pengaruh pemberian rock poshphat terhadap pertumbuhan stylosanthes goyonenshes

Rabu, 18 November 2009





PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam rangka mengembangkan ternak ruminansia tidak jarang dijumpai dilema. Hal ini berlaku dalam bidang pakan ternak ruminan yang bersaing dengan kebutuhan manusia maupun ternak lainnya, terutama kebutuhan pakan konsentrat yang merupakan sumber protein dan energi. Persaingan yang terus menerus tanpa ada alternatif pemecahan akan mengakibatkan kerugian bagi yang berkepentingan yaitu petani peternak. Oleh sebab itu salah satu jalan keluar seyogianya memilih tanaman hijauan legum yang kaya akan protein, mineral dan calsium (Ca) dibanding hijauan lainnya. Dilain pihak legum dapat sebagai pelindung tanaman lain, penutup tanah, menyuburkan tanah dan mencegah terjadinya erosi. Sebagaimana telah diketahui, pada akar tanaman legum terdapat bintil-binti akar yang mengandung bakteri rizhobium, yang menjalin interaksi simbiosis dengan tanaman inang dalam proses fiksasi (N) secara biologis dari udara (Mansyur, 2008). Kemampuan tersebut menyebabkan tanaman inang mampu memenuhi kebutuhan unsur hara N dan akan meninggalkan N pada tanah disekitarnya, sehingga dapat berperan meningkatkan kesuburan tanah.
Menurut Barnes dan Baylor (1995) pengembangan sektor peternakan sangat tergantung kepada sumber tanaman pakan sebagai dasar pakan utama untuk ternak ruminansia, Peningkatan jumlah ternak juga harus diikuti dengan upaya memenuhi kebutuhan pakan sepanjang tahun terutama tanaman pakan yang potensial dengan nilai gizi tinggi dan beradaptasi baik pada berbagai lingkungan. Stylo (styloshanthes guianensis) merupakan salah satu jenis tanaman leguminosa herba sebagai sumber protein dan mineral hijauan bagi ternak ruminansia di daerah tropika yang telah beradaptasi baik dan tersebar diberbagai agroklimat di Indonesia. Namun, pemanfaatannya sebagai pakan ternak belum banyak dilakukan dan umumnya baru sebagai konservasi tanah dan cover crop, sehingga perlu dievaluasi untuk peningkatan produksi dan kualitas hijauan (Sajimin, et al. 2005).
Upaya mempertahankan dan meningkatkan produksi hijauan dapat dilakukan dengan penggunaan pupuk kimia maupun pupuk organik. Penggunaan pupuk bahan kimia yang berlebihan telah banyak dilaporkan berdampak negatif, seperti merusak kesuburan tanah dan lingkungan karena tanah menjadi keras pada musim kering dan lengket pada musim hujan dengan porositas tanah menurun. Pupuk anorganik tidak mempunyai sifat yang dapat memperbaiki sifat dan fungsi fisik tanah serta fungsi biologi tanah secara langsung (HONG, G.B.1991).
Tanaman legum peka terhadap kekurangan unsur hara dan fosfor, dan selama ini dapat diatasi dengan pemupukan superfosfat (SP) (Lukiwati dan Simanungkalit, 2004). Mahalnya harga pupuk SP, menyebabkan perhatian kini beralih pada penggunaan pupuk rock phospate (batuan fosfat). Pemilihan batuan fosfat sebagai pupuk P didasarkan pada kandungan P dalam batuan fosfat yang tergolong tinggi (Sediyarso, 1999) dan ketersediaan deposit batuan fosfat tergolong besar (Belmehdi, 1987), harganya relatif lebih murah dibandingkan pupuk superfosfat dan tidak memerlukan teknologi tinggi dalam pemanfaatannya sebagai pupuk (Ober, 2002). Namun demikian, pupuk batuan fosfat umumnya memiliki tingkat kelarutan sangat rendah sehingga penyediaan P-nya tidak berimbang dengan laju penyerapan P oleh tanaman.
Untuk meningkatkan laju penyediaan P tersebut perlu dilakukan penelitian dengan menambah pupuk hayati (Biofosfat dan Rhizobium) dengan menggunakan mikroorganisme pelarut fosfat (MPF), karena kemampuannya mensekresikan asam-asam sitrat, suksinat, laktat, oksalat, malat, glioksilat dan glukonat (Goldstein, 1995). Penggunaan MPF dan Rhizobium relatif lebih aman terhadap lingkungan dan telah dilaporkan adanya peningkatan serapan P, pertumbuhan serta hasil tanaman akibat pemberian batuan fosfat dan MPF (Salih dkk., 1989)

Tujuan penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk Rock phosphate (batuan fosfat) dan pupuk hayati terhadap kandungan serat kasar Stylosanthes guianensis CIAT 184

Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini berguna untuk meningkatkan efektivitas kelarutan Rock fosfat (batuan fosfat) dalam meningkatkan produksi dan kualitas tanaman Stylosanthes Guianensis CIAT 184

TINJAUAN PUSTAKA
A. Stylo (Stylosanthes guianensis CIAT 184)
Dalam genus, stylosanthes guianensis CIAT 184 termasuk sub-famili Papilionaceae berasal dari Amerika Tengah dan Selatan. Stylo adalah suatu legum makanan ternak yang sangat disukai ternak dan kaya akan protein (Horne and Stur. 1999). Legum ini tumbuh tegak bersifat perennial kadang-kadang semi-tegak. Batang sedikit berbulu, tinggi tanaman 1,5 m, daun bewarna hijau berbentuk elip atau pedang yang ujungnya meruncing panjangnya 1-6 cm, tangkai daun panjangnya 1 sampai 10 mm dan kelopak tangkai daun berbentuk dua gigi. Karangan bunga terdiri dari beberapa kumpulan bunga, tiap karangan bunga mengandung 2 sampai 40 bunga yang kecil berwarna kuning bertulang belakang dengan semacam daun-daun penyangga. Kelopak bunga mempunyai tabung yang panjang 4 sampai 8 mm tidak berbulu atau sedikit berbulu. Bunga standard agak bulat dengan panjang 4 sampai 8 mm. Bunga dasar panjangnya 3,5 sampai 5,0 mm berbentuk sabit. Polong tidak berbulu panjangnya 2 sampai 3 mm dan lebar 1,5 sampai 2,5 mm mengandung satu biji, Warna biji kuning kecoklat-coklatan. Stylo dapat hidup di daerah-daerah tropik yang humid dengan curah hujan sebanyak 890 sampai 4.096 mm tiap tahun. Legum ini tumbuh pada variasi tanah yang luas bahkan di tanah yang kurang subur (Soedomo- Reksohadiprojo, 1985).
Legum stylo agak tahan kering, toleran terhadap tanah yang asam dengan drainase yang jelek dibanding dengan varietas lain seperti Stylosanthes guianensis ( eg.cv. Scofield, Cook dan Graham) tetapi tidak toleran terhadap naungan. Bunga menyebar dengan biji yang terlempar bila masak, sebagian biji adalah berkulit keras. Semua varietas membuat simbiose dengan rizhobia lokal dan rizhobia kancang panjang. Menurut Yusuf dan Partridge (2002) Legum stylo cocok untuk disebarkan pada padang rumput, dapat merubah komposisi botani menuju ke spesies yang lebih produktif berpengaruh baik pada ternak dan tumbuh lebih cepat.
Menurut (Soedomo-Reksohadiprojo, 1985) sistematika Stylosanthes guianensis adalah sebagai berikut :
Phylum : Spermatophytae
Sub phylum : Angiospermae
Classis : Dicotyledoneae
Ordo : Rosales
Sub Ordo : Rosinae
Famili : Leguminoseae
Sub Famili : Papilionaceae
Genus : Stylosanthes
Species : Stylosanthes guianensis
Cultivar : CIAT 184
Stylosanthes guianensis CIAT 184 tahan terhadap penyakit anthracnose di Asia Tenggara (Horne and Stur. 1999). Umumnya tumbuh sebagai cover crop dipotong setiap 2-3 bulan. Sangat efektif menekan pertumbuhan gulma dan baik sebagai feed suplement untuk ternak ayam, babi dan ikan. Dapat diberikan dalam keadaan segar atau kering diproses dalam bentuk tepung daun. Stylo tidak tahan terhadap pemotongan yang pendek karena harus ada tunas batang untuk pertumbuhan kembali, sehingga pemotongan yang baik dilakukan 20 cm diatas permukaan tanah Umumnya stylo ditanam dari biji, dan beberapa petani dapat melakukannya dengan potongan batang (stek) .

B. Rock Fosfat (Batuan fosfat)
Deposit batuan fosfat di Indonesia mencapai 800 ribu ton, tersebar dari Sumatera hingga Irian Jaya, dengan kandungan P2O5 berkisar 30 hingga 38% (Kusartuti, 1990; Sediyarso,1999). Tingkat produksi batuan fosfat terbesar adalah Amerika, diikuti China, Maroko dan Rusia (Ober, 2002).
Berdasarkan susunan kimianya, batuan fosfat digolongkan sebagai Kalsium–aluminium (besi) fosfat (Ca, AI (Fe)-P), dan aluminium (besi) fosfat (AI (Fe)-P) (Sediyarso, 1999). Kalsium fosfat merupakan bahan baku utama pupuk superfosfat. Kalsium-aluminium (besi) fosfat umumnya digunakan dalam industri pupuk NPK dan digunakan juga secara langsung sebagai pupuk P.
Pengujian penggunaan pupuk batuan fosfat pada tanaman pangan dan tanaman perkebunan telah banyak dilakukan. Beberapa diantaranya dilaporkan oleh Adiningsih et al (1998), dan Nasution (2000) bahwa efektivitas pupuk batuan fosfat masih rendah dan kalah dibandingkan pupuk P yang mudah terlarut air . Hal tersebut merupakan penyebab utama rendahnya tingkat penggunaan pupuk batuan fosfat yang hanya mencapi 5 % dari total penggunaan P di Indonesia.
Usaha untuk meningkatkan efektivitas batuan fosfat telah banyak diteliti, diantaranya adalah dengan cara meningkatkan kelarutan pupuk batuan fosfat sebelum pupuk tersebut diaplikasikan di tanah, diantaranya adalah melalui 1) pengasaman sebagian (partial acidulation) menggunakan asam sulfat atau asam fosfat (Chien dan Hammond, 1989; Menon et al., 1989; Xiong, 1994); 2) dicampur dengan bahan yang mengandung sulfur ( Lowell dan Weil, 1995; Allen dkk., 1996), pupuk nitrogen dan kalium (Chien, 1979), atau pupuk superfosfat (Shore, 2002). Usaha –usaha peningkatan efektivitas pupuk batuan fosfat tersebut diatas, belum memberikan hasil yang memuaskan dan tetap memiliki variasi pengaruh terhadap serapan P, pertumbuhan maupun hasil tanaman, sehingga penggunaan MPF tetap berpeluang untuk dikembangkan, terutama dalam hal penjaminan tingkat pelarutan dan penyediaan P untuk tanaman, serta kemudahan aplikasi pada skala lapangan.

C. Peranan Pupuk Hayati
Untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia dosis tinggi, akhir-akhir ini sedang digalakkan penggunaan pupuk hayati. Pemilihan pupuk hayati sebagai pengganti pupuk buatan didasarkan pada konsep pembangunan pertanian berkelanjuatan. Konsep ini memanfaatkan kekayaan hayati, terutama jasad hidup tanah yang mampu memperbaiki kesuburan tanah sehingga efek negatif pupuk kimia dapat dikurangi.
Pupuk hayati adalah jasad hidup tanah yang dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan cara mengikat N bebas dari udara, melarutkan fosfor dan atau memutuskan ikatan-ikatan yang menyebabkan unsur hara tidak tersedia bagi tanaman (Sastro, 1999). Hal ini berbeda dengan pupuk jenis lain yang unsur hara sudah terkandung di dalam material pupuk tersebut.
Pupuk hayati (Mikroba) yang akan digunakan dalam penelitian ini antara lain :

1. Biofosfat (Mikroorganisme Pelarut Fosfat)

Biofosfat adalah nama pupuk mikroba yang diperoleh dari Lab Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UGM. Bahan aktif pupuk ini ialah mikroba pelarut fosfat (MPF) yang digunakan yaitu beberapa jenis bakteri pelarut fosfat diantaranya Bacillus sp dan Pseudomonas sp. Mikroba Biofosfat merupakan formulasi mikroba efektif pelarut hara fosfat yang dilengkapi dengan formulasi bahan pembawa yang diperkaya dengan unsur hara mikro yang diperlukan oleh mikroba dan tanaman (Goldstein, 1995)
Kebanyakan lahan pertanian di Indonesia ketersediaan P didalam tanah sangat rendah karena pengikatan P tanah yang kurang aktif. Pada kondisi tersebut, hanya 10-20% dari pupuk P yang diberikan dapat dimanfaatkan oleh tanaman karena telah jenuh Fosfat (P) dan Kondisi pH tanah masam menyebabkan tanaman tidak dapat memanfaatkan hara atau pupuk secara tepat guna. Dalam keadaan ini perkembangan akar tanaman terhambat sehingga menyebabkan akar tanaman tidak mampu membentuk bintil akar yang efektif, akhirnya tanaman kerdil dan merana. Menurut Saraswati et al (2001) dengan pemberian Biofosfat dapat meningkatkan ketersediaan P didalam tanah pada lahan yang ketersediaan P-nya rendah.
Kemampuan mikroorganisme pelarut fosfat (MPF) untuk meningkatkan laju pertumbuhan tanaman dapat dilakukan karena mensekresikan asam-asam sitrat, suksinat, laktat, oksalat, malat, glioksilat dan glukonat (Illmer dan Schinner, 1995). Sehingga dapat meningkatkan ketersediaan P didalam tanah pada lahan yang ketersediaan P nya rendah, disamping penggunaan MPF relatif lebih aman terhadap lingkungan.

2. Rhizobium

Rhizobium adalah bakteri yang terdapat di dalam tanah yang hidup secara simbiotik pada bintil akar tanaman leguminosa (Moulin et al., 2001). Rhizobium yang digunakan merupakan jenis mikroba efektif yang terpilih hasil seleksi intensif terhadap kemampuan mengikat N udara, melarutkan fosfat dari kompleks Ca-P, A1-P, dan toleransinya terhadap kondisi tercekam (kemasaman AI dan kekeringan).
Menurut Somantri et al., (2005) rihzobium selalu mampu meningkatkan kemampuan tanaman mengikat N udara, juga mampu meningkatkan kelarutan fosfat tanah, sehingga pembentukan bintil akar dan produktivitas tanaman meningkat. Hal senada juga di utarakan oleh Mansyur, S.H (2008) dalam pembentukan bintil akar, aktivitas bakteri rhizobium pada tanaman stylo memberi cukup N maka tanaman akan mempunyai sistem perakaran yang lebih besar serta menyebar dan akhirnya penyerapan P akan tambah dan sebaliknya pemberian P yang cukup dapat mendorong tanaman stylo untuk menyerap nitrogen.
Manfaat yang dapat diperoleh dari penggunaan pupuk ini adalah :
a) meningkatkan penyediaan nitrogen bagi tanaman melalui peningkatan fixsasi N udara oleh bakteri bintil akar, b) memperbaiki kesuburan dan keseimbangan hara dalam tanah, c ) menekan kebutuhan urea dan TSP hingga 40 - 50% (Saraswati et al., 1996).
Hal yang mempengaruhi efektifitas Rhizobium dilapangan adalah :
1) Faktor lingkungan, yaitu : genotipe tanaman, strain bakteri yang digunakan, kondisi lingkungan tumbuh seperti cahaya, suhu, CO2, pH, air, elemen-elemen mineral (Ca, Mg, P, S, AI, dan Mn), dan adanya persaingan dengan rhizobia atau bakteri tanah lainnya (Simanungkalit et al., 1994). 2) Faktor inokulan yang mempengaruhi efektivitas penambatan N dan pelarutan P, antara lain a) mutu inokulan yang dipengaruhi oleh : penyimpanan inokulan selama transportasi. Hasil penelitian pengiriman paket inokulan rhizibia kesembilan kota di Indonesia menunjukkan bahwa suhu maksimum rata-rata diantara paket inokulan berkisar antara 29 sampai 42°C (Roughley et al., 1995). b) potensi suhu yang tinggi memungkinkan matinya mikroba yang terkandung dalam pupuk mikroba selama transportasi. c) cara aplikasi mencampur benih dan inokulan hendaknya dilakukan ditempat yang teduh. Jangan terkena sinar matahari langsung (Saraswati et al., 1996).




LANDASAN TEORI
Program peningkatan produksi ternak ruminansia akan berhasil baik, apabila program penyediaan makanan yang bermutu telah tersedia. Makanan dibutuhkan ternak untuk hidup pokok, pertumbuhan, produksi dan reproduksi.
Kegagalan pada produksi ternak ruminansia umumnya disebabkan karena tidak tersedianya bahan hijauan makanan ternak yang bermutu, karena hijauan alam umumnya mempunyai nilai gizi dan produksi rendah. Tanpa peningkatan produktivitas hijauan adalah hal yang sangat sulit untuk pengembangan usaha ternak ruminansia.
Kualitas dan kuantitas hijauan sangat ditentukan oleh faktor iklim, faktor tanah termasuk ketersediaan unsur hara, potensi genetik tanaman dan tatalaksana.
Leguminosa makanan ternak adalah bagian dari jenis tanaman kacang-kacangan yang kaya protein, mineral, vitamin-vitamin dan ditanam sebagai cover crop ataupun sebagai makanan ternak serta mencegah erosi dan sanggup memelihara kesuburan tanah.
Keseimbangan unsur-unsur hara didalam tanah memungkinkan produksi tanaman dapat mencapi maksimal. Tanaman leguminosa sangat sensitif terhadap defisiensi fosfor. Kadar fosfor tanaman leguminosa lebih tinggi (0,34%) dari rumput (0,22%) (Hartadi et al., 2005) dan ketersediaan unsur fosfor menyebabkan tanaman leguminosa dapat meningkatkan unsur nitrogen. Aktifitas fiksasi nitrogen juga akan meningkat jika unsur fosfor cukup tersedia. Fiksasi nitrogen yang efektif oleh bintil akar akan terjadi apabila dalam tanah cukup tersedia bakteri Rhizobium yang sesuai untuk kebutuhan legum. Pemberian inokulum pada biji atau dalam tanah merupakan upaya untuk menjamin adanya strain-strain Rhizobium yang efektif untuk menambat nitrogen oleh bintil akar tanaman leguminosa.
Usaha-usaha intensifikasi lahan saat ini menyebabkan kebutuhan pupuk kimia meningkat setiap tahunnya. Hasil-hasil penelitian sampai sekarang ini cenderung menunjukkan aplikasi pupuk kimia dalam dosis tinggi hanya bertujuan meningkatkan produktivitas tanaman tanpa banyak mempedulikan dampak lingkungannya. Akibat penggunaan pupuk kimia menjadi tidak efisien dan mengganggu lingkungan. Dengan demikian diperlukan suatu teknologi berwawasan lingkungan yang mampu meningkatkan produktivitas tanaman dengan masukan rendah tetapi berkelanjutan.

HIPOTESIS
Kombinasi pemberian pupuk batuan fosfat (500 kg/ha) dan pupuk hayati (biofasfat dan rhizobium) akan meningkatkan produksi dan kualitas tanaman Stylosanthes guianansis CIAT 184

CARA PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium dan kebun koleksi Hijauan Makanan Ternak dan Pastura, Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. selama 4 bulan (Juni – Oktober 2009). Lokasi ini terletak pada ketinggian 137 m dari permukaan laut. Sebelumnya akan dilakukan analisis terhadap tanah yang digunakan sebagai media tanam di Laboratorium Tanah dan Pupuk, Fakultas Pertanian UGM.

B. Bahan dan Alat
Benih yang digunakan Stylosanthes guianensis CIAT 184. diperoleh dari Loka Penelitian Sei Putih Sumatera Utara. Pupuk rock phosphate diperoleh dari toko-toko pertanian, Sedangkan pupuk hayati biofosfat dari Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UGM dan rhizobium strain legum Cowpea (Vigna sinensis) diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Pertanian UGM.
Peralatan yang akan digunakan adalah traktor, cangkul, sekop, sabit, gunting, pisau, sprayer, ember, gembor, tali, dan label. Sedangkan untuk pengamatan berupa timbangan listrik untuk mengukur bobot tanaman dan hasil, counter untuk menghitung bintil akar, oven, meteran, mistar untuk mengukur tinggi tanaman, karung, tampi, alat tulis menulis serta personal komputer untuk analisis data dan penyusunan laporan.

C. Metode Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan dengan menggunakan rancangan Petak Berjalur (Strip Plot Design) yang terdiri atas dua faktor.
Faktor yang pertama faktor horizontal yaitu pupuk rock fosfat (P) yang terdiri atas tiga taraf yaitu :
P0 = Tanpa rock fosfat
P1 = rock fosfat 250 kg/ha
P2 = rock fosfat 500 kg/ha

Faktor kedua faktor vertikal yaitu pupuk hayati rhizobium dan biofosfat (M) yang terdiri atas empat taraf yaitu :
M0 = Tanpa pupuk hayati
M1 = Plus rhizobium
M2 = Plus biofosfat
M3 = Plus rhizobium dan biofosfat.

Dari kedua faktor perlakuan tersebut diatas akan diperoleh kombinasi perlakuan 12 buah dengan tiga ulangan sehingga terdapat 36 petak perlakuan. Ukuran petak perlakuan 2 m x 3 m dengan jarak antar petak 0,5 m, jarak tanaman 40 cm x 20 cm dan jarak antar blok atau ulangan 1 m. Petak-petak perlakuan akan disusun secara acak atau random (Gomez and Gomez, 1995) kombinasi perlakuan yang akan dicoba adalah :

Lay out


Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3

P1 P1 P1 P1 P0 P0 P0 P0 P2 P2 P2 P2
M1 M3 M0 M2 M2 M1 M3 M2 M0 M2 M3 M1


P0 P0 P0 P0 P2 P2 P2 P2 P1 P1 P1 P1
M1 M3 M0 M2 M2 M1 M3 M0 M0 M2 M3 M1


P2 P2 P2 P2 P1 P1 P1 P1 P0 P0 P0 P0
M1 M3 M0 M2 M2 M1 M3 M0 M0 M2 M3 M1

0,5 m 1 m




D. Pelaksanaan Penelitian
1. Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah akan dilakukan dengan membajak tanah dua kali dengan menggunakan traktor, dilanjutkan pembuatan petak dengan ukuran 2m x 3m dan jarak antar petak 0,5 m sebagai saluran drainase serta jarak antar ulangan 1 m.

2. Penanaman dan Pemupukan
Penanaman akan dilakukan dengan cara ditugal sedalam 1-2 cm dengan jarak tanam 20 cm x 40 cm, dua benih perlubang tanam. Pada umur 7 hari tanaman yang tumbuh ditetapkan menjadi satu tanaman saja perlubang tanam yang akan digunakan untuk penelitian, yaitu dengan memilih dari tanaman yang pertumbuhannya cukup baik dan mencabut tanaman yang pertumbuhannya kurang baik. Rhizobium dan biofosfat diberikan dengan cara dibasahi sedikit air dicampurkan dengan benih ditempat yang teduh. Pencampuran ini dilakukan sesaat sebelum tanam. Pupuk rock phosphate diberikan bersamaan dengan waktu tanam dengan cara ditabur dengan jarak 7 – 10 cm dari lubang tanam.

3. Penyulaman
Pengamatan pertumbuhan tanaman dilakukan 5-7 hari setelah tanam. Apabila tanaman tidak tumbuh, maka dilakukan penyulaman dengan tanaman stylo yang sudah disiapkan di poly bag, yang penanamannya bersamaan dengan waktu penanaman di plot sehingga umur tanaman sama dengan yang lain.


4. Penyiangan
Penyiangan akan dilakukan 21 hari setelah tanam untuk menghilangkan gulma penyaing tanaman Stylo dalam menyerap unsur hara, air, sinar matahari dan ruang tumbuh. Cara penyiangan dilakukan dengan tangan dan alat penyiang.

E. Variabel Pengamatan
1. Tanaman Sampel
Selama penelitian berlangsung akan dilakukan pengamatan terhadap parameter pertumbuhan dan hasil tanaman. Tanaman sampel akan diambil secara acak sebanyak 5 lubang tanam per petak percobaan. Pengukuran tinggi tanaman akan dilakukan mulai umur 2 minggu setelah tanam, dengan interval waktu dua minggu sampai tanaman menjelang panen. Cara pengukuran akan dimulai dari permukaan tanah sampai titik tumbuh.
2. Pemotongan (panen)
Tanaman akan dipotong pada umur tiga bulan yaitu pada saat menjelang berbunga dengan tinggi 20 cm di atas permukaan tanah, sedangkan parameter yang akan diamati adalah :
1. Produksi Tanaman antara lain :
a. Berat segar dan berat kering. Untuk mendapatkan berat segar tanaman dipotong seluruhnya yang ada didalam petakan perlakuan kemudian ditimbang. Setelah diketahui berat segarnya, sampel tanaman diambil sebanyak 300 gr setiap perlakuan dan dikeringkan dalam oven dengan suhu 55°C. Penimbangan sampel dilakukan setelah 48 jam dalam oven sampai diperoleh berat konstan (AOAC, 1975)
b. Jumlah bintil akar per lubang tanam.
c. Jumlah bintil akar efektif per lubang tanam. Bintil akar efektif diketahui dengan cara membelah bintil akar tersebut. Apabila bagian tengah berwarna merah, maka hal itu menunjukkan bahwa bintil akarnya efektif dalam menyemat nitrogen.
d. Berat bintil akar efektif per lubang tanam.
2. Kualitas Tanaman
Untuk menentukan kualitas tanaman akan dilakukan analisis hijauan (menurut AOAC, 1975) berupa kandungan :
a. Fosfor (P)
b. Protein kasar (Crude protein)
c. Serat kasar (Crude fiber)
3. Pengamatan Pendukung
Sebelum tanam, akan dilakukan analisis fisika dan kimia tanah. Analisis fisika untuk mengetahui tekstur, sedangkan analisis kimia tanah untuk mengetahui pH dan kandungan P total dan P tersedia / available.
F. Analisi Data
Gomez dan Gomez (1995) rancangan petak berjalur (Strip Plot Design). Data hasil pengukuran setiap variabel akan dianalisis keragaman sesuai dengan rancangan yang digunakan. Apabila uji F menunjukkan adanya pengaruh nyata dari masing-masing perlakuan maupun interaksinya, maka akan dilanjutkan dengan uji beda jarak berganda Duncan (Duncan multiple range tes) pada tingkat ketelitian 5%.



DAFTAR PUSTAKA



Adiningsih, S., U. Kumia, dan S. Rochayati. (1998) Prospek dan kendala penggunaan P-alam untuk meningkatkan produksi tanaman pangan pada lahan masam marginal. Kumpulan makalah Pertemuan Pembahasan dan Komunikasi Hasil Penelitian Tanah dan Agroklimat. Puslitanak, Bogor, 10 Februari 1998.

Allen, E.R., L. R. Hossner, D. W. Ming, and D. L. Henningger. 1996. Release rates of phosphorus, ammonium, and potassium in clinoptilolite-phosphate rock systems. Soil Sci.Soc.Am.J.60:1467-1472.

AOAC, 1975. Method of Analisis. 12 th ed. Association of Official Analytical Chemists. PO BOX 504, Benjamin Franklin Station Washington DC.

Barnes, R.F and Baylor, J.E., 1995. Forages in a changing world. In: Barnes R.F., Miller D.A.and C.J. Nelson (eds.) Forages, Vol 1., An intoducion to Grassland Agriculture, 5th edn. Iowa State University Press, Iowa.

Belmehdi, A. 1987. World supply of phosphate rock and processed phosphates. Prosiding Loka Karya Nasional Penggunaan Pupuk Fosfat. Puslitanak, Bogor, Hal : 53-77

Chien, S. H.1979. Dissolution of phosphate rock in acid soils as influenced by nitrogen and potassium fertilizers. Soil Sci. 127:371-376.

Chien, S. H. and L.L. Hammon. 1989. Agronomic effectiveness of partially acidulated phosphate rock as influenced by soil phosphorus fixing-capacity. Plant and Soil 120:165-170.

D.B. Coates 1995 Tropical Legumes for Large Ruminants CSIRO, Division of Tropical Crops and Pastures, Private Mail bag, PO Aitkenvale, Qld 4814, Australia

Gomez, K.A and A.A. Gomez, 1995. Prosedur Statistik Untuk Penelitian Pertanian. Edisi kedua. Terjemahan E. Sjamsudin dan J.S. Baharsjah. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.

Goldstein. A.H 1995. Recent progress in understanding the molecular genetics and biochemistry of calcium phosphate solobilization by gram negative bacteria. Boil. Agric. Horticulture 12:185-193.

Hartadi, H., S. Reksohadiprodjo, A.D. Tilman. 2005. Tabel komposisi pakan untuk Indonesia – cetakan kelima Gadjah Mada University Press. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

HONG, G.B. 1991. Syarat Tanah untuk Pemupukan Efektive. Pros. Lokakarya Nasional Efisiensi penggunaan pupuk V. Cisarua. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Horne, P.M. and Werner, W.Stur. 1999 Developing Forage Technologies with Smallholder Farmers. How to selec the best varieties to offer farmers in Southeast Asia. Published by ACIAR and CIAT. ACIAR Monograph No.62 Hal : 68

Illmer, P. and F. Schinner, 1995. Solubilization of inorganic phosphate by microorganisme isolated from fores soil. Soil boil. Biochem 24:389-395.

Kusartuti. 1990. Pupuk fosfat serta penyediaannya dan kebutuhannya di Indonesia. Prosiding Lokakarya Nasional Penggunaan Pupuk Fosfat. Puslitanak, Bogor, Hal : 121-133.

Lowel, K. and R. R. Weil. 1995. Pyrite enhancement of phosphorus availability from African phosphate rocks : A Laboratory study. Soil Sci. Soc. Am. J 59:1645-1654.

Lukiwati, D.R and R.D.M. Simanungkalit. 2004. Production and nutritive value of pueraria phaseoloides with vesicular-arbuscular mycorrhizae inoculation and phosphour fertilization. Collection of abstract. International symposium of the working groupMO”International of soil mineral with organic components and microorganisms” and the Fist Inter-Congress conference of commission 2.5 ‘Soil Physical/Chemical/Biological Interfacial Interactions” of the International Union of Soil Sciences. China. 20-23 September. Hal : 90.
Mansyur, S.H., 2008. Pengaruh Inokulasi Rizhobium terhadap pembentukan bintil akar kacang tanah (Arachis hhpogea) ditaman hutan raya Propinsi Bengkulu. Balitbang Mikrobiologi, Puslitbang Biologi – LIPI. 39145-0-prosiding_abdul_cholik_423_-_430.PDF
Moulin. L.J. Munive, B. Dreyfus, and C. Bolvin-Masson. 2001. Nodulation of Legums by Members of the subclass of Proteobakteri. Macmillan Magazines Ltd.
Menon, R.G., S.H. Chien, and L. L. Hammon.1989. Comparison of Bray I and Pi tes for evaluating plant-available phosphorus from soils treated with different partially acidulated phosphate rocks. Plan and Soil 114: 211-216.

Nasution, M.Z. 2000. Efektivitas pupuk fosfat alam Gafsa-Tunisia pada tanaman karet muda. Ilmu Pertanian 7 : 80-86.

Ober, 2002. Phosphate rock. www.usgs.goviminerals. 24 juni 2002.
Phonepaseuth Phengsavanh and Inger Ledin 2003 Effect of Stylo 184 (Stylosanthes guianensis CIAT 184) and Gamba grass (Andropogon gayanus cv. Kent) in diets for growing goats Livestock Research Center, National Agriculture and Forestry ResearchInstitute, Ministry of Agriculture and Forestry, PO Box 811, Vientiane, Lao PDR p.phengsavanh@cgiar.org Department of Animal Nutrition and Management, Swedish University of Agricultural Sciences, Box 7024, 75007 Uppsala, Sweden Received 2 May 2003.

Roughley, R. J., R. D. M. Simanungkalit, L. G. Gemell, E. J. Hartley and P. Cain, 1995. Growth and Survival of Root Nodule Bacteria in Legume Inoculants Store at High Temperature. Soil Biol. Biochem. 27 : 707 – 712.

Saraswati, R., R. D. Hastuti, N. Sunarlin dan Hutamu, 1996. Penggunaan Rhizoplus Generasi 1 untuk meningkatkan Produksi Tanaman Kedelai. Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan, Bogor Indonesia.

Saraswati, R., D.H. Goenadi, N. Sunarlim, S. Hutami dan D. S. Damardjati, 2001. Pengembangan Biofosfat untuk meningkatkan Efesiensi Pemupukan. Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan. Hal : 6

Sastro, Y,1999. Pupuk Alternatif, pengganti pupuk kimia, Sinar tani tanggal 2 Juli 1999 No.2792. Hal : 5-6.
Sajimin, Yono., C.Raharjo dan N.D. Purwantari. 2005. Produksi Tanaman Pakan Ternak Stylosanthes hamata Yang Diberi Pupuk Feses Kelinci. Balai Penelitian Ternak Bogor. Prosiding Seminar Teknologi Peternakan dan Veteriner.

Salih, H.M., A.I. Yahya, A.M. Abdul-rahem, and B. H. Munam. 1989. Availability of phosphorus in calcareus soil treated with rock phosphate or super phosphate as affected by phosphate-dissolving fungi. Plan and Soil 120 : 181-185.

Sedi yarso,M. 1999. Fosfat Alam Sebagai Bahan Baku dan Pupuk Fosfat. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Shore, K. 2002. Food for the soil, rock phosphate as fertilizer. www. Idrc.calreports. 24 Juni 2002.

Somantri, I.H., M. Hasanah, S. Adisoemarto, M. Thohari, A. Nurhaidi, dan I. N. Orbani. 2005. Seri Mengenal Plasma Nutfah : Tanaman Pangan. Komisi Nasional Plasma Nutfah. Bogor.

Soedomo Reksohadiprojo, 1985 Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropik, Edisi Revisi Cetakan pertama. Hal : 65-67.

Xiong,L.U. 1994. Agronomic potential of partially acidulated rock phosphates in acid soils of subtropical china. Dalam proceedings ITC-Workshop. UGM. Yogyakarta, Hal : 155-166.

Yusuf A.Sutaryono dan I. J. Partridge. 2002 Mengelola Padang rumput Alam di Indonesia Tenggara. Departement of Primary Industries quessnsland. Published by ACIAR.

















3. Tinjauan Pustaka

A. Stylo (Stylosanthes guianensis CIAT 184)
Stylo adalah suatu legum makanan ternak yang kaya akan protein, produksi cukup tinggi dan dengan mudah dapat dikenali oleh daun bewarna hijau berbentuk elip atau pedang yang ujungnya meruncing panjangnya 1-6 cm, tangkai daun panjangnya 1 sampai 10 mm. Bunga berwarna kuning, Karangan bunga terdiri dari beberapa kumpulan bunga tidak bertangkai, tiap karangan bunga mengandung 2 sampai 40 bunga yang kecil. Kelopak bunga mempunyai tabung yang panjang 4 sampai 8 mm tidak berbulu atau sedikit berbulu. Bunga standard agak bulat dengan panjang 4 sampai 8 mm. Bunga dasar panjangnya 3,5 sampai 5,0 mm berbentuk sabit. Polong tidak berbulu panjangnya 2 sampai 3 mm dan lebar 1,5 sampai 2,5 mm mengandung satu biji, Warna biji kuning kecoklat-coklatan. Bunga menyebar dengan biji yang terlempar bila masak, sebagian biji adalah berkulit keras. (Horne and Stur. 1999)
Menurut Yusuf dan Partridge (2002) Legum stylo cocok untuk disebarkan pada padang rumput, dapat merubah komposisi botani menuju ke spesies yang lebih produktif berpengaruh baik pada ternak dan tumbuh lebih cepat. Di asia tenggara Stylo 184 tahan terhadap penyakit anthracnose ( D.B. Coates 1995) Umumnya tumbuh sebagai cover crop dipotong setiap 2-3 bulan. Sangat efektiv menekan pertumbuhan gulma.
Sebagai fed suplemen sangat baik diberikan untuk ternak ayam, babi dan ikan, pada kambing lokal Stylo 184 merupakan pakan suplemen yang berkualiatas baik menunjukkan pertambahan berat badan yang sangat signifikan.(Phengsavanh. P and Inger. L 2003) Dapat diberikan dalam keadaan segar atau kering diproses dalam bentuk tepung daun.
Menurut (Soedomo Reksohadiprojo, 1985) sistematika stylosanthes guianensis adalah sebagai berikut :
Phylum : Spermatophyta
Sub phylum : Angiosperma
Classis : Dicotyledoneae
Ordo : Rosales
Famili : Leguminoseae
Sub Famili : Papilionaceae
Genus : Stylosanthes
Species : Stylosanthes guianensis CIAT 184

B. Persyaratan Tumbuh Stylosanthes guianensis.
Stylo dapat hidup didaerah-daerah tropik dengan curah hujan sebanyak 890 sampai 4.096 mm tiap tahun. Legum tumbuh pada variasi tanah yang luas bahkan di tanah yang kurang subur. Legum agak tahan kering, toleran terhadap tanah yang asam dengan drainase yang jelek, tetapi tidak toleran terhadap naungan. Semua varietas membuat simbiose dengan rizhobia lokal dan rizhobia kancang panjang.
Stylosanthes guianensis CIAT 184 dapat beradaptasi dengan baik pada berbagai jenis tanah dan iklim yang cukup luas dan pada tanah yang tidak subur dan gersang dibanding dengan varietas lain seperti Stylosanthes Guianensis ( eg.cv. scofield, cook dan graham). Stylo tidak tahan terhadap pemotongan yang pendek karena harus ada tunas batang untuk pertumbuhan kembali, sehingga pemotongan yang baik dilakukan yaitu (> 20 cm). umumnya stylo ditanam dari biji, dan beberapa petani dapat melakukannya dengan potongan batang /stek (Horne and Stur. 1999).


Stylosanthes guianensis direkomendasikan pada :
Table 1 : Suitability of forages for different uses :
Ways of growing and using forages
potongan cut & carry improved fallows Cover crops in annual crops legume supplementation for the dry season, legume leaf meal

Table 2 : Recommended forages for different climates and soils :
Climate :
Wet tropics with no or short dry season, wet/dry tropics with long dry season, moderately (neutral to moderately acid soils, infertile (extremely acid soils)
Soil fertility and acidity :
Moderately fertile (neutral to moderately acid soils), infertile (extremely acid soils)

Table 3 : Growth froms and life span of forages :
Growth form :
Erect bushy legumes (short-live 1-3 years), erect bushy legumes


Digunakan untuk makanan ternak dengan system potong angkut, sebagai cover crop suplementasi pada musim kemarau dan tepung dau legum
Stylosanthes guianensis direkomendasikan pada:
Tabel 1: Pantas tidaknya makanan hewan untuk penggunaan berbeda:
Jalan dalam bertumbuh dan menggunakan makanan hewan
potongan yang memotong& membawa meningkatkan tutup tandus Tanaman panenan di (dalam) tanaman panenan sj.kacang polong tahunan supplementation untuk musim kemarau, sj.kacang polong daun makanan

Tabel 2: Makanan hewan yang direkomendasikan untuk lahan dan iklim berbeda:
Iklim:
Garis balik basah dengan tidak ada atau musim kemarau pendek/singkat, wet/dry garis balik dengan merindukan musim kemarau, [yang] sedang ( netral untuk lahan cuka sedang, tidak subur/gersang ( lahan cuka sangat)
lahan kadar keasaman dan Kesuburan:
sedang Subur ( netral untuk lahan cuka sedang), tidak subur/gersang ( lahan cuka sangat)

Tabel 3: Pertumbuhan dari jangka hidup makanan hewan dan :
pertumbuhan Format:
Bushy sj.kacang polong lurus ( short-live 1-3 tahun), bushy sj.kacang polong lurus



Many strylos are susceptible to different strains and races of the fungal pathogen colletotrichum gloeosporioides causing the disease anthracnose which has become a widespread and damaging disease of stylo worldwide. Anthracnose has led to the failure of some of the commercial cultivars that had perfermed well in the past. The annual S. humilis (Townsville stylo) was naturalized to substantial areas in northeasrern queensland prior to the 1970 and was

Banyak strylos adalah peka ke [ras/lomba] dan tegangan berbeda [menyangkut] fungal pathogen colletotrichum gloeosporioides menyebabkan penyakit [itu] anthracnose yang (mana) telah menjadi suatu tersebar luas dan penyakit stylo [yang] merusakkan di seluruh dunia. Anthracnose telah menuju/mendorong kegagalan beberapa dari yang komersil cultivars itu mempunyai sumur perfermed di masa lalu. Yang tahunan. humilis ( Townsville stylo) dinetralkan ke area substansiil di (dalam) northeasrern queensland sebelum 1970 dan adalah
( D.B. Coates 1995) Tropical Legumes for Large Ruminants CSIRO, Division of Tropical Crops and Pastures, Private Mail bag, PO Aitkenvale, Qld 4814, Australia


















JUDUL PENELITIAN


PENGARUH PEMBERIAN Rock phosphate DAN PUPUK HAYATI (BIOFOSFAT DAN RRHIZOBIUM) TERHADAP PRODUKSI DAN KUALITAS TANAMAN PAKAN TERNAK Stylosanthes guianensis CIAT 184


Materi Penelitian :

- Rock phosphate (batuan fosfat) yaitu : pupuk organik yang mengandung P merupakan bahan baku utama pupuk superfosfat diperoleh dari toko-toko pertanian.
- Biofosfat (Mikroorganisme pelarut fosfat) yaitu : bakteri sebagai pelarut fosfat. Diperoleh dari Fak. Pertanian Ilmu tanah (Dr. Ngadiman)
- Rhizobium yaitu : Bakteri pengikat N. Dari strain legum Cowpea (vigna sinensis) diperoleh dari Fak. Pertanian Mikrobiologi (Ibu Sri)
- Stylosanthes guianensis CIAT 184 yaitu : legum herba sebagai pakan ternak yang mengandung protein tinggi. Diperoleh dari Medan.








III. METODOLOGI PENELITIAN

1. Batuan fosfat yang digunakan dalam penelitian ini adalah batuan fosfat Christmas Island yang diperoleh dari PT. Petro kimia Gresik, Jawa Timur.


3) bio-aktivasi menggunakan mikro organisme pelarut fosfat (MPF) (Goldstein dkk., 1993; Goenadi dkk., 2000, Widiastuti dkk., 2000).

Pemupukan untuk stylo adalah 500 kg. ’rock phosphate’ tiap ha.menghasilkan hijauan yang baik. Penanaman dengan stek dari tanaman yang berumur satu tahun, waktu tanaman dipotong untuk pertama kalinya, tinggi tanaman adalah 60 sampai 90 cm dari atas tanah, selanjutnya tanaman dipotong tiap 1,5 sampai 2 bulan. (Soedomo Reksohadiprojo, 1985)

Menurut ……….dengan Pupuk P : 50 – 150 kg superphosphat / ha dan Cu SO4 : 10 kg/ha ditambah Liming : 250 kg /ha dapat menghasilkan 2,5 – 10 ton Bk/ha dan peremajaan dilakukan 3 tahun tergantung perawatan.

F. Peranan pupuk P

Salah satu unsur hara yang sangat esensial adalah fosfor. Didalam tanah pada umumnya P sering merupakan faktor pembatas untuk memproduksi tanaman dibanding dengan unsur hara lainnya. Jumlah P yang cukup dalam tanah mendorong pertumbuhan tanaman dan mempercepat kemasan biji serta sering kali dapat memperbaiki kualitas hasil tanaman. Fosfor dapat menguatkan pertumbuhan batang, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kerusakan oleh penyakit, membantu memindahkan substansi dari batang, daun dan bagian-bagian tanaman lainnya menuju kebiji. Pupuk P

Analisa hijauan segar pada umur 4 bulan adalah sebagai berikut :
- Air : 76,0%
- Protein Kasar : 29,0%
- Serat kasar : 9 %
- Lemak : 0,5 %
- Abu : 1.7 %.

Lay out


Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3

P0M1 P2M1 P1M1 P2M2 P1M2 P0M2 P2M0 P0M0 P1M0

P0M3 P2M3 P1M3 P2M1 P1M1 P0M1 P2M2 P0M2 P1M2

P0M0 P2M0 P1M0 P2M3 P1M3 P0M3 P2M3 P0M3 P1M3

P0M2 P2M2 P1M2 P2M0 P1M0 P0M0 P2M1 P0M1 P1M1
0,5 m 1.m

Link ke posting ini Email this post

The Valley of Scouting and The Rock Land of Scouting Both named by Sleman’s Scouting (The Journey of Wedi Ombo – Gunung Kidul)

Senin, 30 Maret 2009


This time the adventure of Sleman’s scouting took place in Gunung Kidul, we got there at dark, maghrib at Saturday, December 13th, 2008. We started the journey after isya to get the top of land we seen. Our number just ten and never knew the route of this land before, and the ocean water become its rise-time so we had to walk at the edge of it. We were breaking through the bushes to get the stright line of the top of land, up and down hill until we arrived to the top of land, but less of minutes, our leader was instructing us to get the other side higher land, so we had to move again breaking through the bushes until we found the valley. The Valley was about 50 meters of depth and about 20 meters of width and about 70o of slope. So we used our rope to go down to the bottom of valley one by one, the bottom of it is the river that the water flowed to the south ocean. We named this valley was the valley of scouting because this valley first time we met in Wedi Ombo land and we gone down to its bottom. Then we climbed hill to get to the top of it, it was so exciting.

At midnight we arrived in the other higher land even we separated in two groups but we met again in the top of the land. In this place, we were seeing the great south ocean in the bright of the moon and hearing the sound of nature and when we were laying down on the surface of rock, we seen the moon and the bright of stars and once we seen the meteor moved in the sky and it was so beautiful. Subhaanallah


At dawn after we take early-morning prayer we set all of our equipments and prepared to continue the adventure of its land. We decided to move in the edge of the land because it is nearer then it was. We met beach and not far of it we met a lot of rock until we met the rock island, it was so beautiful because a lot of it was just standing-rock and once the ocean wave hit it and a lot of algae grown on it. We called it, the rock land of scouting. In this land our guy injured because hit by ocean wave and almost taken by it, but thanks to God he can survive from it by grab the rock around him. We were in that place about fifteen minutes and then continued to get the Wedi Ombo’s beach and before we got there once again we met the end of valley found last night and we took a bath and drunk the water and we took doha-prayer in this place and then we moved again, down and climb the rock in the edge of land. About 9 a.m. we arrived in the Wedi Ombo’s beach.

At 11 a.m. we were continuing to go to the bat island, meanwhile the rain fall down we still move in untill we met the river among higher lands and in that place we played for a while and prayer in this place and then we continued to go to the island behind the hill. About 1.30 p.m. we were going to starting point and about 4.30 p.m. we prepared to go back to Jogja.

(The Journey’s team - never ending adventure)




Link ke posting ini Email this post

Brigade Syahid Rantisi Mulai Beraksi

Rabu, 04 Februari 2009

Gugur satu tumbuh seribu. Itulah yang tengah terjadi pada gerakan-gerakan perlawanan Palestina. Geliat perjuangan tak boleh terhenti hanya karena syahidnya seorang Rantisi.
Ahad (25/04) menjadi bukti awal pembalasan atas aksi biadab Israel terhadap para pimpinan Hamas. Kelompok yang mengklaim sebagai ‘Brigade Syahid Rantisi’ (BSR) berhasil menewaskan seorang tentara Israel dan mencederai tiga lainnya. Aksi balas dendam itu terjadi di dekat desa Izna, selatan kota Khalil, Tepi Barat.
Seperti dilaporkan Islamonline.net, kelompok BSR ini berafiliasi ke Brigade Syuhada Al-Aqsha faksi sayap militer gerakan Fatah.
Menurut surat kabar Yediot Aharonot, mereka membrondong mobil itu dekat kota Izna. Akibatnya, 4 tentara Israel babak belur. Meski mereka sempat mendapatkan bantuan medis, namun satu dari mereka tak dapat diselamatkan.
Yediot menyebutkan, BSR yang berada di bawah gerakan Fatah pimpinan Yaser Arafat mengaku bertangungjawab atas serangan ini. Tampaknya, aksi ini sebagai tindakan balas dendam pertama faksi Fatah atas gugurnya Rantisi.
Jamal Thamizi, pejabat berwenang di Izna mengatakan, saat ini gerombolan pasukan Israel menyerbu kota Izna. Mereka mengumumkan jam malam dan berniat menghancurkan rumah-rumah penduduk Palestina.
Ia menambahkan, sejumlah peralatan otomatis militer Israel menutup semua pintu masuk ke Izna. Mereka berdalih bahwa sejumlah milisi bersenjata telah melarikan diri ke desa itu.
Saat ini, tampaknya PM Sharon harus berfikir dua kali untuk melanjutkan aksi terornya. Sebab, benih-benih aksi balas dendam mulai tumbuh. Selain itu, gerakan-gerakan perlawanan Palestina mulai merapatkan barisan. Dan proposal perdamaian di Palestina akan tinggal cerita.(lys/iol/bbc)

Link ke posting ini Email this post

Tiga Tipe Perempuan: Yang Mana Tipe Anda?

Islam tentu sangat memperhatikan kaum perempuan, dimana hal tersebut tidak berlaku dalam ajaran-ajaran sebelum kedatangan Islam. Posisi perempuan begitu penting (dipentingkan) sehingga sering terdengar suatu ungkapan bahwa tegaknya suatu negara (kelompok) sangat tergantung dengan perilaku perempuan dalam kelompok tersebut. Mungkin ada yang menganggap ini berlebihan, meski tidak bisa dipungkiri bahwa peran perempuan sangat berdekatan dengan kesuksesan dan juga kegagalan!
Dalam ajaran Islam, laki-laki dan perempuan tidak dibedakan peranannya dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama. Keduanya memiliki kesempatan yang sama dalam berusaha berbuat yang terbaik bagi diri, keluarga dan masyarakatnya. Jelasnya, Alqur'an tidak membedakan perlakuan terhadap laki-laki dan perempuan. Beberapa ayat menjelaskan hal tersebut:
"Barangsiapa yang melakukan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan ia mukmin, mereka akan masuk surga ..." (QS. 4:124, 40:40)
"Barangsiapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia mukmin, kami hidupkan dia dalam kehidupan yang baik ..." (QS. 16:97)
"Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beriman diantara kamu, baik laki-laki maupun perempuan ..." (QS. 3:195)
"Tidaklah boleh bagi mukmin laki-laki dan perempuan merasa keberatan bila Allah telah memutuskan sesuatu perkara ..." (QS. 33:36)
"Orang-orang beriman laki-laki dan perempuan satu sama lain saling melindungi. Mereka sama-sama menyuruh kebaikan dan melarang kemungkaran, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mentaati Allah dan Rasul-Nya. Allah menyayangi mereka ..." (QS. 9:71)
Begitu gamblangnya Al Qur'an memperhatikan makhluk perempuan, selain ayat-ayat diatas yang menunjukkan tidak adanya diskriminasi antara laki-laki dan perempuan dalam hubungannya dengan pekerjaan, amal dan tindakan, Al Qur'an juga memberikan kepada kita penjelasan tentang beberapa tipologi perempuan, dimana bisa dikatakan, bahwa apa yang pernah terjadi pada masa lalu dan diabadikan dalam Al Qur'an agar menjadi pelajaran bagi kaum mukminin yang perempuan khususnya dan laki-laki pada umumnya. Karena, sekali lagi, masalah yang berhubungan dengan perempuan yang terjadi di muka bumi ini, hampir selalu terkait dengan kaum laki-laki.
Oleh karena itu, menjadi penting untuk memperhatikan beberapa tipe perempuan yang pernah diterangkan Allah dalam Al Qur'an. Dimana Al Qur'an secara khusus membicarakan jenis-jenis perempuan berdasarkan amalnya. Untuk jenis perempuan ideal yang patut diteladani, seringkali Al Qur'an menyebut nama jelas. Namun untuk melukiskan perempuan "buruk" Al Qur'an tidak menyebut nama secara langsung.
Tipe pertama adalah type wanita saleh yang diwakili oleh Maryam. Nama Maryam disebut beberapa kali dalam ayat-Nya selain juga menjadi salah satu nama Surat dalam Al Qur'an. Ia adalah type perempuan saleh yang menjaga kesucian dirinya, mengisi waktunya dengan pengabdian yang tulus kepada Rabb-nya. Karena kesalehahannya itulah ia mendapat kehormatan menjadi ibu dari kekasih Allah, Isa alaihi salam, tokoh terkemuka di dunia dan akhirat (QS. 3:45).
"Dan Maryam putra Imran, yang menjaga kesucian kehormatannya. Kami tiupkan roh Kami dan ia membenarkan kalimah Tuhan-Nya dan kitab-kitab-Nya dan ia termasuk orang yang taat" (QS. 66:16).
Maryam adalah tipe perempuan saleh. Kehormatannya terletak dalam kesucian, bukan dalam kecantikan. Tentu masih banyak deretan nama-nama perempuan saleh baik yang tersebut dalam hadits-hadits Nabi maupun dalam sejarah.
Al Qur'an juga menerangkan tipe-tipe perempuan pejuang untuk menjadi contoh bagi para muslimah. Tipe yang kedua ini dicontohkan dengan sempurna oleh Asiyah binti Mazahim, istri Fir'aun yang hidup dibawah kekuasaan suami yang melambangkan kezaliman. Asiyah dengan teguh memberontak, melawan dan mempertahankan keyakinannya apapun resiko yang diterimanya. Semuanya ia lakukan karena ia memilih rumah di Surga, yang diperoleh dengan perjuangan menegakkan kebenaran, ketimbang istana di dunia, yang dapat dinikmatinya bila ia bekerja sama dengan kezaliman. "Dan Allah menjadikan teladan bagi orang-orang yang beriman perempuan Fir'aun, ketika ia berdo'a: Tuhanku, bangunkan bagiku rumah di surga. Selamatkan aku dari Fir'aun dan perbuatannya. Selamatkan aku dari kaum yang zalim." (QS. 66:11).
Al Qur'an memuji perempuan yang membangkang kepada suami yang zalim. Pada saat yang sama Al Qur'an juga mengecam perempuan yang menentang suami yang memperjuangkan kebenaran, seperti istri Nabi Nuh alaihi salam dan istri Nabi Luth alihi salam. Dalam kaitannya dengan hal ini, Al Qur'an juga menambahkan satu contoh perempuan yang mendukung kezaliman suaminya (sebagai contoh lawan dari Asiyah) yakni, istri Abu Lahab.
Selain Asiyah, ada pula contoh-contoh perempuan pejuang meski suami-suami mereka bukanlah orang-orang zalim, melainkan para pejuang kebenaran. Khadijah binti Khuwailid, Aisyah binti Abu Bakar, Nusaibah binti Ka'ab, adalah contoh nama-nama yang bersama suami mereka bahu-membahu memperjuangkan agama Allah.
Tipe ketiga yang dijelaskan dalam Al Qur'an adalah tipe perempuan penggoda. Jelas untuk yang satu ini diwakili oleh Zulaikha penggoda Nabi Allah Yusuf alaihi salam. Dalam kisah Zulaikha menggoda Yusuf inilah, Al Qur'an menunjukkan kepandaian perempuan dalam melakukan makar dan tipuan. Manakah tipe anda dari ketiga tipe tersebut? Wallahu a'lam bishshowaab

Link ke posting ini Email this post

Ketika Bidadari Turun ke Bumi

Dalam buku Tamasya ke Surga, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengisahkan tentang bidadari-bidadari surga. Bidadari-bidadari itu adalah wanita suci yang menyenangkan dipandang mata, menyejukkan dilihat, dan menentramkan hati setiap pemiliknya. Rupanya cantik jelita, kulitnya mulus. Ia memiliki akhlak yang paling baik, perawan, kaya akan cinta dan umurnya sebaya. Siapakah yang orang yang beruntung mendapatkannya? Siapa lagi kalau bukan orang-orang yang syahid karena berjihad di jalan Allah, orang-orang yang tulus dan ikhlas membela agama Allah.
Sebagian kita mungkin berfikir, kapan kita berjumpa dengan bidadari-bidadari itu, apakah ia akan kita miliki, adakah ia sedikit diantara mereka mendiami bumi sekarang ini?
Bidadari-bidadari itu telah turun ke bumi. Semenjak Islam mulai bangkit lagi di bumi ini. Bidadari-bidadari itu menghias diri setiap hari. Dia berwujud manusia yang berhati lembut, menyenangkan dipandang mata, menyejukkan dilihat, menentramkan hati setiap pemiliknya. Dialah wanita sholehah yang menjaga kesucian dirinya. Seperti apakah bidadari bumi itu? Bisakah kita mengikuti langkahnya, apakah dia anak, adik, keponakan perempuan atau apakah ia istri dan ibu kita, atau ia hanya berupa angan yang sebenarnya bisa kita realisasikan, tapi syetan kuat menahan?
Dialah wanita sholehah yang menjaga kesucian dirinya. Setiap perempuan bisa menjadi bidadari bumi, seperti apakah ciri-cirinya?
1. Ia adalah wanita yang paling taat kepada Allah. Ia senantiasa menyerahkan segala urusan hidupnya kepada hukum dan syariat Allah.
2. Ia menjadikan Al-Quran dan Al-Hadis sebagai sumber hukum dalam mengatur seluruh aspek kehidupannya.
3. Ibadahnya baik dan memiliki akhlak serta budi perketi yang mulia. Tidak hobi berdusta, bergunjing dan ria.
4. Berbuat baik dan berbakti kepada orang tuanya. Ia senantiasa mendoakan orang tuanya, menghormati mereka, menjaga dan melindungi keduanya.
5. Ia taat kepada suaminya. Menjaga harta suaminya, mendidik anak-anaknya dengan kehidupan yang islami. Jika dilihat menyenangakan, bila dipandang menyejukkan, dan menentramkan bila berada didekatnya. Hati akan tenang bila meninggalkanya pergi. Ia melayani suaminya dengan baik, berhias hanya untuk suaminya, pandai membangkitkan dan memotifasi suaminya untuk berjuang membela agama Allah.
6. Ia tidak bermewah-mewah dengan dunia, tawadhu, bersikap sederhana. Kesabarannya luar biasa atas janji-janji Allah, ia tidak berhenti belajar untuk bekal hidupnya.
7. Ia bermanfaat dilingkungannya. Pengabdianya kepada masyarakat dan agama sangat besar. Ia menyeru manusia kepada Allah dengan kedua tangan dan lisannya yang lembut, hatinya yang bersih, akalnya yang cerdas dan dengan hartanya. "Dan dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah". (HR Muslim)
Dialah bidadari bumi, dialah wanita sholehah yang keberadaan dirinya lebih baik dan berarti dari seluruh isi alam ini. Ya Allah jadikanlah aku, ibuku, kakak dan adiku serta perempuan-perempuan di sekelilingku menjadi bidadari bumi. Agar kelak di syurga kami tidak canggung lagi.

Link ke posting ini Email this post

Sumber Syahwat Itu Bernama: Perempuan!

Dalam Qur'an Surat Ali Imran ayat 14 dikatakan syahwat manusia kecenderungan pertama berasal dari perempuan. "Dihiasi manusia dengan syahwat yang muncul dari perempuan dan anak-anak....."
Dalam surat ini dikatakan "manusia", bukan saja laki-laki. Artinya seluruh manusia memiliki syahwat kepada perempuan. Kalau dikatakan "manusia" artinya mencakup laki-laki dan perempuan juga. Kalau laki-laki memiliki syahwat kepada perempuan itu sudah normal, tapi bagaimana dengan perempuan terhadap perempuan?
Dalam kajian tafsir di Maqdis Bandung, ustadz Saiful Islam Lc menjelaskan maksud ayat ini kurang lebih sebagai berikut:
Seorang perempuan bila melihat perempuan lain lebih cantik dari padanya, lebih baik dari dirinya, apakah itu pakaiannya, tas, sepatu, rumah, jilbab, perabotan dan lain-lain, biasanya langsung timbul keinginan dalam hatinya untuk bisa juga seperti orang yang dilihatnya itu atau memiliki keinginan untuk memiliki juga benda yang ada pada perempuan yang dilihatnya. Beda dengan laki-laki, laki-laki biasanya tidak timbul syahwatnya melihat sesamanya mengenakan pakaian bagus, lebih tampan, ujar Ustadz Saiful melanjutkan.
Biasanya dialog yang terjadi jika perempuan bertemu dengan perempaun lain antara lain, "Jilbabnya bagus, beli dimana? saya jadi ingin beli juga euyh" atau "model baru ya, bagus sekali, antarkan saya dong, saya mau beli juga"!!
Suatu hari sayapun pernah menjadi "korban", waktu itu saya melihat teman memakai baju baru dan menurut saya bagus. Saya membayangkan, sayapun akan lebih tampak cantik jika memakai baju itu.
Tiba-tiba saja secara spontan saya katakan "Mbak bajunya bagus, beli dimana, berapa semeter, ongkos jahitnya berapa", buntut-buntutnya saya minta diantarkan ke toko tempat ia membeli kain.
Selang berapa detik saya ingat surat Ali Imran ayat 14 beserta taushiah ustadz agar menghindari bahaya syahwat yang muncul dari perempuan. Akhirnya saya katakan, "nggak jadi deh mbak, lain kali saja".
Pantas saja sebelum meninggal, Rasul berpesan agar benar-benar melindungi perempuan, tidak saja banyak fitnah yang ditimbulkan oleh perempuan, tapi juga syahwat (keinginan) yang dapat menjerumuskan manusia kedalam kebinasaan.
Laki-laki bergairah mencari nafkah bisa disebabkan karena perempuan. Laki-laki melakukan KKN, pekerjaan tercela dan perilaku binatang bisa juga disebabkan karena perempuan. Perempuan, adalah makluk yang luar biasa, dari rahimnya lahir manusia setingkat Rasulullah dan sehina Fir'aun.
Pesan Rasulullah kepada perempuan, hati-hatilah dalam kehidupan dunia, jangan jadi penggoda, sebagaimana perempuan juga suka digoda.

Link ke posting ini Email this post

Merenda Hidup Yang Biasa (Catatan Seorang Pekerja Pabrik)

Rona jingga menyemburat di setengah langit bagian timur. Perlahan-lahan bola api merah bergerak naik, siap melaksanakan tugasnya. Aku mengayuh pedal sepedaku pelan-pelan, membelah bulak tengah sawah. Dua puluh kilometer akan kutempuh, menuju pabrik Batik Keris di Solo, tempat aku mengais rejeki setiap hari.
Gelap malam meliputi. Dingin sentuhan angin sawah menggigilkan kulit. Aku mengayuh sepedaku dengan kuat, berharap segera kucapai halaman rumah. Roda sepedaku sudah hapal dengan lobang dan gundukan di jalanan beraspal rusak, meski sesekali tetap terperosok atau terantuk.
Garang panas mentari menghujani. Masih tetap menyengat dan menyakitkan kulit sawomatangku yang makin gosong karena tiap hari bermandi matahari. Kukayuh pedalku kuat-kuat, untuk sejenak berteduh saat kudapat rimbun naungan pepohonan di pinggir jalan.
Yah, demikianlah kulalui hari-hariku. Menembus gelap malam, dingin pagi maupun terik di siang hari. Hari demi hari yang gamang. Entah ini sudah tahun ke berapa. Enam, tujuh? Delapan? Atau sudah belasan? Aku tak pernah menghitung lagi.
Dan dalam kehidupanku nyaris tak ada perubahan berarti. Antara pabrik dan rumah. Itu saja. Senin dan Selasa, berangkat ke pabrik pagi-pagi sehabis subuh. Pulang jam tiga sore. Istirahat sejenak, kemudian berbenah rumah. Rabu-Kamis berangkat jam satu siang, pulang tengah malam. Pagi sebelumnya kuisi dengan kegiatan memasak saaat simbok ke sawah, dan juga tidur sejenak. Pulang ke rumah sudah dalam kondisi capek luar biasa.
Di pabrik kami harus bekerja dengan posisi berdiri, nyaris tidak pernah duduk. Jum’at-Sabtu berangkat jam sepuluh malam pulang jam enam pagi. Langsung tidur sampai menejelang dzuhur. Begitu terus.
Semuanya sudah menjadi ritme yang terprogram. Sejujurnya aku bosan dengan kehidupanku yang demikian. Bahkan kadang kebosanan itu demikian memuncak. Tapi apa yang dapat kulakukan? Aku hanyalah seorang gadis lulusan SMEA kampung di selatan kota Solo, tetapi bekerja di pabrik dengan menggunakan ijazah SMP karena pabrik tidak membutuhkan buruh penjaga mesin pemintal benang berijazah setingkat SMU. Selain juga karena perusahaan tak suka membayar gaji dengan UMR lebih tinggi.
Tapi sungguh aku tak tahu apa yang mesti kulakukan untuk mengatasi kebosanan itu. Maka menonton televisi, berkunjung ke rumah saudara, bermain dan ngobrol dengan para ponakan adalah selingan yang kadang juga sama membosankannya. Sesekali aku jalan-jalan ke pertokoan di Coyudan atau ke pasar Klewer, Beteng, Pasar Gede atau Pasar Kartosuro jika punya uang.
Sebenarnya aku juga ingin seperti yang lainnya. Seperti teman-teman sekolah, juga tetanggaku, dan teman-teman pabrik yang rata-rata sudah punya 2-3 anak. Ya, mereka menikah dalam usia awal atau sebelum dua puluhan. Tapi, entahlah. Sampai usiaku yang menjelang tiga puluh tahun ini, belum ada seorang lelaki pun yang pernah melamarku.
Aku terlahir sebagai bungsu dari lima bersaudara yang seluruhnya adalah wanita. Mbakyu-mbakyuku semua telah menikah dan punya anak satu atau dua. Bapak meninggal saat aku kelas dua SMEA. Sebenarnya Bapak ingin aku menjadi pegawai kantoran. Tetapi dengan meninggalnya bapak, cita-cita itu tidak tersampaikan. Selepas SMEA aku tidak melanjutkan sekolahku melainkan langsung bekerja di pabrik konveksi, seperti umumnya gadis-gadis di kampungku. Bedanya mereka dengan segera mendapat pacar dan menikah, tetapi aku tidak.
Bisakah kau rasakan apa yang aku rasakan? Aku tidak punya impian apa-apa selain menikah dan membangun keluarga. Seperti para perempuan desa lainnya. Seperti kakak-kakakku. Tapi sekali lagi, aku tak mengerti mengapa jalan hidupku seperti ini. Sebenarnya bukan tak ada yang mau sama aku, namun semuanya berhenti di tengah jalan. Aku juga tidak tahu apa masalahnya dan salah siapa. Tiap kali aku menjalin hubungan selalu saja berakhir dan akhirnya kami putus begitu saja. Mungkin si laki-laki bosan atau bagaimana aku tidak tahu.
Menjadi perawan tua di kampung adalah aib yang menyesakkan. Menjadi gunjingan tetangga. Dibilang tidak laku dan sebagainya. Berbeda dengan perempuan kota. Aku sering sih mendengar, bahwa di kota-kota besar banyak perempuan yang tidak menikah sampai usia lebih dari tiga puluhan. Mungkin bagi mereka itu bukan apa-apa. Lagipula mereka memiliki pekerjaan yang bagus dan uang banyak.
Sedang aku? Aku bekerja di pabrik karena tidak ada pilihan pekerjaan lain sementara aku harus menbiayai hidupku dan Simbokku. Karena meskipun Simbok memiliki sepetak sawah peninggalan Bapak, namun penghasilannya tak memadai, bahkan kadang rugi jika ada serangan wereng atau tikus. Mbakyu-mbakyuku tidak dapat diharapkan karena mereka memiliki keluarga dan kehidupan mereka juga seadanya.
Yang lebih memedihkanku, entah darimana mulanya, kemudian berhembus gosip aku tidak menikah karena aku ‘demenan’ dengan salah satu kakak iparku. Duh, gusti paringana sabar! Tak jua menikah dalam usiaku yang sudah tak lagi muda sudah merupakan beban berat bagiku dan simbokku, kini harus pula menanggung omongan buruk tetangga. Kalau saja aku bisa menangis, aku ingin menangis keras-keras. Namun semua jeritan itu hanya dapat kugaungkan dalam hati. Sejak kecil aku jarang menangis karena Bapak melarangku untuk menangis.
Gosip itu bermula gara-gara akhir-akhir ini aku sering diantar kakak iparku yang baru punya motor. Tapi apa yang salah dengan semua itu? Bapak sudah meninggal. Simbok sudah tua dan mulai sakit-sakitan. Ponakan-ponakanku masih kecil-kecil Kakakku semuanya perempuan. Kepada siapa lagi akau minta tolong dan minta perlindungan jika bukan kepada mereka dan suami-suami mereka? Salahkah aku minta tolong diantar ke dokter kepada kakak iparku dengan motornya karena kebetulan aku sakit akhir-akhir ini dan mesti bolak-balik ke dokter? Salahkah aku minta diantar ke pabrik karena aku masih lemah dan cuaca kebetulan sedang buruk: sering hujan dan berangin? Sementara aku tidak bisa berlama-lama izin sakit karena pabrik akan memotong habis poinku? Tapi orang-orang tak melihat semua itu. Mereka tak mau tahu bahwa diluar itu aku masih tetap kemana-mana sendiri dengan sepeda ontelku.
Gosip itu bahkan makin kuat karena kemudian kakak iparku sering ke rumah. Padahal dia ke rumah karena -lagi-lagi kebetulan- membenahi rumah yang kutinggali bersama simbok. Suami dari Mbakyuku yang nomor dua ini adalah satu-satunya tukang batu di keluarga kami. Wajar tho kalau aku dan Simbok minta tolong dia membenahi rumah kami yang bocor disana-sini dan dindingnya pun mulai runtuh disana-sini? Karena saat ini sedang musim hujan hingga rumah kami sering kebanjiran?
Ingin rasanya aku berteriak pada semua orang, aku mau menikah dengan siapa saja saat ini juga jika itu akan dapat menghentikan omongan mereka. Namun, lagi-lagi, kenyataan seringkali lebih buruk dari apa yang kita pikirkan. Mbakyuku bahkan kemudian termakan oleh gossip itu dan mulai bersikap tak bersahabat denganku. Pun mbakyu-mbakyuku lainnya. Mereka memandangku dengan sikap curiga, seakan-akan aku akan mencuri suami mereka setiap saat.
Kalau bukan karena Simbok, aku ingin pergi jauh atau ditelan bumi saja sekalian. Tapi kemana aku mesti pergi? Sejak kecil aku tak pernah tinggal jauh dari tanah kelahiran dan dari keluargaku. Lagipula aku akan bekerja apa? Sedang pengalaman yang kupunya hanyalah bekerja sekian tahun di pabrik konveksi dengan tugas yang sama. Tak pernah berubah.
Hingga suatu hari, dalam semburat jingga mentari baru, aku menghentikan sepedaku di sebuah masjid pinggir jalan. Masjid ini setiap hari kulalui dalam perjalanan pulang pergiku ke pabrik. Hanya saja selama ini aku tak pernah tertarik untuk mampir. Hanya saja selama ini tubuh penatku tak pernah memberi kesempatan aku tertarik untuk menghadiri pengajian subuh seperti yang diselenggarakan pagi ini.
Tapi kali ini aku tak lagi memedulikan lelah dan kantuk yang mendera setelah bekerja shift malam. Aku hanya ingin mendapat sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang kuharapkan dapat meringankan beban jiwaku. Sesuatu yang akan menyirami perasaanku yang nyaris mati. Sesuatu yang akan membuat hidupku lebih berarti. Meski hanya arti bagi diriku sendiri. Bukan sekedar perawan tua, yang menjalani hidupnya dengan pulang pergi ke pabrik sambil menunggu seseorang datang melamarnya. Sesuatu yang mungkin akan membantuku keluar dari gossip tetangga, setidaknya membuatku lebih sabar menghadapi cercaan mereka. Kamu mau doakan aku kan?

Link ke posting ini Email this post

Lagi ta’aruf, Kenapa Bingung?

Kok bingung…? Itulah satu kata yang terlontar dari mulut seorang ikhwan yang lagi berta’aruf dengan Salsa (tidak nama sebenarnya). Salsa seorang akhwat yang selama ini selalu menjaga pergaulan dan menutup diri untuk namanya pacaran, akhirnya terjebak juga dengan perasaan gundah, bingung, dan resah seperti yang dialami oleh kebanyakan orang-orang yang mau menikah.
Keadaan ini dialami oleh Salsa setelah ada komitmen dengan si Akhi untuk melanjutkan pernikahan secepatnya, namun satu kata kunci dari seorang ibu yang melahirkan dan membesarkan si Akhi belum ada kata-kata setuju atau pun tidak. Saat Salsa meminta keputusan tegas dari si akhi, dia pun tidak bisa memberikan keputusan tegas karena hasil dari sholat istikharahnya ‘positif’, hanya tinggal menunggu keputusan Ibunya. Inilah yang membuat Salsa menjadi gundah karena serba tidak jelas, hatinya pun menjadi maju mundur.
Ungkapan rasa bingung ini pun keluar dari mulut Salsa saat ditelepon dengan si Akhi, persis ketika itu, orang tua Salsa sudah mulai mendesak untuk mendapatkan suatu kejelasan, ditambah lagi satu ikhwan lain bermaksud hendak berta’aruf juga dengannya. Kondisi ini semakin membuatnya resah, saat mengingat umurnya yang sudah cukup matang untuk menikah. Akhirnya keluhannya diterima oleh si Akhi sambil memberikan nasehat, “Hidup kita ini sudah diatur oleh Allah, bukankah selama ini kita sudah banyak menimba ilmu tentang keyakinan kepada Allah, bahwa taqdir Allah sudah ditetapkan bagi semua makhluknya?” Tinggal bagi kita sekarang untuk mengamalkan dan mempraktekkan ilmu yang telah kita timba di pengajian.
Allah sentiasa menguji hamba-Nya dengan keresahan, kesusahan dan kekurangan. Maka orang yang selalu mengikuti petunjuk Allah, maka ia tidak akan pernah merasa khawatir dan tidak pula bersedih hati. Kenapa harus bingung?
Gedebuk!! Begitulah kira-kira irama jantung Salsa saat diingatkan dengan firman Allah di atas. Si Akhi pun melanjutkan nasehatnya, “Sekarang tinggal bagi kita memperkuat hubungan dengan Allah, mengisi waktu malam dengan sholat tahajud, memperbanyak tilawah Qur’an, banyak bersedekah, banyak berzikir, dan sabar serta ridho menerima kondisi ini. Sambil kita terus berusaha dan terus berdo’a agar Alloh membuka pintu hati Ibu, karena hati Ibu itu, juga berada dalam gemgaman Allah. Kalau Allah berkehendak kita berjodoh, pasti akan terlaksana juga apaun rintangannya.”
Dalam hati Salsa terus beristigfar atas kegundahan dan rasa was-was yang dihembuskan oleh syaitan ke dalam hatinya. Setelah itu Salsa pun mulai agak merasa tenang, walau sekali-kali muncul juga perasaan khawatir itu, akhirnya ia menyibukkan diri mencari berbagai literatur, untuk mendapatkan mengatasi keresahan hatinya. Dia pun menemukan buku yang ditulis Harun Yahya dengan judul “Melihat kebaikan dalam Segala Hal” (Seeing Good in All). Dalam buku tersebut, kembali salsa menemukan kutipan dari firman Allah:
“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (Ali Imran:160)
Usai membaca buku itu, Salsa pun merenung, ternyata rasa tawakal, sabar dan berhusnuzhon pada Allah, inilah yang harus selalu dipupuk di setiap helaan nafas, dan dalam setiap langkah kita. Setiap ujian dan rintangan yang menimpa kita, pasti ada kebaikan dan pelajaran yang bisa dipetik, sekalipun kondisi itu tidak kita sukai. Ini baru satu perjuangan untuk mewujudkan pernikahan, belum lagi perjuangan-perjuangan lain yang jauh lebih berat lagi.
Wahai saudara-saudariku… perjuangan untuk menikah itu, bukanlah suatu perjuangan yang mudah, oleh karena itu, bagi saudara-saudariku yang telah menikah jagalah keharmonisan keluarga anda, jangan biarkan biduk keluarga anda oleng dan karam di tengah lautan, karena hidup di dunia ini hanya sesaat, kelak di akherat sana kita dimintai pertanggungjawaban atas kewajiban dan tanggung jawab yang kita emban.
Bagi para suami berlombalah melatih diri untuk menjadi pemimpin yang berakhlak mulia, seperti akhlaknya Rasulullah, menjadi ayah yang memberikan keteladanan pada anak-anaknya. Tidak otoriter sebagai soerang pemimpin. Ajaklah isteri anda untuk bermusyawarah dalam menyelesaikan persoalan rumah tangga.
Bagi para isteri bersemangatlah untuk memicu diri agar bisa menjadi bidadari dunia dan akherat bagi suamimu, indah dipandang mata, sejuk di kalbu dan bermesra dirasa, yang pasti selalu dekat dengan Allah. Menjadi isteri dan ibu yang memberi rasa damai pada anggota keluarga Didiklah para anak-anak anda, menjadi anak-anak yang kelak akan mengguncang dunia ini dengan menegakkan panji-panji Islam. Jangan biarkan anak anda sibuk dengan dunia khayal, sebagai dampak dari film-film yang ditontonnya.
Bagi yang belum menikah bersabar dan berusahalah untuk meraih kasih sayang Allah, karena orang yang mendapat kasih sayang Allahlah yang akan beroleh kebaikan dunia dan akhirat. Semoga kita semua beroleh Surga yang dijanjikan Allah, dan diizinkan untuk hadir dalam pertemuan yang sangat gung yakni pertemuan di saat melihat wajah Allah, sebagai imbalan bagi hambanya yang sabar dalam meniti hidup ini. Amin ya Rabbal’alamin

Link ke posting ini Email this post

Semua Adalah Pilihan

Tak ada yang saya salahkan...,” suaranya mengambang, seakan datang dari negeri yang jauh. “Kecuali diri saya sendiri!”
Aku terdiam, tenang mendengarkan. Sementara mata kami melanglang buana, melahap semua keindahan ciptaan Ilahi yang terpampang hingga batas cakrawala. Punggung bukit yang berhias kerlap-kerlip lampu berwarna jingga, kemerahan, kebiruan, orange dan kuning itu membawa sensasi luar biasa bagi pupil mata.
“Kondisi yang harus saya jalani saat ini, adalah konsekuensi dari pilihan hidup saya sendiri,” suaranya terdengar lagi. Aku masih khusyuk memperhatikan, sambil menikmati udara senja pegunungan yang menyelusup ke seluruh pori-poriku. Sejuk menyegarkan. Kawasan puncak menjelang malam, indah nian.
“Ketika saya baru lulus kuliah dulu, sebenarnya saya sudah ditawari untuk menikah. Namun waktu itu tegas-tegas saya menolak dengan alasan saya mau bekerja dulu, mencoba mempersembahkan sedikit bakti bagi orang tua --yah, meskipun saya tahu itu semua tak akan pernah dapat membalas jasa mereka--. Juga karena saya merasa masih ada dalam diri saya yang harus dibenahi. Harus saya akui, saya adalah tipe seorang dengan jiwa yang selalu gelisah. Rasanya saat itu, saya belum siap untuk berumahtangga, karena masih begitu banyak yang ingin saya lakukan, bagi diri sendiri dan bagi orang lain,” sahabat saya tersenyum kecil, matanya tak lepas dari kejauhan.
“Dua tahun kemudian, kembali datang tawaran menikah. Kebetulan saat itu saya memang sudah mulai berpikir untuk menikah. Dari banyak tawaran yang datang, yang paling serius adalah seorang pemuda biasa, tetangga kampung. Sementara saat itu saya adalah seorang gadis muda dengan semangat keislaman yang sangat tinggi. Saya mensyaratkan dia harus mau ngaji dulu sebelum menikah dengan saya. Dia tak sanggup. 'Aku mencari istri, bukan mencari orang yang menyuruhku ngaji,' katanya. Sedang saya tetap berkeras pada syarat yang saya minta. Maka proses pun berhenti di langkah itu dan hidup pun kembali berjalan pada pilihan masing-masing. Perasaan saya biasa saja saat itu. Waktu itu saya berpikir toh saya masih sangat muda, dua puluh empat tahun. Jadi, enjoy aja,” Wanita muda itu menarik napas ringan sebelum melanjutkan.
“Menjelang usia dua puluh lima, datang lamaran lagi dari seorang laki-laki yang cukup saya kenal. Kali ini saya suka. Dia adalah pemuda tipe ideal saya. Maka serta merta saya terima. Tapi ternyata proses ini pun gagal lagi pada akhirnya. Orang tuanya menginginkan dia menikah dengan orang yang sesuku,” suaranya bergetar. Ada jeda kesedihan yang tiba-tiba menyeruak.
”Saya sangat terluka dengan penolakan ini, hingga memilih melarikan diri pada aktifitas sosial yang sangat banyak. Mendampingi anak jalanan, mengadakan berbagai bakti sosial, dan ikut menjadi relawan dalam penanganan bencana-bencana di Jakarta. Saya nyaris tak pernah di rumah. Karena selain aktifitas-aktifitas tadi, aku juga tetap bekerja. Bahkan kemudian saya sangat menikmati aktifitas yang mulanya pelarian ini. Saya seperti menemukan apa yang pernah saya inginkan selama ini.”
Kulihat bara semangat itu pada sorot matanya, pada wajah yang ditegakkannya.
“Di tengah gelora semangat itu, menjelang usiaku dua puluh enam, datang lagi sebuah lamaran. Kali ini dari seorang pemuda shalih yang baik, kalem dan pendiam, meskipun dia bukan aktifis. Seseorang yang belum pernah saya kenals ebelumnya. Saya yang tak mau kehilangan aktifitas yang sedang saya jalani, kembali mengajukan syarat, agar diijinkan tetap beraktifitas seperti semula. Sebenarnya dia tak menghalangi sepenuhnya. Dia hanya mengatakan, boleh saja beraktifitas, tetapi sebagai seorang istri harus mendahulukan kepentingan keluarga dan minta izin suami jika akan keluar rumah. Pernyataan itu saya tangkap sebagai 'larangan' waktu itu. Barangkali karena saya memimpikan mendapat pasangan sesama aktifis, seperti maraknya beberapa teman organisasi yang menikah dengan kalangan sendiri. Hhhh..., ” kali ini si Mbak menarik napas panjang. “Saya menolaknya!” Suaranya kembali tergetar.
“Inilah proses yang paling saya sesali, hingga saat ini. Saya merasa bersalah sekali. Saya merasa sangat kekanak-kanakan. Sebenarnya apa sih yang saya inginkan? Dulu ketika baru lulus, saya beralasan hendak bekerja dulu dan beraktifitas. Itu sudah saya jalani semua. Ketika ada laki-laki biasa melamar, saya bilang saya ingin mendapat mendapat seorang ikhwan, dan kini Allah pun menghadirkannya. Sekarang? Saya menginginkan menikah dengan sesama aktifis yang benar-benar bisa memahami aktifitas publik saya. Sepertinya saya tidak bersyukur dan terus menerus mencari yang seperti saya inginkan saat itu.” Dalam temaram lampu taman, aku dapat melihat kaca di bola matanya. Kugenggam tangannya, memberi kekuatan.
“Kesadaran bahwa pilihan dan sikap saya adalah kekeliruan, muncul tak lama kemudian. Hanya dua bulan setelah dia melamar. Kepada comblang yang mempertemukan kami, saya mengatakan ingin mencoba memperbaiki keputusan yang telah lalu. Namun semua sudah terlambat. Laki-laki itu tak lama lagi akan menikah.” Kaca itu pecah, menjadi butiran-butiran kristal yang mengaliri pipinya.
“Rasa bersalah itu pun kian mendera perasaan. Saya mencoba menebus rasa bersalah itu dengan bersilaturahmi kepada sebanyak mungkin orang. Kepada kaum kerabat yang jarang saya kunjungi, kepada teman-teman lama yang mulai terlupakan karena aktifitas-aktifitas baru saya. Juga kepada guru-guru masa kecil. Saya tak tahu mengapa itu cara yang saya lakukan untuk menebus rasa bersalah, yang pasti saya hanya berharap, silaturahmi-silaturahmi itu dapat menjadi kafarat.” Si Mbak tersenyum lagi. Ada kelegaan tergambar di wajahnya.
“Peristiwa itu membuat saya menjadi lebih dewasa. Saya mulai bersungguh-sungguh mencari pasangan hidup. Saya menghargai setiap tawaran yang datang. Bahkan saya juga minta tolong pada teman-teman untuk mencarikan.” Wajahnya meredup lagi. “Saya tak pernah menolak lagi siapapun yang diajukan kepada saya, baik oleh guru ngaji, lewat teman-teman. Ataupun calon dari orang tua. Namun yang terjadi kemudian adalah bagai karma! Kali ini giliran saya yang terus menerus ditolak. Telah belasan orang dalam tiga tahun terakhir sejak saya menolak lamaran pemuda shalih itu. Bahkan termasuk teman-teman dekat saya sendiri, mereka menolak dengan halus tawaran saya untuk menikah dengan mereka.” Suaranya begitu lirih, tercekat menahan tangis.
“Akhirnya saya merasakan juga sakitnya ditolak. Berkali-kali!” Perempuan itu kini tergugu. Lama. Dia menelungkupkan wajahnya di bangku taman. Aku tak dapat berbuat apa-apa, kecuali mengelus kepalanya yang terbungkus jilbab biru. Waktu terus berlalu dalam keheningan. Hanya isak tangis tertahannya yang terdengar, ditingkahi lolong anjing di kejauhan. Aku tak menghitung berapa lama dia menuntaskan gundahnya sampai kemudian dia bangkit, menuju serumpun shion yang tengah mekar.
“Mungkin orang akan mengatakan, itulah akibat dari menolak-nolak orang. Jadi perawan tua. Itu adalah konsekuensi yang tak hendak saya ingkari. Saya harus menerima predikat itu. Karena memang demikianlah adanya. Dan kini saya mendapatkan sudut pandang yang lain: bisa jadi sikap-sikap saya dulu, dan pilihan-pilihan itu memang sebuah kesalahan.” Dia menghela napas. Tegar.
“Tapi ada satu hal yang saya syukuri. Semua peristiwa itu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Sungguh-sungguh berharga. Kini saya tahu seperti apa perihnya ditolak. Kini saya sangat paham, manusia hanya dapat berencana, sedang Allah lah yang Maha Penentu. Kini saya mengerti, sangat mengerti bahwa Allah tahu yang terbaik untuk kita. Apa yang diberikanNya adalah selalu yang kita butuhkan, meski mungkin bukan yang kita inginkan. Kini saya juga jadi lebih dapat menghargai setiap orang. Bahwa siapapun dia, setiap orang selalu memiliki kelebihan dan kekurangan. Penghargaan kita yang tulus padanya akan berbalas perhatian pula.” Wanita itu tersenyum. Kedamaian mengaura pada dirinya.
“Saya tak menyesali apa yang telah terjadi di masa lalu. Saya mungkin kehilangan kesempatan-kesempatan itu, namun saya tidak kehilangan hikmah dan pelajarannya. Barangkali memang harus demikian pergolakan jiwa dan perjalanan batin saya. Barangkali memang ahrus dengan cara itu saya dapat menjadi lebih matang. Kalau waktu itu saya menikah dengan jiwa yang seperti itu, mungkin juga tidak baik hasilnya. Saya mungkin menikah dengan kondisi terpaksa, dan saya tak tahu apa yang akan terjadi pada rumah tangga seperti itu Mungkin saya tak akan pernah mendapat hikmah-hikmah ini. Saya bahagia sekarang karena saya dapat merasakan ketulusan itu. Kini saya sangat siap untuk menerima pasangan hidup, siapapun dia.”
“Bukan! Sama sekali bukan berarti saya banting harga karena saya sudah 30 tahun hingga segala idealita yang dulu digugurkan,” dia buru-buru menambahkan. Seakan-akan takut kalimatnya akan langsung dipersepsikan lain. Saya mengerti karena kebanyakan seperti itu anggapan masyarakat terhadap para wanita lajang yang sudah beranjak lewat dari usia dua puluhan. Mereka seakan berlomba mengobral dirinya agar dapat menikah segera.
“Tetapi karena pengalaman telah mengajarkan saya banyak hal. Tetapi karena saya tidak lagi emosional sekarang. Bukan karena kehilangan idealita. Dan itu membuat saya bisa menerima siapa saja sekarang, karena saya kini mengerti arti sebuah ketulusan. Hingga saya dapat menghargai setiap orang, lebih dan kurangnya. Juga, saya pun tahu dan berlapang dada, jika Allah masih menimpakan akibat dari sikap-sikap saya di masa lalu. Semoga kesadaran ini akan menjadi kafarat dosa-dosa saya.”
Wanita itu kini menatapku lembut. Wajahnya bercahaya tertimpa sinar lampu taman. Dia tersenyum, dengan senyuman bagai rembulan. Aku membalas senyumnya. Sementara angin malam makin menggigit tulang. Bulan sepasi yang menggantung di langit menandakan bahwa tengah malam telah jauh berlalu. Pemandangan puncak di waktu malam makin indah, namun kini tiba saatnya kami harus beristirahat. Hidup harus terus berjalan, dan kami tak boleh terlampau sering menoleh ke belakang, kecuali sekedar mengambil pelajaran. Bukan untuk bersedih atas semua yang telah lalu.
Bergandengan tangan, kami bangkit dan melangkah ke dalam vila yang kami tinggali. Sekali lagi lolong anjing terdengar di kejauhan. Namun itu tak berarti apa-apa. Yang kami punya sekarang tekat, untuk terus memperbaiki diri dan jiwa. Orang muslim yang paling baik bukanlah mereka yang tak pernah berbuat kesalahan. Namun mereka yang tiap kali berbuat kesalahan dia sadar dan berusaha bertaubat kemudian memperbaikinya.

Di ambil dan dikutif dari Malajah Muslim

Link ke posting ini Email this post

Keong Mas

Senin, 10 November 2008













Apakah Keong Mas Itu?
Keong mas (Pomacea canaliculata Lamarck)
diperkenalkan ke Asia pada tahun 1980an dari
Amerika Selatan sebagai makanan potensial bagi
manusia. Namun, kemudian keong mas menjadi
hama utama padi yang menyebar ke Filipina,
Kamboja, Thailand, Vietnam, dan Indonesia.
Mengapa Keong Mas Harus Dikendalikan?
Keong mas memakan tanaman padi muda serta
dapat menghancurkan tanaman pada saat
pertumbuhan awal.
Saat-saat Penting untuk Mengendalikan
Keong Mas
Saat-saat penting untuk mengendalikan keong mas
adalah pada 10 hari pertama untuk padi tanam pindah
dan sebelum tanaman berumur 21 hari pada tabela
(tanam benih secara langsung). Setelah itu, tingkat
pertumbuhan tanaman biasanya lebih tinggi daripada
tingkat kerusakan akibat keong.
Bagaimana Mengendalikan Keong Mas?
• Semut merah memakan telur keong, sedangkan
bebek (dan kadang-kadang tikus) memakan keong
muda. Bebek ditempatkan di sawah selama
persiapan lahan tahap akhir atau setelah tanaman
tumbuh cukup besar (misalnya 30-35 hari setelah
tanam); keong dapat dipanen, dimasak untuk
dimakan oleh manusia.
• Pungut keong dan hancurkan telurnya. Hal ini
paling baik dilakukan di pagi dan sore hari ketika
keong berada pada keadaan aktif. Tempatkan
tongkat bambu untuk menarik keong dewasa
meletakkan telurnya.
• Tempatkan dedaunan dan pelepah pisang untuk
menarik perhatian keong agar pemungutan keong
lebih mudah dilakukan.
• Keong bersifat aktif pada air yang menggenang/
diam dan karenanya, perataan tanah dan
pengeringan sawah yang baik dapat menekan
kerusakan. Buat saluran-saluran kecil (misalnya,
lebar 15-25 cm dan dalam 5 cm) untuk
memudahkan pengeringan dan bertindak sebagai
titik fokus untuk mengumpulkan keong atau
membunuh keong secara manual. Apabila
pengendalian air baik, pengeringan dan pengaliran
air ke sawah dilakukan hingga stadia anakan
(misalnya, 15 hari pertama untuk tanam pindah
dan 21 hari pertama untuk tabela).
• Tempatkan tanaman beracun (misalnya daun
eceng (Monochoria vaginalis), daun tembakau,
dan daun Kalamansi) pada bidang-bidang
sawah atau di saluran-saluran kecil.
• Tempatkan penyaring dari kawat atau anyaman
bambu pada saluran keluar dan masuk irigasi
utama untuk mencegah masuknya keong dari
lahan lain. Manfaat dari tindakan ini agak
terbatas karena kebanyakan keong mengubur
dirinya sendiri dan “hibernasi” di sawah ketika
tanah mengering.
• Tanam bibit-bibit yang sehat dengan anakan
yang sehat. Terkadang, tanam pindah dapat
ditunda (misalnya bibit berumur 25-30 versus
12-15 hari), atau tanam bibit ganda per
rumpun.
• Pengendalian dengan pestisida berbahan aktif
niclos amida dan deris mungkin dibutuhkan
bila praktek-praktek lainnya gagal. Cek produkproduk
yang tersedia secara lokal yang
memiliki kadar racun rendah terhadap
manusia dan lingkungan. Pertimbangkan
untuk menggunakan produk-produk untuk
tempat-tempat rendah dan kanal-kanal kecil,
bukan ke seluruh bidang sawah. Selalu
pastikan penggunaan yang aman.

HAMA TANAMAN

1. MORFOLOGI UMUM HAMA

Untuk mengenal berbagai jenis binatang yang dapat berperan sebagai hama, maka sebagai langkah awal dalam kuliah dasar-dasar Perlintan akan dipelajari bentuk atau morfologi, khususnya morfologi luar (external morphology) binatang penyebab hama. Namun demikian, tidak semua sifat morfologi tersebut akan dipelajari dan yang dipelajari hanya terbatas pada morfologi “penciri” dari masing-masing golongan. Hal ini bertujuan untuk mempermudah dalam melakukan identifikasi atau mengenali jenis-jenis hama yang dijumpai di lapangan.

Dunia binatang (Animal Kingdom) terbagi menjadi beberapa golongan besar yang masing-masing disebut Filum. Dari masing-masing filum tersebut dapat dibedakan lagi menjadi golongan-golongan yang lebih kecil yang disebut Klas. Dari Klas ini kemudian digolongkan lagi menjadi Ordo (Bangsa) kemudian Famili (suku), Genus (Marga) dan Spesies (jenis).

Beberapa filum yang anggotanya diketahui berpotensi sebagai hama tanaman adalah Aschelminthes (nematoda), Mollusca (siput), Chordata (binatang bertulang belakang), dan Arthropoda (serangga, tunggau, dan lain-lain). Dalam uraian berikut akan dibicarakan secara singkat tentang sifat-sifat morfologi luar anggota filum tersebut.

A. FILUM ASCHELMINTHES

Anggota filum Aschelminthes yang banyak dikenal berperan sebagai hama tanaman (bersifat parasit) adalah anggota klas Nematoda. Namun, tidak semua anggota klas Nematoda bertindak sebagai hama, sebab ada di antaranya yang berperan sebagai nematoda saprofag serta sebagai nematoda predator (pemangsa), yang disebut terakhir ini tidak akan dibicarakan dalam uraian-uraian selanjutnya.

Secara umum ciri-ciri anggota klas Nematoda tersebut antara lain adalah :

* Tubuh tidak bersegmen (tidak beruas)

* Bilateral simetris (setungkup) dan tidak memiliki alat gerak

* Tubuh terbungkus oleh kutikula dan bersifat transparan.

Untuk pembicaraan selanjutnya, anggota klas nematoda yang bersifat saprofag digolongkan ke dalam nematoda non parasit dan untuk kelompok nematoda yang berperan sebagai hama tanaman dimasukkan ke dalam golongan nematoda parasit.

Ditinjau dari susunannya, maka bentuk stylet dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu tipe stomatostylet dan odonostylet. Tipe stomatostylet tersusun atas bagian-bagian conus (ujung), silindris (bagian tengah) dan knop stylet (bagian pangkal). Tipe stylet ini dijumpai pada nematoda parasit dari ordo Tylenchida.

Tipe odonostylet dijumpai pada nematoda parasit dari ordo Dorylaimida, yang styletnya tersusun atas conus dan silindris saja. Beberapa contoh dari nematoda parasit ini antara lain adalah :

* Meloidogyne sp. yang juga dikenal sebagai nematoda “puru akar” pada tanaman tomat, lombok, tembakau dan lain-lain.

* Hirrschmanieella oryzae (vBrdH) pada akar tanaman padi sawah.

* Pratylenchus coffae (Zimm) pada akar tanaman kopi.

B. FILUM MOLLUSCA

Dari filum Mollusca ini yang anggotanya berperan sebagai hama adalah dari klas Gastropoda yang salah satu jenisnya adalah Achatina fulica Bowd atau bekicot, Pomacea ensularis canaliculata (keong emas). Binatang tersebut memiliki tubuh yang lunak dan dilindungi oleh cangkok (shell) yang keras. Pada bagian anterior dijumpai dua pasang antene yang masing-masing ujungnya terdapat mata. Pada ujung anterior sebelah bawah terdapat alat mulut yang dilengkapi dengan gigi parut (radula). Lubang genetalia terdapat pada bagian samping sebelah kanan, sedang anus dan lubang pernafasan terdapat di bagian tepi mantel tubuh dekat dengan cangkok/shell.

Bekicot atau siput bersifat hermaprodit, sehingga setiap individu dapat menghasilkan sejumlah telur fertil. Bekicot aktif pada malam hari serta hidup baik pada kelembaban tinggi. Pada siang hari biasanya bersembunyi pada tempat-tempat terlindung atau pada dinding-dinding bangunan, pohon atau tempat lain yang tersembunyi.

C. FILUM CHORDATA

Anggota Filum Chordata yang umum dijumpai sebagai hama tanaman adalah dari klas Mammalia (Binatang menyusui). Namun, tidak semua binatang anggota klas Mammalia bertindak sebagai hama melainkan hanya beberapa jenis (spesies) saja yang benar-benar merupakan hama tanaman. Jenis-jenis tersebut antara lain bangsa kera (Primates), babi (Ungulata), beruang (Carnivora), musang (Carnivora) serta bangsa binatang pengerat (ordo rodentina). Anggota ordo Rodentina ini memiliki peranan penting sebagai perusak tanaman, sehingga secara khusus perlu dibicarakan tersendiri, yang meliputi keluarga bajing dan tikus.

1. Keluarga Bajing (fam. Sciuridae)

Ada dua jenis yang penting, yaitu Callossciurus notatus Bodd. dan C. nigrovittatus yang keduanya dikenal dengan nama “bajing”. Jenis pertama dijumpai pada daerah-daerah di Indonesia dengan ketinggian sampai 9000 m di atas permukaan laut. Sedang jenis C. nigrovittatus dapat dijumpai di Jawa, Kalimantan, dan Sumatera pada daerha dengan ketinggian sampai 1500 m.

Jenis bajing ini umumnya banyak menimbulkan kerusakan pada tanaman kelapa namun beberapa jenis tanaman buah kadang-kadang juga diserangnya. Gejala serangan hama bajing pada buah kelapa tampak terbentuknya lubang yang cukup lebar dan tidak teratur dekat dengan ujung buah, sedang jika yang menyerang tikus maka lubang yang terbentuk lebih kecil serta tampak lebih teratur/rapi.

2. Keluarga tikus (fam. Muridae)

Ada beberapa jenis yang diketahui banyak menimbulkan kerusakan antara lain, tikus rumah (Rattus-rattus diardi Jent); tikus pohon (Rattus-rattus tiomanicus Muller), serta tikus sawah (Rattus-rattus argentiver_Rob.&Kl).

Tikus rumah dikenal pula sebagai tikus hitam karena warna bulunya hitam keabu-abuan atau hitam kecoklatan. Panjang tubuh sampai ke kepala antara 11-20 cm dan panjang ekor biasanya lebih panjang daripada panjang tubuh + kepala. Jumlah puting susunya ada 10 buah.

Tikus pohon memiliki ukuran tubuh yang hampir sama dengan tikus rumah. Bulu tubuh bagian ventral putih bersih atau kadang-kadang agak keabu-abuan. Panjang ekor biasanya lebih panjang daripada panjang tubuh + kepala. Jumlah putting susunya ada 10 buah.

Tikus sawah memiliki ciri-ciri tubuh antara lain bulu-bulu tubuh bagian ventral berwarna keabu-abuan atau biru keperakan. Panjang ekor biasanya sama atau lebih pendek daripada panjang tubuh + kepala. Pada pertumbuhan penuh panjang tubuhnya antara 16-22 cm serta jumlah puting susu ada 12 buah.

D. FILUM ARTHOPODA

Merupakan filum terbesar di antara filum-filum yang lain karena lebih dari 75 % dari binatang-binatanag yang telah dikenal merupakan anggota dari filum ini. Karena itu, sebagian besar dari jenis-jenis hama tanaman juga termasuk dalam filum Arthropoda.

Anggota dari filum Arthropoda yang mempunyai peranan penting sebagai hama tanaman adalah klas Arachnida (tunggau) dan klas Insecta atau Hexapoda (serangga).

1. Klas Arachnida

Tanda-tanda morfologi yang khas dari anggota klas Arachnida ini adalah:

- Tubuh terbagi atas dua daerah (region), yaitu cephalothorax (gabungan caput dan thorax) dan abdomen.

- Tidak memiliki antene dan mata facet.

- Kaki empat pasang dan beruas-ruas.

Dalam klas Arachnida ini, yang anggotanya banyak berperan sebagai hama adalah dari ordo Acarina atau juga sering disebut mites (tunggau).

Morfologi dari mites ini antara lain, segmentasi tubuh tidak jelas dan dilengkapi dengan bulu-bulu (rambut) yang kaku dan cephhalothorax dijumpai adanya empat pasang kaki.

Alat mulut tipe penusuk dan pengisap yang memiliki bagian-bagian satu pasang chelicerae (masing-masing terdidi dari tiga segmen) dan satu pasang pedipaalpus. Chelicerae tersebut membentuk alat seperti jarum sebagai penusuk.

Beberapa jenis hama dari ordo Acarina antara lain adalah :

- Tetranychus cinnabarinus Doisd. atau hama tunggau merah/jingga pada daun ketela pohon.

- Brevipalpus obovatus Donn. (tunggau daun teh).

- Tenuipalpus orchidarum Parf. (tunggau merah pada anggrek).

2. Klas Insekta (Hexapoda/serangga)

Anggota beberapa ordo dari klas Insekta dikenal sebagai penyebab hama tanaman, namun ada beberapa yang bertindak sebagai musuh alami hama (parasitoid dan predator) serta sebagai serangga penyerbuk.

Secara umum morfologi anggota klas Insekta ini adalah:

- Tubuh terdiri atas ruas-ruas (segmen) dan terbagi dalam tiga daerah, yaitu caput, thorax dan abdomen.

- Kaki tiga pasang, pada thorax.

- Antene satu pasang.

- Biasanya bersayap dua pasang, namun ada yang hanya sepasang atau bahkan tidak bersayap sama sekali.

Memahami pengetahuan morfologi serangga tersebut sangatlah penting, karena anggota serangga pada tiap-tiap ordo biasanya memiliki sifat morfologi yang khas yang secara sederhana dapat digunakan untuk mengenali atau menentukan kelompok serangga tersebut. Sifat morfologi tersebut juga menyangkut morfologi serangga stadia muda, karena bentuk-bentuk serangga muda tersebut juga memiliki ciri yang khas yang juga dapat digunakan dalam identifikasi.

Bentuk-bentuk serta ciri serangga stadia muda tersebut secara khusus kakan dibicarakan pada uraian tentang Metamorfose serangga, sedang uraian singkat tentang morfologi “penciri” pada beberapa ordo penting klas Insekta akan diberikan pada uraian selanjutnya.

Berdasarkan sifat morfologinya, maka larva dan pupa serangga dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1. Tipe larva

a. Polipoda, tipe larva ini memiliki ciri antara lain tubuh berbentuk silindris, kepala berkembang baik serta dilengkapi dengan kaki abdominal dan kaki thorakal. Tipe larva ini dijumpai pada larva ngengat/kupu (Lepidoptera)

b. Oligopoda, tipe larva ini dapat dikelompokkan menjadi : Campodeiform dan Scarabaeiform,

c. Apodus (Apodous), tipe larva ini memiliki badan yang memanjang dan tidak memiliki kaki. Kepala ada yang berkembang baik ada yang tidak. Tipe larva ini dijumpai pada anggota ordo Diptera dan familia Curculionidae (Coleoptera).

2. Tipe pupa

Perbedaan bentuk pupa didasarkan pada kedudukan alat tambahan (appendages), seperti calon sayap, calon kaki, antene dan lainnya. Tipe pupa dikelompokkan menjadi tiga tipe :

a. Tipe obtecta, yakni pupa yang memiliki alat tambahan (calon) melekat pada tubuh pupa. Kadang-kadang pupa terbungkus cocon yang dibentuk dari liur dan bulu dari larva.

b. Tipe eksarat, yakni pupa yang memiliki alat tambahan bebas (tidak melekat pada tubuh pupa ) dan tidak terbungkus oleh cocon.

c. Tipe coartacta, yakni pupa yang mirip dengan tipe eksarat, tetapi eksuviar tidak mengelupas (membungkus tubuh pupa). Eksuviae mengeras dan membentuk rongga untuk membungkus tubuh pupa dan disebut puparium.

Tipe pupa obtecta dijumpai pada anggota ordo Lepidoptera, pupa eksarat pada ordo Hymenoptera dan Coleoptera, sedang pupa coartacta pada ordo Diptera.

A. Morfologi Beberapa Ordo Serangga yang Penting

a. Ordo Orthoptera (bangsa belalang)

Sebagian anggotanya dikenal sebagai pemakan tumbuhan, namun ada beberapa di antaranya yang bertindak sebagai predator pada serangga lain.

Anggota dari ordo ini umumnya memilki sayap dua pasang. Sayap depan lebih sempit daripada sayap belakang dengan vena-vena menebal/mengeras dan disebut tegmina. Sayap belakang membranus dan melebar dengan vena-vena yang teratur. Pada waktu istirahat sayap belakang melipat di bawah sayap depan.

Alat-alat tambahan lain pada caput antara lain : dua buah (sepasang) mata facet, sepasang antene, serta tiga buah mata sederhana (occeli). Dua pasang sayap serta tiga pasang kaki terdapat pada thorax. Pada segmen (ruas) pertama abdomen terdapat suatu membran alat pendengar yang disebut tympanum. Spiralukum yang merupakan alat pernafasan luar terdapat pada tiap-tiap segmen abdomen maupun thorax. Anus dan alat genetalia luar dijumpai pada ujung abdomen (segmen terakhir abdomen).

Ada mulutnya bertipe penggigit dan penguyah yang memiliki bagian-bagian labrum, sepasang mandibula, sepasang maxilla dengan masing-masing terdapat palpus maxillarisnya, dan labium dengan palpus labialisnya.

Metamorfose sederhana (paurometabola) dengan perkembangan melalui tiga stadia yaitu telur ---> nimfa ---> dewasa (imago). Bentuk nimfa dan dewasa terutama dibedakan pada bentuk dan ukuran sayap serta ukuran tubuhnya.

Beberapa jenis serangga anggota ordo Orthoptera ini adalah :

- Kecoa (Periplaneta sp.)

- Belalang sembah/mantis (Otomantis sp.)

- Belalang kayu (Valanga nigricornis Drum.)

b. Ordo Hemiptera (bangsa kepik) / kepinding

Ordo ini memiliki anggota yang sangat besar serta sebagian besar anggotanya bertindak sebagai pemakan tumbuhan (baik nimfa maupun imago). Namun beberapa di antaranya ada yang bersifat predator yang mingisap cairan tubuh serangga lain.

Umumnya memiliki sayap dua pasang (beberapa spesies ada yang tidak bersayap). Sayap depan menebal pada bagian pangkal (basal) dan pada bagian ujung membranus. Bentuk sayap tersebut disebut Hemelytra. Sayap belakang membranus dan sedikit lebih pendek daripada sayap depan. Pada bagian kepala dijumpai adanya sepasang antene, mata facet dan occeli.

Tipe alat mulut pencucuk pengisap yang terdiri atas moncong (rostum) dan dilengkapi dengan alat pencucuk dan pengisap berupa stylet. Pada ordo Hemiptera, rostum tersebut muncul pada bagian anterior kepala (bagian ujung). Rostum tersebut beruas-ruas memanjang yang membungkus stylet. Pada alat mulut ini terbentuk dua saluran, yakni saluran makanan dan saluran ludah.

Metamorfose bertipe sederhana (paurometabola) yang dalam perkembangannya melalui stadia : telur ---> nimfa ---> dewasa. Bnetuk nimfa memiliki sayap yang belum sempurna dan ukuran tubuh lebih kecil dari dewasanya.

Beberapa contoh serangga anggota ordo Hemiptera ini adalah :

- Walang sangit (Leptorixa oratorius Thumb.)

- Kepik hijau (Nezara viridula L)

- Bapak pucung (Dysdercus cingulatus F)

c. Ordo Homoptera (wereng, kutu dan sebagainya)

Anggota ordo Homoptera memiliki morfologi yang mirip dengan ordo Hemiptera. Perbedaan pokok antara keduanya antara lain terletak pada morfologi sayap depan dan tempat pemunculan rostumnya.

Sayap depan anggota ordo Homoptera memiliki tekstur yang homogen, bisa keras semua atau membranus semua, sedang sayap belakang bersifat membranus.

Alat mulut juga bertipe pencucuk pengisap dan rostumnya muncul dari bagian posterior kepala. Alat-alat tambahan baik pada kepala maupun thorax umumnya sama dengan anggota Hemiptera.

Tipe metamorfose sederhana (paurometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur ---> nimfa ---> dewasa. Baik nimfa maupun dewasa umumnya dapat bertindak sebagai hama tanaman.

Serangga anggota ordo Homoptera ini meliputi kelompok wereng dan kutu-kutuan, seperti :

- Wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal.)

- Kutu putih daun kelapa (Aleurodicus destructor Mask.)

- Kutu loncat lamtoro (Heteropsylla sp.).

d. Ordo Coleoptera (bangsa kumbang)

Anggota-anggotanya ada yang bertindak sebagai hama tanaman, namun ada juga yang bertindak sebagai predator (pemangsa) bagi serangga lain.

Sayap terdiri dari dua pasang. Sayap depan mengeras dan menebal serta tidak memiliki vena sayap dan disebut elytra.

Apabila istirahat, elytra seolah-olah terbagi menjadi dua (terbelah tepat di tengah-tengah bagian dorsal). Sayap belakang membranus dan jika sedang istirahat melipat di bawah sayap depan.

Alat mulut bertipe penggigit-pengunyah, umumnya mandibula berkembang dengan baik. Pada beberapa jenis, khususnya dari suku Curculionidae alat mulutnya terbentuk pada moncong yang terbentuk di depan kepala.

Metamorfose bertipe sempurna (holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur ---> larva ---> kepompong (pupa) ---> dewasa (imago). Larva umumnya memiliki kaki thoracal (tipe oligopoda), namun ada beberapa yang tidak berkaki (apoda). Kepompong tidak memerlukan pakan dari luar (istirahat) dan bertipe bebas/libera.

Beberapa contoh anggotanya adalah :

- Kumbang badak (Oryctes rhinoceros L)

- Kumbang janur kelapa (Brontispa longissima Gestr)

- Kumbang buas (predator) Coccinella sp.

e. Ordo Lepidoptera (bangsa kupu/ngengat)

Dari ordo ini, hanya stadium larva (ulat) saja yang berpotensi sebagai hama, namun beberapa diantaranya ada yang predator. Serangga dewasa umumnya sebagai pemakan/pengisap madu atau nektar.

Sayap terdiri dari dua pasang, membranus dan tertutup oleh sisik-sisik yang berwarna-warni. Pada kepala dijumpai adanya alat mulut seranga bertipe pengisap, sedang larvanya memiliki tipe penggigit. Pada serangga dewasa, alat mulut berupa tabung yang disebut proboscis, palpus maxillaris dan mandibula biasanya mereduksi, tetapi palpus labialis berkembang sempurna.

Metamorfose bertipe sempurna (Holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur ---> larva ---> kepompong ---> dewasa. Larva bertipe polipoda, memiliki baik kaki thoracal maupun abdominal, sedang pupanya bertipe obtekta.

Beberapa jenisnya antara lain :

- Penggerek batang padi kuning (Tryporiza incertulas Wlk)

- Kupu gajah (Attacus atlas L)

- Ulat grayak pada tembakau (Spodoptera litura)

f. Ordo Diptera (bangsa lalat, nyamuk)

Serangga anggota ordo Diptera meliputi serangga pemakan tumbuhan, pengisap darah, predator dan parasitoid. Serangga dewasa hanya memiliki satu pasang sayap di depan, sedang sayap belakang mereduksi menjadi alat keseimbangan berbentuk gada dan disebut halter. Pada kepalanya juga dijumpai adanya antene dan mata facet.

Tipe alat mulut bervariasi, tergantung sub ordonya, tetapi umumnya memiliki tipe penjilat-pengisap, pengisap, atau pencucuk pengisap.

Pada tipe penjilat pengisap alat mulutnya terdiri dari tiga bagian yaitu :

- bagian pangkal yang berbentuk kerucut disebut rostum

- bagian tengah yang berbentuk silindris disebut haustellum

- bagian ujung yang berupa spon disebut labellum atau oral disc.

Metamorfosenya sempurna (holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur ---> larva ---> kepompong ---> dewasa. Larva tidak berkaki (apoda_ biasanya hidup di sampah atau sebagai pemakan daging, namun ada pula yang bertindak sebagai hama, parasitoid dan predator. Pupa bertipe coartacta.

Beberapa contoh anggotanya adalah :

- lalat buah (Dacus spp.)

- lalat predator pada Aphis (Asarcina aegrota F)

- lalat rumah (Musca domesticaLinn.)

- lalat parasitoid (Diatraeophaga striatalis).

g. Ordo Hymenoptera (bangsa tawon, tabuhan, semut)

Kebanyakan dari anggotanya bertindak sebagai predator/parasitoid pada serangga lain dan sebagian yang lain sebagai penyerbuk.

Sayap terdiri dari dua pasang dan membranus. Sayap depan umumnya lebih besar daripada sayap belakang. Pada kepala dijumpai adanya antene (sepasang), mata facet dan occelli.

Tipe alat mulut penggigit atau penggigit-pengisap yang dilengkapi flabellum sebagai alat pengisapnya.

Metamorfose sempurna (Holometabola) yang melalui stadia : telur-> larva--> kepompong ---> dewasa. Anggota famili Braconidae, Chalcididae, Ichnemonidae, Trichogrammatidae dikenal sebagai tabuhan parasit penting pada hama tanaman.

Beberapa contoh anggotanya antara lain adalah :

- Trichogramma sp. (parasit telur penggerek tebu/padi).

- Apanteles artonae Rohw. (tabuhan parasit ulat Artona).

- Tetratichus brontispae Ferr. (parasit kumbang Brontispa).

h. Ordo Odonata (bangsa capung/kinjeng)

Memiliki anggota yang cukup besar dan mudah dikenal. Sayap dua pasang dan bersifat membranus. Pada capung besar dijumpai vena-vena yang jelas dan pada kepala dijumpai adanya mata facet yang besar.

Metamorfose tidak sempurna (Hemimetabola), pada stadium larva dijumpai adanya alat tambahan berupa insang dan hidup di dalam air.

Anggota-anggotanya dikenal sebagai predator pada beberapa jenis serangga keecil yang termasuk hama, seperti beberapa jenis trips, wereng, kutu loncat serta ngengat penggerek batang padi.

RANGKUMAN

Mengenal sifat-sifat morfologi luar dari binatang penyebab hama merupakan hal yang penting untuk mempermudah mengenali jenis-jenis hama yang ada di lapangan. Ada beberapa filum dalam dunia binatang yang sebagian dari anggotanya berpotensi menjadi hama tanaman, yakni Filum Aschelminthes, Mollusca, Chordata dan Athropoda.

Dalam filum Aschelminthes, anggota klas nematoda banyak yang berperan sebagai hama tanaman, misalnya anggota dari ordo Tylenchida, “Giantsnail”, Achatina fulica merupakan salah satu anggota filum Mollusca yang diketahui sering merusak berbegai jenis tanaman, baik tahunan maupun tanaman semusim.

Anggota ordo Rodentia, yakni tikus dan bajing merupakan anggota filum Chordata yang menjadi hama penting pada beberapa jenis tanaman. Anggota filum Chordata lain yang juga berpotensi menjadi hama tanaman adalah kera (Primates) dan babi (Ungulata).

Arthropoda merupakan filum terbesar dalam jumlah anggotanya, sehingga sebagian besar jenis hama tanaman merupakan anggota filum ini. Namun demikian, anggota filum ini khususnya dalam klas Arachida sebagian besar bertindak sebagai musuh alami hama, sedang dari klas Insekta sebagian dari anggotanya menjadi hama penting pada berbagai jenis tanaman dan yang lain ada pula yang berperan sebagai musuh alami hama.

2. CARA MERUSAK DAN GEJALA KERUSAKAN

Pembicaraan mengenai cara merusak dan gejala merusak yang diakibatkan oleh serangan hama khususnya dari serangga tidak dapat lepas dari pembicaraan mengenai morfologi alat mulut serangga hama. Dengan tipe alat mulut tertentu, serangga hama dalam merusak tanaman akan mengakibatkan gejala kerusakan yang khas pada tanaman yang diserangnya. Karena itu, dengan mempelajari berbagai tipe gejala ataupun tanda serangan akan dapat membantu dalam mengenali jenis-jenis hama penyebab yang dijumpai di lapangan. Bahkan lebih jauh dari itu dapat pula digunakan untuk menduga cara hidup ataupun untuk menaksir populasi hama yang bersangkutan.

Berdasarkan pada cara merusak dan gejala kerusakan yang ditimbulkannya, maka hama-hama penyebab kerusakan pada tanaman dapat digolongkan menjadi beberapa tipe, yaitu hama penyebab gejala puru (gall), hama pemakan, hama penggerek, hama pengisap, hama penggulung, hama penyebab busuk buah, dan hama pengorok (miner)

RANGKUMAN

Jenis-jenis serangga dapat dikelompokkan berdasarkan tipe alat mulutnya. Dengan tipe alat mulut tertentu, perusakan tanaman oleh serangga akan meninggalkan gejala kerusakan yang khas pada tanaman. Oleh karena itu, dengan mempelajari berbagai tipe gejala serangan akan memepermudah untuk mengetahui jenis hama penyebab kerusakan yang dijumpai di lapangan. Gejala kerusakan dalam bentuk intensitas serangan hama dapat juga digunakan untuk menduga tingkat populasi hama di lapangan.

Berdasarkan cara merusak dan tipe gejala, ada tujuh tipe yaitu hama penyebab puru (gall), hama pemakan, hama penggerek, hama pengisap, hama penggulung, hama penyebab busuk buah dan hama penggorok (miner).

3. TAKTIK PENGENDALIAN

Pada dasarnya, pengendalian hama merupakan setiap usaha atau tindakan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung untuk mengusir, menghindari dan membunuh spesies hama agar populasinya tidak mencapai aras yang secara ekonomi merugikan. Pengendalian hama tidak dimaksudkan untuk meenghilangkan spesies hama sampai tuntas, melainkan hanya menekan populasinya sampai pada aras tertentu ynag secara ekonomi tidak merugikan. Oleh karena itu, taktik pengendalian apapun yang diterapkan dalam pengendalian hama haruslah tetap dapat dipertanggungjawabkan secara ekonomi dan secara ekologi.

Falsafah pengendalian hama yang harus digunakan adalah Pengelolaan/Pengendalian hama Terpadu (PHT) yang dalam implementasinya tidak hanya mengandalkan satu taktik pengendalian saja. Taktik pengendalian yang akan diuraikan berikut ini mengacu pada buku karangan Metcalf (1975) dan Matsumura (1980) yang terdiri dari :

1. Pengendalian secara mekanik

2. Pengendalian secara fisik

3. Pengendalian hayati

4. Pengendalian dengan varietas tahan

5. Pengendalian hama dengan cara bercocok tanam

6. Pengendalian hama dengan sanitasi dan eradikasi

7. Pengendalian kimiawi

A. PENGENDALIAN MEKANIK

Pengendalian mekanik mencakup usaha untuk menghilangkan secara langsung hama serangga yang menyerang tanaman. Pengendalian mekanis ini biasanya bersifat manual.

Mengambil hama yang sedang menyerang dengan tangan secara langsung atau dengan melibakan tenaga manusia telah banyak dilakukan oleh banyak negara pada permulaan abad ini. Cara pengendalian hama ini sampai sekarang masih banyak dilakukan di daerah-daerah yang upah tenaga kerjanya masih relatif murah.

Contoh pengendalian mekanis yang dilakukan di Australia adalah mengambil ulat-ulat atau siput secara langsung yang sedang menyerang tanaman kubis. Pengendalian mekanis juga telah lama dilakukan di Indonesia terutama terhadap ulat pucuk daun tembakau oleh Helicoverpa sp. Untuk mengendalikan hama ini para petani pada pagi hari turun ke sawah untuk mengambil dan mengumpulkan ulat-ulat yang berada di pucuk tembakau. Ulat yang telah terkumpul itu kemudian dibakar atau dimusnahkan. Rogesan sering dipraktekkan oleh petani tebu (di Jawa) untuk mencari ulat penggerek pucuk tebu (Scirpophaga nivella) dengan mengiris sedikit demi sedikit pucuk tebu yang menunjukkan tanda serangan. Lelesan dilakukan oleh petani kopi untuk menyortir buah kopi dari lapangan yang terserang oleh bubuk kopi (Hypotheneemus hampei)

B. PENGENDALIAN FISIK

Pengendalian ini dilakukan dengan cara mengatur faktor-faktor fisik yang dapat mempengaruhi perkembangan hama, sehingga memberi kondisi tertentu yang menyebabkan hama sukar untuk hidup.

Bahan-bahan simpanan sering diperlakukan denagn pemanasan (pengeringan) atau pendinginan. Cara ini dimaksudkan untuk membunuh atau menurunkan populasi hama sehingga dapat mencegah terjadinya peledakan hama. Bahan-bahan tersebut biasanya disimpan di tempat yang kedap udara sehingga serangga yang bearada di dalamnya dapat mati lemas oleh karena CO2 dan nitrogen.

Pengolahan tanah dan pengairan dapat pula dimasukkan dalam pengendalian fisik; karena cara-cara tersebut dapat menyebabkan kondisi tertentu yang tidak cocok bagi pertumbuhan serangga. Untuk mengendalikan nematoda dapat dilakukan dengan penggenangan karena tanah yang mengandung banyak air akan mendesak oksigen keluar dari partikel tanah. Dengan hilangnya kandungan O2 dalam tanah, nematoda tidak dapat hidup lebih lama.

C. PENGENDALIAN HAYATI

Pengendalian hayati adalah pengendalian hama dengan menggunakan jenis organisme hidup lain (predator, parasitoid, pathogen) yang mampu menyerang hama. Di suatu daerah hampir semua serangga dan tunggau mempunyai sejumlah musuh-musuh alami. Tersedianya banyak makanan dan tidak adanya agen-agen pengendali alami akan menyebabkan meningkatnya populasi hama. Populasi hama ini dapat pula meningkat akibat penggunaan bahan-bahan kimia yang tidak tepat sehingga dapat membunuh musuh-musuh alaminya. Sebagai contoh, meningkatnya populasi tunggau di Australia diakibatkan meningkatnya penggunaan DDT.

Dua jenis organisme yang digunakan untuk pengendalian hayati terhadap serangga dan tunggau adalah parasit dan predator. Parasit selalu berukuran lebih kecil dari organisme yang dikendalikan oleh (host), dan parasit ini selama atau sebagian waktu dalam siklus hidupnya berada di dalam atau menempel pada inang. Umumnya parsit merusak tubuh inang selama peerkembangannya. Beberapa jenis parasit dari anggota tabuhan (Hymenoptera), meletakkan telurnya didalam tubuh inang dan setelah dewasa serangga ini akan meninggalkan inang dan mencari inang baru untuk meletakkan telurnya.

Sebaliknya predator mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar sari serangga yang dikendalikan (prey), dan sifat predator secara aktif mencari mangsanya, kemudian memakan atau mengisap cairan tubuh mangsa sampai mati. Beberapa kumbang Coccinella merupakan predator aphis atau jenis serangga lain yang baik pada fase larva maupun dewasanya. Contoh lain serangga yang bersifat sebagai predator adalah Chilocorus, serangga ini sekarang telah dimanfaatkan sebagai agensia pengendali hayati terhadap hama kutu perisai (Aspidiotus destructor) pada tanaman kelapa.

Agar predator dan tanaman ini sukses sebagai agen pengendali biologis terhadap serangga, maka harus dapat beradaptasi dulu dengan lingkungan tempat hidup serangga hama. Predator dan parasit itu harus dapat beradaptasi dengan cepat pada lingkungan yang baru. Parasit dan predator juga harus bersifat spesifik terhadap hama dan mampu mencari dan membunuhnya.

Parasit harus mempunyai siklus hidup yang lebih pendek daripada inangnya dan mampu berkembang lebih cepat dari inangnya. Siklus hidup parasit waktunya harus sinkron dengan inangnya sehingga apabila saat populasi inang meningkat maka saat peningkatan populasi parasit tidak terlambat datangnya. Predator tidak perlu mempunyai siklus hidup yang sama dengan inangnya, karena pada umumnya predator ini mempunyai siklus hidup yang lebih lama daripada inangnya dan setiap individu predator mampu memangsa beberapa ekor hama.

Baik parasit maupun predator mempunyai ratio jantan dan betina yang besar, mempunyai keperidian dan kecepatan hidup yang tinggi serta memiliki kemampuan meenyebar yang cepat pada suatu daerah dan serangga-serangga itu secara efektif mampu mencari inang atau mangsanya.

Beberapa parasit fase dewasa memerlukan polen dan nektar, sehingga untuk pelepasan dan pengembangan parasit pada suatu daerah, yang perlu diperhatikan adalah daerah tersebut banyak tersedia polen dan nektar yang nanti dapat digunakan sebagai pakan tambahan.

Parasit yang didatangkan dari suatu daerah, mula-mula dipelihara dahulu di karantina selama beberapa saat agar serangga ini mampu beradaptasi dan berkembang. Selama pemeliharaan di dalam karantina, serangga-serangga ini dapat diberi pakan dengan pakan buatan atau mungkin dapat pula digunakan inangnya yang dilepaskan pada tempat pemeliharaan. Setelah dilepaskan di lapangan populasi parasit ini harus dapat dimonitor untuk mengetahui apakah parasit iru sudah mapan, menyebar dan dapat berfungsi sebagai agen pengendali biologis yang efektif; dan bila memungkinkan serangga ini mampu mengurangi populasi hama relatif lebih cepat dalam beberapa tahun.

Contoh pengendalian biologis yang pernah dilakukan di Australia adalah pengendalian Aphis dengan menggunakan tabuhan chalcid atau pengendalian kutu yang menyerang jeruk dengan menggunakan tabuhan Aphytes.

Selain menggunakan parasit dan predator, untuk menekan populasi serangga hama dapat pula memanfaatkan beberapa pathogen penyebab penyakit pada serangga. Seperti halnya dengan binatang lain, serangga bersifat rentan terhadap penyakit yang disebabkan oleh bakteri, cendawan, virus dan protozoa. Pada kondisi lingkungan yang cocok beberapa jenis penyakit akan menajdi wabah epidemis. Penyakit tersebut secara drastis mampu menekan populasi hama hanya dalam beberapa hari.

Beberapa jenis bakteri, misal Bacillus thuringiensis secara komersial diperdagangkan dalam bentuk spora, dan bakteri ini dipergunakan untuk menyemprot tanaman seperti halnya insektisida. Yang bersifat rentan terhadap bahan ini adalah fase ulat, dan bilamana ulat-ulat itu makan spora, maka akhirnya bakteri akan berkembang di dalam usus serangga hama, akhirnya bakteri itu menembus usus dan masuk ke dalam tubuhnya, sehingga akhirnya larva akan mati.

Jamur dapat pula digunakan untuk mengendalikan serangga hama, sebagai contoh Entomorpha digunakan untuk mengendalikan Aphis yang menyerang alfafa; spesies Beauveria untuk mengendalikan ulat dan Metarrhizium anisopliae sekarang sudah dikembangkan secara masal dengan medium jagung. Jamur ini digunakan untuk mengendalikan larva Orycetes rhinoceros yang imagonya merupakan penggerek pucuk kelapa.

Lebih dari 200 jenis virus mampu menyerang serangga. Jenis virus yang telah digunakan untuk mengendalikan hama adalah Baculovirus untuk menekan populasi Orycetes rhinoceros; Nuclear polyhidrosis virus yang telah digunakan untuk mengendalikan hama Heliothis zeae pada tongkol jagung, bahan tersebut telah banyak digunakan di AS, Eropa dan Australia. Virus tersebut masuk dan memperbanyak diri dalam sel inang sebelum menyebar ke seluruh tubuh. Inti dari sel-sel yang terserang menjadi besar, kemudian virus tersebut menuju ke rongga tubuh akhirnya inang akan mati.

Metode pengelolaan agen pengendali biologi terhadap serangga hama meliputi :

1. Introduksi, yakni upaya mendatangkan musuh alami dari luar (exotic) ke wilayah yang baru (ada barier ekologi).

2. Konservasi, yakni upaya pelestarian keberadaan musuh alami di suatu wilayah dengan antara lain melalui pengelolaan habitat.

3. Augmentasi, parasit dan predator lokal yang telah ada diperbanyak secara massal pada kondisi yang terkontrol di laboratorium sehingga jumlah agensia sangat banyak, sehingga dapat dilepas ke lapangan dalam bentuk pelepasan inundative.

D. PENGENDALIAN DENGAN VARIETAS TAHAN

Beberapa varietas tanaman tertentu kuran dapat diserang oleh serangga hama atau kerusakan yang diakibatkan oleh serangan hama relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan varietas lain. Varietas tahan tersebut mempunyai satu atau lebih sifat-sifat fisik atau fisiologis yang memungkinkan tanaman tersebut dapat melawan terhadap serangan hama.

Mekanisme ketahanan tersebut secara kasar dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu :

1. Toleransi

Tanaman yang memiliki kemampuan melawan serangan serangga dan mampu hidup terus serta tetap mampu berproduksi, dapat dikatakan sebagai tanaman yang toleran terhadap hama. Toleransi ini sering juga tergantung pada kemampuan tanaman untuk mengganti jaringan yang terserang, dan keadaan ini berhubungan dengan fase pertumbuhan dan kerapatan hama yang menyerang pada suatu saat.

2. Antibiosis

Tanaman-tanaman yang mengandung toksin (racun) biasanya memberi pengaruh yang kurang baik terhadap serangga. Tanaman yang demikian dikatakan bersifat antibiosis. Tanaman ini akan mempengaruhi banyaknya bagian tanaman yang dimakan hama, dapat menurutkan kemampuan berkembang biak dari hama dan memperbesar kematian serangga. Tanaman kapas yang mengandung senyawa gossypol dengan kadar tinggi mempunyai ketahanan yang lebih baik bila dibandingkan dengan yang mengandung kadar yang lebih rendah, karena bahan kimia ini bekerja sebagai antibiosis terhadap jenis serangga tertentu.

3. Non prefens

Jenis tanaman tertentu mempunyai sifat fisik dan khemis yang tidak disukai serangga. Sifat-sifat tersebut dapat berupa tekstur, warna, aroma atau rasa dan banyaknya rambut sehingga menyulitkan serangga untuk meletakkan telur, makan atau berlindung. Pada satu spesies tanaman dapat pula terjadi bahwa satu tanaman kurang dapat terserang serangga dibanding yang lain. Hal ini disebabkan adanya perbedaan sifat yang ada sehingga dapat lebih menarik lagi bagi serangga untuk memakan atau meletakkan telur. Contoh pengendalian hama yang telah memanfaatkan varietas tahan adalah pengendalian terhadap wereng coklat pada tanaman padi, pengendalian terhadap kutu loncat pada lamtoro, pengendalian terhadap Empoasca pada tanaman kapas.

E. PENGENDALIAN HAMA DENGAN PENGATURAN CARA BERCOCOK TANAM

Pada dasarnya pengendalian ini merupakan pengendalian yang belerja secara alamiah, karena sebenarnya tidak dilakukan pembunuhan terhadap hama secara langsung. Pengendalian ini merupakan usaha untuk mengubah lingkunagn hama dari keadaan yang cocok menjadi sebaliknya. Dengan mengganti jenis tanaman pada setiap musim, berarti akan memutus tersedianya makanan bagi hama-hama tertentu.

Sebagai contoh dalam pengendalian hama wereng coklat (Nilaparvata lugens) diatur pola tanamnya, yakni setelah padi-padi, pada periode berikutnya supaya diganti dengan palawija. Cara ini dimaksudkan untuk menghentikan berkembangnya populasi wereng. Cara di atas dapat pula diterapkan pada hama lain, khususnya yang memiliki inang spesifik. Kebaikan dari pengendalian hama dengan mengatur pola tanam adalah dapat memperkecil kemungkinan terbentuknya hama biotipe baru. Cara-cara pengaturan pola tanam yang telah diterapkan pada pengendalian wereng coklat adalah :

a. Tanam serentak meliputi satu petak tersier (wikel) dengan selisih waktu maksimal dua minggu dan selisih waktu panen maksimal 4 minggu, atau dengan kata lain varietas yang ditanam relatif mempunyai umur sama. Dengan tanam serentak diharapkan tidak terjadi tumpang tindih generasi hama, sehingga lebih mudah memantau dan menjamin efektifitas pengendalian, karena penyemprotan dapat dilakukan serentak pada areal yang luas.

b. Pergiliran tanaman meliputi areal minimal satu WKPP dengan umur tanaman relatif sama.

c. Pergiliran varietas tahan. Untuk daerah-daerah yang berpengairan baik, para petani pada ummnya akan menanam padi-padi sepanjang tahun. Kalau pola demikian tidak dapat diubah maka teknik pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pergiliran varietas yang ditanam. Pada pengendalian ini diusahakan supaya digunakan varietas yang mempunyai tetua berbeda, dengan demikian dapat menghambat terbentuknya wereng biotipe baru.

F. PENGENDALIAN HAMA DENGAN SANITASI DAN ERADIKASI

Beberapa jenis hama mempunyai makanan, baik berupa tanaman yang diusahakan manusia maupun tanaman liar (misal rumput, semak-semak, gulam dan lain-lain). Pada pengendalian dengan cara sanitasi eradikasi dititikberatkan pada kebersihan lingkungan di sekitar pertanaman. Kebersihan lingkungan tidak hanya terbatas di sawah yang ada tanamannya, namun pada saat bero dianjurkan pula membersihkan semak-semak atau turiang-turiang yang ada. Pada musim kemarau sawah yang belum ditanami agar dilakukan pengolahan tanah terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk membunuh serangga-serangga yang hidup di dalam tanah, memberikan pengudaraan (aerasi), dan membunuh rerumputan yang mungkin merupakan inang pengganti suatu hama tertentu.

Contoh pengendalian dengan eradikasi terhadap serangan hama wereng coklat adalah :

a. Pada daerah serangan wereng coklat tetapi bukan merupakan daerah serangan virus, eradikasi dilakukan pada tanaman padi yang telah puso. Pada daerah serangan berat eradikasi hendaknya diikuti pemberoan selama 1-2 bulan atau mengganti dengan tanaman selain padi.

b. Pada daerah serangan hama wereng yang juga merupakan daerah serangan virus, eradikasi dilakukan sebagai berikut :

1). Eradikasi selektif dilakukan pada padi stadia vegetatif yang terserang virus dengan intensitas sama dengan atau kurang dari 25 % atau padi stadia generatif dengan intensitas serangan virus kurang dari 75 %.

2). Eradikasi total dilakukan terhadap pertanaman statdia vegetatif dengan intensitas serangan virus lebih besar dari 25 % atau pada padi stadia generatif dengan intensitas serangan virus lebih besar sama dengan 75 %.

Cara melakukan eradikasi adalah dengan membabat tanaman yang terserang hama, kemudian membakar atau membenamkan ke dalam tanah.

G. PENGENDALIAN KIMIA

Bahan kimia akan digunakan untuk mengendalikan hama bilamana pengendalian lain yang telah diuarikan lebih dahulu tidak mampu menurunkan populasi hama yang sedang menyerang tanaman.

Kelompok utama pestisida yang digunakan untuk mengendalikan serangga hama dengan tunggau adalah insektisida, akarisida dan fumigan, sedang jenis pestisida yang lain diberi nama masing-masing sesuai dengan hama sasarannya. Dengan demikian penggolongan pestisida berdasar jasad sasaran dibagi menjadi :

a. Insektisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa serangga. Contoh : Bassa 50 EC Kiltop 50 EC dan lain-lain.

b. Nematisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa cacing-cacing parasit yang biasa menyerang akar tanaman. Contoh : Furadan 3 G.

c. Rodentisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas binatang-binatang mengerat, seperti misalnya tupai, tikus. Contoh : Klerat RM, Racumin, Caumatatralyl, Bromodoiline dan lain-lain.

d. Herbisida : adalah pestisida yang digunakan untuk mengendalikan gulam (tanaman pengganggu). Contoh : Ronstar ODS 5/5 Saturn D.

e. Fungisida : digunakan untuk memberantas jasad yang berupa cendawan (jamur). Contoh : Rabcide 50 WP, Kasumin 20 AB, Fujiwan 400 EC, Daconil 75 WP, Dalsene MX 2000.

f. Akarisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan jasad pengganggu yang berupa tunggau. Contoh : Mitac 200 EC, Petracrex 300 EC.

g. Bakterisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan penykit tanaman yang disebabkan oleh bakteri. Contoh : Ffenazin-5-oksida (Staplex 10 WP).

Insektisida dapat pula dibagi menurut jenis aktivitasnya. Kebanyakan insektisida bersifat racun bilamana bersentuhan langsung atau tertelan serangga. Namun ada pula jenis lain yang bersifat sebagai repelen (jenis ini digunakan untuk mencegah serangga yang akan menyerang tanaman), atraktan (bahan yang dapat menarik serangga, dengan demikian serangga yang terkumpul akan lebih mudah terbunuh), anti feedan (senyawa ini dapat menghindarkan dari serangan suatu serangga) dan khemosterilan (yang dapat menyebabkan kemandulan bagi serangga yang terkena).

Menurut sifat kecepatan meracun, pestisida digolongkan menjadi :

1. Racun kronis : yaitu racun yang bekerjanya sangat lambat sehingga untuk mematikan hama membutuhkan waktu yang sangat lama. Contoh : racun tikus Klerat RMB.

2. Racun akut : adalah racun yang bekerjanya sangat cepat sehingga kematian serangga dapat segera diketahui setelah racun tersebut mengenai tubuhnya. Contoh : Bassa 50 EC, Kiltop 50 EC, Baycarb 50 EC dan lain-lain.

Ditinjau dari cara bekerjanya, pestisida dibagi menjadi :

1. Racun perut

Racun ini terutama digunakan untuk mengendalikan serangga yang mempunyai tipe alat mulut pengunyah (ulat,belalang dan kumbang), namun bahan ini dapat pula digunakan terhadap hama yang menyerang tanaman dengan cara mengisap dan menjilat. Bahan insektisida ini disemprotkan pada bagian yang dimakan serangga sehingga racun tersebut akan tertelan masuk ke dalam usus, dan di sinilah terjadi peracunan dalam jumlah besar.

Ada 4 cara aplikasi racun perut terhadap serangga :

a. Insektisida diaplikasikan pada makanan alami serangga sehingga bahan tersebut termakan oleh serangga sasaran. Bahan makanan itu dapat berupa daun, bulu-bulu/rambut binatang. Dalam aplikasinya, bahan-bahan makanan serangga harus tertutup rata oleh racun pada dosis lethal sehingga hama yang makan dapat mati.

b. Insektisida dicampur dengan bahan atraktan dan umpan itu ditempatkan pada suatu lokasi yang mudah ditemukan serangga.

c. Insektisida ditaburkan sepanjang jalan yang bisa dilalui hama. Selagi hama itu lewat biasanya antene dan kaki akan bersentuhan dengan insektisida atau bahkan insektisida itu tertelan. Akibatnya hama mati.

d. Insektisida diformulasikan dalam bentuk sistemik, dan racun ini diserap oleh tanaman atau tubuh binatang piaraan kemudian tersebar ke seluruh bagian tanaman atau badan sehingga apabila serngga hama tersebut mengisap cairan tanaman atau cairan dari tubuh binatang (terutama hama yang mempunyai tipe mulut pengisap, misal Aphis) dan bila dosis yang diserap mencapai dosis lethal maka serangga akan mati.

2. Racun kontak

Insektisida ini masuk ke dalam tubuh serangga melalui permukaan tubuhnya khususnya bagian kutikula yang tipis, misal pada bagian daerah perhubungan antara segmen, lekukan-lekukan yang terbentuk dari lempengan tubuh, pada bagian pangkal rambut dan pada saluran pernafasan (spirakulum). Racun kontak itu dapat diaplikasikan langsung tertuju pada jasad sasaran atau pada permukaan tanaman atau pada tempat-tempat tertentu yang biasa dikunjungi serangga. Racun kontak mungkin diformulasikan sebagai cairan semprot atau sebagai serbuk. Racun kontak yang telah melekat pada serangga akan segera masuk ke dalam tubuh dan disinilah mulai terjadi peracunan.

Yang digolongkan sebagai insektisida kontak adalah :

a. Bahan kimia yang berasal dari kestrak tanamaan, seperti misalnya nikotin, rotenon, pirethrum.

b. Senyawa sintesis organik, misal BHC, DDT, Chlordan, Toxaphene, Phosphat organik.

c. Minyak dan sabun.

d. Senyawa anorganik seperti misalnya Sulfur dan Sulfur kapur.

3. Racun pernafasan

Bahan insektisida ini biasanya bersifat mudah menguap sehingga masuk ke dalam tubuh serangga dalam bentuk gas. Bagian tubuh yang dilalui adalah organ-organ pernafasan seperti misalnya spirakulum. Oleh karena bahan tersebut mudah menguap maka insektisida ini juga berbahaya bagi manusia dan binatang piaraan. Racun pernafasan bekerja dengan cara menghalangi terjadinya respirasi tingkat selulair dalam tubuh serangga dan bahan ini sering dapat menyebabkan tidak aktifnya enzim-enzim tertentu. Contoh racun nafas adalah : Hidrogen cyanida dan Carbon monoksida.

4. Racun Syaraf

Insektisida ini bekerja dengan cara menghalangi terjadinya transfer asetikholin estrase yang mempunyai peranan penting dalam penyampaian impul. Racun syaraf yang biasa digunakan sebagai insektisida adalah senyawa organo klorin, lindan, carbontetraclorida, ethylene diclorida : insektisida-insektisida botanis asli seperti misalnya pirethin, nikotin, senyawa organofosfat (parathion dan dimethoat) dan senyawa karbanat (methomil, aldicarb dan carbaryl).

5. Racun Protoplasmik

Racun ini bekerja terutama dengan cara merusak protein dalam sel serangga. Kerja racun ini sering terjadi di dalam usus tengah pada saluran pencernaan.Golongan insektisida yang termasuk jenis ini adalah fluorida, senyawa arsen, borat, asam mineral dan asam lemak, nitrofenol, nitrocresol, dan logam-logam berat (air raksa dan tembaga).

6. Racun penghambat khitin

Racun ini bekerja dengan cara menghambat terbentuknya khitin. Insektisida yang termasuk jenis ini biasanya bekerja secara spesifik, artinya senyawa ini mempunyai daya racun hanya terhadap jenis serangga tertentu. Contoh : Applaud 10 WP terhadap wereng coklat.

8. Racun sistemik

Insektisida ini bekerja bilamana telah terserap tanaman melalui akar, batang maupun daun, kemudian bahan-bahan aktifnya ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman sehingga bilamana serangga mengisap cairan atau memakan bagian tersebut akan teracun.

Pestisida adalah merupakan racun, baik bagi hama maupun tanaman yang disemprot. Mempunyai efek sebagai racun tanaman apabila jumlah yang disemprotkan tidak sesuai dengan aturan dan berlebihan (overdosis), karena keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya kebakarn tanaman. Untuk memperoleh hasil pengendalian yang memadai namun pertumbuhan tanaman tidak terganggu, pemakaian pestisida hendaknya memperhatikan kesesuaiannya, baik tepat jenis, tepat waktu maupun tepat ukuran (dosis dan konsentrasi). Dosis adalah banyaknya pestisida yang digunakan untuk mengendalikan hama secara memadai pada lahan seluas 1 ha. Konsentrasi adalah banyaknya pestisida yang dilarutkan dalam satu liter air.

Untuk menyesuaikan dengan kondisi setempat serta memperoleh efektifitas pengendalian yang tinggi maka oleh perusahaan pestisida, satu bahan aktif dibuat dalam bermacam-macam formulasi.

Tujuan dari formulasi ini adalah :

1. Mempermudah penyimpanan.

2. Mempermudah penggunaan.

3. Mengurangi daya racun yang berlebihan.

Pestisida terbuat dari campuran antara dua bahan, yaitu bahan aktif (bahan pestisida yang mempunyai daya racun) dan bahan pembawa/inert (bahan pencampur yang tidak mempunyai daya racun).

Macam-macam formulasi yang banyak dibuat oleh perusahaan pembuat pestisida adalah :

1. Formulasi dalam bentuk cairan

a. Cairan yang diemulsikan.

Biasanya ditandai dengan kode EC (Emulsifeable Concentrate) yaitu cairan yang diemulsikan. Pestisida ini dalam bentuk asli berwarna bening setelah dicampur air akan membentuk emulsi yang berwarna putih susu. Contoh : Dharmabas 50 EC, Bassa 50 EC dan lain-lain.

b. Cairan yang dapat dilarutkan.

Formulasi ini biasanya ditandai dengan kode WSC atau SCW yaitu kependekan dari Soluble Concentrated in Water. Pestisida ini bila dilarutkan dalam air tidak terjadi perubahan warna (tidak membentuk emulsi sehingga cairan tersebut tetap bening). Contoh : Azodrin 15 WSC.

2. Bentuk Padat

a. Berupa tepung yang dapat dilarutkan, dengan kode SP (Soluble Powder). Penggunaannya disemprotkan dengan sprayer. Contoh : Sevin 85 SP.

b. Berupa tepung yang dapat dibasahi dengan merek dagang WP (Weatable Powder). Pestisida ini disemprotkan dengan dicampur air. Karena sifatnya tidak larut sempurna, maka selama menyemprot seharusnya disertai dengan pengadukan secara terus-menerus.Contoh: Aplaud 10 WP.

c. Berupa butiran dengan kode G (Granulair). Aplikasi pestisida ini adalah dengan menaburkan atau membenamkan dekat. Contoh : Furadan 3 G, Dharmafur 3 G.

d. Campuran umpan (bait). Pestisida ini dicampur dengan bahan makanan yang disukai hama, kemudian diumpankan. Contoh : Klerat RMB.

RANGKUMAN

Pengendalian hama merupakan upaya manusia untuk mengusir, menghindari dan membunuh secara langsung maupun tidak langsung terhadap spesies hama. Pengendalian hama tidak bermaksud memusnahkan spesies hama, melainkan hanya menekan sampai pada tingkat tertentu saja sehingga secara ekonomi dan ekologi dapat dipertanggungjawabkan.

Falsafah pengendalian hama yang digunakan adalah Pengelolaan/Pengendalian Hama Terpadu (PHT). PHT tidak pernah mengandalkan satu taktik pengendalian saja dalam memcahkan permasalahan hama yang timbul, melainkan dengan tetap mencari alternatif pengendalian yang lain.

Beberapa taktik pengendalian hama yang dikenal meliputi : taktik pengendalian secara mekanis, fisis, hayati, dengan varietas tahan, mengatur pola tanam, sanitasi dan eradikasi, dan cara kimiawi.


Link ke posting ini Email this post

Design by Amanda @ Blogger Buster