Brigade Syahid Rantisi Mulai Beraksi

Rabu, 04 Februari 2009

Gugur satu tumbuh seribu. Itulah yang tengah terjadi pada gerakan-gerakan perlawanan Palestina. Geliat perjuangan tak boleh terhenti hanya karena syahidnya seorang Rantisi.
Ahad (25/04) menjadi bukti awal pembalasan atas aksi biadab Israel terhadap para pimpinan Hamas. Kelompok yang mengklaim sebagai ‘Brigade Syahid Rantisi’ (BSR) berhasil menewaskan seorang tentara Israel dan mencederai tiga lainnya. Aksi balas dendam itu terjadi di dekat desa Izna, selatan kota Khalil, Tepi Barat.
Seperti dilaporkan Islamonline.net, kelompok BSR ini berafiliasi ke Brigade Syuhada Al-Aqsha faksi sayap militer gerakan Fatah.
Menurut surat kabar Yediot Aharonot, mereka membrondong mobil itu dekat kota Izna. Akibatnya, 4 tentara Israel babak belur. Meski mereka sempat mendapatkan bantuan medis, namun satu dari mereka tak dapat diselamatkan.
Yediot menyebutkan, BSR yang berada di bawah gerakan Fatah pimpinan Yaser Arafat mengaku bertangungjawab atas serangan ini. Tampaknya, aksi ini sebagai tindakan balas dendam pertama faksi Fatah atas gugurnya Rantisi.
Jamal Thamizi, pejabat berwenang di Izna mengatakan, saat ini gerombolan pasukan Israel menyerbu kota Izna. Mereka mengumumkan jam malam dan berniat menghancurkan rumah-rumah penduduk Palestina.
Ia menambahkan, sejumlah peralatan otomatis militer Israel menutup semua pintu masuk ke Izna. Mereka berdalih bahwa sejumlah milisi bersenjata telah melarikan diri ke desa itu.
Saat ini, tampaknya PM Sharon harus berfikir dua kali untuk melanjutkan aksi terornya. Sebab, benih-benih aksi balas dendam mulai tumbuh. Selain itu, gerakan-gerakan perlawanan Palestina mulai merapatkan barisan. Dan proposal perdamaian di Palestina akan tinggal cerita.(lys/iol/bbc)

Link ke posting ini Email this post

Tiga Tipe Perempuan: Yang Mana Tipe Anda?

Islam tentu sangat memperhatikan kaum perempuan, dimana hal tersebut tidak berlaku dalam ajaran-ajaran sebelum kedatangan Islam. Posisi perempuan begitu penting (dipentingkan) sehingga sering terdengar suatu ungkapan bahwa tegaknya suatu negara (kelompok) sangat tergantung dengan perilaku perempuan dalam kelompok tersebut. Mungkin ada yang menganggap ini berlebihan, meski tidak bisa dipungkiri bahwa peran perempuan sangat berdekatan dengan kesuksesan dan juga kegagalan!
Dalam ajaran Islam, laki-laki dan perempuan tidak dibedakan peranannya dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama. Keduanya memiliki kesempatan yang sama dalam berusaha berbuat yang terbaik bagi diri, keluarga dan masyarakatnya. Jelasnya, Alqur'an tidak membedakan perlakuan terhadap laki-laki dan perempuan. Beberapa ayat menjelaskan hal tersebut:
"Barangsiapa yang melakukan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan ia mukmin, mereka akan masuk surga ..." (QS. 4:124, 40:40)
"Barangsiapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia mukmin, kami hidupkan dia dalam kehidupan yang baik ..." (QS. 16:97)
"Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beriman diantara kamu, baik laki-laki maupun perempuan ..." (QS. 3:195)
"Tidaklah boleh bagi mukmin laki-laki dan perempuan merasa keberatan bila Allah telah memutuskan sesuatu perkara ..." (QS. 33:36)
"Orang-orang beriman laki-laki dan perempuan satu sama lain saling melindungi. Mereka sama-sama menyuruh kebaikan dan melarang kemungkaran, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mentaati Allah dan Rasul-Nya. Allah menyayangi mereka ..." (QS. 9:71)
Begitu gamblangnya Al Qur'an memperhatikan makhluk perempuan, selain ayat-ayat diatas yang menunjukkan tidak adanya diskriminasi antara laki-laki dan perempuan dalam hubungannya dengan pekerjaan, amal dan tindakan, Al Qur'an juga memberikan kepada kita penjelasan tentang beberapa tipologi perempuan, dimana bisa dikatakan, bahwa apa yang pernah terjadi pada masa lalu dan diabadikan dalam Al Qur'an agar menjadi pelajaran bagi kaum mukminin yang perempuan khususnya dan laki-laki pada umumnya. Karena, sekali lagi, masalah yang berhubungan dengan perempuan yang terjadi di muka bumi ini, hampir selalu terkait dengan kaum laki-laki.
Oleh karena itu, menjadi penting untuk memperhatikan beberapa tipe perempuan yang pernah diterangkan Allah dalam Al Qur'an. Dimana Al Qur'an secara khusus membicarakan jenis-jenis perempuan berdasarkan amalnya. Untuk jenis perempuan ideal yang patut diteladani, seringkali Al Qur'an menyebut nama jelas. Namun untuk melukiskan perempuan "buruk" Al Qur'an tidak menyebut nama secara langsung.
Tipe pertama adalah type wanita saleh yang diwakili oleh Maryam. Nama Maryam disebut beberapa kali dalam ayat-Nya selain juga menjadi salah satu nama Surat dalam Al Qur'an. Ia adalah type perempuan saleh yang menjaga kesucian dirinya, mengisi waktunya dengan pengabdian yang tulus kepada Rabb-nya. Karena kesalehahannya itulah ia mendapat kehormatan menjadi ibu dari kekasih Allah, Isa alaihi salam, tokoh terkemuka di dunia dan akhirat (QS. 3:45).
"Dan Maryam putra Imran, yang menjaga kesucian kehormatannya. Kami tiupkan roh Kami dan ia membenarkan kalimah Tuhan-Nya dan kitab-kitab-Nya dan ia termasuk orang yang taat" (QS. 66:16).
Maryam adalah tipe perempuan saleh. Kehormatannya terletak dalam kesucian, bukan dalam kecantikan. Tentu masih banyak deretan nama-nama perempuan saleh baik yang tersebut dalam hadits-hadits Nabi maupun dalam sejarah.
Al Qur'an juga menerangkan tipe-tipe perempuan pejuang untuk menjadi contoh bagi para muslimah. Tipe yang kedua ini dicontohkan dengan sempurna oleh Asiyah binti Mazahim, istri Fir'aun yang hidup dibawah kekuasaan suami yang melambangkan kezaliman. Asiyah dengan teguh memberontak, melawan dan mempertahankan keyakinannya apapun resiko yang diterimanya. Semuanya ia lakukan karena ia memilih rumah di Surga, yang diperoleh dengan perjuangan menegakkan kebenaran, ketimbang istana di dunia, yang dapat dinikmatinya bila ia bekerja sama dengan kezaliman. "Dan Allah menjadikan teladan bagi orang-orang yang beriman perempuan Fir'aun, ketika ia berdo'a: Tuhanku, bangunkan bagiku rumah di surga. Selamatkan aku dari Fir'aun dan perbuatannya. Selamatkan aku dari kaum yang zalim." (QS. 66:11).
Al Qur'an memuji perempuan yang membangkang kepada suami yang zalim. Pada saat yang sama Al Qur'an juga mengecam perempuan yang menentang suami yang memperjuangkan kebenaran, seperti istri Nabi Nuh alaihi salam dan istri Nabi Luth alihi salam. Dalam kaitannya dengan hal ini, Al Qur'an juga menambahkan satu contoh perempuan yang mendukung kezaliman suaminya (sebagai contoh lawan dari Asiyah) yakni, istri Abu Lahab.
Selain Asiyah, ada pula contoh-contoh perempuan pejuang meski suami-suami mereka bukanlah orang-orang zalim, melainkan para pejuang kebenaran. Khadijah binti Khuwailid, Aisyah binti Abu Bakar, Nusaibah binti Ka'ab, adalah contoh nama-nama yang bersama suami mereka bahu-membahu memperjuangkan agama Allah.
Tipe ketiga yang dijelaskan dalam Al Qur'an adalah tipe perempuan penggoda. Jelas untuk yang satu ini diwakili oleh Zulaikha penggoda Nabi Allah Yusuf alaihi salam. Dalam kisah Zulaikha menggoda Yusuf inilah, Al Qur'an menunjukkan kepandaian perempuan dalam melakukan makar dan tipuan. Manakah tipe anda dari ketiga tipe tersebut? Wallahu a'lam bishshowaab

Link ke posting ini Email this post

Ketika Bidadari Turun ke Bumi

Dalam buku Tamasya ke Surga, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengisahkan tentang bidadari-bidadari surga. Bidadari-bidadari itu adalah wanita suci yang menyenangkan dipandang mata, menyejukkan dilihat, dan menentramkan hati setiap pemiliknya. Rupanya cantik jelita, kulitnya mulus. Ia memiliki akhlak yang paling baik, perawan, kaya akan cinta dan umurnya sebaya. Siapakah yang orang yang beruntung mendapatkannya? Siapa lagi kalau bukan orang-orang yang syahid karena berjihad di jalan Allah, orang-orang yang tulus dan ikhlas membela agama Allah.
Sebagian kita mungkin berfikir, kapan kita berjumpa dengan bidadari-bidadari itu, apakah ia akan kita miliki, adakah ia sedikit diantara mereka mendiami bumi sekarang ini?
Bidadari-bidadari itu telah turun ke bumi. Semenjak Islam mulai bangkit lagi di bumi ini. Bidadari-bidadari itu menghias diri setiap hari. Dia berwujud manusia yang berhati lembut, menyenangkan dipandang mata, menyejukkan dilihat, menentramkan hati setiap pemiliknya. Dialah wanita sholehah yang menjaga kesucian dirinya. Seperti apakah bidadari bumi itu? Bisakah kita mengikuti langkahnya, apakah dia anak, adik, keponakan perempuan atau apakah ia istri dan ibu kita, atau ia hanya berupa angan yang sebenarnya bisa kita realisasikan, tapi syetan kuat menahan?
Dialah wanita sholehah yang menjaga kesucian dirinya. Setiap perempuan bisa menjadi bidadari bumi, seperti apakah ciri-cirinya?
1. Ia adalah wanita yang paling taat kepada Allah. Ia senantiasa menyerahkan segala urusan hidupnya kepada hukum dan syariat Allah.
2. Ia menjadikan Al-Quran dan Al-Hadis sebagai sumber hukum dalam mengatur seluruh aspek kehidupannya.
3. Ibadahnya baik dan memiliki akhlak serta budi perketi yang mulia. Tidak hobi berdusta, bergunjing dan ria.
4. Berbuat baik dan berbakti kepada orang tuanya. Ia senantiasa mendoakan orang tuanya, menghormati mereka, menjaga dan melindungi keduanya.
5. Ia taat kepada suaminya. Menjaga harta suaminya, mendidik anak-anaknya dengan kehidupan yang islami. Jika dilihat menyenangakan, bila dipandang menyejukkan, dan menentramkan bila berada didekatnya. Hati akan tenang bila meninggalkanya pergi. Ia melayani suaminya dengan baik, berhias hanya untuk suaminya, pandai membangkitkan dan memotifasi suaminya untuk berjuang membela agama Allah.
6. Ia tidak bermewah-mewah dengan dunia, tawadhu, bersikap sederhana. Kesabarannya luar biasa atas janji-janji Allah, ia tidak berhenti belajar untuk bekal hidupnya.
7. Ia bermanfaat dilingkungannya. Pengabdianya kepada masyarakat dan agama sangat besar. Ia menyeru manusia kepada Allah dengan kedua tangan dan lisannya yang lembut, hatinya yang bersih, akalnya yang cerdas dan dengan hartanya. "Dan dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah". (HR Muslim)
Dialah bidadari bumi, dialah wanita sholehah yang keberadaan dirinya lebih baik dan berarti dari seluruh isi alam ini. Ya Allah jadikanlah aku, ibuku, kakak dan adiku serta perempuan-perempuan di sekelilingku menjadi bidadari bumi. Agar kelak di syurga kami tidak canggung lagi.

Link ke posting ini Email this post

Sumber Syahwat Itu Bernama: Perempuan!

Dalam Qur'an Surat Ali Imran ayat 14 dikatakan syahwat manusia kecenderungan pertama berasal dari perempuan. "Dihiasi manusia dengan syahwat yang muncul dari perempuan dan anak-anak....."
Dalam surat ini dikatakan "manusia", bukan saja laki-laki. Artinya seluruh manusia memiliki syahwat kepada perempuan. Kalau dikatakan "manusia" artinya mencakup laki-laki dan perempuan juga. Kalau laki-laki memiliki syahwat kepada perempuan itu sudah normal, tapi bagaimana dengan perempuan terhadap perempuan?
Dalam kajian tafsir di Maqdis Bandung, ustadz Saiful Islam Lc menjelaskan maksud ayat ini kurang lebih sebagai berikut:
Seorang perempuan bila melihat perempuan lain lebih cantik dari padanya, lebih baik dari dirinya, apakah itu pakaiannya, tas, sepatu, rumah, jilbab, perabotan dan lain-lain, biasanya langsung timbul keinginan dalam hatinya untuk bisa juga seperti orang yang dilihatnya itu atau memiliki keinginan untuk memiliki juga benda yang ada pada perempuan yang dilihatnya. Beda dengan laki-laki, laki-laki biasanya tidak timbul syahwatnya melihat sesamanya mengenakan pakaian bagus, lebih tampan, ujar Ustadz Saiful melanjutkan.
Biasanya dialog yang terjadi jika perempuan bertemu dengan perempaun lain antara lain, "Jilbabnya bagus, beli dimana? saya jadi ingin beli juga euyh" atau "model baru ya, bagus sekali, antarkan saya dong, saya mau beli juga"!!
Suatu hari sayapun pernah menjadi "korban", waktu itu saya melihat teman memakai baju baru dan menurut saya bagus. Saya membayangkan, sayapun akan lebih tampak cantik jika memakai baju itu.
Tiba-tiba saja secara spontan saya katakan "Mbak bajunya bagus, beli dimana, berapa semeter, ongkos jahitnya berapa", buntut-buntutnya saya minta diantarkan ke toko tempat ia membeli kain.
Selang berapa detik saya ingat surat Ali Imran ayat 14 beserta taushiah ustadz agar menghindari bahaya syahwat yang muncul dari perempuan. Akhirnya saya katakan, "nggak jadi deh mbak, lain kali saja".
Pantas saja sebelum meninggal, Rasul berpesan agar benar-benar melindungi perempuan, tidak saja banyak fitnah yang ditimbulkan oleh perempuan, tapi juga syahwat (keinginan) yang dapat menjerumuskan manusia kedalam kebinasaan.
Laki-laki bergairah mencari nafkah bisa disebabkan karena perempuan. Laki-laki melakukan KKN, pekerjaan tercela dan perilaku binatang bisa juga disebabkan karena perempuan. Perempuan, adalah makluk yang luar biasa, dari rahimnya lahir manusia setingkat Rasulullah dan sehina Fir'aun.
Pesan Rasulullah kepada perempuan, hati-hatilah dalam kehidupan dunia, jangan jadi penggoda, sebagaimana perempuan juga suka digoda.

Link ke posting ini Email this post

Merenda Hidup Yang Biasa (Catatan Seorang Pekerja Pabrik)

Rona jingga menyemburat di setengah langit bagian timur. Perlahan-lahan bola api merah bergerak naik, siap melaksanakan tugasnya. Aku mengayuh pedal sepedaku pelan-pelan, membelah bulak tengah sawah. Dua puluh kilometer akan kutempuh, menuju pabrik Batik Keris di Solo, tempat aku mengais rejeki setiap hari.
Gelap malam meliputi. Dingin sentuhan angin sawah menggigilkan kulit. Aku mengayuh sepedaku dengan kuat, berharap segera kucapai halaman rumah. Roda sepedaku sudah hapal dengan lobang dan gundukan di jalanan beraspal rusak, meski sesekali tetap terperosok atau terantuk.
Garang panas mentari menghujani. Masih tetap menyengat dan menyakitkan kulit sawomatangku yang makin gosong karena tiap hari bermandi matahari. Kukayuh pedalku kuat-kuat, untuk sejenak berteduh saat kudapat rimbun naungan pepohonan di pinggir jalan.
Yah, demikianlah kulalui hari-hariku. Menembus gelap malam, dingin pagi maupun terik di siang hari. Hari demi hari yang gamang. Entah ini sudah tahun ke berapa. Enam, tujuh? Delapan? Atau sudah belasan? Aku tak pernah menghitung lagi.
Dan dalam kehidupanku nyaris tak ada perubahan berarti. Antara pabrik dan rumah. Itu saja. Senin dan Selasa, berangkat ke pabrik pagi-pagi sehabis subuh. Pulang jam tiga sore. Istirahat sejenak, kemudian berbenah rumah. Rabu-Kamis berangkat jam satu siang, pulang tengah malam. Pagi sebelumnya kuisi dengan kegiatan memasak saaat simbok ke sawah, dan juga tidur sejenak. Pulang ke rumah sudah dalam kondisi capek luar biasa.
Di pabrik kami harus bekerja dengan posisi berdiri, nyaris tidak pernah duduk. Jum’at-Sabtu berangkat jam sepuluh malam pulang jam enam pagi. Langsung tidur sampai menejelang dzuhur. Begitu terus.
Semuanya sudah menjadi ritme yang terprogram. Sejujurnya aku bosan dengan kehidupanku yang demikian. Bahkan kadang kebosanan itu demikian memuncak. Tapi apa yang dapat kulakukan? Aku hanyalah seorang gadis lulusan SMEA kampung di selatan kota Solo, tetapi bekerja di pabrik dengan menggunakan ijazah SMP karena pabrik tidak membutuhkan buruh penjaga mesin pemintal benang berijazah setingkat SMU. Selain juga karena perusahaan tak suka membayar gaji dengan UMR lebih tinggi.
Tapi sungguh aku tak tahu apa yang mesti kulakukan untuk mengatasi kebosanan itu. Maka menonton televisi, berkunjung ke rumah saudara, bermain dan ngobrol dengan para ponakan adalah selingan yang kadang juga sama membosankannya. Sesekali aku jalan-jalan ke pertokoan di Coyudan atau ke pasar Klewer, Beteng, Pasar Gede atau Pasar Kartosuro jika punya uang.
Sebenarnya aku juga ingin seperti yang lainnya. Seperti teman-teman sekolah, juga tetanggaku, dan teman-teman pabrik yang rata-rata sudah punya 2-3 anak. Ya, mereka menikah dalam usia awal atau sebelum dua puluhan. Tapi, entahlah. Sampai usiaku yang menjelang tiga puluh tahun ini, belum ada seorang lelaki pun yang pernah melamarku.
Aku terlahir sebagai bungsu dari lima bersaudara yang seluruhnya adalah wanita. Mbakyu-mbakyuku semua telah menikah dan punya anak satu atau dua. Bapak meninggal saat aku kelas dua SMEA. Sebenarnya Bapak ingin aku menjadi pegawai kantoran. Tetapi dengan meninggalnya bapak, cita-cita itu tidak tersampaikan. Selepas SMEA aku tidak melanjutkan sekolahku melainkan langsung bekerja di pabrik konveksi, seperti umumnya gadis-gadis di kampungku. Bedanya mereka dengan segera mendapat pacar dan menikah, tetapi aku tidak.
Bisakah kau rasakan apa yang aku rasakan? Aku tidak punya impian apa-apa selain menikah dan membangun keluarga. Seperti para perempuan desa lainnya. Seperti kakak-kakakku. Tapi sekali lagi, aku tak mengerti mengapa jalan hidupku seperti ini. Sebenarnya bukan tak ada yang mau sama aku, namun semuanya berhenti di tengah jalan. Aku juga tidak tahu apa masalahnya dan salah siapa. Tiap kali aku menjalin hubungan selalu saja berakhir dan akhirnya kami putus begitu saja. Mungkin si laki-laki bosan atau bagaimana aku tidak tahu.
Menjadi perawan tua di kampung adalah aib yang menyesakkan. Menjadi gunjingan tetangga. Dibilang tidak laku dan sebagainya. Berbeda dengan perempuan kota. Aku sering sih mendengar, bahwa di kota-kota besar banyak perempuan yang tidak menikah sampai usia lebih dari tiga puluhan. Mungkin bagi mereka itu bukan apa-apa. Lagipula mereka memiliki pekerjaan yang bagus dan uang banyak.
Sedang aku? Aku bekerja di pabrik karena tidak ada pilihan pekerjaan lain sementara aku harus menbiayai hidupku dan Simbokku. Karena meskipun Simbok memiliki sepetak sawah peninggalan Bapak, namun penghasilannya tak memadai, bahkan kadang rugi jika ada serangan wereng atau tikus. Mbakyu-mbakyuku tidak dapat diharapkan karena mereka memiliki keluarga dan kehidupan mereka juga seadanya.
Yang lebih memedihkanku, entah darimana mulanya, kemudian berhembus gosip aku tidak menikah karena aku ‘demenan’ dengan salah satu kakak iparku. Duh, gusti paringana sabar! Tak jua menikah dalam usiaku yang sudah tak lagi muda sudah merupakan beban berat bagiku dan simbokku, kini harus pula menanggung omongan buruk tetangga. Kalau saja aku bisa menangis, aku ingin menangis keras-keras. Namun semua jeritan itu hanya dapat kugaungkan dalam hati. Sejak kecil aku jarang menangis karena Bapak melarangku untuk menangis.
Gosip itu bermula gara-gara akhir-akhir ini aku sering diantar kakak iparku yang baru punya motor. Tapi apa yang salah dengan semua itu? Bapak sudah meninggal. Simbok sudah tua dan mulai sakit-sakitan. Ponakan-ponakanku masih kecil-kecil Kakakku semuanya perempuan. Kepada siapa lagi akau minta tolong dan minta perlindungan jika bukan kepada mereka dan suami-suami mereka? Salahkah aku minta tolong diantar ke dokter kepada kakak iparku dengan motornya karena kebetulan aku sakit akhir-akhir ini dan mesti bolak-balik ke dokter? Salahkah aku minta diantar ke pabrik karena aku masih lemah dan cuaca kebetulan sedang buruk: sering hujan dan berangin? Sementara aku tidak bisa berlama-lama izin sakit karena pabrik akan memotong habis poinku? Tapi orang-orang tak melihat semua itu. Mereka tak mau tahu bahwa diluar itu aku masih tetap kemana-mana sendiri dengan sepeda ontelku.
Gosip itu bahkan makin kuat karena kemudian kakak iparku sering ke rumah. Padahal dia ke rumah karena -lagi-lagi kebetulan- membenahi rumah yang kutinggali bersama simbok. Suami dari Mbakyuku yang nomor dua ini adalah satu-satunya tukang batu di keluarga kami. Wajar tho kalau aku dan Simbok minta tolong dia membenahi rumah kami yang bocor disana-sini dan dindingnya pun mulai runtuh disana-sini? Karena saat ini sedang musim hujan hingga rumah kami sering kebanjiran?
Ingin rasanya aku berteriak pada semua orang, aku mau menikah dengan siapa saja saat ini juga jika itu akan dapat menghentikan omongan mereka. Namun, lagi-lagi, kenyataan seringkali lebih buruk dari apa yang kita pikirkan. Mbakyuku bahkan kemudian termakan oleh gossip itu dan mulai bersikap tak bersahabat denganku. Pun mbakyu-mbakyuku lainnya. Mereka memandangku dengan sikap curiga, seakan-akan aku akan mencuri suami mereka setiap saat.
Kalau bukan karena Simbok, aku ingin pergi jauh atau ditelan bumi saja sekalian. Tapi kemana aku mesti pergi? Sejak kecil aku tak pernah tinggal jauh dari tanah kelahiran dan dari keluargaku. Lagipula aku akan bekerja apa? Sedang pengalaman yang kupunya hanyalah bekerja sekian tahun di pabrik konveksi dengan tugas yang sama. Tak pernah berubah.
Hingga suatu hari, dalam semburat jingga mentari baru, aku menghentikan sepedaku di sebuah masjid pinggir jalan. Masjid ini setiap hari kulalui dalam perjalanan pulang pergiku ke pabrik. Hanya saja selama ini aku tak pernah tertarik untuk mampir. Hanya saja selama ini tubuh penatku tak pernah memberi kesempatan aku tertarik untuk menghadiri pengajian subuh seperti yang diselenggarakan pagi ini.
Tapi kali ini aku tak lagi memedulikan lelah dan kantuk yang mendera setelah bekerja shift malam. Aku hanya ingin mendapat sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang kuharapkan dapat meringankan beban jiwaku. Sesuatu yang akan menyirami perasaanku yang nyaris mati. Sesuatu yang akan membuat hidupku lebih berarti. Meski hanya arti bagi diriku sendiri. Bukan sekedar perawan tua, yang menjalani hidupnya dengan pulang pergi ke pabrik sambil menunggu seseorang datang melamarnya. Sesuatu yang mungkin akan membantuku keluar dari gossip tetangga, setidaknya membuatku lebih sabar menghadapi cercaan mereka. Kamu mau doakan aku kan?

Link ke posting ini Email this post

Lagi ta’aruf, Kenapa Bingung?

Kok bingung…? Itulah satu kata yang terlontar dari mulut seorang ikhwan yang lagi berta’aruf dengan Salsa (tidak nama sebenarnya). Salsa seorang akhwat yang selama ini selalu menjaga pergaulan dan menutup diri untuk namanya pacaran, akhirnya terjebak juga dengan perasaan gundah, bingung, dan resah seperti yang dialami oleh kebanyakan orang-orang yang mau menikah.
Keadaan ini dialami oleh Salsa setelah ada komitmen dengan si Akhi untuk melanjutkan pernikahan secepatnya, namun satu kata kunci dari seorang ibu yang melahirkan dan membesarkan si Akhi belum ada kata-kata setuju atau pun tidak. Saat Salsa meminta keputusan tegas dari si akhi, dia pun tidak bisa memberikan keputusan tegas karena hasil dari sholat istikharahnya ‘positif’, hanya tinggal menunggu keputusan Ibunya. Inilah yang membuat Salsa menjadi gundah karena serba tidak jelas, hatinya pun menjadi maju mundur.
Ungkapan rasa bingung ini pun keluar dari mulut Salsa saat ditelepon dengan si Akhi, persis ketika itu, orang tua Salsa sudah mulai mendesak untuk mendapatkan suatu kejelasan, ditambah lagi satu ikhwan lain bermaksud hendak berta’aruf juga dengannya. Kondisi ini semakin membuatnya resah, saat mengingat umurnya yang sudah cukup matang untuk menikah. Akhirnya keluhannya diterima oleh si Akhi sambil memberikan nasehat, “Hidup kita ini sudah diatur oleh Allah, bukankah selama ini kita sudah banyak menimba ilmu tentang keyakinan kepada Allah, bahwa taqdir Allah sudah ditetapkan bagi semua makhluknya?” Tinggal bagi kita sekarang untuk mengamalkan dan mempraktekkan ilmu yang telah kita timba di pengajian.
Allah sentiasa menguji hamba-Nya dengan keresahan, kesusahan dan kekurangan. Maka orang yang selalu mengikuti petunjuk Allah, maka ia tidak akan pernah merasa khawatir dan tidak pula bersedih hati. Kenapa harus bingung?
Gedebuk!! Begitulah kira-kira irama jantung Salsa saat diingatkan dengan firman Allah di atas. Si Akhi pun melanjutkan nasehatnya, “Sekarang tinggal bagi kita memperkuat hubungan dengan Allah, mengisi waktu malam dengan sholat tahajud, memperbanyak tilawah Qur’an, banyak bersedekah, banyak berzikir, dan sabar serta ridho menerima kondisi ini. Sambil kita terus berusaha dan terus berdo’a agar Alloh membuka pintu hati Ibu, karena hati Ibu itu, juga berada dalam gemgaman Allah. Kalau Allah berkehendak kita berjodoh, pasti akan terlaksana juga apaun rintangannya.”
Dalam hati Salsa terus beristigfar atas kegundahan dan rasa was-was yang dihembuskan oleh syaitan ke dalam hatinya. Setelah itu Salsa pun mulai agak merasa tenang, walau sekali-kali muncul juga perasaan khawatir itu, akhirnya ia menyibukkan diri mencari berbagai literatur, untuk mendapatkan mengatasi keresahan hatinya. Dia pun menemukan buku yang ditulis Harun Yahya dengan judul “Melihat kebaikan dalam Segala Hal” (Seeing Good in All). Dalam buku tersebut, kembali salsa menemukan kutipan dari firman Allah:
“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (Ali Imran:160)
Usai membaca buku itu, Salsa pun merenung, ternyata rasa tawakal, sabar dan berhusnuzhon pada Allah, inilah yang harus selalu dipupuk di setiap helaan nafas, dan dalam setiap langkah kita. Setiap ujian dan rintangan yang menimpa kita, pasti ada kebaikan dan pelajaran yang bisa dipetik, sekalipun kondisi itu tidak kita sukai. Ini baru satu perjuangan untuk mewujudkan pernikahan, belum lagi perjuangan-perjuangan lain yang jauh lebih berat lagi.
Wahai saudara-saudariku… perjuangan untuk menikah itu, bukanlah suatu perjuangan yang mudah, oleh karena itu, bagi saudara-saudariku yang telah menikah jagalah keharmonisan keluarga anda, jangan biarkan biduk keluarga anda oleng dan karam di tengah lautan, karena hidup di dunia ini hanya sesaat, kelak di akherat sana kita dimintai pertanggungjawaban atas kewajiban dan tanggung jawab yang kita emban.
Bagi para suami berlombalah melatih diri untuk menjadi pemimpin yang berakhlak mulia, seperti akhlaknya Rasulullah, menjadi ayah yang memberikan keteladanan pada anak-anaknya. Tidak otoriter sebagai soerang pemimpin. Ajaklah isteri anda untuk bermusyawarah dalam menyelesaikan persoalan rumah tangga.
Bagi para isteri bersemangatlah untuk memicu diri agar bisa menjadi bidadari dunia dan akherat bagi suamimu, indah dipandang mata, sejuk di kalbu dan bermesra dirasa, yang pasti selalu dekat dengan Allah. Menjadi isteri dan ibu yang memberi rasa damai pada anggota keluarga Didiklah para anak-anak anda, menjadi anak-anak yang kelak akan mengguncang dunia ini dengan menegakkan panji-panji Islam. Jangan biarkan anak anda sibuk dengan dunia khayal, sebagai dampak dari film-film yang ditontonnya.
Bagi yang belum menikah bersabar dan berusahalah untuk meraih kasih sayang Allah, karena orang yang mendapat kasih sayang Allahlah yang akan beroleh kebaikan dunia dan akhirat. Semoga kita semua beroleh Surga yang dijanjikan Allah, dan diizinkan untuk hadir dalam pertemuan yang sangat gung yakni pertemuan di saat melihat wajah Allah, sebagai imbalan bagi hambanya yang sabar dalam meniti hidup ini. Amin ya Rabbal’alamin

Link ke posting ini Email this post

Semua Adalah Pilihan

Tak ada yang saya salahkan...,” suaranya mengambang, seakan datang dari negeri yang jauh. “Kecuali diri saya sendiri!”
Aku terdiam, tenang mendengarkan. Sementara mata kami melanglang buana, melahap semua keindahan ciptaan Ilahi yang terpampang hingga batas cakrawala. Punggung bukit yang berhias kerlap-kerlip lampu berwarna jingga, kemerahan, kebiruan, orange dan kuning itu membawa sensasi luar biasa bagi pupil mata.
“Kondisi yang harus saya jalani saat ini, adalah konsekuensi dari pilihan hidup saya sendiri,” suaranya terdengar lagi. Aku masih khusyuk memperhatikan, sambil menikmati udara senja pegunungan yang menyelusup ke seluruh pori-poriku. Sejuk menyegarkan. Kawasan puncak menjelang malam, indah nian.
“Ketika saya baru lulus kuliah dulu, sebenarnya saya sudah ditawari untuk menikah. Namun waktu itu tegas-tegas saya menolak dengan alasan saya mau bekerja dulu, mencoba mempersembahkan sedikit bakti bagi orang tua --yah, meskipun saya tahu itu semua tak akan pernah dapat membalas jasa mereka--. Juga karena saya merasa masih ada dalam diri saya yang harus dibenahi. Harus saya akui, saya adalah tipe seorang dengan jiwa yang selalu gelisah. Rasanya saat itu, saya belum siap untuk berumahtangga, karena masih begitu banyak yang ingin saya lakukan, bagi diri sendiri dan bagi orang lain,” sahabat saya tersenyum kecil, matanya tak lepas dari kejauhan.
“Dua tahun kemudian, kembali datang tawaran menikah. Kebetulan saat itu saya memang sudah mulai berpikir untuk menikah. Dari banyak tawaran yang datang, yang paling serius adalah seorang pemuda biasa, tetangga kampung. Sementara saat itu saya adalah seorang gadis muda dengan semangat keislaman yang sangat tinggi. Saya mensyaratkan dia harus mau ngaji dulu sebelum menikah dengan saya. Dia tak sanggup. 'Aku mencari istri, bukan mencari orang yang menyuruhku ngaji,' katanya. Sedang saya tetap berkeras pada syarat yang saya minta. Maka proses pun berhenti di langkah itu dan hidup pun kembali berjalan pada pilihan masing-masing. Perasaan saya biasa saja saat itu. Waktu itu saya berpikir toh saya masih sangat muda, dua puluh empat tahun. Jadi, enjoy aja,” Wanita muda itu menarik napas ringan sebelum melanjutkan.
“Menjelang usia dua puluh lima, datang lamaran lagi dari seorang laki-laki yang cukup saya kenal. Kali ini saya suka. Dia adalah pemuda tipe ideal saya. Maka serta merta saya terima. Tapi ternyata proses ini pun gagal lagi pada akhirnya. Orang tuanya menginginkan dia menikah dengan orang yang sesuku,” suaranya bergetar. Ada jeda kesedihan yang tiba-tiba menyeruak.
”Saya sangat terluka dengan penolakan ini, hingga memilih melarikan diri pada aktifitas sosial yang sangat banyak. Mendampingi anak jalanan, mengadakan berbagai bakti sosial, dan ikut menjadi relawan dalam penanganan bencana-bencana di Jakarta. Saya nyaris tak pernah di rumah. Karena selain aktifitas-aktifitas tadi, aku juga tetap bekerja. Bahkan kemudian saya sangat menikmati aktifitas yang mulanya pelarian ini. Saya seperti menemukan apa yang pernah saya inginkan selama ini.”
Kulihat bara semangat itu pada sorot matanya, pada wajah yang ditegakkannya.
“Di tengah gelora semangat itu, menjelang usiaku dua puluh enam, datang lagi sebuah lamaran. Kali ini dari seorang pemuda shalih yang baik, kalem dan pendiam, meskipun dia bukan aktifis. Seseorang yang belum pernah saya kenals ebelumnya. Saya yang tak mau kehilangan aktifitas yang sedang saya jalani, kembali mengajukan syarat, agar diijinkan tetap beraktifitas seperti semula. Sebenarnya dia tak menghalangi sepenuhnya. Dia hanya mengatakan, boleh saja beraktifitas, tetapi sebagai seorang istri harus mendahulukan kepentingan keluarga dan minta izin suami jika akan keluar rumah. Pernyataan itu saya tangkap sebagai 'larangan' waktu itu. Barangkali karena saya memimpikan mendapat pasangan sesama aktifis, seperti maraknya beberapa teman organisasi yang menikah dengan kalangan sendiri. Hhhh..., ” kali ini si Mbak menarik napas panjang. “Saya menolaknya!” Suaranya kembali tergetar.
“Inilah proses yang paling saya sesali, hingga saat ini. Saya merasa bersalah sekali. Saya merasa sangat kekanak-kanakan. Sebenarnya apa sih yang saya inginkan? Dulu ketika baru lulus, saya beralasan hendak bekerja dulu dan beraktifitas. Itu sudah saya jalani semua. Ketika ada laki-laki biasa melamar, saya bilang saya ingin mendapat mendapat seorang ikhwan, dan kini Allah pun menghadirkannya. Sekarang? Saya menginginkan menikah dengan sesama aktifis yang benar-benar bisa memahami aktifitas publik saya. Sepertinya saya tidak bersyukur dan terus menerus mencari yang seperti saya inginkan saat itu.” Dalam temaram lampu taman, aku dapat melihat kaca di bola matanya. Kugenggam tangannya, memberi kekuatan.
“Kesadaran bahwa pilihan dan sikap saya adalah kekeliruan, muncul tak lama kemudian. Hanya dua bulan setelah dia melamar. Kepada comblang yang mempertemukan kami, saya mengatakan ingin mencoba memperbaiki keputusan yang telah lalu. Namun semua sudah terlambat. Laki-laki itu tak lama lagi akan menikah.” Kaca itu pecah, menjadi butiran-butiran kristal yang mengaliri pipinya.
“Rasa bersalah itu pun kian mendera perasaan. Saya mencoba menebus rasa bersalah itu dengan bersilaturahmi kepada sebanyak mungkin orang. Kepada kaum kerabat yang jarang saya kunjungi, kepada teman-teman lama yang mulai terlupakan karena aktifitas-aktifitas baru saya. Juga kepada guru-guru masa kecil. Saya tak tahu mengapa itu cara yang saya lakukan untuk menebus rasa bersalah, yang pasti saya hanya berharap, silaturahmi-silaturahmi itu dapat menjadi kafarat.” Si Mbak tersenyum lagi. Ada kelegaan tergambar di wajahnya.
“Peristiwa itu membuat saya menjadi lebih dewasa. Saya mulai bersungguh-sungguh mencari pasangan hidup. Saya menghargai setiap tawaran yang datang. Bahkan saya juga minta tolong pada teman-teman untuk mencarikan.” Wajahnya meredup lagi. “Saya tak pernah menolak lagi siapapun yang diajukan kepada saya, baik oleh guru ngaji, lewat teman-teman. Ataupun calon dari orang tua. Namun yang terjadi kemudian adalah bagai karma! Kali ini giliran saya yang terus menerus ditolak. Telah belasan orang dalam tiga tahun terakhir sejak saya menolak lamaran pemuda shalih itu. Bahkan termasuk teman-teman dekat saya sendiri, mereka menolak dengan halus tawaran saya untuk menikah dengan mereka.” Suaranya begitu lirih, tercekat menahan tangis.
“Akhirnya saya merasakan juga sakitnya ditolak. Berkali-kali!” Perempuan itu kini tergugu. Lama. Dia menelungkupkan wajahnya di bangku taman. Aku tak dapat berbuat apa-apa, kecuali mengelus kepalanya yang terbungkus jilbab biru. Waktu terus berlalu dalam keheningan. Hanya isak tangis tertahannya yang terdengar, ditingkahi lolong anjing di kejauhan. Aku tak menghitung berapa lama dia menuntaskan gundahnya sampai kemudian dia bangkit, menuju serumpun shion yang tengah mekar.
“Mungkin orang akan mengatakan, itulah akibat dari menolak-nolak orang. Jadi perawan tua. Itu adalah konsekuensi yang tak hendak saya ingkari. Saya harus menerima predikat itu. Karena memang demikianlah adanya. Dan kini saya mendapatkan sudut pandang yang lain: bisa jadi sikap-sikap saya dulu, dan pilihan-pilihan itu memang sebuah kesalahan.” Dia menghela napas. Tegar.
“Tapi ada satu hal yang saya syukuri. Semua peristiwa itu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Sungguh-sungguh berharga. Kini saya tahu seperti apa perihnya ditolak. Kini saya sangat paham, manusia hanya dapat berencana, sedang Allah lah yang Maha Penentu. Kini saya mengerti, sangat mengerti bahwa Allah tahu yang terbaik untuk kita. Apa yang diberikanNya adalah selalu yang kita butuhkan, meski mungkin bukan yang kita inginkan. Kini saya juga jadi lebih dapat menghargai setiap orang. Bahwa siapapun dia, setiap orang selalu memiliki kelebihan dan kekurangan. Penghargaan kita yang tulus padanya akan berbalas perhatian pula.” Wanita itu tersenyum. Kedamaian mengaura pada dirinya.
“Saya tak menyesali apa yang telah terjadi di masa lalu. Saya mungkin kehilangan kesempatan-kesempatan itu, namun saya tidak kehilangan hikmah dan pelajarannya. Barangkali memang harus demikian pergolakan jiwa dan perjalanan batin saya. Barangkali memang ahrus dengan cara itu saya dapat menjadi lebih matang. Kalau waktu itu saya menikah dengan jiwa yang seperti itu, mungkin juga tidak baik hasilnya. Saya mungkin menikah dengan kondisi terpaksa, dan saya tak tahu apa yang akan terjadi pada rumah tangga seperti itu Mungkin saya tak akan pernah mendapat hikmah-hikmah ini. Saya bahagia sekarang karena saya dapat merasakan ketulusan itu. Kini saya sangat siap untuk menerima pasangan hidup, siapapun dia.”
“Bukan! Sama sekali bukan berarti saya banting harga karena saya sudah 30 tahun hingga segala idealita yang dulu digugurkan,” dia buru-buru menambahkan. Seakan-akan takut kalimatnya akan langsung dipersepsikan lain. Saya mengerti karena kebanyakan seperti itu anggapan masyarakat terhadap para wanita lajang yang sudah beranjak lewat dari usia dua puluhan. Mereka seakan berlomba mengobral dirinya agar dapat menikah segera.
“Tetapi karena pengalaman telah mengajarkan saya banyak hal. Tetapi karena saya tidak lagi emosional sekarang. Bukan karena kehilangan idealita. Dan itu membuat saya bisa menerima siapa saja sekarang, karena saya kini mengerti arti sebuah ketulusan. Hingga saya dapat menghargai setiap orang, lebih dan kurangnya. Juga, saya pun tahu dan berlapang dada, jika Allah masih menimpakan akibat dari sikap-sikap saya di masa lalu. Semoga kesadaran ini akan menjadi kafarat dosa-dosa saya.”
Wanita itu kini menatapku lembut. Wajahnya bercahaya tertimpa sinar lampu taman. Dia tersenyum, dengan senyuman bagai rembulan. Aku membalas senyumnya. Sementara angin malam makin menggigit tulang. Bulan sepasi yang menggantung di langit menandakan bahwa tengah malam telah jauh berlalu. Pemandangan puncak di waktu malam makin indah, namun kini tiba saatnya kami harus beristirahat. Hidup harus terus berjalan, dan kami tak boleh terlampau sering menoleh ke belakang, kecuali sekedar mengambil pelajaran. Bukan untuk bersedih atas semua yang telah lalu.
Bergandengan tangan, kami bangkit dan melangkah ke dalam vila yang kami tinggali. Sekali lagi lolong anjing terdengar di kejauhan. Namun itu tak berarti apa-apa. Yang kami punya sekarang tekat, untuk terus memperbaiki diri dan jiwa. Orang muslim yang paling baik bukanlah mereka yang tak pernah berbuat kesalahan. Namun mereka yang tiap kali berbuat kesalahan dia sadar dan berusaha bertaubat kemudian memperbaikinya.

Di ambil dan dikutif dari Malajah Muslim

Link ke posting ini Email this post

Design by Amanda @ Blogger Buster