coklat, akan menentukan intensitas warna daging.
Mioglobin mengalami perubahan perubahan pada potongan daging yang berwarna gelap, misalnya pada daging sapi berwarna merah gelap (DCB). Daging semacam ini mempunyai pH postmortem yang tinggi dengan daya ikat air yang pula dan tekstur yang lekat.(soeparno, 2005)
Daya Ikat Air Daging
Daya ikat air oleh protein daging atau water holding capacity atau water bonding capacity (WHC atau WBC) adalah kemampuan daging untuk mengikat airnya atau air yang ditambahkan selama ada pengaruh kekuatan dari luar, misalnya pemotongan daging, emanasan, penggilingan, dan tekanan (Soeparno, 2005).
Menurut Soeparno (2005) bahwa, daya ikat air oleh protein daging (DIA) dapat ditentukan dengan beberapa cara, antara lain metode Hamm (1972), yaitu dengan membebani atau mengepres 0,3 g sampel daging dengan beban 35 kg pada suatu kertas saring diantara dua plat kaca selama 5 menit. Area yang tertutup sampel daging yang telah menjadi pipih, dan luas area basah di sekelilingnya pada kertas saring beserta sampel daging ditandai dan setelah pengepresan selesai, dapat diukur (misalnya digambar pada kertas grafik). Area basah diperoleh dengan mengurangkan area yang tertutup daging dari area total yang meliputi pula area basah pada kertas saring. Kandungan air daging dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Mg H2O = area basah (cm2) - 8,0 (Soeparno, 2005)
0,0948
Penurunan DIA dapat diketahui dengan adanya eksudasi cairan yang disebut weep pada daging mentah yang belum dibekukan atau drip pada daging mentah beku yang disegarkan kembali atau kerut pada daging masak. Eksudasi berasal dari cairan dan lemak daging (Soeparno, 2005)
DIA dipengaruhi oleh pH. DIA menurun dari pH tinggi sekitar 7-10 sampai pada pH titik isoelektrik protein-protein daging antara 5,0-5,1. Pada pH ini protein daging tidak bermuatan (jumlah muatan positif sama dengan jumlah muatan negatif) dan solubilitasnya minimal. Pada pH yang lebih tinggi dari pH isoelektrik protein daging, sejumlah muatan positif dibebaskan dan terdapat surplus muatan negatif yang mengakibatkan penolakan dari miofilamen dan memberi lebih banyak ruang untuk molekul air (Soeparno, 2005).
Periode pembentukan asam laktat yang menyebabkan penurunan pH otot postmortem, menurunkan DIA daging dan banyak air yang berasosiasi dengan protein otot akan bebas meninggalkan serabut otot. Penurunan pH yang cepat, misalnya karena pemecahan ATP yang cepat, akan meningkatkan kontraksi aktomiosin dan menurunkan DIA protein (Soeparno, 2005).
Pelayuan meningkatkan DIA daging pada berbagai macam pH karena perubahan hubungan air-protein, yaitu peningkatan muatan melalui absorpsi ion K+ dan pembebasan Ca++, atau melemahnya miofibril karena perubahan struktur jalur Z dan ban I. Sebaliknya, penyimpanan terlalu lama akan menurunkan DIA dan terjadinya perubahan struktur protein daging. Pemasakan menyebabkan perubahan DIA karena adanya solubilitas protein daging. Temperatur tinggi meningkatkan denaturasi protein dan menurunkan DIA (Soeparno, 2005).
Di samping faktor pH, pelayuan dan pemasakan atau pemanasan, DIA daging juga dipengaruhi oleh faktor yang menyebabkan perbedaan DIA diantara otot, misalnya spesies, umur dan fungsi otot, serta pakan, transportasi, temperatur, kelembaban, penyimpanan dan preservasi, jenis kelamin, kesehatan, perlakuan sebelum pemotongan dan lemak intramuskular. Perbedaan DIA disebabkan oleh perbedaan jumlah asam laktat yang dihasilkan, sehingga pH diantara dan di dalam otot berbeda (Soeparno, 2005).



pH Daging
Nilai pH digunakan untuk menunjukkan tingkat keasaman dan kebasaan suatu substansi. Jaringan otot hewan pada saat hidup mempunyai nilai pH sekitar 5,1 sampai 7,2 dan menurun setelah pemotongan karena mengalami glikolisis dan dihasilkan asam laktat yang akan mempengaruhi pH. pH ultimat daging tercapai setelah glikolisis otot menjadi habis atau setelah enzim-enzim glikolitik menjadi tidak aktif pada pH rendah atau glikogen tidak lagi sensitif terhadap serangan-serangan enzim glikolitik. pH ultimat normal daging postmortem adalah sekitar 5,5 yang sesuai dengan titik isoelektrik sebagian besar protein daging termasuk protein miofibril (Lawrie, 1995).
Temperatur lingkungan (penyimpanan) mempunyai hubungan yang erat dengan penurunan pH karkas postmortem. Temperatur tinggi pada dasarnya meningkatkan laju penurunan pH, sedangkan temperatur rendah menghambat laju penurunan pH (Soeparno, 1998).
Nilai pH juga berpengaruh terhadap keempukan daging. Daging dengan pH tinggi mempunyai keempukan yang lebih tinggi daripada daging dengan pH rendah. Kealotan atau keempukan serabut otot pada kisaran pH 5,4 sampai 6,0 lebih banyak ditentukan oleh status kontraksi serabut otot dari pada oleh status fisik serabut otot (Bouton et al, 1986).

Susut Masak Daging
Pada temperatur pemasakan 80oC, daging yang mengalami pemenedekan dingin pada pH normal 5,4-5,8 menghasilkan susut masak yang lebih besar daripada susut masak daging regang dengan panjang serabut yang sama. Pemasakan pada temperatur 90oC juga dapat menghasilakn susut masak otot (misalnya ST steer) pendek dingin yang lebih besar daripada otot regang.
Susut masak menurun secara linear dengan bertambahnya umur tenak. Misalnya pada sapi, susut mask otot SM yang dimasak pada temperatur 80o C selama 90 menit, menurun dengan meingkatnya umur.
Konsumsi pakan dapat mempengaruhi besarnya susut masak. Misalnya susut otot LD domba yang diberi pakan maintenans (imbangan energi nol) dan submaintenans (imbangan energi negatif) adalah lebih kecil daripada otot LD domba yang diberi pakan dengan imbangan energi poitif.

Keempukan Daging
Bagi konsumen, daging dari berbagai spesies dan bangsa ternak mempunyai akseptansi yang berbeda. Di antara individu konsumen, nilai akseptansi daging juga berbeda, tergantung pada faktor fisiologis dan sensasi organoleptik. Salah satu faktor yang ikut menentukan kelezatan dan daya terima daging adalah tekstur dan keempukan. Keempukan bervariasi di antara spesies, bangsa, ternak dalam spesies yang sama, potongan karkas, dan di antara otot, serta pada otot yang sama (Soeparno, 2005).
Keempukan dan tekstur daging merupakan penentu paling penting pada kualitas daging. Keempukan daging ditentukan oleh tiga komponen daging, yaitu struktur miofibrilar dan status kontraksinya, kandungan jaringan ikat dan tingkat ikatan silangnya, dan daya ikat air oleh protein daging serta jus daging (Bouton et al., 1971).
Pada prinsipnya keempukan daging dapat ditentukan secara subjektif dan objektif. Penentuan keempukan dengan metode subjektif dilakukan dengan cara struktur atau non struktur dan uji panel cita rasa atau panel taste. Pengujian secara objektif dapat dilakukan secara mekanik dengan uji daya putus Warner-Bratzler (Amerine et al., 1965).
Nilai daya putus Warner-Bratzler menunjukkan tingkat keempukan daging. Proses pelayuan akan menurunkan daya putus Warner-Bratzler, sehingga dapat meningkatkan keempukan daging. Pengaruh pelayuan dan peregangan otot terhadap daya putus Warner-Bratzler menjadi lebih besar setelah pemasakan (Bouton and Harris, 1972).
Papain, bromelin dari nanas dan fisin dari tanaman fig menghasilkan perubahan keempukan awal dan residu serabut-serabut jaringan ikat, sedangkan proteolitik fungal dan bacterial hanya mempengaruhi keempukan awal terhadap protein-protein serabut otot (Bratzler, 1971).












Hasil dan Pembahasan

Warna Daging

Daya Ikat Air Daging
Tabel Kadar Air Daging
Sampel Kadar air bebas Kadar air total
Luas area basah Mg H2O Kadar air bebas Berat sebelum dioven Berat setelah dioven Kadar air total % DIA
0,3 gr 18,5 cm2 187,15 62,38% 1,5 gr 0,7 gr 80% 17,62%

Sampel daging seberat 0,3 gram diletakkan diantara dua plt kaca, dialasi dengan kertas saring dan diberi beban 35 kg selama 5 menit. Luas area basah yang terbentuk adalah 18,5 cm2. Dengan menggunakan rumus, didapatkan mg H2O yaitu
Mg H2O = area basah (cm2) - 8,0
0,0948
= 18,5 - 8,0
0,0948
= 195,15 – 8,0
= 187,15
Kadar air bebas = mg H2O x 100%
300
= 187,15 x 100%
300
= 62,38%
KAT = x –y x 100%
1 gram
= 1,5-0,7 x 100%
1 gram
= 80%
% DIA = KAT – KAB
= 80%-62,38% = 17,62%
DIA daging dipengaruhi oleh faktor pH, pelayuan dan pemasakan atau pemanasan,yang menyebabkan perbedaan DIA diantara otot, misalnya spesies, umur dan fungsi otot, serta pakan, transportasi, temperatur, kelembaban, penyimpanan dan preservasi, jenis kelamin, kesehatan, perlakuan sebelum pemotongan dan lemak intramuskular. Perbedaan DIA disebabkan oleh perbedaan jumlah asam laktat yang dihasilkan, sehingga pH diantara dan di dalam otot berbeda.

pH Daging
Daging pada bagian LD seberat 10 gram dicacah kemudian ditambahkan 10ml aquades dan diaduk homogen. pH daging diukur dengan menggunakan pH meter dan dilakukan sebanyak tiga kali kemudian hasilnya dirata-rata. Dari percobaan diperoleh hasil pada pengukuran yang pertama didapatkan pH 5,90. Pengukuran yang kedua diperoleh 5,90 dan yang ketiga adalah 5,92. Dari ketiga hasil yang diperoleh dapat diambil rata-rata pH daging pada pengukuran ini adalah 5,91. Perbandingan data pengukuran pH daging pada kelompok lain yaitu pada pengukuran pertama diperoleh pH 5,92, kedua 5,92 dan yang ketiga 5,92 sehingga dapat diambil rata-rata 5,92. pH daging yang didapat adalah 5,91, hal ini berada pada kisaran normal pH daging. Menurut Bouton et al (1986) variasi pH ultimat secara merata dan teratur untuk otot LD, SM, BF, A, ST, PM, dan DP adalah 5,5 sampai 7,2.





Susut Masak Daging

Keempukan Daging

sampel keempukan
I II III rata-rata
11,6 8,1 21 19,6 16,23
Uji keempukan daging menggunakan sampel daging dari uji susut masak. Sampel dipotong searah serat dengan ukuran tebal 0,67 cm dan lebar 1,5 cm. Pengukuran sampel dilakukan dengan mengunakan jangka sorong. Sampel yang telah dipotong diletakkan pada alat Warner-Bratzler shear force untuk diuji tingkat keempukannya. Peletakan sampel pada alat Warner-Bratzler shear force harus tegak lurus dengan arah serat. Pengujian dilakukan terhadap beberapa sub sampel di tiga bagian yang berbeda kemudian hasilnya di rata-rata.
Pada pengujian terhadap sub sampel pertama skala yang terbaca adalah 8,1 kemudian pada pengujian kedua diperoleh skala 21, dan pada pengujian ketiga skala yang terbaca adalah 19,6. Dari ketiga pengujian yang dilakukan terdapat perbedaan yang mencolok antara pengujian pertama dengan dua pengujian selanjutnya. Hal ini disebabkan karena pada pengujian pertama letak sampel pada alat Warner-Bratzler shear force tidak tegak lurus dengan arah serat.
Angka yang terbaca pada alat Warner-Bratzler shear force merupakan nilai daya putus Warner-Bratzler (WB). Pada pengujian ini diperoleh hasil rata-rata nilai daya putus Warner-Bratzler (WB) 16,23. Sampel yang digunakan telah mengalami proses pemasakan sehingga mempengaruhi keempukannya. Pengaruh pelayuan dan peregangan otot terhadap daya putus Warner-Bratzler menjadi lebih besar setelah pemasakan (Bouton and Harris, 1972). Selain itu keempukan juga bervariasi di antara spesies, bangsa, ternak dalam spesies yang sama, potongan karkas, dan di antara otot, serta pada otot yang sama (Soeparno, 2005).



Kesimpulan

Setelah melakukan uji keempukan dengan alat Warner-Bratzler shear force diperoleh rata-rata nilai daya putus Warner-Bratzler (WB) adalah 16,23. Dari praktikum ini juga diketahui bahwa lama proses pemasakan akan mempengaruhi nilai daya putus Warner-Bratzler (WB).

























Daftar Pustaka

Amerine, M.A., R.M. Pangborn, dan E.B. Roessler. 1965. Principles of Sensory Evaluation of Food. Academic Press. New York
Bouton, P.E., P.V. Harris, dan W.R. Shorthose. 1971. Jurnal of Food Science. Hal.435
Bouton, P.E., P.V. Harris and W.R. Shorthose. 1986. Factor Influencing Cooking Losses from Meat. J.Food Scl.
Bouton, P.E. dan P.V. Harris.1972. Jurnal of Food Science. Hal.140, 218.
Bratzler, L.J.1971. The Science of Meat and Meat Products 2nd Edition. W.H. Freeman and Co. San Fransisco
Lawrie, R. A. 1995. Ilmu Daging. Edisi ke-5. Terjemahan Aminudin Parakasi. UI press. Jakarta.
Soeparno. 1998. Ilmu dan Teknologi Daging. Cetakan ke-3. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Soeparno. 2005. Ilmu dan Teknologi Daging Cetakan Keempat. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta














Lampiran

Link ke posting ini Email this post

Membangun dan Membina Militansi Kita

Ba'da tahmid wa shalawat

Ikhwah rahimakumullah, Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur'an Surat 19 Ayat 12 : .....
Ya Yahya hudzil kitaaba bi quwwah ..." (QS. Maryam (19):12)

Tatkala Allah SWT memberikan perintah kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas, Ia tak hanya menyuruh mereka untuk taat melaksanakannya melainkan juga harus mengambilnya dengan quwwah yang bermakna jiddiyah, kesungguhan-sungguhan.

Sejarah telah diwarnai, dipenuhi dan diperkaya oleh orang-orang yang sungguh-sungguh. Bukan oleh orang-orang yang santai, berleha-leha dan berangan-angan. Dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yang merealisir cita-cita, harapan dan angan-angan mereka dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dan kekuatan tekad.

Namun kebatilan pun dibela dengan sungguh-sungguh oleh para pendukungnya, oleh karena itulah Ali bin Abi Thalib ra menyatakan: "Al-haq yang tidak ditata dengan baik akan dikalahkan oleh Al-bathil yang tertata dengan baik".

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,
Allah memberikan ganjaran yang sebesar-besarnya dan derajat yang setinggi-tingginya bagi mereka yang sabar dan lulus dalam ujian kehidupan di jalan dakwah. Jika ujian, cobaan yang diberikan Allah hanya yang mudah-mudah saja tentu mereka tidak akan memperoleh ganjaran yang hebat. Di situlah letak hikmahnya yakni bahwa seorang da'i harus sungguh-sungguh dan sabar dalam meniti jalan dakwah ini. Perjuangan ini tidak bisa dijalani dengan ketidaksungguhan, azam yang lemah dan pengorbanan yang sedikit.

Ali sempat mengeluh ketika melihat semangat juang pasukannya mulai melemah, sementara para pemberontak sudah demikian destruktif, berbuat dan berlaku seenak-enaknya. Para pengikut Ali saat itu malah menjadi ragu-ragu dan gamang, sehingga Ali perlu mengingatkan mereka dengan kalimatnya yang terkenal tersebut.

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,
Ketika Allah menyuruh Nabi Musa as mengikuti petunjuk-Nya, tersirat di dalamnya sebuah pesan abadi, pelajaran yang mahal dan kesan yang mendalam:

"Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): "Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang teguh kepada perintah-perintahnya dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasiq".(QS. Al-A'raaf (7):145)

Demikian juga perintah-Nya terhadap Yahya, dalam surat Maryam ayat 12 :

"Hudzil kitaab bi quwwah" (Ambil kitab ini dengan quwwah). Yahya juga diperintahkan oleh Allah untuk mengemban amanah-Nya dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan). Jiddiyah ini juga nampak pada diri Ulul Azmi (lima orang Nabi yakni Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad yang dianggap memiliki azam terkuat).

Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para mujahid pembawa misi dakwah tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita, semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka.

Apa artinya usia panjang namun tanpa isi, sehingga boleh jadi biografi kita kelak hanya berupa 3 baris kata yang dipahatkan di nisan kita: "Si Fulan lahir tanggal sekian-sekian, wafat tanggal sekian-sekian".

Hendaknya kita melihat bagaimana kisah kehidupan Rasulullah saw dan para sahabatnya. Usia mereka hanya sekitar 60-an tahun. Satu rentang usia yang tidak terlalu panjang, namun sejarah mereka seakan tidak pernah habis-habisnya dikaji dari berbagai segi dan sudut pandang. Misalnya dari segi strategi militernya, dari visi kenegarawanannya, dari segi sosok kebapakannya dan lain sebagainya.
Seharusnyalah kisah-kisah tersebut menjadi ibrah bagi kita dan semakin meneguhkan hati kita. Seperti digambarkan dalam QS. 11:120, orang-orang yang beristiqomah di jalan Allah akan mendapatkan buah yang pasti berupa keteguhan hati. Bila kita tidak kunjung dapat menarik ibrah dan tidak semakin bertambah teguh, besar kemungkinannya ada yang salah dalam diri kita. Seringkali kurangnya jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dalam diri kita membuat kita mudah berkata hal-hal yang membatalkan keteladanan mereka atas diri kita. Misalnya: "Ah itu kan Nabi, kita bukan Nabi. Ah itu kan istri Nabi, kita kan bukan istri Nabi". Padahal memang tanpa jiddiyah sulit bagi kita untuk menarik ibrah dari keteladanan para Nabi, Rasul dan pengikut-pengikutnya.

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,
Di antara sekian jenis kemiskinan, yang paling memprihatinkan adalah kemiskinan azam, tekad dan bukannya kemiskinan harta.

Misalnya anak yang mendapatkan warisan berlimpah dari orangtuanya dan kemudian dihabiskannya untuk berfoya-foya karena merasa semua itu didapatkannya dengan mudah, bukan dari tetes keringatnya sendiri. Boleh jadi dengan kemiskinan azam yang ada padanya akan membawanya pula pada kebangkrutan dari segi harta. Sebaliknya anak yang lahir di keluarga sederhana, namun memiliki azam dan kemauan yang kuat kelak akan menjadi orang yang berilmu, kaya dan seterusnya.

Demikian pula dalam kaitannya dengan masalah ukhrawi berupa ketinggian derajat di sisi Allah. Tidak mungkin seseorang bisa keluar dari kejahiliyahan dan memperoleh derajat tinggi di sisi Allah tanpa tekad, kemauan dan kerja keras.

Kita dapat melihatnya dalam kisah Nabi Musa as. Kita melihat bagaimana kesabaran, keuletan, ketangguhan dan kedekatan hubungannya dengan Allah membuat Nabi Musa as berhasil membawa umatnya terbebas dari belenggu tirani dan kejahatan Fir'aun.

Berkat do'a Nabi Musa as dan pertolongan Allah melalui cara penyelamatan yang spektakuler, selamatlah Nabi Musa dan para pengikutnya menyeberangi Laut Merah yang dengan izin Allah terbelah menyerupai jalan dan tenggelamlah Fir'aun beserta bala tentaranya.

Namun apa yang terjadi? Sesampainya di seberang dan melihat suatu kaum yang tengah menyembah berhala, mereka malah meminta dibuatkan berhala yang serupa untuk disembah. Padahal sewajarnya mereka yang telah lama menderita di bawah kezaliman Fir'aun dan kemudian diselamatkan Allah, tentunya merasa sangat bersyukur kepada Allah dan berusaha mengabdi kepada-Nya dengan sebaik-baiknya. Kurangnya iman, pemahaman dan kesungguh-sungguhan membuat mereka terjerumus kepada kejahiliyahan.

Sekali lagi marilah kita menengok kekayaan sejarah dan mencoba bercermin pada sejarah. Kembali kita akan menarik ibrah dari kisah Nabi Musa as dan kaumnya.

Dalam QS. Al-Maidah (5) ayat 20-26 : "Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu, ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain".

"Hai, kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi".

"Mereka berkata: "Hai Musa, sesungguhnya dalam negri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar dari negri itu. Jika mereka keluar dari negri itu, pasti kami akan memasukinya".

"Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman".

"Mereka berkata: "Hai Musa kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja".

"Berkata Musa: "Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasiq itu".

"Allah berfirman: "(Jika demikian), maka sesungguhnya negri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasiq itu".
Rangkaian ayat-ayat tersebut memberikan pelajaran yang mahal dan sangat berharga bagi kita, yakni bahwa manusia adalah anak lingkungannya. Ia juga makhluk kebiasaan yang sangat terpengaruh oleh lingkungannya dan perubahan besar baru akan terjadi jika mereka mau berusaha seperti tertera dalam QS. Ar-Ra'du (13):11, "Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai mereka berusaha merubahnya sendiri".

Nabi Musa as adalah pemimpin yang dipilihkan Allah untuk mereka, seharusnyalah mereka tsiqqah pada Nabi Musa. Apalagi telah terbukti ketika mereka berputus asa dari pengejaran dan pengepungan Fir'aun beserta bala tentaranya yang terkenal ganas, Allah SWT berkenan mengijabahi do'a dan keyakinan Nabi Musa as sehingga menjawab segala kecemasan, keraguan dan kegalauan mereka seperti tercantum dalam QS. Asy-Syu'ara (26):61-62, "Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul". Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Rabbku bersamaku, kelak Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku".

Semestinya kaum Nabi Musa melihat dan mau menarik ibrah (pelajaran) bahwa apa-apa yang diridhai Allah pasti akan dimudahkan oleh Allah dan mendapatkan keberhasilan karena jaminan kesuksesan yang diberikan Allah pada orang-orang beriman. Allah pasti akan bersama al-haq dan para pendukung kebenaran. Namun kaum Nabi Musa hanya melihat laut, musuh dan kesulitan-kesulitan tanpa adanya tekad untuk mengatasi semua itu sambil di sisi lain bermimpi tentang kesuksesan. Hal itu sungguh merupakan opium, candu yang berbahaya. Mereka menginginkan hasil tanpa kerja keras dan kesungguh-sungguhan. Mereka adalah "qaumun jabbarun" yang rendah, santai dan materialistik. Seharusnya mereka melihat bagaimana kesudahan nasib Fir'aun yang dikaramkan Allah di laut Merah.

Seandainya mereka yakin akan pertolongan Allah dan yakin akan dimenangkan Allah, mereka tentu tsiqqah pada kepemimpinan Nabi Musa dan yakin pula bahwa mereka dijamin Allah akan memasuki Palestina dengan selamat.

Bukankah Allah SWT telah berfirman dalam QS. 47:7, "In tanshurullah yanshurkum wayutsabbit bihil aqdaam" (Jika engkau menolong Allah, Allah akan menolongmu dan meneguhkan pendirianmu).
Hendaknya jangan sampai kita seperti Bani Israil yang bukannya tsiqqah dan taat kepada Nabi-Nya, mereka dengan segala kedegilannya malah menyuruh Nabi Musa as untuk berjuang sendiri. "Pergilah engkau dengan Tuhanmu". Hal itu sungguh merupakan kerendahan akhlak dan militansi, sehingga Allah mengharamkan bagi mereka untuk memasuki negri itu. Maka selama 40 tahun mereka berputar-putar tanpa pernah bisa memasuki negri itu.

Namun demikian, Allah yang Rahman dan Rahim tetap memberi mereka rizqi berupa ghomama, manna dan salwa, padahal mereka dalam kondisi sedang dihukum.

Tetapi tetap saja kedegilan mereka tampak dengan nyata ketika dengan tidak tahu dirinya mereka mengatakan kepada Nabi Musa tidak tahan bila hanya mendapat satu jenis makanan.

Orientasi keduniawian yang begitu dominan pada diri mereka membuat mereka begitu kurang ajar dan tidak beradab dalam bersikap terhadap pemimpin. Mereka berkata: "Ud'uulanaa robbaka" (Mintakan bagi kami pada Tuhanmu). Seyogyanya mereka berkata: "Pimpinlah kami untuk berdo'a pada Tuhan kita".

Kebodohan seperti itu pun kini sudah mentradisi di masyarakat. Banyak keluarga yang berstatus Muslim, tidak pernah ke masjid tapi mampu membayar sehingga banyak orang di masjid yang menyalatkan jenazah salah seorang keluarga mereka, sementara mereka duduk-duduk atau berdiri menonton saja.

Rasulullah saw memang telah memberikan nubuwat atau prediksi beliau: "Kelak kalian pasti akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian selangkah demi selangkah, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta dan sedepa demi sedepa". Sahabat bertanya: "Yahudi dan Nasrani ya Rasulullah?". Beliau menjawab: "Siapa lagi?".

Kebodohan dalam meneladani Rasulullah juga bisa terjadi di kalangan para pemikul dakwah sebagai warasatul anbiya (pewaris nabi). Mereka mengambil keteladanan dari beliau secara tidak tepat. Banyak ulama atau kiai yang suka disambut, dielu-elukan dan dilayani padahal Rasulullah tidak suka dilayani, dielu-elukan apalagi didewakan. Sebaliknya mereka enggan untuk mewarisi kepahitan, pengorbanan dan perjuangan Rasulullah. Hal itu menunjukkan merosotnya militansi di kalangan ulama-ulama amilin.
Mengapa hal itu juga terjadi di kalangan ulama, orang-orang yang notabene sudah sangat faham. Hal itu kiranya lebih disebabkan adanya pergeseran dalam hal cinta dan loyalitas, cinta kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya telah digantikan dengan cinta kepada dunia.

Mentalitas Bal'am, ulama di zaman Fir'aun adalah mentalitas anjing sebagaimana digambarkan di Al-Qur'an. Dihalau dia menjulurkan lidah, didiamkan pun tetap menjulurkan lidah. Bal'am bukannya memihak pada Musa, malah memihak pada Fir'aun. Karena ia menyimpang dari jalur kebenaran, maka ia selalu dibayang-bayangi, didampingi syaithan. Ulama jenis Bal'am tidak mau berpihak dan menyuarakan kebenaran karena lebih suka menuruti hawa nafsu dan tarikan-tarikan duniawi yang rendah.

Kader yang tulus dan bersemangat tinggi pasti akan memiliki wawasan berfikir yang luas dan mulia. Misalnya, manusia yang memang memiliki akal akan bisa mengerti tentang berharganya cincin berlian, mereka mau berkelahi untuk memperebutkannya. Tetapi anjing yang ada di dekat cincin berlian tidak akan pernah bisa mengapresiasi cincin berlian. Ia baru akan berlari mengejar tulang, lalu mencari tempat untuk memuaskan kerakusannya. Sampailah anjing tersebut di tepi telaga yang bening dan ia serasa melihat musuh di permukaan telaga yang dianggapnya akan merebut tulang darinya. Karena kebodohannya ia tak tahu bahwa itu adalah bayangan dirinya. Ia menerkam bayangan dirinya tersebut di telaga, hingga ia tenggelam dan mati.

Kebahagiaan sejati akan diperoleh manusia bila ia tidak bertumpu pada sesuatu yang fana dan rapuh, dan sebaliknya justru berorientasi pada keabadian.

Nabi Yusuf as sebuah contoh keistiqomahan, ia memilih di penjara daripada harus menuruti hawa nafsu rendah manusia. Ia yang benar di penjara, sementara yang salah malah bebas.

Ada satu hal lagi yang bisa kita petik dari kisah Nabi Yusuf as. Wanita-wanita yang mempergunjingkan Zulaikha diundang ke istana untuk melihat Nabi Yusuf. Mereka mengiris-iris jari-jari tangan mereka karena terpesona melihat Nabi Yusuf. "Demi Allah, ini pasti bukan manusia". Kekaguman dan keterpesonaan mereka pada seraut wajah tampan milik Nabi Yusuf membuat mereka tidak merasakan sakitnya teriris-iris.

Hal yang demikian bisa pula terjadi pada orang-orang yang punya cita-cita mulia ingin bersama para nabi dan rasul, shidiqin, syuhada dan shalihin. Mereka tentunya akan sanggup melupakan sakitnya penderitaan dan kepahitan perjuangan karena keterpesonaan mereka pada surga dengan segala kenikmatannya yang dijanjikan.

Itulah ibrah yang harus dijadikan pusat perhatian para da'i. Apalagi berkurban di jalan Allah adalah sekedar mengembalikan sesuatu yang berasal dari Allah jua. Kadang kita berat berinfaq, padahal harta kita dari-Nya. Kita terlalu perhitungan dengan tenaga dan waktu untuk berbuat sesuatu di jalan Allah padahal semua yang kita miliki berupa ilmu dan kemuliaan keseluruhannya juga berasal dari Allah. Semoga kita terhindar dari penyimpangan-penyimpangan seperti itu dan tetap memiliki jiddiyah, militansi untuk senantiasa berjuang di jalan-Nya. Amin.
Wallahu a'lam bis shawab

Catatan Untuk Murabbi: Setelah mendapatkan taujih ini diharapkan kader Memahami urgensi militansi kader dalam pemenangan dakwah serta memahami cara-cara membina militansi kader

Link ke posting ini Email this post

untuk tidak terhapus

Minggu, 05 Oktober 2008

sekarang pukul 3

Link ke posting ini Email this post

Aku bangga jadi Mahasiswa Politani Unand

Senin, 08 September 2008



Saya adalah Marhen Harjono Alumni Mahasiswa Politeknik Pertanian Universitas Andalas Sumbar. Ketika saya melanjutkan ke Perguruan Tinggi lain yang termasuk kampus besar di Indonesia ternyata Mahasiswa Politani Unand tidak tidak klah jauhnya dengan universitas yang ternama di indonesia. banyak berbagai keunggulan dan kelebihan yang dimilki oleh alumni unand. yang pertama
1. dari segi skill dilpangan belum ada mahasiswa yang mampu menandingi kita dari segi praktisi
2. dari segi pembelajaran mahasiswa politani unand suda terbiasa dengan belajar yang namanya sehari penuh sedangkan anak S1 universitas lain hanya belajar cuman sebentar dalam sehari
3. dari segi mandiri, mahsiswa politani unand jauh lebih unggul karena mulai dari semester 1 suda ditanamkan dengan sikpa wirausaha,dan banyak kelebihan-kelebihan yang lain.

Link ke posting ini Email this post

taujihat pks

Kamis, 04 September 2008

Sejahtera Online: Sejarah telah diwarnai, dipenuhi dan diperkaya oleh orang-orang yang sungguh-sungguh. Bukan oleh orang-orang yang santai, berleha-leha dan berangan-angan. Dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yang merealisir cita-cita, harapan dan angan-angan mereka dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dan kekuatan tekad.

Ba'da tahmid wa shalawat

Ikhwah rahimakumullah, Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur'an Surat 19 Ayat 12 : .....
Ya Yahya hudzil kitaaba bi quwwah ..." (QS. Maryam (19):12)

Tatkala Allah SWT memberikan perintah kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas, Ia tak hanya menyuruh mereka untuk taat melaksanakannya melainkan juga harus mengambilnya dengan quwwah yang bermakna jiddiyah, kesungguhan-sungguhan.

Sejarah telah diwarnai, dipenuhi dan diperkaya oleh orang-orang yang sungguh-sungguh. Bukan oleh orang-orang yang santai, berleha-leha dan berangan-angan. Dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yang merealisir cita-cita, harapan dan angan-angan mereka dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dan kekuatan tekad.

Namun kebatilan pun dibela dengan sungguh-sungguh oleh para pendukungnya, oleh karena itulah Ali bin Abi Thalib ra menyatakan: "Al-haq yang tidak ditata dengan baik akan dikalahkan oleh Al-bathil yang tertata dengan baik".

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,
Allah memberikan ganjaran yang sebesar-besarnya dan derajat yang setinggi-tingginya bagi mereka yang sabar dan lulus dalam ujian kehidupan di jalan dakwah. Jika ujian, cobaan yang diberikan Allah hanya yang mudah-mudah saja tentu mereka tidak akan memperoleh ganjaran yang hebat. Di situlah letak hikmahnya yakni bahwa seorang da'i harus sungguh-sungguh dan sabar dalam meniti jalan dakwah ini. Perjuangan ini tidak bisa dijalani dengan ketidaksungguhan, azam yang lemah dan pengorbanan yang sedikit.

Ali sempat mengeluh ketika melihat semangat juang pasukannya mulai melemah, sementara para pemberontak sudah demikian destruktif, berbuat dan berlaku seenak-enaknya. Para pengikut Ali saat itu malah menjadi ragu-ragu dan gamang, sehingga Ali perlu mengingatkan mereka dengan kalimatnya yang terkenal tersebut.

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,
Ketika Allah menyuruh Nabi Musa as mengikuti petunjuk-Nya, tersirat di dalamnya sebuah pesan abadi, pelajaran yang mahal dan kesan yang mendalam:

"Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): "Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang teguh kepada perintah-perintahnya dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasiq".(QS. Al-A'raaf (7):145)

Demikian juga perintah-Nya terhadap Yahya, dalam surat Maryam ayat 12 :

"Hudzil kitaab bi quwwah" (Ambil kitab ini dengan quwwah). Yahya juga diperintahkan oleh Allah untuk mengemban amanah-Nya dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan). Jiddiyah ini juga nampak pada diri Ulul Azmi (lima orang Nabi yakni Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad yang dianggap memiliki azam terkuat).

Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para mujahid pembawa misi dakwah tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita, semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka.

Apa artinya usia panjang namun tanpa isi, sehingga boleh jadi biografi kita kelak hanya berupa 3 baris kata yang dipahatkan di nisan kita: "Si Fulan lahir tanggal sekian-sekian, wafat tanggal sekian-sekian".

Hendaknya kita melihat bagaimana kisah kehidupan Rasulullah saw dan para sahabatnya. Usia mereka hanya sekitar 60-an tahun. Satu rentang usia yang tidak terlalu panjang, namun sejarah mereka seakan tidak pernah habis-habisnya dikaji dari berbagai segi dan sudut pandang. Misalnya dari segi strategi militernya, dari visi kenegarawanannya, dari segi sosok kebapakannya dan lain sebagainya.
Seharusnyalah kisah-kisah tersebut menjadi ibrah bagi kita dan semakin meneguhkan hati kita. Seperti digambarkan dalam QS. 11:120, orang-orang yang beristiqomah di jalan Allah akan mendapatkan buah yang pasti berupa keteguhan hati. Bila kita tidak kunjung dapat menarik ibrah dan tidak semakin bertambah teguh, besar kemungkinannya ada yang salah dalam diri kita. Seringkali kurangnya jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dalam diri kita membuat kita mudah berkata hal-hal yang membatalkan keteladanan mereka atas diri kita. Misalnya: "Ah itu kan Nabi, kita bukan Nabi. Ah itu kan istri Nabi, kita kan bukan istri Nabi". Padahal memang tanpa jiddiyah sulit bagi kita untuk menarik ibrah dari keteladanan para Nabi, Rasul dan pengikut-pengikutnya.

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,
Di antara sekian jenis kemiskinan, yang paling memprihatinkan adalah kemiskinan azam, tekad dan bukannya kemiskinan harta.

Misalnya anak yang mendapatkan warisan berlimpah dari orangtuanya dan kemudian dihabiskannya untuk berfoya-foya karena merasa semua itu didapatkannya dengan mudah, bukan dari tetes keringatnya sendiri. Boleh jadi dengan kemiskinan azam yang ada padanya akan membawanya pula pada kebangkrutan dari segi harta. Sebaliknya anak yang lahir di keluarga sederhana, namun memiliki azam dan kemauan yang kuat kelak akan menjadi orang yang berilmu, kaya dan seterusnya.

Demikian pula dalam kaitannya dengan masalah ukhrawi berupa ketinggian derajat di sisi Allah. Tidak mungkin seseorang bisa keluar dari kejahiliyahan dan memperoleh derajat tinggi di sisi Allah tanpa tekad, kemauan dan kerja keras.

Kita dapat melihatnya dalam kisah Nabi Musa as. Kita melihat bagaimana kesabaran, keuletan, ketangguhan dan kedekatan hubungannya dengan Allah membuat Nabi Musa as berhasil membawa umatnya terbebas dari belenggu tirani dan kejahatan Fir'aun.

Berkat do'a Nabi Musa as dan pertolongan Allah melalui cara penyelamatan yang spektakuler, selamatlah Nabi Musa dan para pengikutnya menyeberangi Laut Merah yang dengan izin Allah terbelah menyerupai jalan dan tenggelamlah Fir'aun beserta bala tentaranya.

Namun apa yang terjadi? Sesampainya di seberang dan melihat suatu kaum yang tengah menyembah berhala, mereka malah meminta dibuatkan berhala yang serupa untuk disembah. Padahal sewajarnya mereka yang telah lama menderita di bawah kezaliman Fir'aun dan kemudian diselamatkan Allah, tentunya merasa sangat bersyukur kepada Allah dan berusaha mengabdi kepada-Nya dengan sebaik-baiknya. Kurangnya iman, pemahaman dan kesungguh-sungguhan membuat mereka terjerumus kepada kejahiliyahan.

Sekali lagi marilah kita menengok kekayaan sejarah dan mencoba bercermin pada sejarah. Kembali kita akan menarik ibrah dari kisah Nabi Musa as dan kaumnya.

Dalam QS. Al-Maidah (5) ayat 20-26 : "Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu, ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain".

"Hai, kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi".

"Mereka berkata: "Hai Musa, sesungguhnya dalam negri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar dari negri itu. Jika mereka keluar dari negri itu, pasti kami akan memasukinya".

"Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman".

"Mereka berkata: "Hai Musa kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja".

"Berkata Musa: "Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasiq itu".

"Allah berfirman: "(Jika demikian), maka sesungguhnya negri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasiq itu".
Rangkaian ayat-ayat tersebut memberikan pelajaran yang mahal dan sangat berharga bagi kita, yakni bahwa manusia adalah anak lingkungannya. Ia juga makhluk kebiasaan yang sangat terpengaruh oleh lingkungannya dan perubahan besar baru akan terjadi jika mereka mau berusaha seperti tertera dalam QS. Ar-Ra'du (13):11, "Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai mereka berusaha merubahnya sendiri".

Nabi Musa as adalah pemimpin yang dipilihkan Allah untuk mereka, seharusnyalah mereka tsiqqah pada Nabi Musa. Apalagi telah terbukti ketika mereka berputus asa dari pengejaran dan pengepungan Fir'aun beserta bala tentaranya yang terkenal ganas, Allah SWT berkenan mengijabahi do'a dan keyakinan Nabi Musa as sehingga menjawab segala kecemasan, keraguan dan kegalauan mereka seperti tercantum dalam QS. Asy-Syu'ara (26):61-62, "Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul". Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Rabbku bersamaku, kelak Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku".

Semestinya kaum Nabi Musa melihat dan mau menarik ibrah (pelajaran) bahwa apa-apa yang diridhai Allah pasti akan dimudahkan oleh Allah dan mendapatkan keberhasilan karena jaminan kesuksesan yang diberikan Allah pada orang-orang beriman. Allah pasti akan bersama al-haq dan para pendukung kebenaran. Namun kaum Nabi Musa hanya melihat laut, musuh dan kesulitan-kesulitan tanpa adanya tekad untuk mengatasi semua itu sambil di sisi lain bermimpi tentang kesuksesan. Hal itu sungguh merupakan opium, candu yang berbahaya. Mereka menginginkan hasil tanpa kerja keras dan kesungguh-sungguhan. Mereka adalah "qaumun jabbarun" yang rendah, santai dan materialistik. Seharusnya mereka melihat bagaimana kesudahan nasib Fir'aun yang dikaramkan Allah di laut Merah.

Seandainya mereka yakin akan pertolongan Allah dan yakin akan dimenangkan Allah, mereka tentu tsiqqah pada kepemimpinan Nabi Musa dan yakin pula bahwa mereka dijamin Allah akan memasuki Palestina dengan selamat.

Bukankah Allah SWT telah berfirman dalam QS. 47:7, "In tanshurullah yanshurkum wayutsabbit bihil aqdaam" (Jika engkau menolong Allah, Allah akan menolongmu dan meneguhkan pendirianmu).
Hendaknya jangan sampai kita seperti Bani Israil yang bukannya tsiqqah dan taat kepada Nabi-Nya, mereka dengan segala kedegilannya malah menyuruh Nabi Musa as untuk berjuang sendiri. "Pergilah engkau dengan Tuhanmu". Hal itu sungguh merupakan kerendahan akhlak dan militansi, sehingga Allah mengharamkan bagi mereka untuk memasuki negri itu. Maka selama 40 tahun mereka berputar-putar tanpa pernah bisa memasuki negri itu.

Namun demikian, Allah yang Rahman dan Rahim tetap memberi mereka rizqi berupa ghomama, manna dan salwa, padahal mereka dalam kondisi sedang dihukum.

Tetapi tetap saja kedegilan mereka tampak dengan nyata ketika dengan tidak tahu dirinya mereka mengatakan kepada Nabi Musa tidak tahan bila hanya mendapat satu jenis makanan.

Orientasi keduniawian yang begitu dominan pada diri mereka membuat mereka begitu kurang ajar dan tidak beradab dalam bersikap terhadap pemimpin. Mereka berkata: "Ud'uulanaa robbaka" (Mintakan bagi kami pada Tuhanmu). Seyogyanya mereka berkata: "Pimpinlah kami untuk berdo'a pada Tuhan kita".

Kebodohan seperti itu pun kini sudah mentradisi di masyarakat. Banyak keluarga yang berstatus Muslim, tidak pernah ke masjid tapi mampu membayar sehingga banyak orang di masjid yang menyalatkan jenazah salah seorang keluarga mereka, sementara mereka duduk-duduk atau berdiri menonton saja.

Rasulullah saw memang telah memberikan nubuwat atau prediksi beliau: "Kelak kalian pasti akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian selangkah demi selangkah, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta dan sedepa demi sedepa". Sahabat bertanya: "Yahudi dan Nasrani ya Rasulullah?". Beliau menjawab: "Siapa lagi?".

Kebodohan dalam meneladani Rasulullah juga bisa terjadi di kalangan para pemikul dakwah sebagai warasatul anbiya (pewaris nabi). Mereka mengambil keteladanan dari beliau secara tidak tepat. Banyak ulama atau kiai yang suka disambut, dielu-elukan dan dilayani padahal Rasulullah tidak suka dilayani, dielu-elukan apalagi didewakan. Sebaliknya mereka enggan untuk mewarisi kepahitan, pengorbanan dan perjuangan Rasulullah. Hal itu menunjukkan merosotnya militansi di kalangan ulama-ulama amilin.
Mengapa hal itu juga terjadi di kalangan ulama, orang-orang yang notabene sudah sangat faham. Hal itu kiranya lebih disebabkan adanya pergeseran dalam hal cinta dan loyalitas, cinta kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya telah digantikan dengan cinta kepada dunia.

Mentalitas Bal'am, ulama di zaman Fir'aun adalah mentalitas anjing sebagaimana digambarkan di Al-Qur'an. Dihalau dia menjulurkan lidah, didiamkan pun tetap menjulurkan lidah. Bal'am bukannya memihak pada Musa, malah memihak pada Fir'aun. Karena ia menyimpang dari jalur kebenaran, maka ia selalu dibayang-bayangi, didampingi syaithan. Ulama jenis Bal'am tidak mau berpihak dan menyuarakan kebenaran karena lebih suka menuruti hawa nafsu dan tarikan-tarikan duniawi yang rendah.

Kader yang tulus dan bersemangat tinggi pasti akan memiliki wawasan berfikir yang luas dan mulia. Misalnya, manusia yang memang memiliki akal akan bisa mengerti tentang berharganya cincin berlian, mereka mau berkelahi untuk memperebutkannya. Tetapi anjing yang ada di dekat cincin berlian tidak akan pernah bisa mengapresiasi cincin berlian. Ia baru akan berlari mengejar tulang, lalu mencari tempat untuk memuaskan kerakusannya. Sampailah anjing tersebut di tepi telaga yang bening dan ia serasa melihat musuh di permukaan telaga yang dianggapnya akan merebut tulang darinya. Karena kebodohannya ia tak tahu bahwa itu adalah bayangan dirinya. Ia menerkam bayangan dirinya tersebut di telaga, hingga ia tenggelam dan mati.

Kebahagiaan sejati akan diperoleh manusia bila ia tidak bertumpu pada sesuatu yang fana dan rapuh, dan sebaliknya justru berorientasi pada keabadian.

Nabi Yusuf as sebuah contoh keistiqomahan, ia memilih di penjara daripada harus menuruti hawa nafsu rendah manusia. Ia yang benar di penjara, sementara yang salah malah bebas.

Ada satu hal lagi yang bisa kita petik dari kisah Nabi Yusuf as. Wanita-wanita yang mempergunjingkan Zulaikha diundang ke istana untuk melihat Nabi Yusuf. Mereka mengiris-iris jari-jari tangan mereka karena terpesona melihat Nabi Yusuf. "Demi Allah, ini pasti bukan manusia". Kekaguman dan keterpesonaan mereka pada seraut wajah tampan milik Nabi Yusuf membuat mereka tidak merasakan sakitnya teriris-iris.

Hal yang demikian bisa pula terjadi pada orang-orang yang punya cita-cita mulia ingin bersama para nabi dan rasul, shidiqin, syuhada dan shalihin. Mereka tentunya akan sanggup melupakan sakitnya penderitaan dan kepahitan perjuangan karena keterpesonaan mereka pada surga dengan segala kenikmatannya yang dijanjikan.

Itulah ibrah yang harus dijadikan pusat perhatian para da'i. Apalagi berkurban di jalan Allah adalah sekedar mengembalikan sesuatu yang berasal dari Allah jua. Kadang kita berat berinfaq, padahal harta kita dari-Nya. Kita terlalu perhitungan dengan tenaga dan waktu untuk berbuat sesuatu di jalan Allah padahal semua yang kita miliki berupa ilmu dan kemuliaan keseluruhannya juga berasal dari Allah. Semoga kita terhindar dari penyimpangan-penyimpangan seperti itu dan tetap memiliki jiddiyah, militansi untuk senantiasa berjuang di jalan-Nya. Amin.
Wallahu a'lam bis shawab

Catatan Untuk Murabbi: Setelah mendapatkan taujih ini diharapkan kader Memahami urgensi militansi kader dalam pemenangan dakwah serta memahami cara-cara membina militansi kader


Pengirim: Navis Update: 01/06/2008 Oleh: Navis

* Terbaru
* Terpopuler
* Sebelumnya
* Lainnya

Caleg PKS Tidak Rebutan Nomor Urut

Satu hal penting lain yang mengemuka dari Acara tersebut adalah bahwa di PKS tidak ada caleg yang mengajukan diri tetapi semua adalah penujukan oleh syuro.

* Hidup Partai Jujur
* Ratusan CAD PKS Disumpah Anti Korupsi
* CAD Pusat Mendapat Pembekalan
* Sampaikan Kebenaran, Tugas Kader PKS
* PKS: Negara Sehat Tergantung Parpol yang Sehat
* Anis Matta: Politik Untuk Kemanusiaan

Tokoh Besar Melayu Berlabuh Ke PKS

Bergabungnya mantan Ketua DPW PKB Provinsi Kepri ini ditandai dengan pemasangan jaket PKS oleh Ketua Bapilu DPP PKS, Razikun. Disusul kemudian Nyat Kadir memasangkan tanjak khas masyarakat Melayu ke Razikun.

* Caleg PKS Dilarang Kampanyekan Diri Sendiri
* PKS Siap Tancap Gas
* PKS Lebih Capat Bergerak
* Koalisi PKS, dengan Siapa?
* Tidak diperkenankan Pulang Sebelum Bertemu Presiden SBY
* PKS Desak Jabatan Gubernur DIY Diperpanjang

Link ke posting ini Email this post

cerita pak anis mata

"agama kita mengajarkan bagaimana kepedulian itu dilaksanakan, dengan mulai mempedulikan orang-orang yang terdekat dengan kita. Ini juga sekaligus untuk kembali menegaskan bahwa politik kita adalah untuk kemanusiaan", Tutup anggota DPR Komisi XI ini.

Politik PKS adalah Untuk Kemanusiaan."PKS ingin mempelopori perubahan wajah politik di dunia ini, karena wajah kekuasaan dalam politik sudah terlalu kental. Politik terlalu dipersepsi sebagai semata-mata cara untuk merebut kekuasaan, padahal seharusnya politik adalah untuk cita-cita mulia dan kemanusiaan". Demikian pernyataan sekjen DPP PKS Anis Matta, alam acara peluncuran Gerakan Nasional Peduli Tetangga di Medan sumatera Selatan, senin (1/9).

Menurut Anis, sejak awal PKS menonjolkan ide dalam kampanye, bukan karena PKS tidak memiliki tokoh, tetapi karena PKS menganggap bahwa ide lebih penting untuk dipahami oleh pemilih. Itu juga sebabnya PKS tidak terlalu sibuk merekrut artis. “Sebab kampanye yang sudah di mulai ini seharusnya mencerdaskan pemilih dengan ide bukan mengelabuinya dengan semata-mata menonton para artis". Demikian tambah ketua Tim Pemenangan Pemilu Nasional PKS itu di depan ratusan tokoh dan pengurus PKS Sumatera Utara.

Tentang Gerakan Peduli Tetangga yang baru diluncurkan ini, Anis mengatakan bahwa gerakan peduli tetangga ini adalah dalam rangka mengaktualisasi makna riil dari kepedulian sosial. "agama kita mengajarkan bagaimana kepedulian itu dilaksanakan, dengan mulai mempedulikan orang-orang yang terdekat dengan kita. Ini juga sekaligus untuk kembali menegaskan bahwa politik kita adalah untuk kemanusiaan", Tutup anggota DPR Komisi XI ini.


Pengirim: Muhammad Hilal N Update: 04/09/2008 Oleh: Muhammad Hilal N

* Terbaru
* Terpopuler
* Sebelumnya
* Lainnya

Caleg PKS Tidak Rebutan Nomor Urut

Satu hal penting lain yang mengemuka dari Acara tersebut adalah bahwa di PKS tidak ada caleg yang mengajukan diri tetapi semua adalah penujukan oleh syuro.

* Hidup Partai Jujur
* Ratusan CAD PKS Disumpah Anti Korupsi
* CAD Pusat Mendapat Pembekalan
* Sampaikan Kebenaran, Tugas Kader PKS
* PKS: Negara Sehat Tergantung Parpol yang Sehat
* Caleg PKS Disumpah Tidak Korupsi

Tokoh Besar Melayu Berlabuh Ke PKS

Bergabungnya mantan Ketua DPW PKB Provinsi Kepri ini ditandai dengan pemasangan jaket PKS oleh Ketua Bapilu DPP PKS, Razikun. Disusul kemudian Nyat Kadir memasangkan tanjak khas masyarakat Melayu ke Razikun.

* Caleg PKS Dilarang Kampanyekan Diri Sendiri
* PKS Siap Tancap Gas
* PKS Lebih Capat Bergerak
* Koalisi PKS, dengan Siapa?
* Tidak diperkenankan Pulang Sebelum Bertemu Presiden SBY
* PKS Desak Jabatan Gubernur DIY Diperpanjang

PKS Lebih Capat Bergerak

”PKS ini bergeraknya lebih cepat dari yang saya pikirkan. Kami baru memikirkan, ternyata PKS sudah bertindak”, ujarnya.

* Lima Instruksi Presiden
* Sukses Ramadhan, Parpol Raih Kemenangan
* Saatnya Muliakan Tetangga
* Tifatul Bersepeda Depok_Jakarta
* Tokoh Besar Melayu Berlabuh Ke PKS
* "Mak kerudung bagus tuh cuma seribu perak"

Link ke posting ini Email this post

Pidato Presiden PKS

ada hidden agenda di dalam PKS. Kalau ada yang bertanya “Pak Tifatul apakah PKS punya hidden agenda?” jawabnya “Hidden agendanya sudah dimunculkan di dalam buku itu”.

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,

Saya sering mendapat pertanyaan, kalau PKS berkuasa bagaimana sikap kita terhadap konstitusi negara, bagaimana sikap kita terhadap pemeluk agama lain, terhadap kalangan minoritas atau masyarakat keturunan. Bagaimana sikap PKS terhadap iklim usaha, apakah PKS ini merupakan suatu partai yang business friendly.

Bagaimana attitude PKS terhadap banyak hal ditunggu. Sikap kita terhadap banyak hal terutama masalah-masalah mendasar tentang negara ini banyak ditunggu, terutama sejak PKS menang di pilgub Jawa Barat dan Sumatera Utara. Saya tidak melihat pertanyaan-pertanyaan ini ditujukan pada partai-partai lain.

Buku ini berisi Platform Kebijakan Pembangunan PKS, Falsafah Dasar Perjuangan dan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Ini baru garis besar. Kalaupun banyak bertanya mengapa ini tidak detil, justru di birokrasi dan pemerintahan perlu difikirkan, bila Allah SWT mentakdirkan PKS berkuasa di negeri ini.

Jadi dari sejak awalnya yaitu Partai Keadilan, dari segi namanya itu berasal dariayat dalam Al-Qur’an, yaitu berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat dengan taqwa. Keadilan itu erat kaitannya dengan Habluminallah(hubungan manusia dengan Allah). Sedangkan sejahtera merupakan tujuan dari seluruh manusia yaitu untuk mencapai hidup yang sejahterah-Hablumminannas(hubungan manusia dengan manusia).

Jadi keadilan sejahtera adalah gabungan Habluminallah dan Hablumminannas. Allah juga berfirman “Mereka akan ditimpakan kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali yang Hablumminallah dan Hablumminannas.

Nilai-nilai idiologi keadilan tersebut, kemudian kami upayakan mempelajari, mendalami dan menginternalisasikannya. Bagaimana kita melakukan idiologisasi terhadap idiologi keadilan itu, sehingga dia bisa dijadikan sebagai objektifikasi supaya implementatif nanti. Jangan sampai nilai keadilan itu hanya dalam tataran filosofi saja, tapi tataran implementatifnya seperti apa. Oleh karena itulah dibuat buku ini.

Jadi tidak ada hidden agenda di dalam PKS. Kalau ada yang bertanya “Pak Tifatul apakah PKS punya hidden agenda?” jawabnya “Hidden agendanya sudah dimunculkan di dalam buku itu”.

Inilah latar belakang sejarah berdirinya PKS yang dulu bernama Partai Keadilan, dan latar belakang pandangan-pandangan PKS terhadap berbagai hal terkait dengan penyelenggaraan negara.

Jadi, intinya sekali lagi adalah bahwa PKS sebagai partai dakwah ingin melakukan suatu Islah di negeri ini. Islah maknanya adalah reformasi. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Sebab Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu merubah nasib diri mereka sendiri.

Dalam diskusi nanti akan dibahas visi PKS, yang kita rumuskan dalam bentuk cita-cita PKS, yaitu terciptanya masyarakat Indonesia yang madani, berperadaban, manusia yang adil, sejahtera dan bermartabat. Untuk mewujudkan cita-cita itu, PKS mempersiapkan SDM dan mencari SDM yang bersifat bersih, peduli dan profesional. Bersih berarti kesolehan secara pribadi, peduli bermakna kesolehan secara sosial dan Profesional berarti memiliki kompetensi.

Dalam falsafah perjuangan PKS tentang politik, adalah berjuang melalui ranah demokrasi. Tentu juga banyak pertanyaan orang, bagaimana warna demokrasi PKS. Saya katakan, ya, kita diwarnai oleh Islam, sebagaimana demokrasi di negara-negara lain, baik itu di Amerika atau di Jerman.

Di Amerika memang demokrasi liberal, tapi demokrasi di Amerika diwarnai oleh Judio Christian. Demokrasi di Jerman di warnai dengan sosialis, mereka menamakan diri demokrasi atau pasar sosialis. Dan biasa, demokrasi di suatu negara atau daerah diwarnai oleh budaya atau idiologi daerah setempat. Dan di Indonesia ini, karena hampir seluruh penduduknya adalah Islam, bisa saja demokrasi itu diwarnai oleh Islam.

Oleh karena itu, PKS benar bermoral Islam, namun kita tetap diwarnai oleh nilai-nilai Islam yang universal, yaitu moralitas, pluralitas, kebinekaan, taat beragama dan kita menginginkan pemeluk agama lain juga taat beragama. Karena kalau seseorang taat beragama, tentu akan ada kontrol moral dalam dirinya.

Wassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Disampaikan dalam diskusi Platform PKS di Hotel Bidakarsa Jakarta Selatan, Ahad 20 April 2008.


Pengirim: Ningsih Update: 22/04/2008 Oleh: Mohammad Yusuf

* Terbaru
* Terpopuler
* Sebelumnya
* Lainnya

Caleg PKS Tidak Rebutan Nomor Urut

Satu hal penting lain yang mengemuka dari Acara tersebut adalah bahwa di PKS tidak ada caleg yang mengajukan diri tetapi semua adalah penujukan oleh syuro.

* Hidup Partai Jujur
* Ratusan CAD PKS Disumpah Anti Korupsi
* CAD Pusat Mendapat Pembekalan
* Sampaikan Kebenaran, Tugas Kader PKS
* PKS: Negara Sehat Tergantung Parpol yang Sehat
* Anis Matta: Politik Untuk Kemanusiaan

Tokoh Besar Melayu Berlabuh Ke PKS

Bergabungnya mantan Ketua DPW PKB Provinsi Kepri ini ditandai dengan pemasangan jaket PKS oleh Ketua Bapilu DPP PKS, Razikun. Disusul kemudian Nyat Kadir memasangkan tanjak khas masyarakat Melayu ke Razikun.

* Caleg PKS Dilarang Kampanyekan Diri Sendiri
* PKS Siap Tancap Gas
* PKS Lebih Capat Bergerak
* Koalisi PKS, dengan Siapa?
* Tidak diperkenankan Pulang Sebelum Bertemu Presiden SBY
* PKS Desak Jabatan Gubernur DIY Diperpanjang

"April Ceria" Di Diskusi Platform PKS

“Memang PKS senantiasa menghadirkan sunnah hasanah. Kalau biasanya ada april Mop, maka Presiden PKS bulan April tahun ini menyebut sebagai april ceria,” balas Hidayat yang 14 April lalu melamar dr Diana Abbas Thalib untuk menjadi istrinya. Sementara itu, akad pernikahan mantan Presiden PKS itu akan digelar 10 Mei 2008.

* Bangkit Perempuan Indonesia, Harapan Itu Masih Ada
* Karya Monumental, Persembahan Untukmu Negeri
* PKS Tanam 1000 Pohon
* PKS Terbitkan Platform dan Falsafah Perjuangan
* Kewanitaan PKS Jalin Hubungan Dengan Pebisnis Nasional
* PKS Gelar Try Out UN

Link ke posting ini Email this post
Selasa, 19 Agustus 2008

Link ke posting ini Email this post

Pengalaman di UGM

Jumat, 01 Agustus 2008

ketika aku memasuki UGM tidak ada teman -teman baruku

Link ke posting ini Email this post

Kumpulan Foto

Rabu, 16 Juli 2008

Link ke posting ini Email this post

Karya Tulis Ilmia

PENGGEMUKAN SAPI AUSTRALIA UNTUK PETERNAK DI SEKITAR PERUSAHAAN DENGAN POLA INTI PLASMA PADA PERUSAHAAN KADILA LESTARI JAYA CIJAPATI BANDUNG



LAPORAN TUGAS AKHIR



OLEH





MARHEN HARJONO
BP. 05014009


























PROGRAM STUDY PETERNAKAN
JURUSAN BUDIDAYA TANAMAN PANGAN
POLITEKNIK PERTANIAN UNIVERSITAS ANDALAS
2008PENGGEMUKAN SAPI AUSTRALIA UNTUK PETERNAK DI SEKITAR PERUSAHAAN DENGAN POLA INTI PLASMA PADA PERUASAHAAN KADILA LESTARI JAYA CIJAPATI BANDUNG




LAPORAN TUGAS AKHIR




OLEH


MARHEN HARJONO
BP.05014009




Menyetujui



Ketua Jurusan Dosen Pembimbing
Budidaya Tanaman Pangan




Ir. Khazy Anty. M.Si Ir. Nelzi Fati.MP
NIP. 131 709 393 BP.132 061 905




Direktur Politeknik Pertanian
Universitas Andalas





Ir. Benny Warman, R. MP
NIP. 131 690 545
Laporan tugas akhir ini telah diuji dan dipertahankan didepan tim penguji pengalaman kerja praktek mahasiswa (PKPM) pada program studi peternakan jurusan budidaya tanaman politeknik pertanian universitas andalas, yang dilaksanakan di tanjung pati



Tim penguji
No
Nama
Jabatan
Tanda tangan







































Kupersembahankan karyaku
sebagai baktiku yang tulus dan ikhlas buat kedua oarangtuaku (…………) dan ibu (………….)yang tercinta wujud ungkapan terimakasih yang tiada tara atas segala pengorbanan, kasih dan dukungannya
Buat tiap-tiap doa ayah dan ibu untukku
Buat saudara-saudaraku dan teman-teman seperjuangan
Dan buat sang khalik yang telah memberikan kekuatan fikria, ruhiya dan jasadiya sehingga dapat melewati jenjang kehidupan ini

































KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulilla kita panjatkan kehadirat Allah Swt. Karena atas berkat rahmat, nikmat, dan kesempatan yang diberikan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Praktek Kerja Pengalaman Mahasiswa ( PKPM) yang dilaksanakan pada tanggal 5 April-5 Juni 2008 di peternakan sapi potong PT. Kadila Lestari Jaya Cijapati Bandung dan dipeternakan Villa Domba Soreang Jabar, dengan penulisan tugas akhir yang berjudul ” Penggemukan Sapi Australia Untuk Peternak Di Sekitar Perusahaan Dengan Pola Inti Plasma Pada Perusahaan Kadila Lestari Jaya Cijapati Bandung” dapat terselesaikan dengan tepat pada waktunya.
Penulisan laporan ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat penilain Pratek Kerja Lapangan pada Program Studi Peternakan Jurusan Budidaya Tanaman Pangan Politeknik Pertanian Universitas Andalas. Kegiatan PKPM ini merupakan salah satu mata kuliah wajib bagi setiap Mahasiswa dalam rangka peningkatan dan pengembangan wawasan serta pengalaman dibidangnya sendiri (Peternakan)
Pada kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua yaitu ayah dan ibu serta keluargaku yang tercinta adek dan kakak yang selalu bemberikan dorongan moril dan materituil kepada Ananda, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan tugas akhir ini, dan tidak lupa pula penulis mengucapakan terimakasih kepada seluruh pihak yang ikut membantu pembuatan tugas akhir


Secara khusus penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :
Ibu Ir. Nelzi Fati, MP selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah banyak memberikan masukkan dan petunjuk kepada penulis selama masa perkulihan sampai sekarang.
Ibu Drh.Prima Silvia Noor, M.Si selaku Ketua Program Study Peternakan.
Bapak Ir.khazy anty, M.Si selaku Ketua Jurusan Budidaya Tanaman Pangan.
Bapak Ir.Benny Warman.RM. MP selaku Direktur Politeknik Pertanian Universitas Andalas.
Bapak Abah Joni pemilik perusahaan Kadila Lestari Jaya Bandung, yang telah memberikan tempat kepada Penulis untuk mencari pengalaman dalam PKPM.
Mas Sutrisno yang sempat memberikan judul tugas akhir serta banyak memberikan berbagai data dan pengalaman kepada Penulis.
Semua rekan-rekan anak kandang dalam PKPM yang banyak memberikan nasehat dan arahan.
Kepada teman-teman satu tempat magang yang beranggapan kami adalah saudara kandung yaitu Armi Gapuk, Wahyu dan Mr. Kolmet Rahmat
Dan terkhusus kepada Saudari Reka Noprianti dan Mastina Rafida yang banyak membantu dalam menyelesaikan tugas akhir ini.
Juga yang tak lupa pula teman-teman satu perjuangan baik itu dikampus ataupun diluar kampus, semoga kami semua menjadi orang yang sukses didunia dan akherat, amin

Semoga segala amal dan kebajikan yng telah diperoleh Penulis selama pada bangku perkuliahan menjadi berkah dan ilmu dikemudian hari dan terlebih kepada masyarakat. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih banyak kesalahan dan kekurangan, maka dari hal itu Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sipatnya untuk membangun bagi penulis untuk berikutnya.
Akhirnya dengan segala keendahan hati penulis berharap semoga laporan tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin

Tanjung Pati. Juli 2008

Marhen Harjono

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................... iv
DAFTAR TABEL........................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR...................................................................................... vi
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................. vii
BAB. 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang................................................................................ 1
1.2. Tujuan dan Manfaat......................................................................... 4

BAB. II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sejarah Peternakan Sapi Indonesia................................................... 6
2.2. Manajemen Pemeliharaan Sapi Potong.............................................. 11
2.2.1. Penentuan Lokasi dan Pemilihan Tipe Kandang ........................ 11
2.2.2. Pemilihan Bakalan Untuk Digemukkan...................................... 16
2.2.3. Pakan....................................................................................... 18
2.3. Penggemukan Dengan Pola Inti Plasma............................................ 19
2.3.1. Organisasi dan Pola Kerja Inti Plasma....................................... 19
2.3.2. Fasilitas Kandang Dalam Penggemukan..................................... 21
2.3.3. Seleksi Sapi Bakalan................................................................ 22
2.3.4. Kebutuhan Air.......................................................................... 24
2.3.5. Jumlah Kebutuhan Dan Zat Makanan ....................................... 25

BAB. III. METODE PELAKSANAAN
3.1. Waktu Dan Tempat......................................................................... 26
3.2. Alat Dan Bahan .............................................................................. 26
3.3. Metode........................................................................................... 26
3.3.1. Pengumpulan Data Primer........................................................ 27
3.3.2. Pengumpulan Data Sekunder................................................... 27
3.4. Parameter........................................................................................ 29

BAB. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil................................................................................................ 30
4.2. Pembahasan.................................................................................... 32
4.2.1. Analisa Pembahasan Pertambahan Berat Badan Sapi................ 32
4.2.2. Analisa Finansial Pendapatan Plasma........................................ 33
4.2.3. Analisa Konversi Ransum........................................................ 36

BAB. V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan..................................................................................... 40
5.2. Saran.............................................................................................. 40

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Lokasi Penggemukan yang Sesuai Untuk Beberapa Jenis Bakalan................... 13

2. Berat Badan Sapi Brahman Cross,ADG dan Konsumsi.................................. 30

3. Pertambahan Berat Badan Untuk penggemukkan inti perusahan...................... 31

4. Data Harga Pakan, Harga Beli Pakan, Harga Panen Dan Lama
Pemeliharaan................................................................................................. 38

5. Analisa Pendapatan Plasma............................................................................ 38



DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
1. Contoh Kandang Koloni Dalam Penggemukkan............................................. 14

2. Contoh Kandang Penggemukan Sistem Individu............................................. 15

3. Stuktur Organisasi Penggemkan Plasma......................................................... 21

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman
1. lokasi penggemukan sapi plasma..................................................................... 41

2. foto kegiatan PKP.......................................................................................... 42
I. PENDAHULUAN.

1.1. Latar Belakang
Usaha penggemukan sapi potong akhir-akhir ini semakin berkembang. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya masyarakat maupun daerahh mengusahakan penggemukan sapi. Pada awalnya usaha penggemukan sapi hanya dilakukan oleh peternak dibeberapa daerahh tentu saja di Jawa seperti Bandung, Magetan, Wonogiri, dan Jember. Dewasa ini usaha penggemukan sapi sudah menyebar ke beberapa Daerahh di luar Jawa seperti Lampung, Sulawesi Selatan dan Aceh, namun demikian dengan perkembangan tersebut belum juga bisa untuk memenuhi kebutuhan akan permintaan daging sapi di Indonesia.
Menurut statistik peternakan, permintaan daging selama periode tahun 1988-1993 meningkat. Angka peningkatan ini rata-rata 7,9% pertahun, sedangkan kemampuan produksi daging dalam negeri untuk memenuhi permintaan daging tersebut dibutuhkan 89,6% pertahun. Kekurangan produksi daging dalam negeri untuk memenuhi permintaan tersebut, dipenuhi dengan jalan mengimpor sapi bakalan dari luar negeri seperti dari Australia. Sejak dibukanya peluang impor sapi bakalan secara terbatas pada tahun 1990-an menurut Abidin (2002) data menunjukkan jumlah impor sapi bakalan dari luar negeri terus meningkat dari 78.000 ekor pada tahun 1994 menjadi 349.000 ekor pada tahun 1997. Badai krisis ekonomi menyebebkan angka impor sapi bakalan menurun sampai 49.000 ekor pada tahun 1998. Tahun 2000 lalu kembali naik menjadi 296.000 ekor
Dalam mengatasi krisis seperti di atas maka diambil kebijaksanaan untuk dipelihara sapi impor tersebut didalam negeri. Pemeliharaan sapi bakalan ini dapat secara perseorangan maupun secara perusahaan dalam skala usaha besar, pemeliharaan secara kelompok dalam kandang yang berkelompok atau dengan pemeliharaan dengan sistem Pola Inti Plasma (Turnour,1996). Namun pemerintah Indonesia menghendaki agar para petani kecil diikut sertakan dalam usaha yang menguntungkan ini, akan tetapi para petani kecil tidak memiliki pengetahuan atau pun modal untuk pemasukan sapi potong dari luar negeri seperti dari Australia.
Untuk memungkinkan para petani ikut serta dalam dalam usaha penggemukan sapi diciptakan suatu pola usaha tani - Plasma Perusahaan Inti Rakyat (PIR). Ini adalah suatu bentuk kemitraan dan upaya pemberdayaan petani peternak. Dalam pola ini, perusahaaan Inti menyerahkan 10% dari jumlah sapi yang diimpornya kepada para petani lokal ( petani Plasma) untuk mereka gemukkan (Rainmanac, 1996)
Plasma bertanggung jawab kepada perusahaan Inti mengenai pengembalian modal yang telah dikeluarkan oleh perusahaan Inti. Yang terpenting adalah bahwa para petani kecil hendaknya mengurus dan melaksanakan usahanya secara tepat guna, sehingga mereka dapat mencapai rata-rata petambahan berat badan per-hari (ADG) yang sama dengan apa yang dapat dicapai oleh perusahaan Inti.
Apabila pola ini dilaksanakan, maka faktor yang paling penting diperhatikan adalah adanya hubungan yang erat antara para pengelola perusahaan Inti dengan para petani Plasma. Menurut Direktur Jenderal Petenakan (Ir.Erwin Soetirto,1996) adapun keuntungan penggemukan sapi Pola Inti Plasma ini disamping memenuhi daging yang sebanyak mungkin dalam negeri adalah :
Terciptanya iklim usaha yang mendorong pengembangan peternakan rakyat.
Terjalinnya hubungan yang serasi antara perusahaan Inti dan peternakan rakyat dan
Meningkatkan kesempatan berusaha dan substitusi impor melalui kelembagaan Inti Plasma sapi potong.
PT. Kadila Lestari Jaya (KLJ) merupakan salah satu peternakan yang bergerak dalam bidang penggemukan (Fatterning), pengembangbiakan (Breeding) maupun pengolahan daging serta pengolahan limbah yang terkenal di Indonesia dikelola secara intensif dan efisein. Disamping telah mengembangkan usahanya dengan berbagai bidang PT. Kadila lestari ini telah berhasil memberantas pengangguran di daerah setempat dimana telah menyerap tenaga kerja sebanyak 400 tenaga kerja dan menciptakan lapangan usaha dengan memberikan ternak sapi pada masyarakat sekitar untuk digemukkan
PT. Kadila Lestari Jaya ini juga telah merobah suatu sistem mata pencaharian desa setempat, dari mata pencaharian yang hanya cukup memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari menjadi mata pencaharian yang bisa melebihi kebutuhan sehari-hari yaitu penggemukkan sapi dengan Pola Inti Plasma. Sekarang ini telah terbentuk 35 kelompok Plasma dengan Jumlah sapi sebanyak 415 ekor pada satu desa. Melalui latar belakang yang menarik inilah penulis memutuskan untuk mengambil tugas akhir perkuliahan dengan judul ”Penggemukan Sapi Australia Untuk Peternak Di Sekitar Perusahaan Dengan Pola Inti Plasma Pada Perusahaan Kadila Lestari Jaya Cijapati Bandung”.



1.2. Tujuan dan Manfaat
1.2.1. Tujuan
Tujuan umum
Adapun tujuan dari kegiatan PKPM ini adalah :
1. Dapat menambah wawasan yang lebih global tentang dunia peternakan khususnya sapi potong .
2. Dapat mengetahui seluk-beluk tentang manajemen yang harus dilaksanakan dalam pemeliharaan sapi potong.
3. Untuk membandingkan antara ilmu yang dimiliki di bangku perkuliahan dengan perusahaan sapi potong yang sebenarnya.
4. Dapat memberikan motivasi yang lebih tinggi sebagai calon pengusaha khususnya pada sapi potong.
5. Memberikan masukkan yang bermanfaat bagi perusahaan
Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari kegiatan PKPM ini adalah :
1. Untuk mengetahui sedalam-dalamnya bagaimana pemeliharaan sapi potong yang dilaksanakan pada perusahaan sapi potong PT. Kadila Lestari Jaya
2. Untuk mengetahui hal-hal yang lain diluar pemeliharaan sapi potong seperti pengolahan limbah, pengolahan daging menjadi aneka ragam bahan makanan, cara mengatur dan mengelola sebuah organisasi yang rapi dan lain-lain, walaupun mendapatkannya secara tidak langsung
3. Untuk mengetahui bagai mana cara menciptakan usaha penggemukan dengan pola Pola Inti Plasma
1.2.2. Manfaat
Manfaat dari Praktek Kerja Pengalaman Mahasiswa ini adalah untuk memperoleh dan menambah wawasan serta ilmu pengetahuan yang tidak didapati dibangku kuliah, sehingga dengan berakhirnya Praktek Kerja Pengalaman Mahasiswa ini mampu mendirikan atau minimal kerja disuatu perusahaan khususnya dibidang peternakan

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sejarah Peternakan Sapi Di Indonesia
Sejarah pemeliharaan sapi dan perkembangan populasinya di Indonesia terutama sapi potong, mengalami pasang surut yang fluktuatif. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai kebijaksanaan pemerintah dan kondisi perekonomian masyarakat secara global. Sejak zaman kolonial Belanda, terutama sejak didirikan pabrik-pabrik gula (1830-1835), telah dilakukan pemeliharaan sapi yang tujuan utamanya adalah sebagai sumber tenaga kerja dalam menggarap lahan pertanian dan penarik kendaraan pengangkut tebu.
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) tidak ada kebijakan yang mencolok terhadap upaya pembinaan usaha peternakan dari pemerintah. Pada masa itu justru terjadi penurunan populasi sapi akibat eksploitasi sumber pangan oleh bangsa jepang untuk keperluan perang.
Sejak awal kemerdekaan, mulai dicanangkan usaha pembangunan, termasuk peternakan yang menetapkan prioritas peningkatan populasi ternak dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan. Pada zaman Orde Lama tercatat dimulainya suatu slogan ”empat sehat lima sempurna” . Namun karena situasi politik dan kondisi perekonomian negara yang tidak memungkinkan, hampir seluruh rencana yang dibuat oleh Kasimo (1947) dan Pembangunan Nasional Berencana (1961-1969) tersebut tidak dapat dilaksanakan.
Setelah Orde Baru lahir menggantikan Orde Lama, ditata kembali dasar-dasar pembangunan nasional yang dilakukan secara bertahap. Pada masa ini, secara umum populasi sapi potong mengalami peningkatan yang cukup signitipkan. Pada tahun 1967 populasi sapi potong mencapai 6.447 juta ekor, meningkat menjadi 11.367 juta ekor pada tahun 1991, dan pada tahun 1997 menjadi 12.557 juta ekor. Laju peningkatan populasi tertinggi terjadi pada tahun 1997-1983, yaitu sebesar 9,62 %. Meskipun laju peningkatan populasi sudah sedemikian tinggi, permintaan dalam negeri ternyata tidak mampu terpenuhi. Padahal, sampai tahun 1978, Indonesia masih menjadi salah satu negara pengekspor daging sapi potong.
Sejak dibukanya peluang impor sapi bakalan secara terbatas pada tahun 1990 an, data menunjukkan bahwa jumlah impor sapi bakalan dari luar negeri terus meningkat, dari 78.000 ekor pada tahun 1994 menjadi 349.000 ekor pada tahun 1997. Badai krisis ekonomi menyebabkan angka impor sapi bakalan anjlok sampai 49.000 ekor pada tahun 1998. Tahun 2000 lalu, kembali naik menjadi 296.000 ekor. Populasi sapi potong pada tahun 1997 sebanyak 12.557 juta ekor, menyusut menjadi 9.826 juta ekor tahun 1999.
Bangsa-Bangsa Sapi Potong yang Digemukkan Di Indonesia
Ada berbagai jenis bangsa sapi potong yang dikembangbiakkan di Indonesia, bangsa-bangsa tersebut adalah :
1. Sapi Ongole
Sapi Ongole adalah sapi keturunan sapi liar Bos Indicus yang berhasil dijinakan di India. Di Indonesia, sapi ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu Sumba Ongole (SO) dan sapi Peranakan Ongole (PO).
Sumba Ongole adalah keturunan murni sapi Nellore dari India yang didatangkan tahun 1914. Sapi ini dikembangkan secara murni di Pulau Sumba dan merupakan sumber indukan sebagian besar Ongole di dalam negeri.
Persilangan antara Sumba Ongole dengan sapi setempat di jawa menghasilkan anakan yang mirip sapi Ongole sehingga sapi ini disebut dengan sapi Peranakan Ongole.
Ciri khas sapi Ongole adalah berbadan besar, berpunuk besar, bergelambir longgar, dan berleher pendek. Kepala, leher, gelambir, dan lutut berwarna hitam, terutama sapi jantan. Kulit berwarna kuning dengan bulu putih atau kehitam-hitaman. Kulit di sekeliling mata, bulu mata, moncong, kuku, dan bulu cambuk pada ujung ekor berwarna hitam. Kepala pendek dengan profil melengkung. Mata besar dengan sorot yang tenang. Tanduk pendek dan tanduk pada sapi betina berukuran lebih panjang dibandingkan sapi jantan. Telinga panjang dan menggantung sapi, Ongole akan dewasa kelamin pada umur 24-30 bulan.
Sapi Ongole tergolong lambat dewasa. Jenis sapi ini akan mencapai dewasa pada umur 4-5 tahun. Bobot maksimal sapi dewasa 600 kg dan sapi betina dewasa 400 kg. Persentase karkas 45-58% dan perbandingan daging serta tulang 4,25 :1.
2. Charolais.
Jenis sapi ini merupakan sapi potong turunan Boss taurus yang dikembangkan di Prancis. Sapi Charolais banyak diambil sperma (semen) bekunya untuk keperluan kawin suntik. Indonesia pernah mendapatkan semen beku dari jenis sapi ini. Salah satu ciri jenis sapi ini yaitu bulu berwarna kuning muda dan putih mulus seperti perak. Bobot badan sapi jantan dewasa dapat mencapai 1.050 kg dan sapi betina dewasa 900 kg (Sarwono, 2005). Adapun pendapat lain yang menyatakan sapi ini dengan ciri-ciri warna tubuhnya krem muda atau keputih-putihan. Postur tubuhnya besar dan padat. Bobot badan jantan dewasa dapat mencapai 1.000 kg sedangkan betina dewasa sekitar 750 kg (Siregar, 2001).

3. Brahman.
Brahman adalah keturunan sapi Zebu atau Boss indiccus yang berkembang pesat di Amerika Serikat yang beriklim tropis. Sapi ini masuk ke AS pada tahun 1849. Di AS, sapi Brahman dikembangkan untuk diseleksi dan ditingkatkan mutu genetiknya. Setelah berhasil, jenis sapi ini diekspor ke berbagai negara. Dari AS, sapi Brahman menyebar ke Australia dan kemudian masuk ke Indonesia pada tahun 1974.
Ciri khas sapi Brahman adalah berpunuk besar dan berkulit longgar, gelambir dibawah leher sampai perut lebar dengan banyak lipatan-lipatan. Telinga panjang menggantung dan berujung runcing. Sapi ini adalah tipe sapi potong terbaik untuk dikembangkan.
Brahman yang berkembang di Australia dan kemudian di ekspor ke Indonesia pada umumnya disebut Brahman Cross (BX). Jenis sapi ini sudah membawa keturunan sapi Eropa. Antara sapi jantan dan betina mempunyai perbedaan persentase genetik yang dikandungnya.
Brahman Cross jantan mempunyai 87,5% keturunan Brahman dan 12,5% merupakan keturunan sapi Eropa. Sapi ini dicirikan dengan bulunya yang tipis dan berwarna putih atau kelabu. Otot tubuh kompak dan berpunuk. Kepala besar dan tidak beratanduk . Paha besar dan kaki panjang, gelambir mulai dari rahang bawah sampai ujung tulang dada depan tidak terlalu berlipat-lipat. Sapi betina Brahman Cross mempunyai 75% keturunan Brahman dan 25% keturunan sapi Eropa. Kepala besar dan dengan telinga yang lebar menggantung. Otot tubuh tidak begitu kompak seperti sapi jantan yang berpunuk. Sifatnya tahan dengan panas dan tahan terhadap gigitan caplak ataupun nyamuk.
Bobot sapi jantan dewasa maksimum dapat mencapai 800 kg, sedangkan sapi betina 550 kg. Dengan pemeliharaan intensif, pertambahan berat badan sapi jantan dan betina Brahman dewasa dapt mencapai 0.83-1,5 kg/hari. Persentase karkas 48,6-54,2%.
4. Sapi Brangus
Brangus merupakan hasil persilangan antara betina Brahman dengan Aberden Angus. Sapi ini dikembangkan di Craig Country, AS. Ciri khas Brangus yaitu bertanduk kecil dan warna bulunya hitam.
Sifat Brahman yang diwarisi Brangus, yaitu adanya punuk, tahan udara panas, tahan gigitan serangga dan mudah menyesuaikan diri dengan pakan yang kurang baik mutunya. Sementara sifat induk jantan (Aberden Angus) yang diwarisi, yaitu produktivitas dagingnya tinggi.
Keunggulan Brangus bila dibandingkan dengan kedua induknya, yaitu mampu menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan yang lebih luas. Keunggulan lainnya adalah mutu dagingnya bagus dan persentase karkasnya tinggi
5. Aberdeen Anggus
Sapi ini merupakan hasil persilangan antara Buchman Humels (Boss taurus) dengan Angus Dedies ( Boss taurus). Jenis sapi ini masuk ke Indonesia dari Selandia Baru pada tahun 1973. Aberden Anggus yang murni bersal dari Scotlandia
Ciri jenis sapi ini yaitu berbulu hitam legam, berukuran agak panjang, kriting, dan halus. Tubuh kekar, padat, rata, panjang dan ototnya kompak seperti balok. Sapi ini tidak bertanduk dan kakinya pendek. Berat sapi jantan dewasa mencapai 900 kg dan betina 700 kg. Persentase karkas sekitar 60%. Mutu daging mencapai sangat baik dan lemak menyebar dengan baik di dalam daging.

2.2. Manajemen Pemeliharaan Sapi Potong
Dalam pemeliharaan sapi potong kunci utama dalam menentukan keberhasilan adalah tertata rapinya manajemen pemeliharaan, manajemen yang harus kita kuasai dalam mendirikan perusahaan sapi potong adalah sebagai berikut :
2.2.1. Penentuan Lokasi dan Pemilihan Tipe Kandang Penggemukan
Usaha penggemukan sapi potong dengan pemberian pakan tambahan tergolong usaha penggemukan sapi intensif. Sapi terus-menerus berada di kandang tidak digembalakan atau dipekerjakan selama proses penggemukan berlangsung. Untuk itu, penyediaan kandang mutlak di lakukan oleh peternak. Kandang dan perlengkapannya, termasuk pakan dan air minum, harus sudah disiapkan sebelum bakalan sampai.
Sebelum kandang dibangun juga perlu dipertimbangkan adanya tempat pengolahan kotoran, gudang, tempat naik turunnya sapi dari kendaraan pengangkut, tempat pengeringan jerami,serta tempat pengolahan pupuk kandang dan limbah cair, dukungan masyarakat setempat, terutama izin dari kelurahan dan pemda setempat mutlak diperlakukan.


A. Memilih Lokasi yang Sesuai
Pemilihan lokasi kandang yang sesuai di antarnya dengan mempertimbangkan letak yang strategis, kondisi tanah, dan kesesuaian iklim untuk masing-masing jenis.
1. Letak yang Strategis
Peternakan sapi akan ideal jika dibangun tidak jauh dari areal persawahan, perladangan ataupun perkebunan. Lokasi peternakan juga harus memiliki sumber air bersih, baik berupa sumur permukaan ataupun sumur bor. Air ini digunakan sebagai sumber air minum, pembuatan pakan, membantu dalam proses pengomposan, dan pembersihan areal kandang.
Lokasi kandang sebaiknya cukup jauh dari tempat pemukiman agar bau dan limbah peternakan tidak mengganggu penghuni pemukiman, jarak kandang dengan pemukiman minimal 50 m. Apabila jaraknya terlalu dekat maka sebaiknya diberi tembok penghalang atau diberi pagar yang terbuat dari kayu supaya dapat menghalangi angin yang langsung dari kandang menuju pemukiman. Tempat peternakan sebaiknya juga dibangun tidak jauh dari jalan raya untuk memudahkan transportasi. Sarana jalan tersebut bisa dilalui truk atau minimal bisa dilewati oleh sapi sendiri, karena dengan demikian dapat menghemat biaya produksi.
Selain dengan melihat keadaan yang di atas dalam membangun sebuah kandang kita harus juga memperhatikan iklim atau ketinggian yang sesuai. Bangunan kandang di dataran rendah sebaiknya memiliki dinding yang terbuka untuk ventilasi karena suhunya lebih panas dibandingkan di dataran tinggi. Berkaitan dengan hal di atas maka kandang yang di dataran rendah dibangun lebih tinggi dibandingkan dengan kandang yang di dataran tinggi atau di atas pegunungan.

2. Iklim yang Sesuai
Masing-masing jenis sapi hanya cocok digemukkan pada kondisi lingkungan tertentu. Lokasi penggemukan yang sesuai untuk beberapa jenis bakalan sapi umur 2-3 tahun dan dengan berat badan > 290 kg tertera pada tabel dibawah ini.

Tabel 1. Lokasi Penggemukan yang Sesuai Untuk Beberapa Jenis Bakalan


Jenis Bakalan
Suhu (0C) dan ketinggian tempat ( M DPL)
27-34, < 25
24-29, 25-100
<> 100
1. SO/PO/ Brahman
2. Bali/ Madura
3. Simental/ Limousin/Brangus/Angus
Sangat baik
Sangat baik
Baik
Baik
Baik
Sangat baik
Jelek
Jelek
baik

3. Kondisi Tanah
Untuk membangun kandang ternak sapi sebaiknya dipilih lokasi yang berupa lahan terbuka dan tidak tertutup bangunan atau pepohonan. Lokasi kandang dipilih dengan kemiringan relatif landai dan tidak terdapat banyak gundukan atau berlubang-lubang. Lokasi peternakan dengan permukaan yang landai akan menguntungkan karena memilki akses yang memadai terhadap jalan besar sehingga memudahkan keluar masuknya kendaraan yang mengangkut keperluan peternakan.
Lokasi peternakan yang ladai juga memudahkan akses menuju sangai atau saluran drainase untuk pembangunan kelebihan air kolam pengolahan limbah.

B. Memilih Tipe Kandang
Berdasarkan penggunaannya, kandang dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu kandang koloni dan kandang individu.
1. Kandang Koloni
Kandang koloni adalah kandang yang hanya terdiri dari satu bangunan atau ruangan, tetapi digunakan untuk ternak dalam jumlah banyak. Fungsi kandang ini hanya sebagai tempat penampungan sementara (Arianto, 2005). Misalnya untuk menampung bakalan sapi yang baru datang untuk disalurkan ke kandang penggemukan atau mau dikirim ke Rumah Pemotongan Hewan (RPH), pasar hewan atau konsumen yang membutuhkan.
Gambar 1. Contoh Kandang Koloni Dalam Sistem Penggemukan

Sebuah kandang koloni yang berukuran 7 m x 9 m dapat menampung 20-24 ekor sapi. Biasanya sapi tinggal selama sekitar satu minggu di kandang koloni agar mampu beradaptasi dengan lingkungan baru.
Kandang koloni sebagai kandang penampung ini sebaiknya terletak di tempat yang strategis, misalnya di tepi jalan raya. Untuk memudahkan jalannya operasional di kandang koloni maka diusahakan jalan menuju lokasi kandang dalam keadaan landai.
2. Kandang Tunggal/ individu
Kandang tunggal adalah kandang yang hanya terdiri dari satu ruangan atau bangunan dan hanya digunakan untuk memelihara satu ekor ternak saja. Kondisi kandang ini yaitu terbuka di semua sisi.
Gambar 2. Contoh Kandang Individu Pada Penggemukan Sapi

Keuntungan menggunakan kandang tunggal untuk tempat penggemukan adalah ternak mudah jinak, tidak gampang stres, dan cepat pertumbuhannya. Keuntungan tersebut dapat tercapai kalau kondisi kandang memenuhi persyaratan kesehatan dan nyaman untuk kehidupan sapi.
Seperti persyaratan Pada kandang secara umum, kandang penggemukan ini sangat ideal jika dibangun dengan sumber air. Lantai kandang dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah di sekelilingnya dengan kemiringan 4-5 cm. Lantai kandang sebaiknya disemen agar tidak becek, mudah dibersihkan, dan cepat kering ketika disiram dengan air. Di belakang kandang dibuat saluran pembuangan untuk memudahkan pembuangan dan pembersihan kotoran.

2.2.2. Pemilihan Bakalan Untuk Digemukan
Pemilihan bakalan yang baik menjadi langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan usaha. Salah satu tolok ukur penampilan produksi sapi potong adalah petambahan berat badan harian (ADG). Penampilan produksi tersebut merupakan suatu fungsi dari faktor genetik, faktor lingkungan dan interaksi antara kedua faktor tersebut. Dengan bakalan dari genetik bermutu, peternak tinggal mengontrol keadaan lingkungan, sehingga potensi produksi tetap optimum. Meskipun sangat sulit menentukan baik buruknya mutu genetik, secara umum penampilan fisik sapi bakalan mencerminkan mutu genetiknya.
Sapi bakalan bisa diperoleh dari berbagai sumber. Di antaranya bisa pembelian langsung dari pasar ternak, impor dari luar negeri, atau pembibitan sendiri. Upaya melakukan pembibitan sendiri merupakan hal yang cukup rumit, meskipun demikian bukan hal yang tidak mungkin. Pembibitan merupakan usaha yang padat modal membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga tanpa penanganan yang serius bisa mendatangkan kerugian yang cukup banyak. Kemungkinan hal inilah yang akan ditakutkan. Akibatnya, sampai saat ini sapi bakalan belum ada yang dipasok dari perusahaan pembibitan. Padahal, jika sudah berhasil, suatu usaha pembibitan akan mendatangkan keuntungan yang cukup besar.

Kriteria Sapi Bakalan yang dapat digemukkan
1. Jenis Kelamin
Usaha penggemukan sapi potong biasanya membutuhkan sapi jantan untuk digemukkan selama 3-4 bulan. Alasannya, pada umumnya sapi jantan memiliki pertambahan berat badan harian yang lebih tinggi dari pada betina. Di samping itu, ada peraturan yang melarang tentang pemotongan hewan betina yang produktif.
2. Umur.
Sapi, seperti hewan lainnya, memiliki fase-fase dalam pertumbuhannya, yaitu fase pertumbuhan tulang, pertumbuhan jaringan otot (daging), dan pertumbuhan lemak. Secara umum, fase pertumbuhan tulang dimulai sejak lahir sampai berumur dua tahun. Fase pertumbuhan jaringan otot juga mulai terjadi sejak lahir, tetapi mencapai puncaknya pada umur 2-2,5 tahun. Setelah itu, pertumbuhan jaringan otot masih berlangsung, tetapi lajunya mulai menurun.
Berdasarkan gambaran di atas, sapi bakalan yang akan digemukkan dipilih dari sapi-sapi yang masih berumur 2-2,5 tahun. Selain pertumbuhan ternak mencapai tingkat optimum, efiesinsi terhadap pakan cukup tinggi


3. Penampilan Fisik
Secara umum, kriteria penampilan fisik sapi bakalan adalah sebagai berikut :
Badan sehat, yang diinginkan dengan sorot mata tajam, tidak kuyu, dan tidak terdapat kerusakan atau luka di bagian tubuhnya. Selain itu, kulitnya halus dan tidak bersisik
Bentuk tubuhnya proporsional, dalam posisi berdiri bagian punggung lurus, dan tubuhnya tidak cacat
Adakalanya, di pasar hewan kita menemui sapi-sapi yang terlihat masih muda, tetapi perumbuhannya tidak normal dan berat badannya lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata sapi-sapi seusianya. Sebetulnya,sapi-sapi seperti inilah yang justru sangat cepat pertumbuhannya.
2.2.3. Pakan
Usaha ternak sapi potong yang efisien dan ekonomis bisa menjadi kenyataan bila tuntutan hidup mereka terpenuhi. Salah satu tuntutan hidup sapi yang utama adalah kebutuhan pakan, di samping itu kebutuhan oksigen dan sebagainya. Dengan adanya pakan, tubuh hewan akan mampu bertahan dan kesehatan terjamin.
Dalam penggemukan sapi, pakan yang dibutuhkan adalah konsentrat, hijauan dan air. dimana jumlah pakan dan zat gizi yang diberikan sesuai dengan umur jenis, bangsa dan iklim setempat.


2.3. Penggemukan Dengan Pola Inti Plasma
Penggemukan sapi dengan Pola Inti Plasma adalah suatu penggemukan sapi dimana perusahaan Inti memberikan 10 % dari jumlah sapi yang dimilikinya kepada masyakat yang dipercayainya. Kebutuhan penggemukan kecuali kandang semuanya ditanggung oleh Inti perusahaan dan penjualan ternak juga termasuk dalam tanggung jawab perusahaan Inti.
2.3.1. Organisasi dan Pola Kerja Inti Plasma
Agar terciptanya hubungan yang baik dan harmonis antara perusahaan Inti dengan Plasma maka ada beberapa hal yang harus dilakukan :
1. Hal-Hal Dasar yang Penting
Ada beberapa kriteria dasar yang harus dipenuhi oleh unit-unit Plasma, agar usulan rencana Pola Inti- Plasma bisa berhasil. Kalau kriteria ini tidak bisa dipenuhi maka rencana kerja ini tidak perlu dilanjutkan dan seharusnya meminta dispensasi kepada Direkturat Jendral Peternakan untuk pembangunan Plasma.
ü Menaruh kepercayaan pada petani : Para petani atau pihak yang bekerjasama dengannya harus mempunyai suatu penilaian persetujuan kredit yang memuaskan apabila mereka menginginkan kerjasama dari pihak bank.
ü Para petani harus bersedia bekerja secara kelompok: Para petani Plasma harus menyetujui untuk bekerja secara berkelompok dan untuk praktisnya harus tinggal dekat dengan kandang Plasma. Perusahaan Inti tidak dapat mengantarkan konsentrat kepada masing-masing petani karena ekonomis. Dan sapi-sapi akan lebih baik bila dikandangkan secara bersama-sama supaya tidak mengalami stres
ü Lokasi kandang penggemukan harus tidak menggangu lingkungan.
ü Infrastruktur seperti sarana transportasi harus ada.
2. Tanggung Jawab Para Petani.
Para petani Plasma setuju mengikuti segala petunjuk Inti dalam hal penggemukan sapi
Ø Mengikuti instruksi dari Inti dalam hal mengelola Plasma. Bersedia bekerja dalam kelompok terutama dalam keadaan diamana petani sebagai pemilik bergabung dalam suatu kelompok.
Ø Plasma bersedia bekerja sama secara berkelompok, seperti membangun kandang, menanam hijauan. Para petani bersedia menyediakan tenaga kerja untuk memberi makan dan memlihara sapi termasuk keamanan, dengan melakukan kerja kelompok sekitar 2-3 orang maka pekerjaan akan terasa ringan.
Ø Plasma harus memberi laporan kepada Inti setiap ada masalah besar seperti sapi mati atau sakit.
3. Tanggung Jawab Inti
v Urusan biaya, karantina, sapi Plasma dan seleksi sapi yang baik.
v Bila dianggap perlu membantu Plasma dalam pengaturan keuangan.
v Pengangkutan sapi dan pakan konsentrat ke Plasma dan sapi dari Plasma ke pasar.
v Pembagian keuntungan antara Inti dan Plasma. Pembagian keuntungan tergantung dari besarnya dana yang telah dikeluarkan oleh Inti dan oleh para petani Plasma serta sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan sebelumnya oleh kedua belah pihak.

Gambar 3. Struktur Organisisasi PIR Penggemukan Sapi Potong
Dinas Peternakan
Tingkat I
Dinas Peternakan
Tingkat II
Petugas Dari
Feedlotter
Petugas Peternakan Kecamatan
KUD
Peternak Plasma PIR Penggemukan
















2.3.2. Fasilitas Kandang Dalam Penggemukan
Agar penggemukkan sapi dapat berjalan lancar dalam penggemukan Pola Inti Plasma, maka hal-hal yang harus dipenuhi pada fasilitas kandang adalah :
Kebutuhan Utama
Sumber air
Luas kandang harus cukup minimum 3 m2, tetapi dalam praktek 4 m2 ( kalau beton)
Kalau tidak beton minimum luas kandang 10 m2 perekor
Kemiringan ( lokasi sedikit menurun dengan kemiringan tertentu)
Sumber makanan hijauan dekat kandang (Rumput gaja, king grass dan lain-lain)
Ruang dan ventilasi

Fasilitas Tambahan
Tempat untuk bongkar muatan sapi
Kandang paksa
Gang jepit
Lokasi timbangan
Tempat makan
Bak air
Gudang untuk konsentrat.

2.3.3. Seleksi Sapi Bakalan
Sebelum sapi diserahkan kepada petani Plasma, maka perusahaan Inti harus memberikan sapi yang memenuhi standar untuk digemukkan oleh petani Plasma, kriteria tersebut adalah sebagai berikut :

1. Kandungan darah bos Indicus 60 %
Daerah-daerah beriklim sedang, sapi berdarah bos Taurus cocok untuk digemukkan. Di daerah beriklim panas dibutuhkan sapi berdarah bos Indicus. Tanpa darah bos indicus sapi akan banyak mengalami stres dan tidak mencapai pertambahan berat badan normal. Di Indonesia karena rata-rata beriklim panas maka sapi yang cocok adalah sapi berdarah bos Indicus
2. Berat badan 350 kg
Berat badan sapi saat di import harus sesuai peraturan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Peternakan. Plasma akan menerima sapi yang telah di karantina selama 14 hari dengan rata-rata kenaikan berat 14 kg dengan berat awal minimal 350 kg.
3. Jenis kelamin
Pilihlah sapi jantan yang sudah dikebiri. Pada berat badan yang sama tukang jagal (RPH) lebih memilih sapi jantan daripada memilih sapi betina karena sapi jantan memberikan persentase daging yang lebih baik. Pertumbuhan sapi-sapi betina lebih cepat tetapi akan lebih banyak membentuk lemak dibawah kulit yang harus dipotong dan dibuang sebelum dijual oleh jagal.
4. Sapi tanpa tanduk
Pilihlah sapi yang tidak bertanduk. Sapi-sapi bertanduk hanya akan mengakibatkan luka-luka dan memar.
5. Kesehatan.
Jangan memberikan sapi yang mempunyai luka, bengkak, memar atau sapi yang pincang.

6. Berperangai baik
Jangan memilih sapi liar atau sapi sudah dikebiri tetapi masih menaiki sapi lain ( Rumpers) sebab tindakan ini bisa menimbulkan memar pada sapi yang ditunggangi.
7. umur antara 18 hingga 30 bulan
Sapi dengan kisaran umur 18 hingga 30 bulan mudah memberi angka konversi makanan yang lebih baik.
8. Kondisi badan
Sapi yang cocok untuk digemukkan lebih tergantung kepada berat badan dan kondisi badan. Sistem yang dianut untuk menentukan skor ketebalan lemak badan berkisar antara angka 1 sampai 4 dan dilkukan dengan tekanan ibu jari pada sapi di daerahh atas iga pendek dan pada pangkal ekor.
2.3.4. Kebutuhan Air
a. Kuantitas Air
Tempat air minum berukuran 2- 2,5 m panjang, cukup untuk memberi minum 150 ekor. Sapi membutuhkan kira-kira 40 liter air untuk minum dalam satu hari, tergantung dari berat badan sapi. Kebutuhan maksimum ialah 1 leter per 10 kg berat badan ( biasanya 10 % dari berat badan). Sapi jantan dikebiri berat 350 kg dapat mengkonsumsi 50 liter air pada waktu panas. Konsumsi air juga tergantung dari jenis makanan.
b. Kebersihan air.
Untuk menjaga kebersihan bak air maka secara rutin membersihkan bak air, maka dari hal itu dibutuhkan banyak air, kegiatan ini sebaiknya dilakukan dua kali dalam satu minggu. Hindari bahan pakan masuk kedalam bak sebab kalau banyak pakan yang masuk ke dalam bak penampung akan menyebabkan bak penampungan air berjamuran.
Apabila tempat-tempat minum ini terletak di temapat yang teduh dan mudah diisi air, maka harus ada tanki besar yang gampang diisi. Dengan demikian tempat minum tidak terlalu dalam agar mudah dalam membersihkannya.
2.3.5. Jumlah Kebutuhan dan Zat Makanan
a. Jumlah Makanan yang Dibutuhkan
Sapi mengkonsumsi sekitar 2,5 % bahan kering dari berat badan sapi. Dengan meningkatnya berat badan sapi maka jumlah bahan pakan semakin banyak pula. Harga konsentrat cukup mahal, sehingga dibutuhkan kehati-hatiannya dalam menentukan jumlah makanan yang diberikan.
b. Zat Makanan yang Dibutuhkan
Mutu suatu ransum sangat tergantung dari jumlah dan keseimbangan zat-zat makanan yang dapat dicerna yang terkandung di dalam ransum. Konsentrat yang baik adalah 70 % dari jumlah energi yang terdapat di dalam bahan kering dapt dicerna, zat-zat makanan yang sangat dibutuhkan oleh ternak adalah :
v Energi dan lemak
v Protein
v Mineral dan Vitamin
v Serat kasar
III. METODE PELAKSANAAN
3.1. Waktu dan Tempat
Kegiatan Praktek Kerja Pengalaman Mahasiswa (PKPM) ini berlangsung pada tanggal 5 April sampai dengan 6 Mei 2008. Yang berada di lokasi peternakan sapi potong PT. Kadila Lesatari Jaya, Cijapati Bandung Jawa Barat.
3.2. Alat dan Bahan
Dalam pemeliharaan penggemukan sapi potong di PT. Kadila Lesatari Jaya alat dan bahan yang digunakan sehari-hari adalah :
v Konsentrat
v Hijauan
v Ampas bir
v Air
v Timbangan
v Karung
v Sekop
v Colt diesel
v Gerobak
v Keranjang rumput

3.3. Metode
Metode yang dilakukan dalam praktek kerja lapang adalah praktek dengan kerja langsung di lapangan dan pengumpulan data. Kegiatan dilapangan meliputi kegiatan rutin di peternakan PT. Kadila Lestari Jaya Cijapati Bandung Jawa Barat dengan pelaksanaan yang sudah diterapkan setiap harinya, yaitu pemberian pakan, pembersihan kandang pengolahan pakan dan lain-lain.
Metode yang dilakukan dalam Praktek Kerja Pengalaman Mahasiswa, Mahasiswa melakukan kegiatan mengikuti Prosedur yang telah ditetapkan oleh pihak perusahaan, prosedur tersebut adalah :
· Minggu pertama pada unit ternak (Feedlot)
· Minggu kedua Pada pengolahan konsentrat/pakan (feedmil)
· Minggu ketiga pada unit kesehatan hewan (keswan)
· Minggu keempat pada pengolahan limbah (tapos)

Sedangkan metode yang dilakukan dalam Praktek Kerja Pengalaman Mahasiswa untuk di Plasma adalah :
· Pengumpulan data primer dan,
· Pengumpulan data sekunder.
3.3.1. Pengumpulan Data Primer
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam pengumpulan data primer ini adalah Mahasiswa langsung terjun ke penggemukan Plasma dan mengikuti apa yang diinstruksikan oleh Supervisor lapangan, hal-hal yang dilakukan adalah pelaksanaan kegiatan rutin harian dan pelaksanaan rutin mingguan.
A. Kegiatan Rutin Harian.
Jadwal kegiatan yang rutin dilakukan setiap hari di Plasma adalah sebagai berikut

a. Pukul 08-09.00 mendistribusikan bahan pakan berupa konsentrat dari gudang pakan di perusahaan Inti ke kelopok-kelompok tani Plasma. Alat yang digunakan dalam pengangkutan konsentrat ini adalah mobil truk satu buah.
b. Pukul 09.00-10.00 pendistribusian bahan pakan berupa hijauan ke kelompok petani Plasma
c. Pukul 13.00-14.00 juga dilakukan pendistribusian bahan pakan konsentrat kembali ke kelompok-kelompok Plasma.
d. Dan pukul 15.00 - sampai selesai, dilakukan pendistribusian hijauan untuk pakan sore hari.
B. Kegiatan Rutin Mingguan
Pada kelompok kegiatan mingguan ini, seluruh kelompok petani Plasma dikumpulkan pada hari Minggu di dalam suatu ruangan milik Plasma (Aula), disini kegiatan-kegiatan yang dilakukan berupa penyuluhan tentang peternakan, masalah dan kendalah yang dihadapi kelompok petani Plasma terhadap ternaknya, dan manajemen pembinaan keluarga petani Plasma.
Dalam kegiatan rutin mingguan ini, yang telah dilakukan dan nampak keseharian yang diterapkan masyarakat petani Plasma adalah tentang penerapan penyuluhan peternakan, yaitu pembuatan biogas untuk sekala ruma tangga. Mereka telah membuat biogas untuk ruma tangga mereka masing-masing dan kini meraka benar-benar menggantikan bahan bakar dari Pertamina beralih kelimbah peternakan Plasma.
Juga yang telah berhasil adalah mereka berani mengungkapkan masalah apa yang terjadi pada Plasma, seperti maslah penyakit sapi, sapi tidak mau makan dan masalah pengolahan limbah dan yang lainnya. Dari segi manajemen pembinaan keluarga mereka ditugaskan untuk membuat koperasi kelompok Plasma yang berupa koperasi simpan pinjam.
3.3.1. Pengumpulan Data Sekunder
Metode yang dilakukan dalam pengumpulan data sekunder ini adalah Mahasiswa mengupulkan data-data Plasma yang tidak dikerjakan dan tidak didapati sewaktu Praktek Kerja Pengalaman Mahasiswa, untuk diolah dan dianalisa. Data-data yang dicari pada pengumpulan data sekunder adalah: berat awal sapi, berat akhir sapi, PBB/hari, jumlah pakan yang dihabiskan, konversi ransum dan Efisiensi Penggunaan Pakan (EPP).

3.4. Parameter
Tolok ukur keberhasilan yang diharapkan pada kelompok petani Plasma ini adalah tercapainya pertambahan bobot badan harian pada penggemukan sapi yang dipeliharanya masing-masing kelompok sesuai dengan standar. Standar yang menjadi patokan disini adalah apabila ADG perhari mendekati 1.0 atau lebih hal ini kalau tidak tercapai maka keuntungan bagi petani Plasma sangat sedikit bahkan rugi.
Juga yang menjadi patokan keberhasilan dalam Plasma ini adalah terciptanya kesejahteraan keluarga. Keluarga menjadi sejahtera dan mandiri dalam berbagai bidang kegiatan, baik ekonomi, sosial dan politik sebab selain memberikan materi berupa mata pencaharian, pihak perusahaan Kadila lestari Jaya memberikan sebua pendidikan melalui binaan mingguan kelompok petani Plasma.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
PT. Kadila Lestari Jaya mempunyai penggemukan sapi Pola Inti Plasma, dimana pada saat ini perusahaan telah memberikan sapi untuk digemukkan kepada peternak Plasma sebanyak 415 ekor dengan jumlah kelompok Plasma sebanyak 35 kelompok. Bangsa sapi yang diberikan untuk kelompok Plasma untuk digemukkan adalah Brahman Cross yang dara (Hfr BX). Dari hasil penggemukkan sapi Brahman Cross yang dilakukan oleh peternak plasma didapatkan rata-rata pertambahan berat badan hariannya (ADG) adalah 1,1 kg. Nama kelompok peternak plasma , Average Daily Gein (ADG), pakan yang dihabiskan dan berat akhir pemeliharaan ( panen ) pada pemeliharaan sapi Pola Inti Plasma PT. Kadila Lestari Jaya dapat dilihat pada Tabel 2 .

Tabel 2. Berat Badan Sapi Brahman Cross, ADG, Konsumsi Ransum Peternak Plasma

No
Nama Kelompok
Jumlah Sapi
Berat Awal
Berat Panen
DOF
ADG
Total CF kg
CF Harian
1
H.Apud 1
8
2.303
3.033
90
1,01
10.706
14,87
2
H.Apud 2
18
4.865
6.524
90
1.02
25.532
15,76
3
Ibu Lilis
14
3.863
5.017
90
0.91
18.038
14.32
4
Dilar
13
3.664
4.732
90
0.91
18837
1610
5
Deden
12
3.424
4.545
90
1.04
17.641
16.33
6
Tayat
12
3.496
4.561
90
0.98
16.092
14.90
7
Tarpu
10
2.450
3.334
90
0.98
12815
14,24
8
Idi
12
2.782
3.898
90
1.03
15.380
14.24
9
Soma
10
2.288
3.176
90
0.98
15.635
17,39
10
Irin
9
2.596
3.269
90
0,83
10.140
12,54
11
Ceme 1
9
2.029
2.762
90
0.97
9.578
11,82
12
Induk
14
3.476
4.692
90
0,96
17.944
14,24
13
Kiki1
17
4.136
5.866
90
1.13
22.408
14,65
14
Kiki 2
18
4.143
6.020
90
1,15
23.780
14.68
15
Kiki 3
10
4.773
6.410
90
0.94
27.730
15.41
16
Bumdes 1
25
7.044
9.184
90
0.98
34.514
15.34
17
Bumdes 2
10
2.849
3.769
90
1.02
13.197
14.66
No
Nama Kelompok
Jumlah Sapi
Berat Awal
Berat Panen
DOF
ADG
Total CF kg
CF Harian
18
Nanang
11
3.162
4.037
90
0.88
14.396
14.54
19
Entoh
13
3.770
5.062
90
1.1
17.369
14.85
20
Ceme 2
7
2.097
2.959
90
1,36
10.230
16.24
21
Iro
9
2.577
3.424
90
1,04
11.258
13,90
22
Damu
12
3.432
4.676
90
1,15
17,584
16,28
23
H. Salim
13
3.779
5.130
90
1,15
17.723
15.15
24
Asep
8
2.337
3.075
90
1,02
10.824
15.03
25
Eden.S
7
1.964
2.265
90
1,1
10.385
16,48
26
Kanda
10
2.592
3.454
90
0,95
13.620
15.13
27
Pepe
7
1.876
2.568
90
1,09
10,268
16,33
28
Kahmud
9
1.876
3.294
90
1.03
13.060
16,12
29
Rohanda
10
2.703
3.662
90
1,06
14.886
16,54
30
Mahri
8
1.919
2.654
90
1,02
10,260
14,25
31
Adang
13
3.514
4.913
90
1.19
18.923
16,17
32
H.Makmu
10
2.547
3.597
90
1.16
14.171
15,75
33
H.Taryana
18
5,089
6.785
90
1,04
26.007
16,05
34
Isro
8
2.101
2.812
90
0.98
10.141
14,08
35
Udir
11
3.070
4.293
90
1,23
17.410
17,59
Jumlah
415
111164
149852


568519

Laporan Hasil Panen Sapi Plasma 2007

Sedangkan pertambahan bobot badan pada bangsa sapi yang sama , untuk perusahaan Inti pada perusahaan Kadila lestari Jaya dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 3. Pertambahan Berat Badan Untuk Penggemukan Inti Perusahaan
No
Bangsa
Jenis
Berat awal
Berat akhir
DOF
PBB/90Hari
ADG
1
Bx
Heifer
298
379
90
81
0,90
2
Bx
Heifer
299
391
90
92
1,02
3
Bx
Heifer
290
383
90
93
1,03
4
Bx
Heifer
306
404
90
98
1,09
5
Bx
Heifer
315
424
90
109
1,21
6
Bx
Heifer
294
403
90
109
1,21
7
Bx
Heifer
269
379
90
110
1,22
8
Bx
Heifer
305
416
90
111
1,23
9
Bx
Heifer
316
431
90
115
1,28
10
Bx
Heifer
277
395
90
118
1,31
11
Bx
Heifer
274
397
90
123
1,37
12
Bx
Heifer
276
400
90
124
1,38
13
Bx
Heifer
291
418
90
127
1,41
14
Bx
Heifer
146
377
90
131
1,45
15
Bx
Heifer
295
431
90
136
1,51
16
Bx
Heifer
307
446
90
139
1,54
No
Bangsa
Jenis
Berat awal
Berat akhir
DOF
PBB/90Hari
ADG
17
Bx
Heifer
284
429
90
145
1,61
18
Bx
Heifer
271
426
90
155
1,72
19
Bx
Heifer
306
453
90
147
1,63
20
Bx
Heifer
299
449
90
150
1,67
21
Bx
Heifer
317
470
90
153
1,70

4.2. Pembahasan
4.2.1. Prestasi ADG (Average Daily Gain)/ Kenaikan Berat Badan Harian
Berdasarkan Tabel nomor 3 dan 4 pertambahan berat badan harian antara perusahaan Inti dengan Plasma terdapat perbedaan, dimana pertambahan berat badan harian (ADG) pada perusahaan Inti adalah 1,35 kg/hari sedangkan pada kelompok peternak Plasma adalah 1,1 kg/hari. Perbedaan dari pertambahan berat badan harian (ADG) pada perusahaan Inti dengan peternak plasma dengan metode pemeliharan yang sama hal ini disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah :
1. Pada perusahaan Inti pakannya diberi ampas bir sebanyak 1 kg/hari, sedangkan pada Plasma sama sekali tidak diberi ampas bir, hal ini disebabkan oleh kurangnya persediaan ampas bir, padahal ampas bir menandung TDN 65%, PK 25% dan BK 22%
2. Pada perusahaan Inti setiap kandang satu kandang diawasi satu orang Supervisor, sedangkan pada Plasma tidak ada Supervisor kandang yang menjaga setiap hari
Lamanya penggemukan pada PT . Kardila Lestari dan peternak Plasma adalah 90 hari, seperti yang tertera pada Tabel 2 dan 3, akan tetapi patokan lama penggemukan ini tidak baku, tergantung pada kondisi sapi, mutu dan kualitas pakan, jenis dan bangsa serta jenis kelamin dan kondisi pasar. Hal ini sesuai dengan pendapat Parakkasi (1995) , bahwa lama pemeliharaan waktu penggemukkan bukan merupakan sesuatu patokan yang bersifat mutlak, karena faktor ekonomi (situasi persediaan pakan dan permintaan konsumen) dapat mengubah patokan lamanya pemeliharaan. Ditambahkan oleh Sugeng (2000), bahwa lama penggemukaan pada setiap sistem penggemukan berbeda-beda tergantung pada umur sapi, mutu dan kualitas pakan dan jenis atau bangsa sapi dan jenis kelamin.
Dari Tabel 2 dan 3 terlihat dengan pemberian konsentrat 80% dengan hijauan 20% didapatkan ADG nya 1.35 pada perusahaan inti dan ADG 1.1 pada peternak Plasma.
4.2.2. Analisa Finansial Peternakan Plasma
Pada perusahaan penggemukan sapi potong Kadila Lestari Jaya, Plasma yang didirikannya merupakan tanggung jawab dari perusahaan baik itu penyediaan bakalan, pakan dan kesehatan. Yang bukan termasuk tanggung jawab perusahaan adalah kandang. Bahan pakan ( konsentrat dan hijauan) dijual perusahaan kepada Plasma dengan harga 720/kg subsidi Rp.100 jadi harga pakan 620.
Sedangkan harga bakalan dijual kepada Plasma dengan harga Rp.16.900/kg dan dibeli lagi dari Plasma seharga 16.500/kg. Tujuan dari sistem ini adalah untuk mengatasi kendala-kendala yang tidak diinginkan seperti sapi mati akibat penyakit yang bukan kesalahan peternak Plasma Sehingga untuk membeli kembali sapi tidak mengambil uang kas perusahaan Inti.
ANALISA PENDAPATAN KELOMPOK PLASMA
Tabel 4. Data Harga Pakan, Harga Beli Bakalan, Harga Panen Dan Lama Pemeliharaan.

No
Keterangan
Satuan
Harga/Satuan (Rp)
1
Harga pakan(hijauan + konsentrat)
Kg
620
2
Harga sapi bakalan
Kg
16.900
3
Harga sapi panen
Kg
16.500

Tabel 5. Analisa Pendapatan Pelasma
No
N.kelompok
B.awal
B.akhir
kunsumsi
By.Pakan
By.Bakalan
Harga panen
Pendapatan
Pdptn/Harian
1
H.Apud 1
2,303
3,033
10,706
6,637,720
38,920,700
50,044,500
4,486,080
49,845
2
H.Apud 2
4,865
6,524
25,532
15,829,840
82,218,500
107,646,000
9,597,660
106,641
3
Ibu lilis
3,863
5,017
18,038
11,183,560
65,284,700
82,780,500
6,312,240
70,136
4
Dilar
3,664
4,732
18,837
11,678,940
61,921,600
78,078,000
4,477,460
49,750
5
Deden
3,423
4,545
17,641
10,937,420
57,848,700
74,992,500
6,206,380
68,960
6
Tayat
3,496
4,561
16,092
9,977,040
59,082,400
75,256,500
6,197,060
68,856
7
Tarfu
2,450
3,334
12,815
7,945,300
41,405,000
55,011,000
5,660,700
62,897
8
Idi
2,782
3,898
15,380
9,535,600
47,015,800
64,317,000
7,765,600
86,284
9
Soma
2,288
3,176
15,654
9,705,480
38,667,200
52,404,000
4,031,320
44,792
10
Irin
2,596
3,269
10,140
6,286,800
43,872,400
53,938,500
3,779,300
41,992
11
Ceme 1
2,029
2,764
9,578
5,938,360
34,290,100
45,606,000
5,377,540
59,750
12
Induk
3,476
4,692
17,944
11,125,280
58,744,400
77,418,000
7,548,320
83,870
13
Kiki1
4,136
5,866
22,408
13,892,960
69,898,400
96,789,000
12,997,640
144,418
14
kiki 2
4,143
6,020
23,780
14,743,600
70,016,700
99,330,000
14,569,700
161,886
15
kiki 3
4,773
6,410
27,730
17,192,600
80,663,700
105,765,000
7,908,700
87,874
16
Bumdes 1
7,044
9,184
34,514
21,398,680
119,043,600
151,536,000
11,093,720
123,264
17
Bumdes 2
2,849
3,769
13,197
8,182,140
48,148,100
62,188,500
5,858,260
65,092
No
N.kelompok
B.awal
B.akhir
kunsumsi
By.Pakan
By.Bakalan
Harga panen
Pendapatan
Pdptn/Harian
18
Nanang
3,162
4,037
1,439
892,180
53,437,800
66,610,500
12,280,520
136,450
19
Entoh
3,770
5,067
17,369
10,768,780
63,713,000
83,605,500
9,123,720
101,375
20
Ceme2
2,097
2,959
10,230
6,342,600
35,439,300
48,823,500
7,041,600
78,240
21
Iro
2,577
3,424
11,258
6,979,960
43,551,300
56,496,000
5,964,740
66,275
22
H.Salim
3,779
5,130
17,723
10,988,260
63,865,100
84,645,000
9,791,640
108,796
23
Damu
3,432
4,674
17,548
10,879,760
58,000,800
77,121,000
8,240,440
91,560
24
Asep
2,337
3,075
10,824
6,710,880
39,495,300
50,737,500
4,531,320
50,348
25
Eden.S
1,964
2,657
10,385
6,438,700
33,191,600
43,840,500
4,210,200
46,780
26
Kanda
2,592
3,454
13,620
8,444,400
43,804,800
56,991,000
4,741,800
52,687
27
Pepe
1,876
2,568
10,268
6,366,160
31,704,400
42,372,000
4,301,440
47,794
28
Kahmud
2,454
3,294
13,060
8,097,200
41,472,600
54,351,000
4,781,200
53,124
29
Rohanda
2,704
3,662
14,886
9,229,320
45,697,600
60,423,000
5,496,080
61,068
30
Mahri
1,919
2,657
10,260
6,361,200
32,431,100
43,840,500
5,048,200
56,091
31
Adang
3,514
4,913
18,926
11,734,120
59,386,600
81,064,500
9,943,780
110,486
32
H.Makmun
2,547
3,597
14,171
8,786,020
43,044,300
59,350,500
7,520,180
83,558
33
H.Taryana
5,089
6,785
26,007
16,124,340
86,004,100
111,952,500
9,824,060
109,156
34
Isro
2,101
2,812
10,141
6,287,420
35,506,900
46,398,000
4,603,680
51,152
35
Udir
3,070
4,293
17,410
10,794,200
51,883,000
70,834,500
8,157,300
90,637









Dari tabel analisa pendapatan masyarakat Plasma di atas dapat disimpulkan bahwa pendapatan masyarakat petani Plasma rata-rata diatas Upah Minimun Relatif (UMR). Dimana UMR kini untuk wilayah bandung dan sekitarnya Rp.30.000/hari, sedangkan penghasilan petani yang tertera pada Tabel. 5 diatas Rp.40.000. disamping pekerjaan
4.2.3. Analisa Konversi Pakan Untuk Peternak Plasma
Konversi pakan merupakan perbandingan antara berat kering pakan yang dikonsumsi berbanding dengan pertambahan berat badan persatuan waktu.
KP = Konsumsi Pakan Dalam Bahan Kering (BK)
Pertambahan Berat Badan

Sedangkan bahan pakan yang digunakan dalam penggemukan sapi Plasma Kadila Lestari Jaya ada 2 macam, yaitu konsentrat dan hijauan. Konsentrat terdiri dari berbagai bahan penyusun diantaranya adalah kulit kopi, dedak, Rumput laut, onggok, tongkol jagung, bungkil kedelai, bungkil kelapa dan bahan mineral yang lainnya. Sedangkan hijauan yang digunakan adalah rumput raja dan jerami jagung, dimana kandungan bahan keringnya adalah 28% (analisa labor KLJ No 0119801005052008). Perbandingan pemberian antara konsentrat degan hijauan adalah 80%:20%, perbandingan ini berdasarkan berat bahan pakan. Kemampuan. Untuk mengetahui konversi pakan, berat kering hijauan dan jumlah bahan kering yang dihabiskan ternak dapat dilihat pada Tabel 5 dibawah ini.





Tabel 6. Jumlah Pakan Segar, Berat Kering yang Dihabiskan dan Konversi pakan.


No
Nama Kelompok
J. Sapi
J.Pkn.
Hbs(kg)
BK Hijauan (kg)
J.BK (kg)
ADG
Konsumsi BK/H/Ekor
KP

1
H.Apud 1
8
10,706
600
9,164
1.01
12.73
12.6
2
H.Apud 2
18
25,532
1,430
21,855
1.02
13.49
13.2
3
Ibu lilis
14
18,038
1,010
15,441
0.92
12.25
13.4
4
Dilar
13
18,837
1,055
16,124
0.91
13.78
15.1
5
Deden
12
17,641
988
15,101
1.04
13.98
13.5
6
Tayat
12
16,092
901
13,775
0.99
12.75
12.9
7
Tarfu
10
12,815
718
10,970
0.98
12.19
12.4
8
Idi
12
15,380
861
13,165
1.03
12.19
11.8
9
Soma
10
15,654
877
13,400
0.99
14.89
15.1
10
Irin
9
10,140
568
8,680
0.83
10.72
12.9
11
Ceme 1
9
9,578
536
8,199
0.91
10.12
11.2
12
Induk
14
17,944
1,005
15,360
0.97
12.19
12.6
13
Kiki1
17
22,408
1,255
19,181
1.13
12.54
11.1
14
kiki 2
18
23,780
1,332
20,356
1.16
12.57
10.8
15
kiki 3
10
27,730
1,553
23,737
1.82
26.37
14.5
16
Bumdes 1
25
34,514
1,933
29,544
0.95
13.13
13.8
17
Bumdes 2
10
13,197
739
11,297
1.02
12.55
12.3
18
Nanang
11
14,396
806
12,323
0.88
12.45
14.1
19
Entoh
13
17,369
973
14,868
1.11
12.71
11.5
20
Ceme2
7
10,230
573
8,757
1.37
13.90
10.2
21
Iro
9
11,258
630
9,637
1.05
11.90
11.4
22
H.Salim
12
17,723
992
15,171
1.25
14.05
11.2
23
Damu
13
17,548
983
15,021
1.06
12.84
12.1
24
Asep
8
10,824
606
9,265
1.03
12.87
12.6
25
Eden.S
7
10,385
582
8,890
1.10
14.11
12.8
26
Kanda
10
13,620
763
11,659
0.96
12.95
13.5
27
Pepe
7
10,268
575
8,789
1.10
13.95
12.7
28
Kahmud
9
13,060
731
11,179
1.04
13.80
13.3
29
Rohanda
10
14,886
834
12,742
1.06
14.16
13.3
30
Mahri
8
10,260
575
8,783
1.03
12.20
11.9
31
Adang
13
18,926
1,060
16,201
1.20
13.85
11.6
32
H.Makmun
10
14,171
794
12,130
1.17
13.48
11.6
33
H.Taryana
18
26,007
1,456
22,262
1.05
13.74
13.1
34
Isro
8
10,141
568
8,681
0.99
12.06
12.2
35
Udir
11
17,410
975
14,903
1.24
15.05
12.2
Keterangan :
J.Sapi : Jumlah Sapi Kelmpok
J.Pkn.Hbs : Jumlah Pakan yang Dihabiskan Setiap Kelompok
BK Hijauan : Bahan Kering Hijauan yang Dihabiskan
J.BK. : Jumlah BK Pakan yang Dihabiskan Selama Penggemukan
ADG : Pertambahan Bobot Badan Harian
Kons.BK/H/e : Konsumsi BK/Hari/Ekor
KP/kg : Konversi Pakan dalam kg
Berdasarkan kenaikan berat badan dan kemampuan mengkonsumsi pakan terlihat pada Tabel. 6 bahwa sapi mempunyai pertambahan berat badan yang tinggi memiliki konversi pakan yang baik yaitu sapi pada kelompok Ceme 2 yaitu dengan pertambahan bobot badan 1,37 maka konversi ransumnya adalah 10,2. Ini artinya untuk mendapatkan daging satu kg dibutuhkan bahan kering pakan sebanyak 10,2 kg. Hal ini sesuai dengan pendapat Bogart (1959), bahwa semakin rendah nilai konversi pakan maka semakin efisien ternak mengubah pakan yang dikonsumsi. Pada penggemukan sapi Plasma Kadila Lestari Jaya konversi pakan perekor rata-rata 13,39.


V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan Praktek Kerja Pengalaman Mahasiswa (PKPM) dengan judul PENGGEMUKAN SAPI AUSTRALIA UNTUK PETERNAK DI SEKITAR PERUSAHAAN DENGAN POLA INTI PLASMA PADA PERUSAHAAN KADILA LESTARI JAYA CIJAPATI BANDUNG dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Dengan penggemukan sapi sistem Pola Inti Plasma dapat menciptakan lapangan kerja yang akan mengurangi pengangguran
2. Juga dengan adanya penggemukan sistem Pola Inti Plasma ini kita dapat membina masyarakat sehingga bisa mengarahkan kehidupan petani kearah yang lebih maju
5.2. Saran
1. Diharapkan kepada para pengusaha untuk membantu para yang ekonomi relatif lemah dengan cara penggemukan sapi Pola Inti Plasma, sebab disamping mendapatkan pengahasilan, juga para petani yang ekonomi lemah dapat terbantu.
2. Juga diharapkan kepada pengusaha apabila telah terbentuk petani Plasma jangan lupa memberikan pendidikan terhadap mereka.





Daftar Pustaka
Sugeng, Bambang. 2002. sapi potong. Penebar swadaya. Jakarta

Sarwono, B. 2005. penggemukan sapi potong secara cepat. Penebar swadaya. Jakarta

Abidin, Zainal. Penggemukan Sapi Potong. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Lampiran 1
Dena kandang plasma pada perusahaan Kadila Leatari Jaya


















Keterangan :

= Lokasi Plasma
= Perusahaan inti
= Pintu Gerbang

LAMPIRAN 2 foto kegiatan PKPM


1. konstruksi kandang plasma


2. Distribusi pakan ke kandang plasma

3. bahan pakan yang digunakan dalam penggemukan.



4. jenis sapi yang digemukkan di plasma

5. Kandang koloni pada perusahaan inti


6. Distribusi pakan pada perusahaan inti

Link ke posting ini Email this post

Kritera pemimpin yang baik untuk Indonesia

Selasa, 15 Juli 2008

Sebentar lagi akan muncul suatu pertarungan bagi masyarakat Indonesia, yaitu akan menentukan siapa yang akan menduduki tonggak pemerintahan bangsa yang kaya akan sumber daya alam ini. Kita sebagai masyarakat Indoesia harus cerdas dan teliti siapa yang akan kita pilih yang mewakili kita nantinya, jangan tergiur dan tertipu dengan tipu daya para orang-orang licik, jangan mau tertipu dengan janji-janji yang tanpa bukti. Kita mestinya berfikr cerdas terhadap masalah ini, agar yang mejadi pemimpin bagi kita benar-benar memperhatikan ummat.
Lalu bagai mana sebaiknya cara kita memilih pemimpin bangsa kita, caranya adalah sebagai berikut :
Ø Pilih orang yang taat terhadap agamanya
Ø Pilih yang bukan orang-orang lama
Ø Pilih calon wakil kita yang mencintai kita
Ø Tahu tentang urusan pemerintahan
Ø Pilih yang tidak cacat
Ø Pilih yang berpendidikan
Insyaallah kalau kita pilih wakil kita seperti dengan poin diatas negeri ini akan kembali jaya dan bahagia, amin.
Wasalam
Marhen Harjono
081374294860

Link ke posting ini Email this post

riwayat hidup

BIBLIOGRAPI

Penulis dilahirkan di sebua desa yang terpencil yaitu Desa Muara Danau Kecamatan Seginim Kabupaten Bengkulu Selatan Provinsi Bengkulu, tepatnya pada Tanggal, 12 Desember 1986,

dilahirkan dari pasangan ayahanda Wais dan Ibu Darima. Penulis merupakan anak ke tiga dari empat saudarah. Saudara pertama Haitin Martono, yang ke dua Rahimin Harno dan saudara perempuan Limi Hirtini merupakan satu-satunya saudara perempuan.
Kini penulis telah melewati beberapa jenjang pendidikan, pendidikan tersebut adalah :
Pendidikan Sekolah Dasar (SD) tamat pada tahun 1999.
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 1 Seginim Tahun 2002.
Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) Negeri 1 Kota Manna Tahun 2005
Dan insyaallah pada tanggal 28 Agustus 2008 akan menyandang gelar sarjana muda Ahli Madya Peternakan Politeknik Pertanian Universitas Andalas
Selama menjalani masa dunia pendidikan baik itu waktu dipanggil Siswa atau Mahasiswa penulis banyak mengikuti berbagai organisasi, tapi yang paling banyak organisasi diikuti adalah ekstrakampus seperti : KAMMI, Tim Kepanduan dan organisasi Parpol. “Apakah ada perkataan yang lebih baik dari pada mengajak kepada jalan Allah (dakwa) ?, untuk lebih aman dan nyaman berdakwa ini mari kita pikul dakwa tersebut dipundak kita dengan mengendarai organisai berasaskan islam yang benar”. Kata-kata inilah yang membuat penulis sangat giat di dalam mengikuti organisasi dan Parpol yang di luar kampus.

Link ke posting ini Email this post

Wisuda Politani

Para Pemirsa...
Alhamdulillah aku sudah lulus kompre dan akan di wisuda bulan oktober 2008...

Link ke posting ini Email this post

Biodata

nama marhen harjono alamat desa seginim kabupaten bengkulu selatan. sekarang mahasiswa politeknik pertanian universitas andalas.

Link ke posting ini Email this post

Design by Amanda @ Blogger Buster